GADIS TARUHAN ALVARO

GADIS TARUHAN ALVARO
114


Pasangan yang baru saja bertemu itu sudah melenggang pergi meninggalkan Alvaro yang sedang pusing sendiri karena tadi tidak sempat menjawab pertanyaan Nurul dan ia sudah langsung menutup panggilan video tersebut. Tapi disamping itu, Alvaro harus fokus mengerjakan pekerjaannya karena ia tetap harus profesional.


Ia bertekad akan kembali merebut posisi nomor satu pebisnis di negara ini dan mengalahkan Axelle. Dengan begitu, ia bisa memperlihatkan bahwa ia bisa diandalkan dan bisa dibanggakan.


Pekerjaan itu hampir selesai ketika jam makan siang datang. Alvaro menyimpan berkas-berkas itu lalu ia keluar. Hari ini ia memiliki janji temu bersama dua sahabatnya di salah satu kafe milik keluarga Griffin. Kafe itu dikelola sendiri oleh Ikram dengan orang-orang kepercayaannya yang menangani segalanya di kafe yang tersisa milik keluarga Griffin untuk pembagian dari ibunya.


Beberapa restoran jatuh ke tangan Ruri Griffin atas pemberian ibunya dan Ikram hanya mengelola beberapa saja karena ibunya malas berdebat soal harta warisan. Namun tetap saja, pasangan ayah dan anak itu tetap serakah dengan ingin menguasai semuanya. Bahkan dengan tamaknya mereka justru mengajukan tuntutan hukum dan ingin mengambil seluruh harta warisan tersebut. Ben Elard tentu tidak akan terima dan pasti akan terus memperjuangkan hak istrinya walaupun seluruh hartanya masih sanggup untuk memenuhi seluruh kebutuhan anak cucunya nanti.


.


.


Alvaro sampai di kafe yang dimaksud dan di sana ia sudah melihat ada Ikram yang duduk menunggu tanpa Nandi. Alvaro mendekatinya dan langsung duduk di samping Ikram. Ia menemukan sahabatnya itu sedang melamun dengan bibir tersenyum. Alvaro mengernyit, bahkan sahabatnya ini tidak sadar jika dirinya sudah duduk beberapa saat.


Fix, ikram pasti lagi jatuh cinta!


“Woii!!”


Dengan isengnya Alvaro mengagetkan sahabatnya ini. Ia sebenarnya senang jika saja Ikram benar-benar sedang jatuh cinta namun wajah mesum Ikram itu benar-benar mengganggu pandangan mata Alvaro.


Ikram tentu saja terkejut dan slaah tingkah. Ia yakin sekali Alvaro sudah melihatnya sedang melamun dan entah seperti apa reaksi wajahnya tadi selama melamun dan pasti akan menjadi bahan ejekan Alvaro.


Dengan santainya Ikram kembali memasang tampang cool. Cowok dengan harga diri setinggi langit ini tidak mau terlihat aneh dan canggung di depan sahabatnya. Cukup Alvaro dan Nandi saja yang otaknya sedikit geser, ia tidak mau.


“Udah lama lu datang?” tanya Ikram.


Alvaro mengangguk-anggukkan kepalanya, “Lumayan, sekalian bisa lihat lu lagi bego. Lu lagi mikirin apa sih? Jatuh cinta lu?”


Ikram tersenyum, “Mungkin. Gue mau kawin!” ucap Ikram yang kini gantian Alvaro yang terkejut.


Bagaimana bisa sahabatnya yang jomblo ini akan menikah sedangkan melihatnya bersama seorang gadis saja tidak pernah. Saking herannya Alvaro langsung meletakkan punggung tangannya di dahi Ikram kemudian ia menggeleng karena dahi itu tidak panas ataupun hangat.


Ikram menepis tangan alvaro, ia tidak sakit dan memang tidak gila!


“Gue waras! Gue memang mau nikah sama seseorang dan gue bakalan lamar dia secepatnya. Gue nggak mau ada drama perpisahan atau apalah gitu. Gue mau langsung ke intinya saja, suka–cinta–lamar–nikah,” ucap Ikram yang semakin membuat Alvaro melongo.


Ia menyandarkan punggungnya di sandaran kursi. Hari ini dua kali ia mendengar orang ingin menikah dan dirinya yang sudah punya calon istri dan sudah memiliki anak saja entah kapan akan menikah. Danish dan Ikram malah ingin curi start darinya. sungguh malang nasib tuan muda ini.


Kalau hari ini sampai tiga kali gue dengar bakalan ada yang mau nikah dan mereka bilang ke gue mungkin gue nggak bakalan nikah! Atau gue bakalan nyulik Aina lagi dan gue bawa ke KUA.


“Who’s the girl?” tanya Alvaro.


Ikram tersenyum, “Namanya Tara. cukup itu yang perlu lu tahu dan jangan coba-coba lu cari tahu yang lainnya lagi! Oh iya, dia juga sempat ngasih tahu gue sih kalau Miranda ada niat jahat ke gue. Dia itu salah satu office girl di kantor gue dan dia masih muda banget. Orangnya cantik dan manis. Sedikit pemalu tapi justru itu daya tariknya. Dia terlilit hutang sama Miranda, makanya si lampir itu nyuruh dia buat nyelakain gue tapi berhubung dia adalah anak baik, dia ngasih tahu semuanya ke gue. Gue tadinya mau bantu dia buat lunasin semua hutangnya ke Miranda tapi dia nggak mau dan dia juga nggak mau berhutang budi lagi ke gue,” cerita Ikram dengan wajahnya yang berseri-seri khas seseorang yang sedang jatuh cinta.


Alvaro berdecak, “Fix, lu emang udah jatuh cinta sama dia. Tadi lu bilang gue cukup tahu namanya tapi lu malah cerita semuanya tanpa gue minta. Cinta emang kadang bikin bego seseorang ya?” ledek Alvaro, ia ingat sekali kalau dulu Ikram pernah mengatainya seperti itu.


Ikram membuang muka, ia merasa malu dan ketika ia merasa malu ia langsung teringat akan wajah malu-malu Tara.


Sial! Apa jatuh cinta itu memang bikin orang jadi aneh dan bego kayak Alvaro?


Melihat gelagat Ikram membuat Alvaro menyunggingkan senyuman. Ia tentu saja sangat bahagia melihat sahabat-sahabatnya bahagia. Walau ia sempat kesal karena ada hubungannya dengan Miranda, tapi sejauh ini sahabatnya ini tidak pernah salah dalam menilai seseorang. Ia berharap secepatnya Ikram akan menikah dan membina rumah tangga bahagia seperti yang selalu sahabatnya ini bayangkan sejak kecil.


Tak lama berselang Nandi pun datang, ia langsung mengambil tempat dan memasang senyum sejuta watt. Gelagatnya ini cukup membuat dua sahabatnya penasaran.


Nandi mendengus, Ikram selalu saja merusak suasana. “Gue lagi senang aja,” jawab Nandi.


Kedua sahabatnya itu hanya ber-oh saja. Nandi kembali mendengus. Ketiganya pun memutuskan untuk segera memesan makanan.


Sambil makan ketiganya mengobrol dan rupanya keinginan Genta dan Ben untuk bertemu sudah diketahui oleh ketiga keluarga ini dan nanti malam rencananya mereka akan bertemu untuk membicarakan permohonan maaf pada keluarga Deen Emrick sekaligus rencana ingin melamarkan Nurul untuk Alvaro.


Nandi sedikit becerita tentang ia yang mendapat amukan dari papanya saat tahu tentang permainan taruhan gila mereka itu dan akhirnya nyasar pada anak teman orang tua mereka.


Ikram terkekeh, untung saja ia berhasil selamat dari ayahnya dan memilih kabur hingga akhirnya bertemu dengan Tara. Oh … oh … lagi dan lagi semuanya kembali ke Tara dan senyuman Ikram tidak bisa ditawar lagi.


Ini jam makan siang kenapa lama sekali sih? Gue juga udah mau balik ke kantor dan mau bertemu sama Tara. Rasanya nggak lihat dia sehari saja udah bikin gue pusing. Apa seperti ini yang dulu dirasakan sama Alvaro ya? Tapi gue nggak mungkin sampai se-bego dia juga 'kan?


Alvaro yang melihat gelagat Ikram sedikit mencibir, agak aneh melihat Ikram yang seperti sekarang ini. Ia lebih terbiasa melihat ekspresi sahabatnya yang datar dan dingin.


Sambil memperhatikan ikram, Alvaro mendadak teringat sesuatu.


"Bro, bukannya lu jomblo karena nungguin Farah? Kok lu bisa lupa sama cinta monyet lu itu? Katanya setia menjomblo demi Farah, eh tahu-tahu udah mau nikah aja. Lu gimana sih?"


Nah dilema, dilema deh lu. Galau ya galau deh. Hehehe.


Ikram yang sedang mengunyah makanannya langsung kehilangan kekuatan rahang dan giginya. Mendengar nama itu membuatnya tidak bisa melakukan apapun.


Bagaimana bisa ia lupa dengan Farah yang selama ini ia tunggu kedatangannya yang waktu kecil pernah berjanji akan kembali ke Indonesia dan mereka akan menikah.


Bagaimana bisa seorang Tara membuat Ikram mendadak jatuh cinta hanya dengan melihat kejujuran dan wajah malu-malu gadis itu?


Ikram bingung dan dilema. Alvaro justru menyembunyikan tawanya. Ia tidak bermaksud membuat sahabatnya ini pusing, tetapi ia berharap Ikram tidak akan mengulang kesalahan yang sama dengannya yang pernah ada di posisi ini.


"Gue sebagai sahabat lu nggak maksud untuk bikin lu bingung. Gue pernah ada di posisi ini sebelumnya dan see, gue kehilangan Aina. Gue pada masa itu berada dalam dilema hingga gue nggak sadar cinta yang seharusnya itu justru gue lepas demi dia yang ternyata bukan apa-apa untuk gue. Gue cuma nggak mau lu mengulang kesalahan yang sama seperti gue," ucap Alvaro.


Ikram membenarkan ucapan Alvaro dalam hati sedangkan Nandi langsung setuju dengan ucapan Alvaro.


"Varo benar, Bro. Jangan sampai lu menderita dengan salah ambil keputusan. Lagian si Farah juga nggak pernah ngasih lu kabar, 'kan? Mending lu pikir-pikir dulu deh. Mantapin tuh hati biar nggak salah pilih. Saran gue juga nih, mending lu cari si Farah dan lu tanya ke dia seperti apa perasaannya ke elu. Kita nggak bakalan tahu kalau nggak mencari tahu," timpal Nandi.


Farah? Kenapa gue bisa lupa sama dia? Gue juga nggak tahu dia berada di belahan dunia mana.


Ikram menerima semua saran dari sahabatnya yang menurutnya memang sangatlah benar. Perasaannya yang tadi menggebu-gebu ingin segera bertemu Tara kini hilang sudah. Alvaro benar, ia jangan sampai mengulang kesalahan yang sama dan Nandi benar jika ia memang harus mencari keberadaan Farah. Ikram tidak ingin menyakiti siapapun. Dan Tara, gadis itu jangan sampai sakit hati karena ia mulai mendekati lantas ia masih berhutang janji dengan seseorang di masa lalunya.


"Bro, gue nggak maksud menghasut lu tapi belajar dari pengalaman mungkin saja di Farah udah sama yang lain dengan dia yang nggak pernah ngasih kabar. Lagian janji itu kalian ucapin saat masih SMP. Udah kadaluarsa kali! Mending lu sama di Tara aja, kayak gue milih Aina walaupun telat nyadar," ucap Alvaro yang semakin membuat Ikram dilema.


Alvaro memang selalu diluar nalar dan sering membuat Ikram sakit kepala tapi sahabatnya ini benar dan sudah berpengalaman dan teruji klinis tentang percintaannya yang tragis itu.


"Hmmm … daripada kita mutusin disini, mending kita ke kantor Ikram. Gue penasaran sama cewek yang udah bikin kulkas ini jatuh cinta. Yuk Ro!" ajak Nandi.


Jika Alvaro bersemangat maka Ikram menggeleng keras, "Jangan coba-coba! Gue nggak mau kalian khilaf dan malah jatuh cinta sama dia. Gue aja belum nyatain perasaan dan lu berdua udah mau nikung? Cari mati!"


Alvaro dan Nandi saling berpandang dengan tatapan aneh. Entah apa yang ada di pikiran Ikram saat ini, pikir keduanya.


"Gue Nandi Ragnala dengan ini menyatakan bahwa teman gue yang bego dan bucin udah bertambah satu. Selamat datang di dunia perbucinan yang bikin bego saudaraku Ikram Ben Elard!"