
"Jadi rencanamu setelah ini apa? Jika nanti ketahuan anak itu adalah milikmu kamu akan bagaimana?" tanya Papa Deen.
Alvaro menggeleng, jujur saja ia tidak memiliki chemistry terhadap Jihan seperti ia terhadap Aluna ketika mereka pertama kali berjumpa di bandara. Biasanya ia akan marah atau kesal jika terusik seseorang, apalagi anak kecil. Tetapi ketika ia bertemu dengan Aluna di bandara secara tak sengaja waktu itu, ia langsung menyukainya. Belum lagi wajah mereka begitu persis sedangkan Jihan wajahnya lebih ke Irana.
Di meja poker pun Alvaro sama sekali tidak merasakan desiran saat menatap mata Jihan. Harusnya ada rasa tidak terima atau desiran aneh saat ia bertemu dengan Jihan untuk pertama kalinya.
"Varo belum tahu Pa. Mungkin papa punya saran? Varo lagi nungguin hasil tes DNA, semoga cepat keluar deh biar masalah ini cepat kelar. Niatnya nggak mau kasih tahu ke Aina karena anak itu 'kan belum jelas milik siapa, eh malah keburu ketahuan duluan deh. Sumpah Pa, Alvaro tidak pernah selingkuh atau mengkhinati Aina. Anak Papa itu wanita yang paling Varo cintai, nggak bakalan khianatin sumpah!"
Deen menganggukkan kepalanya, ia sangat tahu benar bahwa Alvaro sangat mencintai anaknya. Masalah ini pun timbul setelah mereka menikah dan Alvaro sebelumnya tidak tahu anak itu akan datang padanya.
"Kita tunggu dulu hasil tes DNA keluar, kalau masalah mengurus anak nanti kamu dibantu Danish. Jika anak-anakmu setuju maka dia bisa diajak tinggal bersama karena walau bagaimana pun dia adalah Prayoga. Sebenarnya hati papa sangat sakit Varo, tapi papa harus menempatkan diri diantara kalian. Tidak akan membela siapapun dan tidak akan menyalahkan siapapun. Papa hanya ingin rumah tangga kalian baik-baik saja," ucap Deen, ia memang selalu mengambil keputusan yang netral dan bijaksana.
Alvaro tersenyum kemudian ia memeluk mertuanya itu. Danish sendiri mendengus sedangkan Clarinta dan mama Dianti tidak memberi tanggapan apapun.
"Nah 'kan, kalau tahu gini mending dulu adikku itu dinikahkan sama Axelle. Hidupnya akan bahagia tanpa ada malasah yang datang apalagi dari masa lalu karena Axelle itu nol skandal," ujar Danish memanas-manasi Alvaro.
"Nah benar juga Kak. Bagusnya Nurul dulu sama kak Axelle ya. Eh tapi aku udah sayang banget sama kak Evelyn, nggak jadi deh. Duh kak Evelyn maafin Clarinta ya. Clarinta di pihak kak Evelyn kok," ucap Clarinta yang mengundang gelak tawa Danish dan kedua orang tuanya.
"Wait bro, jangan lupa kalau nyonya Carla itu tidak setuju ya. Apa harus diingatkan lagi bagaimana dia menghina istri gue di kafe?"
'Savage!'
Danish terdiam, ia merasa tertohok dengan ucapan Axelle barusan. Clarinta yang tidak tahu apa-apa tentang masalah itu hanya bisa menatap bingung. Alvaro sendiri kini tersenyum mengejek pada sang kakak ipar yang tadi sibuk memojokkannya dan dengan ucapan savage-nya itu ia berhasil mengalahkan mulut pedas kakak ipar lucknut.
Mama Dianti menyudahi perdebatan anak-anaknya tersebut dan ia meminta mereka untuk beristirahat dulu. Alvaro terpaksa masuk ke dalam kamar tamu, istrinya melarang ikut ke kamarnya sehingga malam ini ia akan memeluk kehampaan lagi.
Danish dan Clarinta tak lupa mengejek Alvaro dengan mempertontonkan kemesraan mereka. Alvaro yang kesal langsung membanting pintu hingga membuat dua pasangan usil itu tertawa terbahak-bahak.
Saat Alvaro tengah mengingat kembali kesalahan di masa lalunya dengan semua kelakuan bejatnya itu, ponselnya berdering dan itu adalah panggilan dari Axelle. Dengan malas Alvaro menjawabnya dan ternyata Axelle mengajaknya untuk bertemu padahal saat ini waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam.
Karena Axelle mengancam, Alvaro pun mau tidak mau menurut saja. Siapa yang akan rela jika istri tercinta menjadi taruhannya dan kakaknya pula akan terancam posisinya.
"Jika kau tidak datang maka pilihannya hanya dua, Nurul akan aku rebut kembali atau Evelyn akan menjadi janda."
Sebenarnya ucapan Axelle itu bermakna sama saja, jika ia menjadikan Evelyn janda ia pasti akan mendapatkan Nurul kembali. Itu tidak akan mungkin Alvaro biarkan terjadi.
"Gimana sayang, dia mau bertemu?" tanya Evelyn yang masih enggan keluar dari selimutnya.
Tadi setelah sampai di rumah, Axelle langsung menceritakan tentang ia yang bertemu dengan Nurul. Tidak ada yang ditutupi termasuk ia memperlihatkan chat yang dia kirimkan kepada Alvaro. Evelyn langsung mendukung tindakan suaminya ini, ia tahu niat suaminya ini bukan karena ingin mengambil kembali Nurul, tetapi ingin membuat Alvaro menyusul istrinya dan menyelesaikan masalah mereka.
'Jika pun Axelle hendak mendapatkan Nurul kembali, maka mana mungkin dia memperlihatkan semua itu padaku. Aku sangat percaya pada suamiku ini, dia hanya ingin semuanya baik-baik saja. Axelleku memang yang terbaik!'
"Buat dia mengerti sayang dan sesekali kerjai saja, biar dia menyesal dan ketakutan," imbuh Evelyn, dalam otaknya sudah terdapat rencana jahat untuk membuat Alvaro menderita.
Axelle mengangguk. Ia kemudian melirik Evelyn dengan tatapan yang membuat Evelyn bergidik ngeri.
"No ... jangan lagi sayang. Ini baru kelar dua ronde. Sekarang kamu temui adik lucknutku itu, aku juga penasaran dengan masalah mereka. Kalau Nurul sudah sampai pulang ke rumah orang tuanya, itu pasti ada masalah besar," ucap Evelyn kemudian ia menarik tubuhnya untuk duduk bersandar di headboard dan tanpa sadar selimut yang menutupi tubuhnya itu melorot ke bawah hingga membuat Axelle kembali menatap intens padanya.
Evelyn mengernyit, ia awalnya bingung mengapa suami tampan dan mapannya itu terdiam menatap ke arahnya. Oh bukan, Axelle menatap ke arah dadanya dan begitu Evelyn mengikuti arah pandangnya, ia langsung syok dan menarik cepat selimut untuk menutupi tubuhnya.
Dengan cepat Axelle menarik kembali selimut yang berusaha digunakan Evelyn untuk menutupi tubuhnya, lalu ia membuangnya ke sembarang arah.
"Ta-tapi bukankah kamu ingin pergi menemui Alvaro? Pergilah dulu, nanti setelah itu baru mengambil jatahmu kembali. Nanti dia menunggu," tolak Evelyn dengan berbagai alasan agar Axelle tidak kembali menyentuhnya karena jujur saja ia sudah sangat lelah setelah berjam-jam melayani hasrat sang suami, walaupun ia juga turut menikmatinya bahkan sangat menikmatinya.
Axelle menyeringai kembali. "Biarkan saja, tidak masalah membuatnya menunggu. Bukankah dia adalah sang tersangka utama?" ucap Axelle kemudian ia tidak peduli lagi dengan apapun yang diucapkan Evelyn karena saat ini dia inginkan adalah menuntaskan keinginannya bersama sang istri tercinta.
Di tempat berbeda Alvaro saat ini sedang menggerutu, sudah hampir satu jam ia menunggu kedatangan Axelle dari waktu yang sudah dijanjikan tapi pria itu tidak terlihat batang hidungnya. Begitu ia hendak pulang, akhirnya ia melihat Axelle melangkah dengan begitu santainya ke arahnya. Alvaro langsung memasang wajah sangar, ia akan memarahi Axelle karena sudah membuatnya menunggu sendiri selama ini.
"Bukankah Anda adalah orang yang paling tidak suka menunggu?" sindir Alvaro dan Axelle hanya mengangkat kedua bahunya tidak peduli.
Rasanya Alvaro ingin mencakar wajah Axelle yang sama sekali tidak mengindahkan ucapannya, meminta maaf atau menjelaskan sesuatu pun tidak. Akan tetapi dari rona wajahnya, senyuman yang mengembang di bibirnya, serta gerak-geriknya, Alvaro langsung tahu jika pria ini baru saja mendapatkan kenikmatan surga dunia yang ia sendiri gagal mendapatkannya sebab tidur terpisah dari sang istri.
Serumah tapi beda kamar. Sangat mengenaskan, bukan?
"Sebenarnya apa sih masalah lu dengan Nurul? Kenapa harus berbohong sama gue? Dan kenapa Nurul harus pulang ke rumah orang tuanya?" tanya Axelle to the point. Ia tidak ingin berbasa-basi lagi, apalagi saat ini panggilan di ponselnya itu terhubung dengan sang istri tercinta, tentu ia tidak ingin membuang-buang masa.
Alvaro menghela napas, ia menyelidiki raut wajah Axelle namun sayangnya ia tidak menemukan sesuatu yang mengganjal kecuali wajah Axelle yang terlihat semakin tua semakin tampan. Axelle yang lebih tua beberapa tahun darinya justru terlihat makin awet muda di usianya yang sudah setengah abad, persis seperti kakak ipar lucknut—Danish.
"Masa lalu yang tiba-tiba hadir dalam kehidupan kami membuat Aina marah dan meninggalkanku ..."
Alvaro pun menceritakan tentang Jihan dan tak ada yang ditutupi sama sekali termasuk kebejatannya. Hal tersebut membuat Axelle mengepalkan tangannya dengan erat.
Begitupun dengan Evelyn yang tengah mendengar percakapan mereka dari rumah. Ia begitu geram mendengar cerita sang adik yang ternyata sangat brengsek di masa mudanya. Walaupun tahu seperti apa sepak terjang Alvaro dulu, tetapi ia tidak pernah menyangka akan terjadi hal seperti ini di kemudian hari.
Untung saja Ia mendapatkan suami seperti Axelle, tidak pernah memiliki masa lalu yang kelam sehingga ia tidak akan takut karma itu mencuat di masa depan. Apalagi mereka hanya memiliki satu orang anak lelaki karena Evelyn tidak bisa hamil lagi, ia akan membuat anaknya terdidik seperti sang ayah—Axelle.
"Harusnya lu cari tahu dulu yang sebenarnya, bukan langsung mengambil tanggung jawab terhadap anak itu. Atau jika memang ingin mengambil tanggung jawab atasnya karena lu merasa dia itu adalah anak lu, harusnya bicarakan dulu dengan Nurul. Gue tahu itu semua akan menyakitkan Nurul karena wanita yang ternyata ibu dari anak lu itu adalah orang yang selalu merundungnya di kampus. Dan parahnya, itu adalah karena rencana lu sendiri. Nurul jelas akan sangat marah sama lu, tapi lu tahu sendiri dia adalah orang yang paling sabar dan pemaaf. Semua hanya masalah waktu!"
Ucapan panjang lebar Axelle diamini oleh Alvaro. Ia tahu seperti apa sifat Nurul yang sangat baik dan pemaaf, tetapi memang saat ini istrinya membutuhkan waktu untuk menenangkan diri. Apalagi masa lalu yang ternyata lebih kelam daripada yang paling kelam mencuat ke permukaan, Nurul pasti akan sangat kecewa terhadap dirinya.
Belum lagi dulu Nurul jatuh cinta kepadanya karena ia yang sering menjadi pahlawan kesiangan untuk Nurul, sampai akhirnya istrinya tahu bahwa semua yang terjadi padanya— pembullyan, perundungan, hinaan, cacian, makian, itu adalah rencana Alvaro. Dia adalah otak di balik semua kejadian itu, lalu dirinya berpura-pura menjadi pahlawan kesiangan untuk menarik hati dan simpati Nurul.
"Yang gue butuhin itu sekarang adalah solusi gimana caranya gue menghadapi masalah ini. Yang lalu biarlah berlalu, toh nggak bisa gue ulang lagi. Istri gue udah terlanjur marah, gue udah terlanjur dimusuhi sama anak-anak gue. Yang ke depannya ini gimana, Bro? gue pusing dan gue sangat berharap semoga anak itu bukan anak gue. Nggak apa-apa dia jadi anaknya Kriss, biar Frey ada saudaranya. Tapi jangan jadi saudara Aluna dan Naufal," ucapan Alvaro dengan sangat frustrasi.
Axelle menghela napas, ia tidak tahu apa yang harus dikatakan kepada Alvaro dan ia pun tidak memiliki solusi untuk masalah ini. Axelle hanya diam sambil berpikir akan memberi saran apa kepada saudara iparnya ini.
"Kalau menurut gue sebaiknya lu tungguin dulu hasil tes DNA-nya keluar, nanti kalau emang dia terbukti anak lu sepertinya lu harus sediain dia tempat berbeda dari Nurul dan juga anak-anakku bersama Nurul. Karena, gue yakin kalau Aluna dan Naufal belum siap untuk menerima saudara baru. Berikan mereka waktu untuk saling mengenal tapi jika dia terbukti anak Kriss maka lu harus mengajak Frey bicara dan meminta bantuan darinya, akan seperti apa tanggapannya untuk saudaranya tersebut."
"Lalu, jika dia bukan anak dari kami berdua?" tanya Alvaro merasa dongkol. "Dia sudah terlanjur menganggap gue sebagai orang tuanya, kalau nanti hasilnya gue bukan orang tuanya begitupun dengan Kriss, gue harus gimana? Masa tiba-tiba gue buang dia," tanya Alvaro lagi.
"Iya ya ... itu sih ... derita lu ya, bukan derita gue," ucap Axelle kemudian ia tertawa.
Alvaro mendengus, dia tidak menyangka saja Axelle akan mengatakan hal seperti itu padanya. Awalnya memberi nasihat panjang lebar, tiba-tiba menghempaskannya begitu saja dengan kata-katanya barusan.
Axelle kemudian menghentikan tawanya dan menatap serius kepada Alvaro.
"Jika dia bukan anak lu, nanti biar lu angkat aja jadi anak atau paling enggak lu bantulah dia— sekolahnya sampai dapat kerja. Seenaknya dia merasa walaupun lu bukan orang tua kandungnya setidaknya lu masih peduli padanya. Jangan biarkan dia sendiri, nanti akan timbul masalah baru seperti rasa dendam, dan dia akan berpikir untuk mencelakai kalian terutama anak-anakul lu. Berikan dia kenyamanan walaupun lu bukan orang tua kandungnya seenggaknya dia merasa diperhatiin. Nanti juga lu bilang kayak gitu ke Nurul, biar kalian sama-sama enak dan sama-sama baik-baik saja."
Alvaro menganggukkan kepalanya, ia sebenarnya sudah memikirkan hal ini sebelumnya akan tetapi ia masih ragu. wajah polos Jihan tidak mungkin akan menjadi pendendam, itu yang ada di pikiran Alvaro. Namu antisipasi lebih dini memang sangat diperlukan, apalagi anak itu merupakan keturunan Irana yang memiliki ambisi yang kuat dan bisa menghalalkan segala cara untuk mendapatkan keinginannya.
"Oke, thank you untuk waktu bicaranya ya. kalau nanti dia terbukti bukan anak gue, gue bakalan tetap beri dia perhatian tapi tidak seperti kepada Aluna, Frey dan Naufal. Dan kalau nantinya dia macam-macam ... dia nggak tahu seperti apa kejamnya menantu gue," ucap Alvaro menyeringai.