GADIS TARUHAN ALVARO

GADIS TARUHAN ALVARO
Sebuah Sindiran


"Tidak bisa begitu!" bantah Alvaro, ia tidak mungkin membiarkan Frey membawa istrinya pergi. Nurul adalah miliknya sedangkan Aluna memang anaknya tetapi sudah menjadi hal Frey karena sudah ia nikahkan.


Frey tersenyum sinis. Ia benar-benar tidak habis pikir dengan papinya ini. Sudah kedapatan di apartemen bersama dengan Jihan, kini dia masih melarang istrinya untuk pergi. Frey tidak bisa membayangkan bagaimana nanti reaksi bundanya jika kabar ini sampai ke telinganya.


"Aku memang bukan anak kandung Bunda, Pi. Tapi bunda sangat mencintai dan menyayangiku. Aku telah bersumpah untuk selalu menjaga dan melindunginya, tidak akan aku biarkan siapapun menyakiti hati Bunda termasuk papi sekalipun," ucap tegas Frey dan Alvaro dibuat terdiam.


Dalam hati, Alvaro begitu mengagumi bakti Frey pada Nurul. Istrinya itu memang tidak salah membesarkan anak. Berkat kasih sayang dan ketulusan Nurul mengurus Frey, ia bisa memetik buahnya dari sikap Frey yang begitu peduli padanya. Alvaro bangga, tapi ini bukan saatnya untuk memuji sang istri.


"Papi mohon jangan beritahukan ini pada Bunda. Kita bisa bicara baik-baik Frey," mohon Alvaro tetapi Frey seakan tidak menganggapnya.


Frey memutuskan untuk meninggalkan apartemen ini, ia sudah dibuat sangat kecewa oleh papinya sekaligus mertuanya. Saat ini Frey sedang memikirkan bagaimana perasaan bundanya jika sampai tahu apa yang sedang dilakukan suaminya di saat ia sedang mengkhawatirkannya dengan begitu sangat.


Frey juga tidak mau hal ini sampai terdengar oleh Aluna. Istrinya itu pasti bisa sangat stres berat dan akan mempengaruhi janin di dalam kandungannya. Frey menjadi bingung sendiri, ia tidak tahu harus mencari tahu dan bercerita pada siapa tentang masalah ini.


Frey pun mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi, ia harus segera sampai di rumah sebelum Aluna menyadari bahwa dirinya tidak berada di sampingnya saat ini. Frey belum bisa mengatakan hal ini kepada Nurul. Ia masih harus mencari cara untuk bisa menyampaikan hal ini dengan baik kepada bundanya, walaupun dia tahu tidak akan terjadi hal yang baik-baik saja setelah ini.


Frey juga berharap papi Alvaro yang akan mengatakannya kepada Bunda Nurul. Walau bagaimanapun ini adalah masalah mereka berdua sebagai pasangan suami istri. Frey tidak bisa mendahului kecuali memang papi Alvaro sendiri yang tidak ingin berkata sejujurnya kepada bundanya, maka Frey yang akan mengambil alih segalanya.


Sesampainya di rumah Frey langsung menuju ke kamar dan ia masih mendapati Aluna sedang tertidur lelap. Ia pun segera bergabung bersama istrinya di dalam selimut. Ia memeluk Aluna dengan begitu terposesif, ia sangat takut hal yang baru saja terjadi pada papinya akan terjadi juga padanya. Frey tidak ingin sampai hal itu menimpa keluarga kecilnya.


Mengingat tentang masalah takdir, tapi gue harap takdir kita tetap mempersatukan kita. Dan gue berharap hanya ada lu satu-satunya wanita dalam hidup gue. Tuhan pun tahu kalau gue cuma cinta sama lu dan selamanya gue hanya ingin memiliki lu, Aluna. Gue cinta sama lu dan semoga kita bisa mempertahankan rumah tangga kita.


Frey mencoba memejamkan matanya walau mata itu tak kunjung tertidur. Pikiran tentang papi Alvaro dan Jihan terus menari-nari di benak Frey. Ia tidak tahu harus mengatakan apa dan harus melakukan apa untuk saat ini. Dan satu hal yang paling ia harapkan — semoga apa yang terjadi hanyalah sebuah mimpi.


Frey bergegas tidur, ia berharap ketika bangun nanti ternyata semua tidak benar dan hanyalah sebuah mimpi. Ia hanya sedang bermimpi, mimpi yang begitu panjang dan mengerikan mimpi buruk yang ketika pagi hari nanti ia terbangun dan semuanya akan selesai begitu saja.


Baru saja Frey hendak tidur, suara mobil papi Alvaro terdengar olehnya. Frey memasang telinganya baik-baik, akan tetapi ia tidak ingin keluar, hanya ingin tahu saja apa yang akan terjadi selanjutnya.


Alvaro menatap mobil Frey yang terparkir di garasi di samping mobilnya. Dia merasa lega karena ini artinya Frey tidak benar-benar membawa Nurul pergi dan istrinya itu pasti masih ada di rumah ini. Hanya saja Alvaro khawatir jika nanti ia masuk, ternyata Nurul sedang menunggunya untuk memberi penjelasan atas apa yang diceritakan oleh Frey ... Alvaro belum siap untuk itu semua.


Langkah Alvaro begitu berat akan tetapi ia harus sampai ke kamarnya dan mencari sang istri. Di bukanya pintu kamar dan pemandangan yang ia lihat adalah hal yang melegakan jiwa — istrinya itu sedang tertidur lelap sambil memeluk guling.


Dengan perlahan Alvaro menutup pintunya, lalu ia melepas pakaiannya yang sempat ia ganti tadi di apartemen Jihan. Alvaro sudah berganti piyama dan tak lupa yang menyemprotkan parfum di tubuhnya agar tidak ada aroma-aroma yang membuat makhluk curiga.


Alvaro langsung masuk ke dalam selimut yang sama dengan Nurul. Ia kemudian menarik pinggang istrinya dan merapatkan tubuhnya pada tubuh sang istri. Alvaro memeluk posesif Nurul sedangkan wanita yang sedang tertidur lelap itu langsung membuka matanya yang sebenarnya sejak tadi ia tidak tidur.


"Maaf sudah membuatmu menunggu, lain kali jika aku pulang lambat kamu harusnya tidur lebih dulu, tidak usah menungguku. Aku tidak macam-macam di luar sana, hanya sedang banyak pekerjaan," bisik Alvaro di telinga Nurul yang walaupun dia tahu itu tidak akan didengar oleh istrinya, setidaknya mungkin akan tersampaikan di alam mimpi.


Entah apa yang kamu lakukan di luar sana Varo, tapi hatiku tergerak. Ada sesuatu yang aneh di hatiku dan aku tidak bisa menjelaskan apa maksud dari perasaan aneh ini. Semoga saja bukan tentang dirimu yang melakukan hal buruk di luar sana. Dan semoga saja Tuhan selalu melindungimu dan semoga kamu tidak membuatku kecewa lagi.


.....


Frey menatap sinis pada Alvaro yang tengah menikmati sarapan. Ia baru saja turun bersama Aluna. Semalaman karena kesulitan tidur hingga akhirnya Frey lambat bangun.


Alvaro membalas tatapan Frey dengan tenang. Ia mencoba memberikan sebuah senyuman tipis, akan tetapi Frey justru mengabaikannya. Rasanya ia baru saja ditolak cintanya oleh seseorang ketika senyumannya tak dibalas oleh sang menantu.


Nurul pun meminta kedua anaknya itu untuk segera bergabung makan karena di sana formasi sudah lengkap dan para anggota keluarga tidak lagi menunggu kedatangan Frey dan Aluna.


"Semalam Frey ke mana, Nak? Bunda denger Frey keluar pakai mobil. Apakah terjadi sesuatu Frey?"


Nurul mencoba untuk memancing pembicaraan karena sejak tadi ia terus saja menghindari Alvaro, padahal suaminya itu terus saja merengek ingin bersikap manja padanya.


Aluna menatap Frey penuh curiga, ia sendiri tidak tahu jika suaminya itu keluar rumah padahal mereka baru saja berbincang-bincang dipukul dua dini hari.


Sebelum menjawab pertanyaan Nurul dan juga Aluna, Frey menatap sekilas kepada papi Alvaro yang terlihat tegang.


"Ada masalah sedikit sama Keenan. Daripada aku besok ikut dengannya ke tempat tinggal baru mereka, akan lebih baik aku membantunya untuk menyelesaikan semua masalah dan proses pemindahan kekuasaan terhadap restoran dan kafe itu. Oh aku belum cerita ya ke Bunda kalau Keenan bakalan aku berikan satu restoran dan satu kafe untuk usahanya?"


Nurul menggeleng, ia menantikan cerita dari Frey, sedangkan yang lainnya hanya asyik menikmati makanan saja akan tetapi mereka pun akan turut menyimak apa yang akan diceritakan oleh Frey.


"Keenan membuat ulah, ibunya menghubungiku dan aku mendapatinya sedang berada di sebuah apartemen bersama seorang gadis. Sepertinya dia akan mengucapkan selamat tinggal pada kekasihnya itu. Untung saja aku berhasil membujuknya pulang, jika tidak ... entahlah apa yang akan terjadi padanya dan ibunya nanti. Sampai detik ini pun aku belum menceritakan kepada ibunya apa yang dilakukan Keenan di sana. Aku berharap Keenan tidak melakukan hal yang membuat ibunya kecewa."


Alvaro tersedak saat ia hendak menelan air minum yang baru saja ia masukkan ke dalam mulutnya. Hal tersebut tentu saja membuat Frey tersenyum sinis. Ia yakin sekali papinya itu sedang merasa tersindir saat ini.


"Lain kali tidak perlu seperti itu, Nak. Itu hanya akan merepotkanmu. Jika seseorang sudah mendarah daging sifat buruknya, maka meskipun dia bertobat pasti suatu saat akan terulang lagi. Tidak perlu melibatkan dirimu terlalu jauh. Kamu sudah cukup baik memberikan dia sebagian hartamu dan urusan apapun yang ia kerjakan nanti, biarlah menjadi urusannya. Dan semoga Tuhan selalu membuatnya berada di jalan yang benar."


Ucapan Nurul tersebut sukses menohok hati Alvaro. Ia tahu benar istrinya tidak sedang menyinggungnya, akan tetapi hal tersebut justru membuatnya merasa benar-benar tersinggung. Namun ia bisa apa? Tidak mungkin ia terlibat dalam percakapan aneh ini, sedangkan ia tahu Frey hanya sedang memancingnya saja untuk bicara dan Nurul tidak mengerti apa maksud dari pembicaraan Frey tadi.


Sepertinya aku harus bicara dengan Frey empat mata. Jika begini terus aku yang akan dibuat terkena serangan jantung berkali-kali. Sebaiknya aku jujur, ya jujur lebih baik daripada memendam segalanya dan akhirnya aku akan dihancurkan oleh bom waktu yang dibuat olehku sendiri, gumam Alvaro dalam hati.