GADIS TARUHAN ALVARO

GADIS TARUHAN ALVARO
158


Seperti yang sebelum-sebelumnya, Alvaro kembali mengalami dan menjalani hari-hari penuh derita ketika ia harus menanggung ngidam sang istri. Nurul sendiri siap sedia untuk memenuhi keinginan sang suami. Seperti Alvaro yang memintanya untuk membuatkan makanan atau melakukan hal-hal yang Alvaro inginkan, semua Nurul siap melaksanakannya.


Ada satu hal yang membuat Alvaro kesal, ia justru kehilangan gairah untuk bercinta dengan Nurul. Entah mengapa. Ia merasa sangat tersiksa dengan dirinya sendiri sedangkan Nurul merasa begitu menang karena Alvaro tidak lagi menggempurnya setiap saat dia menginginkannya. Nurul merasa bebas, ia semakin mencintai janinnya yang begitu sangat pengertian terhadap dirinya dan berbanding terbalik dengan Alvaro.


"Yang, kayaknya resepsinya nggak usah dilaksanakan dilaksanakan deh. Aku khawatir sama kondisi kamu ini lho. Mendingan kita istirahat aja," usul Nurul ketika ia memasangkan dasi di leher Alvaro.


Alvaro menyempatkan diri untuk mengecup dahi Nurul. "Nggak apa-apa sih Yang, aku masih sanggup kok. Jangan lah kita nggak ngerayain, kita aja akad udah sesederhana itu, masa kita nggak gelar resepsi. Emang kamu mau orang mengira kita ini belum menikah?" tolak Alvaro, ia sudah sejak lama menanti acara mereka tersebut sehingga ia akan memaksakan dirinya untuk tetap bisa melaksanakan acara tersebut.


Nurul menghela napas, ia sedikit memundurkan langkahnya setelah ia selesai memasangkan dasi Alvaro. "Ya terserah kamu deh. Mau ngebantah kamu juga sulit," ucap Nurul menurut.


Alvaro menepuk pelan kepala Nurul, "Istri yang baik. Ya udah yuk kita turun sarapan," ajak Alvaro yang langsung menggandeng tangan Nurul.


Saat sampai di meja makan, disana keluarga mereka sudah berkumpul dan tinggal menunggu dua sejoli ini turun dari kamar.


Seperti biasa, sarapan Alvaro yang merupakan bubur ayam tanpa ayam. Makanan yang sudah ia nikmati hampir seminggu ini. Jika ia tidak memakan bubur ini maka dia pastikan akan memuntahkan makanan lain yang masuk ke dalam perutnya dalam waktu tidak sampai lima menit setelah.


Aluna sendiri saat ini sudah sangat cantik dan duduk sendiri atas kursi makannya. Bocah itu tidak pilih-pilih makanan dan sangat mandiri. Namun begitu sang nenek tidak pernah membiarkan Aluna makan sendiri, Yani akan selalu menyuapinya dan setelah itu mereka berdua akan pergi bersama ke butik.


Aluna yang bercita-cita menjadi desainer membuat Yani sering memperkenalkan desain-desain pada pada bocah berusia tiga tahun lebih itu.


Selama kehamilan Nurul dan selama Alvaro menjalani ngidamnya, Aluna lebih sering bermain dengan neneknya di butik. Bukan karena Nurul tidak memperhatikan anaknya, tetapi itu semoga karena darah dan bakat dari kedua neneknya yang seorang perancang busana mengalir deras di tubuhnya.


Aluna sudah sangat bersemangat walaupun gambarnya itu tidak karuan dan Yani selalu saja memujinya dan memberikannya apresiasi-apresiasi lain sehingga Aluna tetap percaya diri untuk meneruskan cita-citanya.


Kadang-kadang Alvaro berkata kepada maminya jika maminya saat ini sedang memaksa Aluna berpikir keras dari usianya dan maminya yang sengaja membawa Aluna ke butik untuk belajar sedangkan anaknya itu masih dalam usia bermain.


Genta pun sama, tetapi Yani sendiri mengatakan jika bukan dirinya yang memaksakan kehendak melainkan Aluna. Jika bocah itu dilarang untuk ikut bersama neneknya ke butik, maka seharian dia akan merajuk dan membuat onar. Benar-benar persis seperti papinya waktu kecil, jika tidak dituruti keinginannya maka Alvaro kecil akan merajuk dan membuat kacau seisi rumah.


Buah jatuh tak jauh dari pohonnya, itulah istilah yang dibuat Genta untuk Aluna dan Alvaro.


"Gimana Varo, siap nggak besok buat acaranya? Kalau nggak, biar ditunda deh," tanya Genta setelah mereka selesai sarapan.


"Ya siap dong, Pi. Varo kuat kok dan masih sanggup. Resepsi kami juga jangan ikut-ikutan ditunda gara-gara aku. Udah resepsi Ikram ditunda, masa kami juga. Janganlah," jawab Alvaro.


"Ya sudah kalau itu memang keinginan kamu, semua persiapannya juga sudah hampir selesai dan pakaian kalian pun sudah siap di butik. Besok kalian tinggal menghadiri saja," timpal Yani selaku pengurus seluruh acara resepsi mereka.


"Oh ya, mama dan papa mertua kamu juga nanti siang akan sampai di sini, kalian jangan lupa untuk menjemputnya," ucap Genta setelah ia membaca pesan dari Deen yang mengatakan jika siang ini mereka akan sampai di Jakarta.


Alvaro mengangguk pasti. Ia pun terdiri dari kursinya karena ia akan segera berangkat ke kantor. Dan tak lupa ia menggendong aluna untuk membawanya sampai ke depan teras, lalu setelah itu ia akan pergi ke kantor.


Alvaro selalu menyempatkan diri untuk bermain sedikit dengan Aluna walaupun hanya dalam hitungan menit sebelum dia kembali sibukkan dengan pekerjaannya.


.


.


Karena rencana waktu itu gagal, jadi malam ini kamu harus bisa melaksanakan misi. Ini adalah kesempatan terakhirmu Kriss. Mereka semua akan berkumpul di satu gedung yang sama dan kau harus melakukan sesuatu untuk bisa memancing mereka keluar. Dan kali ini jika kau gagal maka kau sendiri yang akan menanggung risikonya."


Kriss lagi-lagi hanya bisa mengangguk pasrah, mungkin seumur hidupnya dia akan menjadi bulan-bulanan orang ini atau akan mati di tangan pria sadis ini jika saja ia tidak akan berhasil melaksanakan misinya.


Kriss sudah sangat bahagia ketika mendengar Ikram membatalkan resepsi mereka dan itu artinya pekerjaannya tidak akan dia laksanakan. Akan tetapi ternyata pria ini sama sekali tidak kehilangan informasi tentang jejak-jejak targetnya yang kali ini menargetkan acara resepsi Alvaro dan Nurul.


Entah Kriss harus berbuat apalagi untuk bisa menyelesaikan misi orang ini dan ia akan bisa terbebas dari jeratan mereka.


Kriss pun pulang ke apartemennya dan menemui Miranda, ia memeluk erat istrinya dan juga anaknya yang saat ini sedang bermain bersama Miranda.


Dada Kriss terasa sesak saat memandangi wajah tampan sang anak. Ia merasa seakan-akan tidak akan lagi bisa melihat wajah tampan itu selamanya. Begitupun dengan Miranda, ia tak henti-hentinya menghujani puncak kepala Miranda dengan ciuman.


"Malam ini aku tidak pulang ke rumah. Kalian jaga diri baik-baik, jangan bukakan pintu untuk orang asing atau jangan membuka pintu jika itu adalah orang suruhan dari tuan sialan itu!" ucap Kriss berpesan.


Miranda yang melihat gelagat aneh dari Kriss, Ia hanya bisa mengangguk lemah. Sejujurnya Ia juga memiliki firasat yang tidak baik malam ini, tetapi ia tidak bisa membaginya dengan Kriss karena melihat wajah suaminya pun sudah begitu murung Miranda tidak ingin menambah beban pikiran Kriss dengan menceritakan perasaannya yang sangat tidak enak saat ini.


"Aku harap kamu selalu dalam keadaan baik-baik saja dan dilindungi oleh Tuhan. Aku mohon kamu tetap kembali untuk kami setelah menjalankan misi tersebut, ya. Aku dan Frey sangat membutuhkanmu," ucap Miranda lagi kemudian ia memeluk tubuh Kriss dan menghirup aroma tubuh suaminya itu dalam-dalam.


Melihat Kriss yang tidak menjawab ucapannya tersebut membuat Miranda menghela napas pasrah.


.


.


Alvaro nampak sangat tampan dengan setelannya, begitupun Nurul yang sangat cantik dengan gaun pengantin yang khusus dirancang oleh mertuanya untuk dirinya. Keduanya langsung menjadi pusat perhatian saat memasuki aula hotel dimana resepsi pernikahan mereka diadakan.


Ucapan selamat membanjiri keduanya, entah dari sahabat ataupun kerabat. Disana tak lupa pula teman-teman mereka di kampus dan sekolah dulu, berbagai ucapan dan juga godaan dari mereka dilemparkan kepada pasangan serasi itu.


"Ciee ... yang dulunya ditolak terus eh tahu-tahu nikah, hehe."


"Wah nggak nyangka Alvaro dan Nurul nikah juga, emang sih gue udah feeling kalau kalian itu sangat serasi dan cocok jadi pasutri."


Dan masih banyak lagi suara-suara sumbang meramaikan acara tersebut.


Dari sudut berbeda, ada pasangan yang sebentar lagi akan melenggang ke pelaminan, Daniyal Axelle Farezta dan Evelyn Prayoga Mahesa. Keduanya nampak serasi dengan pakaian couple yang mereka kenakan. Axelle sama sekali tidak melepaskan genggamannya dari tangan Evelyn, dia begitu posesif seolah Evelyn akan pergi darinya seperti ia yang gagal menggenggam Nurul.


"Pantengin mulu, mantan lu emang cantik," sindir Evelyn yang melihat Axelle terus menatap ke arah pelaminan.


Axel tertawa lirih, "Siapa juga yang memperhatikan pasangan pengantin, gue lagi mandangin makanan di atas meja sana tuh, sepertinya menggugah selera. Makan yuk," jawab Axelle asal.


Evelyn mencebikkan bibirnya, ia tentu saja tidak percaya dengan ucapan Axelle namun jika dilihat-lihat tatapan Axelle memang tidak tertuju pada pasangan pengantin tetapi ia sedang memperhatikan hal yang lain dan itu entah apa.


Semakin di perhatikan, orang itu semakin mencurigakan. Jangan sampai mereka adalah orang-orang yang berniat jahat atau berniat merusak pesta ini. Atau jangan-jangan mereka ini adalah orang yang dulunya pernah memantau pesta pernikahan Clarinta. Sepetinya aku harus waspada dan tetap mengawasinya.


Dari sudut yang Axelle sedang perhatikan, Kriss saat ini sedang menatap haru pasangan suami istri yang saat ini sedang dibanjiri ucapan selamat dan juga doa dan harapan dari para tamu undangan.


Namun saat ini bukan waktunya untuk ia merasa haru terhadap perjuangan sahabatnya yang berhasil mendapatkan pujaan hatinya dengan semua pesakitan yang sudah ia lewati.


Saat ini nyawanya dan juga seluruh keluarganya sedang dipertaruhkan dalam acara resepsi ini.


Mata Kriss kemudian memindai seluruh target yang sudah diberitahu oleh tuannya itu, ia kemudian melihat Ikram yang sedang bergandengan tangan dengan wanita cantik bertubuh mungil, ia tersenyum kecut saat tahu ternyata wanita yang dinikahi Ikram adalah Tara.


Setelah semua target yang dimaksud berkumpul di dalam ruangan resepsi ini, Kriss pun memberi kode kepada orang-orang yang turut serta membantunya dalam misi kali ini.


Tiba-tiba lampu di ruangan tersebut meredup perlahan dan mati seketika, membuat ruangan tersebut menjadi gelap gulita.


Semua terdengar heboh, masing-masing dari mereka mencoba menyalakan flash lewat ponsel mereka masing-masing.


"Aina lu di mana Aina? Yang lu di mana Yang?" teriak Alvaro mencari keberadaan Nurul namun sudah tidak ada di sampingnya.


"Tara sayang, kamu dimana Tara? Tara!!" teriak Ikram tak kalah paniknya.


Semua berteriak heboh begitu mengetahui pengantinnya tidak berada di tempat dan Alvaro langsung menjadi gusar karena tahu saat ini istrinya sudah dibawa dari oleh seseorang.


Begitupun dengan Ikram yang saat ini sedang panik mencari istri kecilnya.


"Pengawal!! Gue nggak mau tahu, sekarang cari istri gue sampai dapat. Gue yakin orang yang menculiknya belum jauh dari sini. Periksa semua ruangan, periksa semua kamar dan periksa semua CCTV!" teriak Alvaro murka.


Semuanya pun bergerak untuk mencari keberadaan Nurul dan Tara, Ben langsung menghubungi seluruh anak buahnya begitupun Genta yang menghubungi Felix.


Tak ketinggalan Danish dan Axelle yang masing-masing dari mereka mengubungi pengawal bayangan milik mereka untuk membantu mencari Nurul dan Tara.


Sial! Berarti tadi aku nggak salah lihat, orang itu memang orang yang dulu pernah berencana untuk menghancurkan orang-orang yang berada dalam lingkaran keluarga Griffin dan Prayoga!


Setelah mengumpat dalam hati, Axelle pun menyusul untuk mencari keberadaan Nurul dan Tara. Mereka semua berpencar untuk bisa mendapatkan posisi kedua wanita itu saat ini. Karena durasinya begitu cepat, mereka yakin Nurul dan Tara pasti masih berada di sekitaran hotel.