
Axelle menatap Evelyn yang baru saja turun dari tangga setelah menemani Nurul beristirahat di kamarnya. Evelyn berpamitan pada Alvaro karena ia masih ada kencan yang tertunda bersama Axelle dan akan segera mereka lanjutkan. Alvaro pun bergegas masuk ke dalam kamar untuk bisa menemani sang istri. Ia merasa bersalah karena lagi-lagi tidak bisa menjaga Nurul dengan baik. Andaikan ia tidak mengejar dan mementingkan menunggui Kriss, mungkin hal itu tidak akan terjadi.
Mengingat Kriss membuat Alvaro kesal pada pria yang tadi sudah ia bekuk namun tetap saja pria itu tidak mau mengaku siapa sebenarnya yang menyuruhnya dan malah menuduh papinya yang sudah menjadi otak dari semua rencana penyerangan dan sabotase. Dari sini Alvaro bisa menyimpulkan bahwa orang ini sudah mengenal ketiga sekawan itu dan orang ini pasti mengetahui banyak hal tentang mereka.
Ia ingin sekali pergi ke markas itu untuk mencari tahu lebih lanjut tetapi ia tidak bisa meninggalkan Nurul sendirian di rumah ini karena istrinya baru saja mengalami insiden yang membuatnya ketakutan.
Ia benar-benar merasa geram, baru saja menjadi pengantin baru dan seharusnya mereka sedang merencanakan bulan madu tapi justru harus merencanakan penangkapan penjahat. Alvaro merasa hidupnya benar-benar sial.
Ia kemudian ikut berbaring di samping Nurul sambil memeluk istrinya dari samping lalu memejamkan matanya dan ia akhirnya terlelap bersama Nurul.
.
.
"Jadi apa yang membuatmu datang ke kota ini dan mengajakku terkencan? Apa kau jatuh cinta padaku?" tanya Evelyn ketika mereka sudah berada di dalam mobil milik Axelle.
Axellel kemudian melirik sekilas ke arah Evelyn kemudian ia tersenyum miring.
"Ternyata tingkat kepercayaan dirimu itu sama persis seperti adik sepupumu itu ya," ucap Axelle setengah mengejek.
Evelyn hanya mencebikkan bibirnya, ia tidak ingin menanggapi apapun. Selagi ia belum berhasil menjadi Nyonya Farezta, maka ia akan tetap bersikap elegan seperti yang selama ini ia tunjukkan. Ia tentu saja masih menyembunyikan sifat aslinya yang begitu heboh dan seperti cacing kepanasan mengutip dari ucapan Alvaro.
"Mungkin itu karena kami masih ada hubungan darah," jawab Evelyn dengan suara datar.
Axelle menyembunyikan senyumannya, entah mengapa ia sangat suka ketika Evelyn bersikap ketus padanya. Bukan karena hal itu mengingatkannya pada Nurul, tetapi memang cara Evelyn bersikap padanya ini sering membuatnya kesal dan juga tersenyum secara bersamaan.
"Lagi pula, kenapa kau menyetujui untuk bertunangan denganku? Kenapa ingin melamarku? Bukankah kau tidak mencintaiku? Oh ya, apa kau masih mencintai adik iparku? Jangan sampai ya aku hanya kau jadikan pelampiasan. Sorry tapi aku nggak mau hanya jadi sekadar pelampiasan cinta karena kau tahu sendiri aku ini sangat laku di pasaran. Jadi aku bisa menghempaskan pria seperti dirimu dan mencari yang lebih bagus daripada aku menerima pria mengenaskan sepertimu menjadi pendamping hidupku."
Lagi, kembali Evelyn menohok Axelle dengan kata-kata pedasnya. Entah mengapa wanita ini sangat suka mengatakan Axelle sebagai pria mengenaskan padahal Axelle merasa tidak seburuk itu juga nasib hidupnya dan percintaannya. Walaupun kenyataannya ia ditinggal menikah oleh wanita yang ia cintai.
"Apakah kau ingin dihukum lagi nona Evelyn?" ancam Axelle, bibirnya menyeringai hingga membuat Evelyn bergidik ngeri.
Dihukum? Ya mau lah. Udah lama kali lu nggak hukum gue. Perasaan baru sekali deh, gue pengen lagi tuh ngerasain ciuman lu tapi gimana ya cara ngomongnya? Hehehe ....
Evelyn menatap horor pada Axelle, tidak mungkin ingin menatap penuh binar dan penuh damba seolah ingin mengatakan pada Axelle jika dirinya memang benar-benar berharap ingin dihukum. Ia harus tetap menjaga image, tekadnya adalah menjadi elegan dan jual mahal sebelum ia menjadi istri dari Axelle.
Axelle sendiri terkikik melihat tatapan Evelyn yang seolah ingin membunuhnya. Entah mengapa ucapan tersebut bisa keluar dari bibirnya begitu saja. Ia memang beberapa kali memikirkan kejadian di mana ia secara tiba-tiba mencium bibir Evelyn dan rasanya itu masih terngiang-ngiang di pikirannya, kadang-kadang muncul di pikirannya dan ia ingin kembali merasakan manisnya bibir Evelyn. Tapi itu tidak mungkin ia lakukan lagi mengingat bibir itu selalu berkata pedas kepadanya.
"Apa lihat-lihat? Nanti matamu jatuh," tegur Axelle yang melihat mata Evelyn melotot kepadanya.
Evelyn mendengus kemudian ia memalingkan wajahnya. "Dasar pria mengenaskan! Untung tampan, kalau tidak nggak ada yang menarik dari dia. Kalau urusan kaya ya gue juga kaya. Sebenarnya lu itu tidak punya kelebihan apa-apa selain wajah lu itu!" ucap Evelyn dengan sarkas.
Dan juga ciuman panas lu, sambung Evelyn dalam hati.
Axelle yang merasa kembali diejek oleh Evelyn pun meminta wanita itu untuk menatapnya.
"Apa kau bilang? Coba sini lihat aku dan katakan dengan jelas di depanku," ucap Axelle menantang Evelyn.
Evelyn yang merasa ditantang oleh Axelle pun langsung memalingkan wajahnya menatap Axelle.
"Aku bilang kau itu tidak memiliki kelebihan lain selain wajah tampanmu it --"
Mata Evelyn terbelalak begitu Axelle langsung membungkam mulutnya dengan ciuman panas. Ia tidak menyangka saja jika ia bisa kembali merasakan ciuman manis dari pria tampan yang selalu memenuhi imajinasinya ini.
Baru saja tadi ia berharap bisa merasakan ciuman Axelle, dan entah mungkin intuisi dari pria itu atau mereka memang sehati, Axelle pun mengabulkan harapan dan keinginannya secepat ini. Ingin membalas tetapi Evelyn tidak ingin disangka Axelle sedang menyambut ciumannya. Ingin diam saja tetapi Evelyn juga ingin menikmati berbalas sesapan bersama pria yang saat ini sedang mengekspor rongga mulutnya.
Akhirnya Evelyn memutuskan untuk menutup matanya, mencoba menikmati sapuan lembut di bibirnya yang dilakukan oleh Axelle.
Axelle melepas ciumannya setelah merasa puas dalam menghukum bibir wanita ini. Ia tersenyum puas setelah melihat perbuatannya yang membuat bubur Evelyn membengkak. Entah mengapa ia sangat menyukainya, bibir pedas itu terasa manis ketika menyatu dengan bibirnya.
"Apa?" tantang Axelle dengan mengangkat sebelah sudut alisnya.
"Seenaknya menciumku. Bibirku ini sangat mahal dan kau sudah dua kali menciumnya. Apakah kau ingin aku melaporkanmu kepada pihak berwajib karena tuduhan pelecehan?" ancam Evelyn yang membuat Axelle tertawa.
"Ya silahkan laporkan saja, dan aku akan mengatakan pada polisi jika kita akan segera menikah. Bukankah seperti itu, kau adalah calon istriku. Berciuman adalah hal yang wajar dan polisi hanya akan menertawakanmu. Lagi pula aku hanya menciummu atau bahkan boleh tidak aku mengetes keperawananmu, hitung-hitung kita pemanasan sebelum peresmian. Bagaimana kalau kita mengadakan gladi di hotel sebelum malam pertama kita. Bukankah kita harus mempelajarinya dulu?" goda Axelle dengan menaikturunkan kedua alisnya, ia berusaha menakut-nakuti Evelyn.
"Sialan kau!" umpat Evelyn yang membuat Axelle tertawa terbahak-bahak.
Keduanya pun terdiam, Axelle yang belum juga melajukan mobilnya itu kini mulai menghidupkan mesin mobilnya dan pelan-pelan ia mengemudikan mobil menuju ke tempat tujuan mereka sedari awal.
"Lagi pula, ketika aku memilihmu, itu berarti aku memang sudah memilihmu. Terlepas cinta atau tidak cinta, tapi aku sudah memilihmu nona Evelyn Prayoga Mahesa. Witing tresno jalaran soko kulino."
Pipi Evelyn memerah mendengar ucapan Axelle tersebut. Ingin rasanya ia terbang melayang ke angkasa mendengar kata-kata manis Axelle tetapi ia buru-buru menarik kakinya. Evelyn tidak ingin merasa jumawa, walau bagaimanapun ia ketahui pria disampingnya ini belum lama merasakan patah hati. Ia tidak ingin sekadar menjadi pelampiasan semata. Evelyn harus bisa memposisikan dirinya menjadi wanita yang diinginkan bukan wanita yang menginginkan.
"Apakah itu adalah kata-kata gombalan ala pria mengenaskan sepertimu?" ejek Evelyn.
Axelle berdecak, rupanya tidak mudah untuk menaklukkan wanita yang selalu mematok harga dirinya setinggi langit ini.
Sepertinya grandma benar, wanita seperti Evelyn ini yang aku butuhkan untuk menjadi pendamping hidupku. Dia sangat berkelas, berharga diri tinggi, elegan dan pasti tidak akan gampang menerima pujian. Wanita seperti ini memang yang paling pantas berdiri di sisiku dengan semua apa yang aku miliki. Aku yakin dia akan berdiri tegar walau berkali-kali diterpa angin kencang.
"Terserah kamu mau bilang apa tentang itu. Memang begitu kenyataannya, cinta akan hadir seiring dengan berjalannya waktu. Seiring dengan kita saling terbiasa bersama. Ada pepatah juga mengatakan 'tak kenal maka tak sayang'. Bagaimana kalau kita berkenalan dulu, siapa tahu nantinya sayang," goda Axelle yang membuat pipi Evelyn semakin memerah.
"Diksi yang bagus! Kau belajar flirting dari mana dari Google?" ledek Evelyn kemudian ia tertawa.
"Hai nona, rupanya kau sangat menyukai ciumanku ya? Ingin lagi, Hem?" gertak Axelle yang membuat Evelyn tidak sadar mengangguk.
Axelle kemudian menghentikan mobilnya dan menarik Evelyn ke pangkuannya dan tanpa hitungan detik ia langsung menautkan kembali bibirnya.
Di sela-sela ciumannya, Axelle meminta Evelyn untuk membalasnya. Awalnya Evelyn meragu, tetapi begitu Axelle membuatnya tidak bisa untuk menolak lagi Evelyn pun mulai membalas ciuman tersebut.
Beberapa saat mereka terlena dengan ciuman tersebut sehingga pasokan udara dalam paru-paru mereka menipis barulah Axelle melepaskan ciumannya.
"Evelyn Prayoga Mahesa, mungkin kau tidak akan percaya dengan yang aku ucapkan, tetapi aku ingin hidup bersamamu. Aku ingin kamu menjadi pendamping hidupku. Apakah kau bersedia?" tanya Axelle dengan sungguh-sungguh sambil menatap mata Evelyn yang sedang mendongak menatapnya karena Evelyn masih berada di pangkuan Axelle.
Evelyn tersentak dengan ucapan Axelle barusan, tidak pernah ia duga jika Axelle akan memintanya untuk menjadi pendamping hidupnya secepat ini. Tidak ada kebohongan dari tatapan matanya. Tidak ada pula keluarganya yang mendesaknya. Evelyn bisa melihat ini murni dari keinginan Axelle sendiri karena di sini tidak ada siapapun selain mereka berdua saja.
"Gimana ya? Mau tidak ya?" tutur Evelyn sambil memasang pose berpikir keras.
Merasa gemas dengan tingkah Evelyn, Axelle kemudian memeluk Evelyn erat, ia menghujani puncak kepala Evelyn dengan ciuman tanpa ia ketahui saat ini Evelyn sedang melebarkan senyuman penuh kemenangan setelah berhasil menaklukkan hatinya.
Yes! Akhirnya yang gue tunggu-tunggu. Huaa ... sebentar lagi gua OTW nikah nih sama pujaan hati. Ternyata nggak sia-sia pengorbanan memakai topeng wanita elegan dan juga jual mahal padahal aslinya gue bar-bar. Hehehe ....
"Evelyn Prayoga Mahesa, will you marry me?"
"Yes I Will!"
Axelle merasa terharu, ternyata lamarannya akan diterima oleh Evelyn, ia mengira wanita ini akan menolaknya. Axelle merasa trauma ditolak oleh wanita yang ia inginkan dan ia merasa bersyukur karena Evelyn tidak melakukan hal yang sama dengan menolaknya.
"Terima kasih Evelyn," ucap Axelle setelah ia melepaskan pelukannya.
Evelyn mengangguk, wajah bahagianya tadi kembali ia sembunyikan dan kini terlihat wajahnya biasa-biasa saja. "Aku menerima lamaranmu tapi bukan berarti aku sudah menyerahkan hatiku padamu Tuan Daniyal Axelle Farezta. Aku masih khawatir kau akan mencampakkanku," ucap Evelyn dan ini memang benar-benar berasal dari hatinya.
Axelle menatap lekat kedua netra Evelyn. Ia tersenyum hangat, "Aku pernah bodoh dan lamban dalam urusan cinta. Aku tidak mungkin mengulang kesalahan yang sama. Aku sudah memilihmu dan itu artinya aku akan menjadikan kau milikku. Aku tidak akan menyakitimu atau mencampakkanmu karena aku tahu rasanya ketika kita tidak bisa bersama dengan orang yang kita cintai dan merasa terbuang. Kau tenang saja, aku pasti akan menjamin perasaanmu selagi kau pun menjamin perasaanku," tutur Axelle panjang lebar, kali ini ia berusaha untuk serius saat berbicara dengan Evelyn.
Evelyn tersenyum tipis, "Baiklah, aku sepetinya harus merekam kata-katamu dulu. Coba ulangi lagi, tadi aku belum menyiapkan ponsel untuk merekamnya," celetuk Evelyn yang membuat Axelle tergelak.