
"Ya halo Nau, ada apa?" tanya Frey begitu ia menjawab panggilan dari adik iparnya tersebut.
"Kak lagi dimana? Kak Aluna katanya nitip benang wool kalau kakak pulang," ucap Naufal yang sedang duduk bersama Aluna di dekat kolam.
"Aku di kantor Papi, nanti aku beliin — Permisi, papi ada?" tanya Frey pada sekretaris Alvaro.
"Kebetulan Tuan ada di dalam, silahkan masuk Tuan Muda," ucap sekretaris tersebut.
Frey memasukkan ponselnya ke dalam saku blazernya. Ia melihat Alvaro sedang sibuk dengan beberapa dokumen di atas meja. Frey yang tadi sedang berada di kampus mendapat telepon dari Alvaro dan memintanya untuk datang setelah jam kuliah selesai.
Tadi di kampus pun Frey tidak menemukan keberadaan Jihan. Entah papinya sudah menyembunyikan gadis itu dimana, Frey tidak tahu. Ia hanya datang untuk memenuhi panggilan papi angkatnya sekaligus mertuanya itu.
"Kamu sudah datang Frey. Mari duduk di sofa saja biar lebih santai," ajak Alvaro dan Frey hanya mengiyakan saja tanpa membuka suara.
Sejujurnya Frey sangat malas bertemu dengan Alvaro saat ini, ia masih kecewa dengan apa yang ia dapati semalam. Hanya saja, ia merasa pembicaraan Alvaro kali ini pasti sangat penting.
"Mau minum apa Frey?" tawar Alvaro yang terlihat sedang menutupi kegugupannya.
"Tidak perlu basa-basi, Pi. Langsung saja," sarkas Frey.
Alvaro tersenyum, sejujurnya ia sangat sulit membuat pengakuan ini tetapi ia harus mengatakannya untuk kebaikan bersama. Jika terus saja ia sembunyikan maka akan berakibat fatal untuk keluarganya.
"Papi nggak selingkuh, Jihan itu bukan selingkuhan papi. Malam itu ...."
Flash back on ...
Seperti biasa perkumpulan Alvaro dengan para pengusaha muda lainnya yaitu menghabiskan waktu untuk bermain poker bersama. Mereka memiliki taruhan yang bernilai fantastis, ada mobil milyaran, uang tunai, atau bahkan wanita tersegel yang siap mereka hadirkan. Tak jarang juga wanita seperti artis ternama, model papan atas, dan masih banyak lagi yang bisa mereka jadikan taruhan.
"Akhirnya Bro lu datang juga buat main poker ... udah sekian tahun lu insaf main," ucap salah satu rekan Alvaro dalam bermain poker.
"Gimana gue nggak datang kalau kalian nggak jebak gue di sini. Katanya ada masalah penting dan katanya lagi salah satu dari kalian sedang mengalami krisis keuangan, ya jelas gue datang lah. Kita ini sudah lama berteman dan saling membantu dalam setiap bisnis, tapi ternyata kalian jebak gue, Bro!" ucap Alvaro kemudian ia menarik kursi dan ikut duduk bersama rekan-rekannya.
Lima orang rekan Alvaro yang berada di sana tertawa, mereka menertawakan ide gila mereka yang membuat seorang Alvaro Genta Prayoga akhirnya terseret ke meja poker ini. Dulu sekali saat masih muda, meskipun sering membaur bersama teman-teman kuliahnya, akan tetapi ia juga memiliki perkumpulan tersendiri untuk bermain poker dengan taruhan yang fantastis.
"Oke gue ikut main tapi malam ini saja dan untuk yang terakhir kalinya. Gue udah nggak tertarik soalnya istri gue jauh lebih menggairahkan ... taruhan berapa nih?"
Alvaro terpaksa meladeni teman-temannya untuk yang terakhir kalinya, daripada nanti mereka akan terus datang memburunya dengan alasan ini dan itu.
"Seperti biasa Bro, 250 juta per orang," sahut salah satunya.
"Malam ini hadiahnya gadis belia, baru lulus SMA. dijamin masih tersegel!" timpal yang lainnya hingga membuat Alvaro tersenyum sinis.
Ternyata mereka masih menjalankan permainan seperti ini dan Alvaro sudah tidak tertarik lagi. Apalagi di rumah ia memiliki istri yang sangat ia cintai bahkan ia tergila-gila pada istrinya sendiri dan tidak pernah berniat untuk melarak–lirik wanita lainnya — meskipun itu dikatakan masih tersegel.
Alvaro murni hanya ingin ikut bermain saja, akan tetapi nasib sial menimpanya karena justru permainan itu dimenangkan olehnya. Niatnya setelah permainan Alvaro tidak akan mengambil uangnya dan juga tidak tertarik hadiah yang ia dapatkan, namun karena ini adalah sebuah permainan teman-temannya pun memintanya untuk melihat dulu hadiahnya.
Benar saja, di depan Alvaro kini sudah berdiri seorang gadis yang sedang menundukkan kepalanya. Melihat postur tubuh gadis ini serta usianya yang tadi dijabarkan lewat data dirinya, mendadak Alvaro langsung teringat akan Aluna. Melihat gadis ini membuat hati Alvaro bertanya-tanya, apa sebenarnya yang terjadi hingga gadis ini mau–mau saja menjual dirinya dalam permainan poker ini?
Karena rasa iba dan rasa peduli sebab ia teringat akan anak-anaknya, Alvaro pun mengiyakan untuk membawa gadis yang bernama Jihan itu pergi dari sana. Niat hati Alvaro hanya ingin memberikannya uang jika benar dia sedang sangat membutuhkan uang tanpa harus menjual keperawanannya.
"Nama kamu Jihan?" tanya Alvaro dan keduanya kini sudah berada di dalam mobil dengan Alvaro yang mengemudikan mobil tersebut dengan kecepatan sedang.
Gadis yang bernama Jihan itu pun menganggukkan kepalanya. Ia tidak berani menatap Alvaro dan kepalanya terus menunduk hingga akhirnya Alvaro memutuskan untuk menepikan mobilnya.
"Kalau gue bertanya lu harus natap gue dong, lu itu sekarang milik gue dan gue udah beli lu dengan harga 250 juta. Jadi sekarang lu harus menurut sama gue!" ancam Alvaro hingga membuat gadis yang bernama Jihan itu mengangkat pandangannya dan menatap Alvaro.
"Kamu memang cantik, tapi istri saya jauh lebih cantik. Bagaimana bisa kamu ingin menjual keperawananmu di meja judi itu, sedangkan disentuh sedikit saja kamu sudah ketakutan? Sekarang kamu ceritakan kepada saya alasan mengapa kamu sampai nekat seperti ini?" ucap Alvaro kemudian ia menjauhkan wajahnya dari Jihan.
Jihan berulang kali menghela napas begitu lega. Ia pikir tadi om–om ini akan langsung menyentuhnya di dalam mobil. Ia sudah sangat ketakutan, akan tetapi pria ini justru tertawa dan memuji istrinya yang walaupun Jihan tahu pasti usia istrinya sudah lebih tua darinya sedangkan Jihan masih sangat muda. Tetapi ia percaya, pria di hadapannya ini adalah seseorang yang sangat setia.
"Mau bagaimana lagi Om, saya ini orang susah sedangkan ibu saya sekarang di rumah sakit dan membutuhkan banyak biaya untuk pengobatannya. Dokter tidak akan melakukan tindakan operasi jika saya belum melunasi atau membayar sebagian persyaratannya. Saya harus gimana lagi? Jalan satu-satunya ya ini, menjual keperawanan saya, menjual diri saya, agar supaya Ibu saya bisa selamat. Atau setidaknya saya bisa mengabadikan diri saya kepada ibu saya yang sudah merawat saya selama ini."
Wajah Alvaro yang tadi terlihat begitu santai kini langsung menegang. Ia adalah orang yang begitu sensitif dengan keadaan orang lain, apalagi gadis ini sepantaran dengan anaknya. Alvaro langsung berpikir apakah ini akan terjadi kepada Aluna jika saja mereka bukan berasal dari orang kaya dan dirinya atau Nurul yang sedang berada di dalam keadaan yang sangat sulit seperti ini?
"Kalau begitu di mana ibu kamu? Ayo antar saya biar saya bantu untuk melunasi biaya operasinya. Kebetulan tadi kan saya yang memenangkan permainan, uang tersebut bisa digunakan untuknya," ucap Alvaro dan Jihan langsung bersujud di kaki Alvaro walaupun tidak mudah karena mobil itu begitu sempit, tetapi Jihan berusaha untuk tetap menggapai kaki Alvaro.
Alvaro kemudian meminta Jihan untuk duduk kembali, ia benar-benar tidak nyaman dengan perlakuan seperti ini. Ia hanya ingin menolong. Ia memikirkan keluarganya lebih dulu, ia selalu mengait-kaitkan masalah dan kesusahan yang terjadi pada orang lain dengan keluarganya. Mungkin saja suatu saat roda akan berputar dan kebaikannya hari ini bisa diingat oleh Yang Maha Kuasa.
Jihan pun menyebutkan nama rumah sakitnya kemudian Alvaro membawanya ke sana. Sesampainya di rumah sakit Alvaro langsung melunasi biaya pengobatan hingga perawatan pasca operasi ibu Jihan. Setelah semua urusan administrasi selesai, Alvaro dan Jihan pun menuju ke ruangan di mana Ibu Jihan berada.
Dengan hati yang merasa begitu bahagia, Jihan menghampiri ibunya dan membangunkannya. Ibunya terlihat begitu lemah dengan banyaknya alat yang terpasang di tubuhnya. Ia pun hanya bisa tersenyum ketika Jihan mengatakan ia sudah mendapatkan pertolongan untuk biaya operasi. Akan tetapi begitu melihat sosok yang berada di balik punggung Jihan, ia langsung syok bukan main, begitupun Alvaro yang melihatnya.
"Alvaro ...!"
"Irana ...!"
Keduanya sama-sama terkejut karena sudah sekian tahun mereka tidak pernah bertemu lagi. Terakhir kali mereka bertemu itu sebelum wisuda, di mana Alvaro memberikan uang banyak kepada Irana untuk menjauhinya sebab sebuah masalah yang tidak mungkin ia ceritakan kepada keluarganya.
"Apakah orang yang menolongmu itu adalah dia, Nak?" tanya Irana kepada Jihan dan Jihan menganggukkan kepalanya.
"Boleh tinggalkan ibu bersama dia? Ibu ingin bicara padanya, kebetulan kami adalah kawan lama," ucapkan Irana, Jihan pun menurutinya dan kini tinggal Alvaro dan Irana yang berada di dalam ruangan tersebut.
Untuk beberapa saat di dalam ruangan itu hanya terjadi keheningan. Alvaro sangat stress, karena tidak ada angin tidak ada hujan tiba-tiba ia diantar ke masa lalunya di mana wanita ini tidak pernah ia inginkan, tetapi sangat menginginkannya. Begitu pula dengan Irana, ia tidak menyangka akan kembali bertemu dengan pria yang dulu sangat ia inginkan tetapi cintanya tidak pernah tersampaikan dan tidak pernah terbalaskan.
"Bagaimana bisa anak itu sampai padamu? Apakah mungkin ini takdir Tuhan, Dia sudah akan memanggilku, aku bingung kemana harus membawa anakku itu pergi. Dan jalan Tuhan, dia mengantarnya langsung kepada pemiliknya," ucap Irana dengan suara yang yang coba ia besarkan walaupun itu terdengar lirih.
Jelas saja Alvaro sangat kaget mendengar ucapan Irana tersebut, secara tidak langsung ia mengerti ke mana maksud dan tujuan Irana berkata demikian.
"Bukankah aku sudah pernah memberimu setumpuk uang untuk menggugurkan anak itu? Dan lagi pula aku tidak yakin itu adalah anakku, bisa jadi itu adalah anak Kriss karena kamu juga bermain dengannya, bukan hanya denganku!" bantah Alvaro.
Irana tersenyum miris. "Entah kamu percaya atau tidak, tapi aku yakin itu adalah anakmu. Akan tetapi jika pun kamu tidak ingin mengakuinya, maka tolong rawatlah dia. Besarkanlah dia seperti anakmu sendiri,, karena aku tidak mungkin pergi mencari Kriss yang saat ini sedang mendekam di dalam penjara. Setidaknya sampai dia lulus kuliah dan mendapatkan pekerjaan yang layak. Dia baru saja lulus SMA dan tolong masukkan dia ke perguruan tinggi agar nanti dia memiliki bekal untuk membawa dirinya."
Alvaro terdiam, ia benar-benar tidak siap dengan kejadian malam ini. Tiba-tiba saja ia bertemu dengan Jihan dan tiba-tiba saja ia bertemu Irana. Dan tiba-tiba saja semua rahasia masa lalunya yang begitu kelam kembali terkuak di permukaan. Ia memang pernah bermain sekali bersama Irana dan ternyata wanita itu memiliki rencana licik hingga akhirnya Irana mengaku jika ia mengandung anak Alvaro pada saat mereka masih di bangku kuliah.
Apa yang harus gue lakukan dan apa yang akan Nurul katakan tentang hal ini? Apakah dulu gue se–brengsek ini?
Alvaro dulunya meminta Irana untuk bertemu dengan Kriss karena Kriss pun mengaku pernah melakukan hal tersebut dengan Irana. Akan tetapi penolakan pun didapatkan olehnya sehingga mau tidak mau Alvaro memberikan setumpuk uang kepada Irana untuk menggugurkan kandungan itu, karena tidak jelas siapa ayah kandungnya. Apalagi pada masa itu Alvaro masih sedang gencar-gencarnya untuk mendapatkan Nurul dan memenangkan taruhannya.
"Aku mohon maaf Varo, usiaku tidak akan lama lagi. Tidak akan ada yang menjaganya, dia memang tinggal di apartemen bersama dengan seorang pengasuh tetapi kamu tahu sendiri aku tidak bisa menjaganya dan tidak bisa membiayainya lagi. Uang telah habis untuk pengobatanku dan sisa satu-satunya harta hanya apartemen yang tidak mungkin aku jual, karena anakku tidak tahu harus tinggal di mana lagi nantinya. Aku mohon tolong jaga dia untukku. Aku menitipkannya padamu."
"Tapi aku tidak —"
Belum selesai Alvaro berbicara, tiba-tiba suara dari monitor melengking kuat hingga membuat Alvaro terkejut Tangan Irana terjatuh lunglai dan ia segera keluar untuk memanggil Jihan dan dokter.
"Mohon maaf, Nyonya Irana sudah tidak bisa diselamatkan lagi. beliau sudah meninggal dunia," ucap dokter tersebut hingga pecahlah tangis Jihan dan Alvaro menjadi semakin kebingungan.
Flash back off