
Alvaro berdecak, ucapan papinya benar dan ia baru menyesal karena tidak sempat teringat akan hal penting tersebut. Padahal jika saja ia menghubungi papinya bukan tidak mungkin mereka akan datang dan langsung menikahkannya dengan Nurul.
Tidak mempedulikan anak dan suaminya, Yani justru fokus melihat foto cucunya yang cantik itu.
Yani menitikkan air matanya ketika melihat beberapa foto Aluna di ponsel Alvaro. Ia tidak menyangka bahwa putranya yang nakal ini sekarang sudah menjadi seorang ayah. Oh bukan, sejak tiga tahun yang lalu. Ia teringat kembali ketika putranya selalu minta dikirimi manisan pala dan juga belimbing wuluh. Rupanya pada masa itu Alvaro tengah mengidam dan mereka gagal menemukan Nurul untuk putranya. Ia juga merasa mungkin itu hukuman dari Tuhan agar putranya bisa merasakan kepayahan ketika wanita yang ia perkosa itu hamil dan dirinya harus menanggung buah kebejatannya.
Wajah Aluna kecil sama persis seperti dirinya juga seperti Alvaro kecil dalam versi perempuan. Sangat cantik dan menggemaskan. Ia juga melihat beberapa video tingkah Aluna yang membuat sang nenek semakin gemas dan tidak sabar ingin menemui cucunya ini.
Begitupun dengan Genta, ia tidak menyangka jika Alvaro akan nyasar pada anak teman lamanya ini. Pantas saja wanita yang dicintai Alvaro memiliki harga diri tinggi dan kecerdasan diatas rata-rata, rupanya dia seorang Emrick. Keluarga terhormat yang tidak sekaya mereka tapi sesungguhnya jika Deen Emrick mau mereka bahkan bisa lebih kaya dibandingkan keluarga Farezta tetapi ia memilih hidup sederhana asalkan seluruh keluarganya sejahtera.
"Syukurlah kalau Danissa akhirnya sudah ditemukan," gumam Genta dengan bibir yang tersenyum tipis.
"Danissa?" tanya Alvaro.
Genta mengangguk, "Dulunya Aina itu diberi nama Danissa. Papi juga pernah turut membantu mencarinya ketika penculik itu membawanya entah kemana. Oh iya, Danissa dan Alvaro kalau nggak salah lahir barengan ya Mi?" Mami dan Dianti dulu melahirkan bersama, bukan?"
Yani nampak sedang memikirkan sesuatu, ia kemudian menggeleng. "Nggak Pi, Alvaro lahir lebih dulu. Dianti melahirkan beberapa jam setelah aku," jawab Yani setelah ia berhasil mendapati ingatannya. "Tapi masih di hari yang sama," imbuhnya.
Mata Alvaro berbinar, ia yakin sekali kalau Nurul memang jodohnya.
Lahirnya aja barengan, fix kita emang jodoh Aina. So buat lu tuan Daniyal, siap-siap patah hati deh lu.
Melihat Alvaro senyam-senyum membuat kedua orang tuanya tidak sabar untuk segera menginterogasinya. Yani bahkan sempat terkejut karena melihat wajah Alvaro yang terdapat banyak memar yang mulai memudar.
"Varo, muka kamu kenapa ini?" tanya Yani panik.
Alvaro meraba pipinya kemudian ia tersenyum manis membuat kedua orang tuanya semakin heran. Bagaimana bisa putranya itu tersenyum sambil mengingat memar di pipinya.
"Oh ini. Ini hanya salam kenal dari calon kakak ipar. Hehehe."
Genta dan Yani mengernyit, namun beberapa saat kemudian mereka paham maksud dari Alvaro. Genta justru tertawa bahkan ketika Alvaro mengatakan dirinya di larikan ke rumah sakit Genta hanya menanggapinya dengan tertawa terbahak-bahak. Yani sendiri malah mensyukuri nasib putranya yang pingsan di tangan calon kakak iparnya.
Wajah tampan itu cemberut. Heran saja mengapa kedua orang tuanya bukan mengasihani justru malah mengejeknya. Mereka seperti senang sekali di atas penderitaannya.
"Itu balasan untukmu. Jika saja papi yang jadi Deen Emrick maka sudah papi gantung terbalik kamu di tiang listrik!" ucap Genta sambil menyeka air matanya karena tertawa, bahkan Yani pun mengaamiini ucapan Genta.
Mereka kemudian mengajak Alvaro bercerita. Alvaro menceritakan semua kejadian yang ia lalui selama berada di rumah Deen Emrick. Genta cukup takjub dengan calon besannya yang tidak memperpanjang masalah bahkan tidak melakukan kekerasan fisik. Genta hapal sekali sifat Deen, orang yang lebih memilih menyelesaikan masalah dengan duduk dan musyawarah dibandingkan dengan baku hantam.
.
.
Hari kembali berlalu, Alvaro sudah kembali ke kantor hari ini. Di depan ruangannya ia melihat Clarinta yang juga sudah masuk kerja. Ia melihat sekretaris gilanya itu sedang menatapnya dan sepetinya sedari tadi Clarinta menunggunya. Alvaro yakin apa yang ada di pikirannya adalah hal yang ingin ditanyakan oleh Clarinta.
"Bos," panggil Clarinta dengan wajah memerah menahan rasa malunya.
"Apa?" sentak Alvaro.
Clarinta yang disambut dengan tidak ramah itu langsung menggeleng. "Itu bos, gimana sama perjalanannya, ketemu nggak sama Danish Emrick?" tanya Clarinta dengan malu-malu.
Alvaro tergelak melihat ekspresi Clarinta yang diluar nalar ini. Sejak kapan wanita berisik ini menjadi pemalu.
Oh ya ampun gue udah seberisik ini dan kalau ditambah Clarinta nanti rumah mamah mertua bakalan jadi kayak apa ya? Nggak bisa gue bayangin gimana nasib mamah Dianti mendapatkan kami berdua sebagai menantu. Danish dan Aina yang datar memang cocok bersanding sama gue dan Clarinta. Hehehe.
Alvaro mengangguk membuat Clarinta tersenyum. Namun sedetik kemudian senyum itu memudar ketika Alvaro mengatakan, "Iya gue emang udah ketemu sama dia. Dia sebentar lagi bakalan nikah. Lu juga diundang katanya," ucap Alvaro yang langsung membuat Clarinta terhuyung kebelakang.
Sebuah seringai muncul di bibir Alvaro. Sangat senang bisa membalas Clarinta yang selama ini selalu merepotkan dirinya. Dan oh … oh … Alvaro bisa melihat air mata Clarinta jatuh ke pipinya. Apakah Alvaro senang, tentu saja iya. Biarlah Clarinta bersedih dulu, hitung-hitung biar nanti kalau bertemu Danish Clarinta bisa memarahi dan menceramahi Danish. Biar pasangan itu berantem dan Alvaro akan menjadi penontonya.
Clarinta dengan cepat menghapus air matanya. Rasanya begitu sakit saat tahu orang yang selama ini dicinta kini akan melepas masa lajangnya dan ia sendiri ditinggal merana.
"Udah deh, daripada lu nangis mending lu ke bawah terus buatin gue kopi," perintah Alvaro.
Sungguh Clarinta rasanya ingin mengacak-acak wajah bosnya ini. Sama sekali tidak merasa iba dengan hati Clarinta yang sedang 'nyesek' dan malah disuruh membuat kopi. Sambil bersungut-sungut Clarinta pergi mengerjakan perintah Alvaro sedangkan Alvaro langsung masuk ke ruangannya dan langsung menghubungi seseorang.
"Lu mending masuk ke ruangan gue sekarang deh, minta salah satu security buat nganterin lu sampai ke ruangan gue."
Di dapur Clarinta yang kesal karena sikap Alvaro yang tidak empati padanya menambahkan garam ke dalam kopi tersebut. Di pecat pun ia tidak peduli. Ia sedang patah hati dan sakit hati karena Alvaro. Sambil tersenyum devil Clarinta membawa secangkir kopi tersebut hingga ke dalam ruangan Alvaro.
Sepasang mata nampak memperhatikan Clarinta yang masuk ke dalam ruangan Alvaro. Rasanya sudah lama sekali tidak pernah melihat sosok berisik ini. Alvaro sendiri sedang sibuk melakukan panggilan video bersama Aluna.
"Bos lucknut! Ini kopinya," ucap Clarinta dengan wajah kesal. Namun dalam hati ia berharap Alvaro segera meminum kopi tersebut.
Dipecat ya pecat aja deh. Gue nggak masalah asal bisa balas dendam sama sakit hati gue.
"Apa lu bilang tadi? Nggak sopan ya! Mau gue kasih SP 1?"
Clarinta tadinya ingin mengangguk tapi justru yang terjadi malah ia menggelengkan kepalanya.
"Ya udah bos, sekarang kopinya diminum karena gue udah capek-capek buatin untuk bos paling baik sedunia," bujuk Clarinta.
Alvaro tidak mengalihkan atensinya dari layar ponsel dimana anaknya itu sedang bermain bersama bundanya. "Gue emang minta kopi tapi bukan buat gue. Itu di belakang lu ada tamu gue, kasih ke dia," ucap Alvaro masih fokus pada layar ponselnya. Bagaimana tidak fokus kalau di sebelah Aluna ada bidadarinya.
Hah? Mampus! Kopinya bukan buat bos keparat ini?
"Hai, apa kabar? Apa sudah puas meninggalkanku tanpa alasan?"
"Kak Danish!" pekik lirih Clarinta.
Alvaro langsung memasang wajah cemberut ketika Nurul memintanya untuk memperlihatkan pertemuan kakaknya dan Clarinta. Mau tidak mau Alvaro harus mengganti kamera belakang.
Dengan cepat Danish berdiri dan mengambil nampan yang ada di tangan Clarinta dan meletakkannya di atas meja di dekat sofa. Ia kemudian berbalik dan langsung memeluk tubuh Clarinta.
"Aku sangat merindukanmu. Jangan pergi lagi," bisik Danish.
Meskipun bingung dengan keadaan ini, Clarinta membalas pelukan Danish. Ia juga merindukan lelaki ini, lelaki yang masih bertahta di hatinya.
"Aku juga merindukan kakak, kenapa tega sekali mengkhianatiku?" isak Clarinta dalam dekapan Danish.
Danish mengecup puncak kepala Clarinta, "Itu tidak benar. Aku tidak pernah berkhianat. Aku sampai saat ini cuma cinta kamu!" tegas Danish. "Kita akan membahasnya nanti," imbuh Danish.
"Ekhhmmm … wah benar-benar kalian ini. Di dalam ruangan gue kalian berdua berpelukan mesra sedangkan gue cuma bisa lewat video call," celetuk Alvaro yang membuat Clarinta sadar kalau di dalam ruangan ini masih ada bosnya.
Dengan cepat keduanya melepaskan pelukan. Danish menatap kesal pada Alvaro sedangkan Alvaro membalasnya dengan tatapan mengejek.
"Lho bos, kenapa ada di ruangan ini? Mau mengintip orang pacaran? Ingat lho bos, kalau ada laki-laki dan perempuan berduaan berarti yang ketiganya itu setan!"
Mata Alvaro melotot sempurna mendengar celetukan Clarinta barusan.
Ini gue yang gila atau emang Clarinta yang bego!
Jika Alvaro merasa dongkol maka Danish tidak bisa menahan tawanya. Sungguh makhluk cantik yang ia cintai ini memang aneh bin ajaib.
Danish langsung mengajak Clarinta untuk duduk bersama. Ia tersenyum mengejek pada Alvaro yang sedang menggeleng-gelengkan kepalanya karena tidak habis pikir dengan sekretarisnya ini. Dalam hati ia mengasihani nasib Bu Dianti dan pak Deen apabila mendapat menantu seperti Clarinta.
"Ini kantor dan ruangan gue kalau lu lupa!" tandas Alvaro yang membuat Clarinta tertohok.
Mata Clarinta membulat sempurna. Ia tidak sadar dengan ucapannya tadi. Ingin minta maaf tetapi ia enggan melakukannya. Biar saja, dipecat pun tidak masalah. Clarinta memilih mengacuhkan Alvaro dan fokus pada Danish.
"Kak Danish kenapa bisa disini? Kata bos jahat itu kak Danish mau nikah?" tanya Clarinta dengan suara lirih. Lehernya seperti di cekik ketika mengatakan kalimat terakhirnya.
Danish tersenyum, rupanya Alvaro telah memberikan syok tetapi pada kekasihnya ini sebelum mereka bertemu.
"Iya, aku memang mau nikah," jawab Danish. Ia gemas sendiri melihat perubahan wajah Clarinta yang menjadi lesu. Ia yakin Clarinta masih mencintainya. "Kalau kamu bersedia aku lamar sekarang," sambung Danish.
Clarinta terdiam sejenak sambil mencerna kata-kata Danish barusan. Ia menatap lekat kedua mata Danish sambil memiringkan sedikit kepalanya. Danish yang gemas langsung membawa Clarinta ke dalam pelukannya.
"Aku memang mau nikah tapi sama kamu. Aku lamar sekarang kau bersedia nggak?"
Air mata Clarinta jatuh lagi, ia membalas pelukan Danish dengan erat.
"Aku mau, aku mau. Sangat mau, yuk kita pulang dan ketemu sama mami dan papi. Mau nikah sekarang juga nggak masalah yang penting nikahnya sama kak Danish," jawab Clarinta menggebu-gebu saking senangnya.
Air mata Danish tidak bisa ia tahan, bibirnya tersenyum senang, ia bahkan tertawa mendengar jawaban Clarinta yang begitu bersemangat ingin segera menikah. Ia tidak bisa lagi menggambarkan betapa ia sangat bersyukur dengan berkah Tuhan hari ini.
Nurul yang melihat kakaknya sudah menemukan cintanya pun turut bahagia dan disana juga ada kedua orang tuanya yang turut menyaksikan bagaimana Danish dan Clarinta berbaikan.
Alvaro sendiri tersenyum turut bahagia. Apalagi ketika Clarita bersedia, itu artinya sebentar lagi ia akan segera menyusul menikahi Nurul.
Sebentar lagi giliran gue. Gue harus siapin rencana untuk melamar Aina secara pribadi dulu. Gue mau bikin hal yang nantinya nggak bakal Aina lupain dan bakalan ia kenang sebagai kenangan termanis seumur hidupnya. Tunggu gue ayang.
"Well, hari ini lu boleh izin cuti Clarinta. Lu urusi dulu masalah pribadi lu. Oh iya, selamat ya. Gue turut bahagia," ucap Alvaro dengan tulus.
Danish tersenyum senang begitupun dengan Clarinta. Wanita gila–julukan Alvaro untuk Clarinta itu pun langsung berterima kasih pada bosnya ini.
"Oh iya, lu itu dari tadi ngomong mulu. Diminum dong kopinya, itu buatan calon istri lho," ucap Alvaro.
Danish dengan senang hati mengambil kopi tersebut dan ketika ia meminumnya, kopi itu langsung ia semburkan keluar.
"Ya ampun Clarinta! Kamu bikin kopi dengan air laut ya?" pekik Danish.
Seketika Clarinta teringat akan kopi itu, kopi yang ia buat khusus untuk bos lucknut-nya dan kini justru malah diminum oleh calon suaminya. Clarinta rasanya ingin bersembunyi ke lubang semut saja.
"Hahahaha … oh lu niat mau ngerjain gue ya Clar. Hahahaha … kasihan amat calon suaminya, kopi saja pakai air laut gimana nanti kalau minta yang lain. Siap-siap aja hari-hari lu pasti bakalan menderita," ejek Alvaro, ia kembali tertawa mengingat bagaimana ekspresi Danish meminum kopi tersebut.
Karena merasa wanitanya terpojokkan Danish pun membantunya. "Nggak masalah sih, gue emang cinta sama dia dengan segala kekurangannya. Terus lu gimana? Kalau misalnya istri lu ngasih kopi pakai air laut, lu minum atau lu bakalan marah nih?" tantang Danish, Clarinta yang merasa dibela semakin klepek-klepek pada kak Danish-nya ini.
"Lu nanya gue? Jangankan air laut, apapun buatan istri gue bakalan gue minum!" jawab Alvaro dengan congkak.
"Terus kalau gue yang buatin lu kopi pakai sianida lu bakalan minum nggak?"
Deg …
Mendadak Alvaro tidak bisa berkata apa-apa, ia lupa jika masih tersambung panggilan video bersama Nurul.