GADIS TARUHAN ALVARO

GADIS TARUHAN ALVARO
Terbawa Perasaan


Flora hanya bisa menjawab pertanyaan Axelle dengan senyuman tipis sedangkan Nandi ingin sekali menjawabnya. Hanya saja keduanya sudah melihat raut wajah Nurul yang terlihat ketakutan dengan pertanyaan Axelle tersebut. Mereka yakin Nurul tidak ingin membahas masa lalunya yang kelam. Walau bagaimanapun semua sudah menjadi masa lalu dan Nurul berhak mendapatkan kebahagiaannya.


Mereka tahu tidak mudah bagi Nurul melewati semuanya hingga sampai ditahap ini. Alvaro begitu menyakitinya dan keduanya yakin perlakuan Alvaro hingga meniduri Nurul itu sangat membekas di hatinya dan mereka tahu Nurul membutuhkan waktu yang cukup lama untuk kembali menyembuhkan hatinya.


Untuk yang satu ini memang gue nggak tahu mau membela yang mana. Alvaro memang pernah keterlaluan sama Nurul dan akhirnya dia sadar kalau dia benar-benar cinta bukan sekadar taruhan doang. Nurul juga pasti sakit banget dan gue nggak tahu seperti apa setiap waktu yang dia lalui setelah hari itu. Tapi melihat Nurul sekarang gue yakin dia udah bisa lepas dari semua pesakitannya. Mungkin memang mereka nggak jodoh.


"Nurul itu selalu menutup diri dari cowok-cowok padahal banyak yang suka," jawab Flora diplomatis.


Meskipun tidak puas dengan jawaban Flora, Axelle tidak lagi menganjurkan interogasi terselubungnya ini. Ia tahu ada hal berat yang mereka ketahui tentang Nurul juga tentang Aluna yang tidak bisa dibicarakan sembarangan. Axelle salut dengan kekompakan mereka yang berusaha menutupi masa lalu Nurul walaupun mereka sudah lama tidak bertemu.


"Lu benar, sama gue aja sangat sulit. Butuh kerja keras ekstra untuk mendapatkan dia," ujar Axelle sambil menatap Nurul dengan senyuman manis yang membuat siapapun meleleh karenanya.


Nandi--sebagai orang yang pro pada Alvaro-Aina hanya bisa membuang muka melihat interaksi manis dari keduanya. Ia hanya tidak tahu semuanya itu adalah sandiwara belaka yang bisa saja tamat kapanpun itu. Tapi tidak dengan Axelle yang memang melakukannya murni tanpa unsur sandiwara untuk meyakinkan pemirsa jika mereka adalah pasangan kekasih sungguhan bukan diatas kertas.


Nurul membalas senyuman tersebut dengan kaku. Ia semakin merasa risih karena sikap Axelle ini seperti layaknya kekasih bukan sebagai kekasih kontrak. Ayolah, mengapa harus memerankan sandiwara di depan teman-teman Nurul yang notabene tidak ada hubungannya dengan Axelle. Yang Nurul ketahui, keduanya hanya perlu bersandiwara di depan keluarga besar tuan muda Axelle ini, bukan di depan orang-orang yang tidak perlu diyakinkan akan hubungan mereka.


"Setelah makan bagaimana kalau kita pergi ke mall untuk membelikan oleh-oleh buat Aluna?" usul Axelle.


"Boleh juga," sahut Nurul kemudian ia menghabiskan sisa makanannya di piring lalu meneguk minumannya.


Nurul dan Axelle berpamitan pada Flora dan Nandi. Sebelumnya Flora meminta nomor ponsel Nurul dan keduanya bertukaran nomor telepon lalu berpelukan sebelum Nurul digandengan Axelle keluar dari restoran. Axelle juga mengatakan bahwa ia yang akan membayar makanan mereka malam ini dan Nandi bahkan tidak sempat protes.


Nurul yang melewati meja Miranda sempat saling bertatapan dan hati Nurul kembali patah saat tahu betapa cantiknya wanita ini. Pantas saja sore itu setelah menidurinya dengan paksa Alvaro langsung meninggalkannya begitu saja demi bertemu dengan bidadari cantik pilihannya ini. Mengingat peristiwa itu hati Nurul kembali terluka dan luka itu kini sedang ditaburi garam dan perasan air jeruk, perih dan sangat menyakitkan.


Miranda tersenyum manis pada Nurul dan Nurul membalasnya dengan senyuman tipis. Setelah Nurul pergi, pasangan yang tadi makan bersama mereka juga pergi dan sempat berhenti di depan meja Miranda.


"Oh wanita rubah ini sudah berani keluar dari hutan ya," cibir Flora yang akhirnya bisa mengeluarkan kekesalannya.


Miranda merasa tersinggung dengan ucapan Flora barusan dan ia langsung berdiri hendak menamparnya namun dengan cepat Nandi menangkap tangan Miranda dan menggenggamnya dengan kuat.


"Lu jangan coba-coba. Oh ya, gue peringatan sama lu untuk jangan mengusik kehidupan kami. Lu akan tahu akibatnya jika kembali membuat ulah! Gue nggak pernah main-main dalam hal ini. Lebih baik lu pergi jauh dan sayangi diri sama anak lu ini," ancam Nandi yang tidak lagi menunjukkan sikap konyolnya.


Miranda tersenyum sinis, "Gue nggak takut. Dan tolong lepasin tangan gue. Jangan membuat anak gue melihat hal yang tidak pantas dilihatnya," ucap Miranda dengan tak gentar melawan Nandi.


Dengan kasar Nandi menghempaskan tangan Miranda, "Lu tahu lu punya anak dan lu juga nggak mau anak lu melihat hal yang tidak pantas dilihatnya. Lu sadar diri makanya, jangan jadi manusia setengah setan!" maki Nandi kemudian ia menarik tangan Flora menjauh.


Miranda berdecih, kemudian ia duduk kembali dan menatap Frey yang asyik dengan makanannya. Ia mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.


"Halo sayang, rencana berjalan lancar. Aku udah ketemu sama Nurul dan aku yakin dia pasti mikir Frey ini anak aku sama Alvaro," ucapnya ketika panggilannya dijawab.


"Bagus sayang, sekarang kalian pulang dan jangan keluyuran karena kalian bisa saja nyasar di tangan keluarga Prayoga atau Elard."


Miranda menyimpan ponselnya kemudian ia mengajak anaknya untuk kembali ke rumah mereka. Ia tentu tidak mau ditangkap oleh orang-orang dari keluarga Prayoga maupun Elard.


.


.


Mobil Nandi terparkir di halaman rumah keluarga Prayoga. Ia tadi menghubungi Alvaro dan sahabatnya itu sedang berada di rumah dan sebentar lagi akan berangkat ke Kalimantan sehingga Nandi secepat mungkin datang ke rumah ini bersama Flora untuk membahas pertemuan mereka dengan Nurul.


Nandi dan Flora melenggang masuk ke dalam rumah tersebut dan mencari-cari sosok Alvaro yang ternyata berada di dalam kamar. Nandi membuka pintu kamar Alvaro dan mengajak Flora masuk.


"Ngapain bro? Gue 'kan mau berangkat. Lu jangan nunda kerjaan gue deh," ujar Alvaro dengan gaya tengilnya seperti biasa.


"Lu coba tebak gue ketemu sama siapa barusan," ucap Nandi tanpa mempedulikan cibiran Alvaro.


Cowok tengil yang sangat tampan dan mempesona ini menghentikan kegiatannya yang sedang meletakkan beberapa pakaiannya di dalam koper lalu ia menatap tajam ke arah Nandi. "Lu datang kesini cuma mau ngajak gue main tebak-tebakan?" tanya Alvaro dengan wajah geram.


Nandi berdecak kesal sedangkan Flora terkikik.


"Kalau lu datang bawa berita soal lu ketemu sama Aina dan Daniyal itu berita basi!" ucap Alvaro penuh penekanan. "Gue udah ketemu tadi di rumah sakit dan FYI Clarinta gila itu adalah adiknya tuan Daniyal dan tadi dia nyelamatin nyokap gue dari pria yang mau nyakitin nyokap. Dan FYI lagi, Aina juga tadi nyelamatin nyokap gue di rumah sakit dari para musuh yang mau nyerang nyokap yang kedua kali. Dan lu harus hati-hati dan lu kasih tahu ke om Ezio untuk jaga-jaga seperti yang pernah gue kasih tahu dulu. Hari ini mami diserang orang nggak di kenal sampai dua kali, besok mungkin Tante Rinda atau Tante Safira. Kita nggak bakalan tahu," ucap Alvaro panjang lebar. Ia harus mengingatkan Nandi dan harus mengalihkan pembicaraan soal Nurul saat ini.


"What? Lu serius? Tante Yani dua kali diserang orang nggak dikenal? Ini pasti ada yang nggak suka sama keluarga lu. Tapi kalau masalah bisnis, selama ini om Genta itu nggak pernah sesadis om Ben lho dalam menangani para musuh. Justru om Genta dikenal sebagai pebisnis yang sangat ramah dan bersahabat. Pasti ada orang yang nggak suka sama kalian," ucap Nandi, ia memang tahu seperti apa sepak terjang tuan Genta Prayoga dalam menangani bisnisnya selama ini.


Flora yang mendengarnya langsung bergidik ngeri. Untung saja keluarganya tidak sekaya keluarga Alvaro, Ikram maupun Nandi sehingga ayahnya aman dari gangguan pada musuh.


"Ya begitulah. Gue hanya khawatir ini ulah Kriss dan om Ruri Griffin. Gue pernah dapat chat dari dia dan dia emang mau perang sama kita. Lu siap-siap aja dan sebisa mungkin jangan lengah dan tetap waspada. Kalau ada apa-apa lu harus kasih tahu gue dan Ikram," ucap Alvaro.


Mata Nandi membulat sempurna, ia baru tahu kalau Kriss kembali muncul dan sudah memberikan pengumuman untuk perang sekali lagi. Ia pikir setelah Safira Magdalena Griffin--ibunya Ikram memberikan mereka setengah dari harta warisan keluarga Griffin mereka sudah puas dan tidak lagi membuat onar, ternyata ia salah besar. Mereka tetaplah mereka yang selalu serakah.


"Kalau benar ini ulah Kriss, dia pasti bakalan nyerang kita bertiga. Gue harus kasih tahu papa biar bisa jagain mama dengan baik dan lebih waspada. Mereka itu keluarga licik bahkan lebih licik dari om Ben. Lu juga harus hati-hati, kalau gitu gue mau pulang dan nganterin Flora," ucap Nandi yang sudah mulai resah, ia harus menyusun strategi setelah ini.


"Pantas!" celetuk Flora yang membuat Alvaro dan Nandi menatapnya dengan penuh tanya. "Pantas si wanita rubah itu muncul ke permukaan. Dia itu datang buat ngasih pertanda kalau mereka udah siap kembali membuat onar," lanjut Flora.


Nandi menepuk jidatnya, ia baru ingat kalau tadi mereka bertemu dengan Miranda. "Iya bro, tadi gue sama Flora ketemu sama Miranda dan anaknya. Kayaknya lu benar kalau mereka bakalan datang bawa keributan. Kita harus bersiap, gue sama Flora harus pulang," ucap Nandi yang langsung menarik tangan Flora keluar.


Alvaro menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kelakuan absurd dari sahabatnya itu.


"Gitu kek dari tadi lu pulang, gue harus segera pergi," gumam Alvaro. "Aina, lu sekarang silahkan bersenang-senang di Jakarta karena gue bakalan datangin rumah lu buat cari tahu. Kalau seandainya anak itu beneran anak gue, lu jangan coba-coba kabur dari gue. Detik itu juga langsung gue halalin lu. Bodoh amat sama Daniyal!"