GADIS TARUHAN ALVARO

GADIS TARUHAN ALVARO
Tentang Kedatangan Frey


Aluna menggeliat, matanya perlahan-lahan mulai terbuka karena ia merasa sangat kehausan. Setelah percintaan panjang mereka tersebut Aluna lansung tertidur dan tak sempat membersihkan diri. Ia lelah dan langsung terlelap begitu saja.


Saat ia mencoba bergerak, perutnya terasa berat dan ternyata ia menyadari tangan Frey melingkar di perutnya. Beberapa detik kemudian ia kembali merasa aneh karena ia merasakan tangan Frey seperti menyentuh langsung kulit perutnya. Tak ingin panik, Aluna perlahan melepaskan tangan Frey karena ia memilih untuk mencari air minum lebih dulu dibandingkan memikirkan tangan Frey yang melingkar di perutnya.


"Tetap seperti ini? Apa lu nggak lelah? Tidur aja dulu," ucap Frey yang membuat Aluna terkejut.


Lekas Aluna berbalik badan, ia mendapati wajah tampan Frey yang begitu dekat dengannya tetapi matanya masih terpejam. Aluna mencoba mengamatinya dan ia tersenyum karena sedang tidur pun wajah Frey selalu saja tampan.


"Udah puas mandangin gue? Tidur aja lagi, ini belum pagi," ujar Frey tanpa membuka matanya. Ia kemudian menarik Aluna yang sudah berhadapan dengannya.


mendadak Aluna merasa seolah tersengat arus listrik. Ia merasakan tubuhnya menempel sempurna di tubuh Frey. Ah tidak, lebih tepatnya ia merasakan kulitnya bersentuhan langsung dengan kulit Frey tanpa penghalang seperti pakaian misalnya.


Aluna mulai panik, ia membuka lebar-lebar matanya dan melihat ke dalam selimut dimana ia ternyata tidak mengenakan pakaian dan belum lagi ada banyak tanda merah di dadanya.


"Huaaaa!! Frey!! Kenapa gue bisa nggak pakai baju dan kenapa dada gue merah-merah? Lu apain gue hah?"


Teriakan Aluna sukses membuat Frey membuka matanya yang sebenarnya sejak tadi ia tidak tidur karena sibuk memandangi Aluna yang terlelap usai kegiatan panas mereka.


Frey tidak bisa tidur karena mengingat apa yang sudah terjadi dan memikirkan dampaknya setelah ini. Ia tidak berharap perbuatannya tidam membuahkan hasil. Tidak mungkin baginya menolak kehadiran buah cintanya bersama Aluna, akan tetapi mengingat status mereka yang masihlah seorang pelajar membuat Frey berpikir keras dengan peristiwa yang akan datang.


Belum lagi masalah Leon yang sudah membuat kekacauan. Frey rasanya ingin membunuh pria itu jika saja Aluna tidak pingsan tadi. Frey sendiri sudah memiliki firasat buruk sejak ia mengizinkan Aluna untuk pergi ke acara bersama Naufal.


Bukan Frey namanya jika tidak mencaritahu apa saja yang dilakukan Aluna. Sejak Naufal mengatakan akan pergi bersama kakaknya, Frey langsung mencaritahu acara apa yang akan Naufal datangi. Naufal memberitahukan alamatnya dan kebetulan itu adalah salah satu properti milik keluarga Prayoga yang dikelola oleh Ibnu Mahesa -- papi aunty Evelyn, Frey bisa dengan mudah mendapatkan informasi.


Setelah ia tahu jika acara disana adalah acara ulang tahun Keenan, Frey mulai menyusun rencana dengan mengatakan bahwa ia memiliki urusan penting tentang restoran. Memang benar, tetapi ia membawa pekerjaannya itu ke hotel dimana Aluna dan Naufal berada. Bahkan ia datang lebih dulu sebab Aluna dan Naufal masih singgah di Pertamina.


Awalnya Frey tidak tahu-menahu soal Leon, ia sibuk memeriksa pekerjaannya dan mengambil jarak agar Aluna tidak melihatnya. Namun sayang, Frey kehilangan Aluna saat ia pergi ke toilet. Aluna menelponnya namun panggilan terputus tetapi perasaan Frey mulai tidak enak. Apalagi ia tak sengaja melihat Leon berada di tempat yang sama dengan tengah menuju ke arah toilet.


Frey tidak mempermasalahkan Leon karena fokusnya pada Aluna. Akan tetapi setelah ia melihat Leon membawa Aluna masuk ke dalam lift, darah Frey terasa mendidih. Ia ingin mengikuti tetapi lift terburu tertutup dan untung saja ia tidak sengaja mendengar percakapan dari teman-teman Leon jika Leon menyewa kamar di lantai sembilan dan baru saja membawa gadis cantik.


Tak pakai menunggu lama, Frey segera menuju ke lift yang lainnya guna menyusul Aluna dan Leon hingga akhirnya ia menemukan keduanya dimana Leon hendak membawa Aluna masuk ke dalam sebuah kamar.


Dalam hatinya, Frey bersyukur karena ia tidak terlambat menyelamatkan Aluna. Jika saja terlambat sedetik pun maka ia tidak akan tahu apa yang terjadi pada Aluna setelah Leon memberinya obat perangsang.


Suara tangisan membuyarkan lamunan Frey dan yang menangis adalah sang istri. Ia mencoba menenangkan Aluna tetapi istrinya itu tidak mendengarkan dan malah menarik diri untuk duduk bersandar di headboard.


Frey kesulitan meneguk salivanya saat selimut yang Aluna kenakan untuk menutup tubuhnya tersebut melorot dan menampilkan tubuh bagian atas Aluna yang polos tanpa sehelai benang pun. Juga banyaknya tanda merah hasil karyanya.


Aluna memicingkan matanya saat melihat Frey diam saja dan ia melirik ke arah pandang Frey lalu ... "Frey! Lu mesum ya! Dasar cowok cabul!" pekik Aluna dan ia segera menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.


Frey berdecak, "Percuma, gue udah lihat dan nikmatin semuanya. Nggak usah ditutup kalau lagi sama gue. Gue bahkan lebih suka melihatnya tanpa penutup apapun," goda Frey.


"Ya nyonya Frey Griffin," sahut Frey yang semakin membuat Aluna kesal.


"Kenapa lu perkosa gue? Hikss ...."


Frey ikut duduk bersama Aluna, ia menatap tajam ke arah istrinya yang baru saja menuduh dirinya adalah pria mesum, cabul dan sekarang dituduh memperkosa. Sungguh malang nasib Frey, akan tetapi ia sudah jatuh cinta pada Aluna sehingga apapun tuduhan Aluna tidak akan jadi masalah untuk Frey.


"Lu nggak lihat tubuh gue nih juga penuh dengan ciuman lu? Leher gue nih? Lu yang nyerang gue duluan ya bahkan masih di mobil," ucap Frey membela diri.


Aluna nampak berpikir dan mencoba mengingat. Pipinya memerah karena ia malu teringat akan perbuatannya sendiri. Tak ingin semakin malu, ia berniat mengambil air minum dan ketika ia turun dari ranjang, ia merasakan sakit di bagian bawahnya.


Frey langsung tanggap, ia mengambilkan Aluna air minum dan saat Frey berdiri Aluna lansung memekik karena melibat tubuh polos Frey dan ia refleks menutup wajahnya namun membiarkan celah besar di sela-sela jarinya.


Busyet! Itu tanda merah di tubuh Frey emang hasil karya gue? Pinggulnya juga kayaknya ada bekas cakaran. Itu semua karya gue? Wah Aluna, Daebak! Eh tapi berati sekarang gue udah nggak perawan lagi dong. Huaaa ... Frey udah perkosa gue dan dia wajib tanggung jawab. Hikss ... bunda, papi, Aluna ternodai oleh suami sendiri!


Frey menyodorkan segelas air minum dan Aluna langsung menerimanya dan meminum hingga habis tak tersisa.


"Frey! Mending sekarang lu pakai baju deh! Gue risih ngelihatnya," tegur Aluna, ia kemudian membaringkan tubuhnya yang terasa remuk dan menutupinya dengan selimut.


Slashh ...


Selimut yang menutupi tubuh Aluna mendadak sudah berpindah di lantai dan Aluna memekik saat Frey menarik paksa selimut tersebut dan apalagi saat ini Frey sudah berada di atas Aluna.


"Frey! Lu mau nga--"


"Gue mau berbuat baik sama lu. Mari kita kelakuan sebuah kebaikan khususnya kebaikan untuk pasangan suami istri!" ucap Frey memotong ucapan Aluna.


"Tapi Frey, ini masih sakit dan --"


Jleb ....


Tanpa ba-bi-bu lagi Frey langsung menancapkan miliknya ke dalam milik Aluna hingga membuat gadis yang tidak lagu gadis itu memekik keras.


"Frey, bermainlah dengan perlahan, okay? Ini masih sakit soalnya," ucap lirih Aluna yang kini mulai menikmati pergerakan Frey.


"I love you Aluna."


"I love you more, Frey!"