GADIS TARUHAN ALVARO

GADIS TARUHAN ALVARO
Tembak Dia Mas


"Selamat untuk pernikahannya, anakmu memang sangat cantik. Lalu dimana calon menantuku?" ucap Gavriel ketika ia naik ke pelaminan bersama istri dan anaknya.


Alvaro menyambut uluran tangan Gavriel kemudian ia memperkenalkan Nurul begitupun sebaliknya. Audriana dan Nurul saling menyapa dan tak lupa Alvaro menanyakan kabar Gea.


"Yang, ini Gea, calon menantu kita. Dia akan kami jodohkan dengan Naufal. Bukan begitu tuan Mazeen?" ucap Alvaro kepada Nurul dan istrinya itu tentu saja sangat terkejut.


"Oh benarkah? Tapi Naufal masih SMP loh," ucap Nurul tak percaya.


"Aunty benar, Gea pun masih SMP. Nggak bisa dijodohin dulu," timpal Gea dan mereka justru tertawa.


Gea langsung memasang tampang datar begitu dirinya menjadi topik pembicaraan. Ia ingin segera pergi dari tempat ini dan mencari tempat duduk untuk menyendiri.


Gea melangkah lebih dulu ke arah pasangan pengantin itu dan ia terkagum-kagum melihat kecantikan Aluna. Tak tanggung-tanggung ia pun memujinya hingga membuat Aluna merasa malu. Frey sendiri heran saja karena Gea tidak memujinya dan hanya tersenyum tipis. Mungkin saja gadis ini memang tidak tertarik dengannya dan Frey sangat senang tentu saja.


Gadis itu pun melangkah turun dari pelaminan. Ia mencoba untuk mencari tempat yang paling pas untuk makan dan menyendiri. Sambil memilih makanannya ia tak sengaja bertabrakan dengan seseorang.


"Maaf ya, aku tidak sengaja," ucap Ziya yang tak sengaja menabrak Gea karena ia sibuk menatap seseorang sambil mengambil berjalan ke arah prasmanan.


Gea mengangguk, ia kemudian mengikuti arah pandang Ziya dan menemukan seorang pria seumuran mereka sedang memainkan ponselnya.


"Apakah dia tampan? Aku sudah menyukainya sejak kecil. Eh tapi ini rahasiaku, berhubung kita tidak saling kenal dan tidak akan bertemu lagi mungkin, aku bisa mengatakannya padamu. Dia sudah aku sukai sejak lama hanya saja dia tidak peka. Dasar Gavin!" ucap Ziya yang langsung menyatakan perasaannya pada Gea yang notabenenya adalah orang asing yang tidak pantas untuk diberitahu tentang perasaannya.


"Kalau suka ya katakan. Jangan hanya dipendam karena nggak ada yang bisa baca pikiran dan isi hati orang," ucap Gea kemudian ia meninggalkan Ziya yang melongo karena ucapan sarkas gadis itu.


Gea menemukan tempat yang pas untuknya hanya saja disana ada seseorang yang juga duduk sambil memperhatikan sesuatu. Ia tidak memusingkannya selagi mereka tidak saling mengusik. Gea makan dengan lahapnya sedangkan orang di sampingnya sibuk mengaduk minumannya sambil melirik ke arah gadis yang sedang menikmati makanannya.


Penasaran, Gea mengikuti arah pandang cowok tersebut. Ia tersenyum samar karena mendapati sebuah fakta dimana cowok ini mengalami yang namanya cinta bertepuk sebelah tangan.


"Jangan memandanginya terus karena dia tidak suka denganmu," ucap Gea yang merasa kasihan, ia lebih suka memberitahu dibandingkan orang lain akan terluka nantinya dengan ekspektasi mereka.


Naufal menatap Gea yang asyik dengan makanannya dan ia merasa tidak kenal dengan gadis ini.


"Lu siapa? Sok tahu!" tegur Naufal tak suka dengan sikap Gea tersebut.


Gea menatapnya sekilas kemudian ia melanjutkan kembali makannya. Ia tidak peduli apakah cowok di dekatnya ini akan mendengarkannya atau tidak yang penting dia sudah menyampaikan.


Naufal tidak tahu saja kalau ini semua disengaja oleh Alvaro karena ia tidak ingin anaknya ini dekat dengan Ziya sebab ia sudah menjodohkannya dengan Gea. Lagipula Alvaro tahu jika Ziya tidak pernah menatap Naufal dengan penuh cinta sedangkan jika gadis itu menatap Gavin, ia akan malu-malu dan pipinya bersemu merah.


Sementara itu di pelaminan kini diramaikan oleh teman-teman sekolah Aluna dan Frey. Mereka berbondong-bondong memberikan ucapan selamat kepada pasangan pengantin remaja yang sudah mereka ketahui sejak masih duduk di bangku SMA.


Mereka melakukan foto bersama dengan berbagai gaya dan seolah tidak ingin ketinggalan momen tersebut dimana most wanted sekolah mereka kini mengumumkan pernikahannya. Pasangan yang mereka kira awalnya adalah pasangan saudara ternyata adalah pasangan pengantin.


Disana pun ada Riani juga yang berfoto bersama teman-temannya, kemudian setelah sesi foto bersama selesai, ia kembali turun lalu menyeret seorang pria yang terlihat sedikit lebih tua darinya naik ke pelaminan.


Dengan sangat percaya dirinya Riani menyalimi satu per satu orang yang ada di sana, seperti Alvaro dan Nurul. Kemudian ia berhenti di tengah-tengah dan memperkenalkan kepada Aluna dan Frey tentang kekasihnya ini. Ia juga memamerkan cincin pertunangannya padahal itu baru cincin hadiah dan acara pertunangannya belum dilaksanakan. Tapi, dasar Riani yang ingin pamer, dia langsung saja membesar-besarkannya karena tak ingin dikira ketinggalan oleh Frey dan Aluna.


"Sebentar lagi gue nyusul," ucap Riani dengan begitu senangnya, sedangkan kekasihnya hanya bisa menatap dan menurut saja pada setiap ucapan yang dikatakan oleh Riani.


Bagaimana mungkin ia ikut menimpali karena sadari awal sejak mereka masih berada di rumah dan sampai mereka berada dalam perjalanan, Riani sudah mewanti–wanti pada kekasihnya ini untuk tidak menimpali ucapannya dengan hal-hal yang bertolak belakang. Dengan kata lain ia ingin kekasihnya hanya akan mengiyakan saja setiap ucapannya.


"Ya sudah cepat nikah sana, biar cepat nyusul. Gue aja udah mau punya bayi, biar anak kita bisa main bareng," ucap Aluna dengan begitu antusiasnya.


"Gimana 'Yang, kapan bakalan lamar nih? Resmiin dong hubungannya, biar kita cepat bisa bikin dedek bayi," seloroh Riani yang tidak disaring-sharing lagi ucapannya, sedangkan kekasihnya itu hanya bisa memalingkan wajah melihat kelakuan Riani.


Frey menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah istri dan sepupunya. Ia berharap Aluna tidak akan membahas tentang Jessica di pelaminan ini. Namun sialnya baru saja ia bermohon dalam hati, Aluna langsung menarik Riani dan membisikkan nama Jessica.


"Sialan! Wanita mana yang ingin menjadi perusak rumah tangga kalian? Cepat beritahu aku, biar ditembak sama Mas Ayang," ucap Riani begitu geram, ia sangat tidak suka jika ada yang merusak hubungan rumah tangga sepupunya dan sahabatnya ini.


"Sayang aku tidak boleh loh nembak orang sembarangan," protes kekasih Riani karena ia memang sudah lelah menanti Riani yang terus bergosip di pelaminan sedangkan ada banyak tamu yang mengantre untuk memberikan ucapan selamat.


"Ya nggak bisa begitu dong! Dia itu penjahat karena berusaha merusak rumah tangga orang. Aku nggak terima ya 'Yang, pokoknya kamu harus tembak wanita itu!" ucap Riani dengan suara yang dibesarkan agar kekasihnya ini dan juga Frey sadar jika dia tidak main-main.


Aluna tersenyum penuh kemenangan mendapatkan Riani sebagai partner dan juga pendukung garis terdepan hubungan mereka. Bagi Aluna, Riani adalah anugerah buatnya.


"Tapi mohon maaf ya sayang, sebaiknya kita turun dulu. Acara gosip–gosipnya itu di pending dulu ya, masih ada banyak waktu dan di lain kesempatan malu tahu udah banyak tamu yang mengantre untuk salaman dan kamu masih asyiknya ghibah di sini," ucap kekasihnya itu dan mau tidak mau Riani pun menuruti keinginannya karena ketika ia menatap ke belakang, ternyata di sana sudah ada banyak antrian yang menanti untuk naik ke pelaminan.


Tak jauh dari arah pelaminan, Jessica menatap nanar pada pasangan yang terlihat begitu bahagia malam ini. Ingin rasanya ia merusak hubungan itu, akan tetapi Reyhan sudah mengancamnya. Belum lagi Aluna adalah anak dari tuan Alvaro Genta Prayoga dan disisinya juga ada pengacara hebat sekelas Danish Ganendra yang mereka ketahui sebagai pengacara kondang, serta pengusaha terkaya nomor satu di negara ini yaitu Daniyal Axelle Farezta, sepertinya akses Jessica tidak akan mudah untuk masuk dan menjadi perusak.


Aku tahu aku sudah kalah dari segala hal. Apakah harus menyerah tapi aku baru saja memulainya? Lagi pula mereka itu masih muda dan sangat labil, diberi bumbu pertengkaran saja pasti akan bertengkar hebat dan akan berpisah. Sebaiknya aku mengatur siasatnya nanti, biarkan dulu mereka berbahagia dan ketika masa-masa itu sudah terjalin, aku akan datang sebagai orang ketiga. Tak masalah bagiku merebut Frey, karena aku yakin hubungan itu hanya aliansi bisnis saja, tidak lebih. Siapa yang tidak ingin menikah dengan Aluna jika dikelilingi dengan pengusaha sukses? Aku pun jika menjadi pria pasti akan menginginkannya dengan begitu sangat. Tunggu saja, ada waktunya nanti aku akan datang dan merebut apa yang harusnya menjadi milikku!