
Frey melangkah meninggalkan Keenan yang sedang berada di dalam toilet, ia kemudian merogoh saku celananya untuk mengambil ponselnya. Sambil berjalan ia menelepon seseorang.
"Halo paman, rencana berjalan lancar dan sepertinya sebentar lagi akan ada serangan balasan dari mereka karena saat ini para bodyguard sedang membawa Leon ke rumah sakit dan Keenan sendiri baru aku berikan syok terapi. Bagaimanapun dia adalah keponakan paman, dia belum melakukan hal gila jadi aku masih menahannya," ucap Frey yang menghubungi Ikram.
Ikram menyeringai, andaikan Alvaro belum pulang pasti ia juga akan mendengar kabar ini. Rencana yang ia katakan pada Alvaro jika mereka lebih baik menyerang lebih dulu dengan menggunakan rencana yang sama yaitu anak-anak. Jika lawan mereka baru merencanakan alias si perencana, maka mereka lah yang akan menjadi eksekutor.
"Bagus, paman akan menghubungi mertuamu. Kau belajarlah dengan baik dan tetap jaga Aluna," ucap Ikram.
"Baik paman."
Panggilan berakhir, Ikram langsung menghubungi Alvaro. Tadi Alvaro sendiri langsung menyetujui rencana Ikram dan ia yang akan menghubungi ayah Leon dan membiarkan masalah ini dengan baik-baik. Mungkin saja tuan Cakrawala Shan -- ayah Leon tidak tergabung dalam misi balas dendam keluarga Elard.
Alvaro yang mendengar kabar kalau menantunya sangat cekatan dan begitu sangat diandalkan lansung berbangga diri. Tidak salah ia menjodohkan Aluna dan Frey serti didikan keras yang ia berikan kepada Frey sungguh sangat berguna sebab Frey bisa sehebat itu.
"Gue akan ke kantor Cakrawala Shan sekarang. Kebetulan kami pernah memiliki kerja sama. Gue harap masalah ini segera berakhir agar hidup kita segera kembali aman, damai dan tentram!" Alvaro kemudian mengakhiri panggilannya dan ia segera menuju ke perusahaan milik keluarga Shan.
Hampir setengah jam Alvaro mengendarai mobil, sampailah ia di kantor milik Cakrawala Shan. Ia yang tidak memiliki janji temu dengan pria itu harus meminta tolong kepada resepsionis untuk menyambungkan ke ruangan Cakra.
Tuan Cakra yang mendapat informasi bahwa pebisnis nomor satu di kota ini datang menemuinya langsung meminta resepsionis menemani Alvaro hingga ke ruangannya. Sambutan yang baik dan ramah itu membuat Alvaro yakin jika tuan Cakra sama sekali belum tahu tentang keadaan Leon.
Tuan Cakra menyambut Alvaro dengan senang hati dan keduanya saling berjabat tangan. Ia meminta Alvaro untuk duduk bersamanya di sofa agar bisa berbicara lebih santai.
"Sejujurnya sana sangat terkejut karena tiba-tiba Anda datang menemui saya. Apakah ada hal penting?" tanya tuan Cakra dengan wajahnya yang tak lepas dari senyuman.
Alvaro tersenyum, sebelum datang ia sudah menyiapkan segudang kata untuk memulai pembicaraan mereka.
"Begini tuan Cakra, saya datang mungkin membawa berita yang tidak enak dan mungkin kita akan berselisih. Tapi semoga saya datang kepada orang yang tepat, bukan sebagai oposisi saya," ucap Alvaro dengan membuat teka-teki di pikiran tuan Cakra.
Pria yang seumuran dengan Alvaro itu mengernyit, sangat jelas jika ia tidak tahu apa yang hendak disampaikan oleh Alvaro.
"Katakan tuan Prayoga, ada masalah apa? Apakah masalah bisnis?"
Pertanyaan tersebut dijawab gelengan kepala oleh Alvaro. Tuan Cakra sedikit bernapas lega karena ternyata bisnisnya aman-aman saja karena jika ia sampai terkena masalah bisnis dengan pengusaha sukses ini, bukan tidak mungkin ia akan berada di ambang kehancuran.
"Tapi akan berdampak pada bisnis Anda jika ternyata terbukti Anda menjadi musuh saya," imbuh Alvaro yang semakin membuat tuan Cakra ketar-ketir.
"Maaf tuan Prayoga, bisakah Anda menjelaskan kepada saya apa yang terjadi agar say--"
"Sekarang Leonardo Shan sedang berada di rumah sakit setelah dipukuli oleh anakku," potong Alvaro.
Tuan Cakra mendadak terbungkam, ia sangat terkejut karena bahkan tidak ada dari pihak sekolah yang menghubunginya apabila terjadi pembullyan di sekolah.
Nampak jelas tuan Cakra yang tadinya marah justru kini wajahnya sangat terkejut. Alvaro tidak boleh gegabah dan menganggap tuan Cakra tidak terlibat sebab ia sudah banyak menghadapi rubah berwujud manusia.
Tuan Cakra menanyakan pada Alvaro sebenarnya apa yang terjadi dan ia juga sedang berusaha meredam emosinya karena perbuatan anak dari Alvaro yang membuat Leon masuk rumah sakit. Pria ini memanglah orang yang cukup bijaksana dan mampu menahan segala bentuk emosi sampai ia mendapatkan penjelasan.
Alvaro pun mulai menjelaskan duduk perkaranya dimana keluarganya terlibat masalah berlarut-larut dengan Bastian Elard dan kini sangat besar kemungkinan mereka menggunakan Leon sebagai salah satu senjata mereka membalas dendam.
"Tapi itu baru kemungkinan, tuan Prayoga. Harusnya anak Anda tidak memukuli Leon sesadis itu. Dan saya bersumpah bahwa saya sama sekali tidak tahu masalah kalian. Saya tidak begitu akrab dengannya sebab istrinya adalah adik ipar saya. Saya tidak memiliki hubungan darah dengan Bastian Elard," sanggah tuan Cakra.
Alvaro tersenyum miring, "Dan anak saya tidak akan melakukan hal sefatal itu jika saja tidak ada alasan yang kuat. Bagaimana kalau kita ke rumah sakit sekarang dan mencaritahu kebenarannya," ucap Alvaro.
Merasa apa yang dikatakan oleh Alvaro benar adanya, tuan Cakra pun mengiyakan dan keduanya sama-sama ke rumah sakit dengan menggunakan mobil Alvaro sebab ia menyetir sendiri tanpa sopir.
Saat Alvaro sedang berada di jalan, ia mengabari Ikram dan juga Frey untuk segera menyusul. Frey yang masih memiliki jam pelajaran terpaksa meminta izin untuk pergi ke rumah sakit dan tak lupa ia membawa turut serta Aluna sebab ia tidak ingin membiarkan siapapun menyakitinya di sekolah sekalipun sebenarnya ada seseorang yang sudah lama ia siapkan untuk menjaga Aluna tanpa diketahui siapapun.
"Sebenarnya ada apa sih Frey?" tanya Aluna saat mereka sedang berjalan keluar menuju ke mobil mereka.
"Papi tadi telepon dan suruh ke rumah sakit," jawab Frey.
Mata Aluna membulat sempurna, pikirannya langsung buruk karena yang ia tahu kedua orang tuanya masih berada di Kalimantan dan mendadak kini sudah berada di rumah sakit. Langkahnya terhenti namun Frey segera merangkulnya.
"Bukan keluarga kita yang sakit. Ada yang sedang diurus di rumah sakit dan kita diminta untuk datang," ucap Frey mengerti dengan apa yang tengah dipikirkan oleh Aluna.
Aluna menatap Frey untuk mencari kebenaran dan Frey menganggukkan kepalanya hingga Aluna bernapas lega. Keduanya pun masuk ke dalam mobil dan di belakang mereka ada Keenan yang mengikuti mereka diam-diam.
Tak sampai sepulu menit mereka sampai di rumah sakit yang memang tidak jauh dari sekolah karena para bodyguard membawa Leon ke rumah sakit terdekat. Frey yang sudah tahu dimana ruangan Leon pun lansung membawa Aluna ke kamar rawat inap.
Dua bodyguard tersebut langsung pergi dan Frey memintanya untuk menjaga Naufal karena bukan tidak mungkin setelah ini Naufal akan jadi sasaran karena disana juga ada Ziyan, Ziya dan Davin yang harus dijaga ketat.
Di dalam ruangan, Leon sudah sadar dan berusaha untuk menjatuhkan Frey dihadapan ayahnya. Selagi Frey tidak ada, ia bisa mengadu domba dan membuat ayahnya menghukum Frey. Namun tatapan mengintimidasi dari Alvaro membuat nyali Leon ciut. Ia mulai ketar-ketir jika saja ternyata Frey sudah memberitahu orang tuanya tentang kejadian malam itu.
"Jadi tuan Prayoga dan tuan Elard, mari kita tanyakan pada Leon sebenarnya ada masalah apa," ucap tuan Cakra, "Dan kau Leon, apa sebenarnya penyebab hingga Frey memilikimu sampai masuk rumah sakit?" imbuhnya sambil menatap lekat kedua mata anaknya agar menjawab dengan jujur.
Leon ketakutan, ia gemetar karena selama ini ia begitu takut jika ayahnya sampai marah apalagi kecewa padanya.
"Se-sebenarnya masalahnya adal--"
"Dia sudah memberikan Aluna minuman berisi obat perangsang dan membawanya ke salah satu kamar hotel," ucap Frey yang datang dari balik pintu.
"Apa?!" pekik Alvaro, Ikram dan juga tuan Cakra bersamaan.