
Di dalam apartemennya, Alvaro kini tengah duduk sambil memandangi sebuah foto dimana ada wajah cantik Nurul yang sedang tersenyum. Foto yang ia ambil diam-diam dan ia abadikan di sebuah bingkai lucu. Ia mengusap lembut foto tersebut kemudian ia ciumi dengan penuh kasih.
"Sedang apa kau saat ini? Apakah merindukan cowok brengsek ini? Atau kau sudah bahagia dengan kehidupan barumu. Kau tahu tidak, cowok brengsek bajingan ini begitu merindukanmu hingga tiada hari yang ku lalui tanpa memikirkanmu. Dan ya, apakah benar kau tengah mengandung anakku? Buah cinta kita? Jika memang benar begitu, aku perkirakan usia kandunganmu sudah tujuh bulan. Jika benar seperti itu, maka tolong jagalah anak kita sampai aku kembali. Aku akan membawa kalian bersamaku. Sampai waktunya tiba, kuharap hatimu masih untukku Nurul Aina."
Alvaro terisak dalam kamarnya. Ia mendekap erat foto tersebut dan terus menggumamkan kata cinta untuk Nurul. Sampai detik ini ia masih mengharap Nurul akan menghubunginya. Di depan semua orang terutama keluarganya, ia terlihat kuat dan sudah melupakan Nurul. Tetapi di kesendiriannya, ia menangis meratapi kemalangan cintanya.
Tok ... tok ... tok
Suara ketukan pintu membuat Alvaro menghentikan tangisnya. Ia mengusap air matanya dan kembali meletakkan foto Nurul di atas nakas. Ia mengumpat karena ada saja yang mengganggu waktunya.
Dengan malas Alvaro berjalan keluar dan membukakan pintu apartemennya. Ia terkejut melihat wanita yang berdiri di depannya dan wanita itu tengah tersenyum padanya.
"Mau apa kau datang kesini?" sarkasnya.
Clarinta berdecak, "Bisa tidak bicaramu itu sopan sedikit. Aku ingin bertamu dan kau bahkan tidak mempersilahkan aku masuk," ucapnya tak perduli dengan tatapan Alvaro.
Alvaro hanya diam tak berniat menggubris ataupun menganggap Clarinta ada di depannya. Hal tersebut membuat wanita cantik itu menjadi keki.
"Aku hanya ingin memberikan buku yang tadi kau tinggalkan di perpustakaan," ucapnya dengan menyodorkan buku pada Alvaro.
Dengan cepat Alvaro langsung mengambilnya, "Thanks, tapi gue sibuk dan lu kayaknya harus pergi dari sini. Gue nggak nerima tamu wanita di apartemen gue," usir Alvaro.
Clarinta tersenyum kecut, ia bahkan langsung diusir tanpa sempat masuk dan duduk di sofa Alvaro.
Ya ampun, sepertinya Alvaro sangat sulit untuk didekati. Tapi nggak apa, gue nggak akan nyerah. Justru penolakan seperti ini yang bikin gue semakin tertantang. Ayo Clarinta semangat!
Melihat Clarinta yang melamun, Alvaro langsung mengambil langkah cepat dan menutup pintu. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya mencoba untuk tidak memusingkan sikap Clarinta. Alvaro tentu tahu wanita itu tengah berusaha untuknya. Tapi hati Alvaro telah terpaut untuk Nurul seorang. Jika Clarinta menginginkan cintanya, maka ia harus berjuang lebih keras lagi.
Di luar Clarinta tengah mengoceh tidak jelas sambil mengumpati Alvaro yang dengan tega menutup pintu padahal dirinya masih berada disana. Ia mencoba untuk menguatkan hatinya.
"Sabar Clar, ini baru permulaan, jangan menyerah. Dan sebaiknya aku pulang dulu sambil menyiapkan rencana untuk menarik hati Alvaro. Ya ampun, aku udah segila ini sama dia. Kalau akhirnya gue nggak berhasil dan patah hati, kira-kira rasanya sakit nggak ya?"
Clarinta pun memutuskan untuk pergi dari apartemen Alvaro karena ia yakin sampai kakinya ditumbuhi akar pun Alvaro tidak akan menemuinya untuk sekadar mengundang masuk ke dalam apartemen.
Alvaro yang melihat Clarinta sudah pergi melalui CCTV pun tersenyum kecut.
"Lu mending jangan ngarepin gue karena gue nggak mau lu sakit hati. Gue udah tahu gimana sakitnya patah hati. Tapi jika lu emang nekat, silahkan lu berjuang. Mungkin saja lu berhasil suatu hari nanti. Tapi gue nggak yakin untuk itu. Gue cuma mau Nurul."
.
.
Suasana ruang rawat Nurul kini penuh dengan tangis. Tangis haru, tangis bahagia dan tangis rindu. Nurul sudah diberitahu tentang soapa dirinya dan disana turut hadir pula Bu Uswa yang menjadi saksi anak asuhnya itu menemukan keluarganya. Bu Dianti bahkan tak melepaskan genggaman tangannya dari Nurul.
Bagaikan mendapat oase di gurun pasir, Nurul tidak hentinya bersyukur karena dirinya akhirnya dipertemukan dengan wanita yang sudah melahirkannya. Wanita yang selama ini selalu ia harapkan hadir walau hanya dalam mimpinya. Dan ternyata selama ini doanya sudah dikabulkan. Selama ini ia hidup berdampingan dengan wanita itu tapi ia tidak mengetahuinya. Hanya hatinya yang selalu merasa hangat saat dalam dekapan wanita ini dan mata teduhnya selalu mampu menenangkan hati Nurul.
"Maaf karena baru menyadarimu," lirih Bu Dianti.
Nurul hanya bisa mengangguk dan tak berhenti meneteskan air matanya. Ia tidak bisa berucap apapun kecuali bersyukur dalam hati atas anugerah terindah yang Tuhan berikan padanya.
"Ini papa sayang." Gantian Pak Deen memeluk Nurul. Sedari tadi pria itu menahan rasa ingin memeluk putrinya tetapi karena sang istri memonopoli Nurul maka ia tidak bisa bahkan hanya sekadar menyentuh.
Mereka bertiga berpelukan dan menangis bersama, menangis bahagia. Bu Uswa bahkan turut menangis menyaksikan pertemuan mereka. Tidak disangka langkahnya membawa Nurul dan anak-anak lainnya ke kota ini justru mempertemukan Nurul dengan keluarganya. Ia sangat bersyukur untuk ini. Ia berharap kebahagiaan mulai hari ini akan terus menemani Nurul. Semoga nasib malang yang menimpanya berhenti sampai disini saja.
"Bagaimana bisa Nurul terpisah dari kalian?" tanya Nurul yang memang belum dijelaskan bagaimana bisa ia terpisah dari keluarganya. Ia hanya diberitahu jika dirinya adalah bagian dari keluarga Emrick.
Pak Deen mulai menceritakan ketika itu ia yang merupakan seorang pengacara membantu salah satu kliennya dan berhasil memenangkan kasus bertepatan dengan istrinya yang baru melahirkan anak keduanya yaitu Danissa Guzelim Emrick.
Selama satu bulan pasca sidang, semua berjalan lancar karena lawan mereka pada persidangan sudah dipenjarakan namun ada anggota keluarga mereka yang tidak terima sehingga mereka menculik Danissa kecil yang ketika itu sedang dibawa periksa ke posyandu.
Sudah hampir seluruh kota di negara ini mereka mencari bahkan menguras seluruh harta mereka dan akhirnya pindah ke kota mereka saat ini dengan membuka kantor baru. Selain karena mereka kembali membuka usaha, mereka juga berharap dengan pindahnya mereka maka Bu Dianti dapat melupakan kesedihannya. Namun ternyata diam-diam wanita itu masih terus menangis merindukan putri kecilnya.
"Jadi aku bukanlah anak buangan? Aku bukan aib dan ternyata aku ini adalah anak yang memiliki keluarga?" cecar Nurul dengan perasaan campur aduk.
"Bukan sayang, kamu anak kesayangan kami dan kamu bukan anak buangan dan bukan aib. Kamu punya kita keluarga yang selalu menyayangimu," ujar Bu Dianti yang merasa terluka dengan pertanyaan Nurul.
Pak Deen dan Danish mengepalkan tangannya. Mereka bisa menarik kesimpulan dari pertanyaan Nurul tadi bahwa Danissa mereka tidak melalui hari dengan baik-baik saja selama ini. Ucapannya barusan sudah membuktikan bahwa pernah ada orang yang mengatakan tentangnya sedemikian rupa. Rasanya mereka berdua ingin membumihanguskan orang-orang yang sudah melukai mental Danissa.
Nurul menangis tersedu-sedu dalam pelukan mamanya yang selama ini selalu ia impikan. Rasanya memeluk ibu kandung sungguh berbeda. Nurul sangat nyaman bahkan saking nyamannya ia sampai tertidur.
Bu Uswa dan Bu Dianti terkekeh karena melihat Nurul yang sudah pulas dalam tidurnya. Dengan perlahan Bu Dianti merebahkan tubuh Nurul dan merapihkan selimut di tubuh Nurul.
"Bu, terima kasih karena sudah merawat Danissa selama ini. Kami tidak tahu apa jadinya jika anak kami tidak bertemu dengan Bu Uswa," ucap Bu Dianti sambil menggenggam tangan Bu Uswa.
Bu Uswa menggeleng, "Tidak perlu berterima kasih, Bu. Semua sudah diatur oleh Yang Maha Kuasa. Saya juga menyayangi Nurul dengan segenap hati saya. Dia anak yang sangat baik dan sangat pengertian. Dia juga sangat cerdas dan tak pantang menyerah. Selalu semangat bahkan dalam keadaannya yang terpuruk seperti saat ini. Dia mengandung anak seseorang yang entah siapa lelaki itu," ucap Bu Uswa dengan matanya memandang lekat Nurul yang sedang tertidur.
Danish dan papanya kompak mendekati Bu Uswa dan mereka menanyakan hal yang sama, "Siapa yang sudah menghamili Danissa?"
Bu Uswa menggeleng, "Saya tidak tahu, Pak. Selama ini Nurul tidak pernah pacaran. Lelaki itu memperkosanya dan dari yang saya tahu, lelaki itu mempermainkan Nurul dan menjadikan Nurul sebagai gadis taruhan. Tapi Nurul yang lebih dulu tahu hal itu pun menolak pria itu hingga akhirnya ia diperkosa dan hamil," cerita Bu Uswa dengan mata berkaca-kaca. Ingin sekali ia katakan jika dirinya turut andil memisahkan lelaki itu dari Nurul, tetapi ia tidak punya keberanian untuk itu.
"Brengsek!" umpat Danish.
Keluarga Emrick begitu marah mendengar cerita Bu Uswa. Mereka berniat akan menanyai Nurul ketika ia sudah bangun nanti.
Siapapun kamu yang sudah melakukan hal ini pada adikku, kamu akan habis di tanganku. Aku Danish Ganendra Emrick bersumpah akan menghancurkanmu. Siapa yang menyakiti keluarga Emrick maka bersiaplah untuk mati.