GADIS TARUHAN ALVARO

GADIS TARUHAN ALVARO
Pingsan


Danish memasuki kamar rawat Nurul. Lagi, ia mendapati adiknya itu tengah memendam kesedihan bahkan ia memergokinya tengah menghapus air matanya. Ia mendekat, lalu mengusap rambut adiknya penuh sayang.


"Katakan siapa dia yang selalu membuatmu menangis seperti ini? Kakak akan mencarinya untukmu," ucap Danish tak tahan lagi.


Nurul menggeleng, ia tidak ingin bertemu lagi dengan Alvaro tapi hatinya begitu rindu. Memikirkan wajah anaknya yang dominan pada Alvaro semakin membuat rindunya bertambah. Memang berat menahan rindu, apalagi rindu pada seseorang yang pertama kali membuat jatuh cinta juga yang pertama kali membuat luka. 


Dia yang melukai dan Nurul berharap dia juga yang menyembuhkan tetapi Nurul takut, takut ditampar kenyataan jika Alvaro sama sekali tidak mencarinya dan bahkan mungkin Alvaro sudah bahagia bersama Miranda.


"Bukan siapa-siapa, Kak. Aku hanya sedang berusaha melupakan dia," jawab Nurul.


Danish mendengus pelan, selalu saja jawaban yang sama yang diberikan Nurul padanya. Ia yakin sangat mudah untuk menemukan pria itu tetapi Nurul tidak menginginkannya sehingga ia mengurungkan niatnya. Danish hanya tahu pria itu bernama Alvaro dari buku kesehatan ibu dan anak milik Nurul yang diam-diam ia ambil dan baca.


Mencari nama Alvaro tidaklah sulit. Ia cukup mencari di kampus Nurul. Namun adiknya yang tidak ingin diganggu privasinya membuat Danish hanya bisa menahan diri.


"Katakan alasan yang kuat sehingga kakak nggak boleh cari dia," ucap Danish.


Nurul terdiam. Alasan apa yang hendak ia kemukakan. Apakah tentang Alvaro yang seorang Prayoga anak pengusaha terkaya nomor satu di negara ini? Apakah tentang dirinya yang sadar diri hanya sebagai gadis taruhan? Apakah alasan karena Alvaro memiliki Miranda? Atau apakah alasan karena Nurul tidak ingin Alvaro melenyapkan anaknya atau bahkan tidak mau mengakui perbuatannya?


Nurul bingung dan tidak memiliki alasan lain selain itu semua yang tidak mungkin ia utarakan. Selain itu, ia mencintai pria itu. Ia tidak mau mendapat penolakan dan ia memilih mencintai sendiri walaupun sakit tetapi dalam imajinasinya ada Alvaro Genta Prayoga yang juga mencintainya. Tolong jangan patahkan kehaluannya ini.


"Aku hanya tidak ingin mengingat dia lagi, Kak. Aku tidak ingin membuka luka lamaku dan aku yakin dia nggak mau nerima aku dan anakku. Aku tidak mau lagi mendapat penolakan dalam hidup, jadi biarlah dan hentikan saja. Kita tutup cerita tentang dia dan mari kita membuka lembaran baru bersama Aluna. Aku tidak ingin lagi hidup dalam kesedihan yang penuh dengan perundungan dan juga penolakan. Ini sudah cukup," ucap Nurul yang kembali meneteskan air matanya.


Danish tidak tega, baru ingin tahu namanya saja sudah membuat adiknya sesakit ini. Ia pun memutuskan untuk melupakan saja. Melupakan pria itu dan fokus pada adik dan keponakannya. Danish mengusap rambut Nurul dan memintanya untuk istirahat.


.


.


"Aluna jangan lari sayang, nanti hilang," teriak Danish pada bocah berumur tiga tahun yang kini sedang lari-lari di bandara.


Sudah tiga tahun berlalu dan anak itu tumbuh begitu cantik dan juga sedikit nakal dan tidak bisa diam. Bawaan Nurul, tentu saja bukan. Mungkin begitulah sang ayah ketika masih bocah. Bahkan mereka sampai kesulitan mengatur anak itu yang begitu aktif bahkan sering membully para asisten rumah tangga dan juga para kakak-kakak panti. Tapi dari semua tingkahnya itu tetap saja ia terlihat menggemaskan.


Seorang pria berjas hitam dengan kacamata hitam yang ia kenakan semakin menambah kesan ketampanan dan aura dingin siapapun yang melihatnya. Tak tersentuh, itulah yang dapat dibaca dari sosok yang tengah berjalan sambil memainkan ponselnya. Ia baru saja tiba di Jakarta setelah melakukan peninjauan proyek di luar negeri.


Saat sedang sibuk menelepon, ia tak melihat ada anak kecil yang menabraknya hingga anak itu terjatuh di lantai namun tidak menangis. 


"Kau tidak apa-apa?" tanya pria itu sembari membuka kacamatanya dan memasukkan ponselnya ke dalam saku. 


Ia tersenyum melihat wajah cantik bocah ini dan dengan menatap matanya saja membuat hatinya menghangat. Ia berjongkok untuk menyamakan tinggi mereka.


Aluna menggelengkan kepalanya, "Aku tidak apa-apa. Wah paman begitu tampan seperti ayahku saja," ucapnya sambil memegangi pipi pria itu. 


Ada hati yang berdesir mendapat sentuhan hangat dari bocah kecil yang begitu cantik ini.


Danish yang akhirnya bisa mendapatkan Aluna pun terdiam saat melihat keponakannya tengah berbincang bersama seorang pria. Ia berdehem dan tersenyum kala pria itu menatapnya.


"Ayah, paman ini sangat tampan. Tadi Aluna tidak sengaja menabraknya. Untung dia tidak marah," ucap bocah itu yang memang sangat lancar berbicara.


Danish tersenyum kikuk, lagi-lagi keponakannya ini asal bicara dan terlihat songong begitu dia berdiri seolah tidak terjadi apapun. 


Gue rasa nih anak mengikuti sifat bokapnya deh. Nggak mungkin Nurul kayak gini waktu bocah. Fix, dia memang mengambil semua bagian ayahnya.


"Maaf, Aluna memang seperti itu. Anaknya tidak bisa diam entah gerakan atau bicaranya. Anda tidak apa-apa?" tanya Danish.


Pria itu menggeleng, "Tidak ada yang perlu dimaafkan. Semuanya baik-baik saja. Iya 'kan anak cantik," ucapnya sambil mengelus puncak kepala Aluna.


"Ke toilet sebentar. Ayo kita susul bunda, sebentar lagi pesawat kita akan berangkat." Danish mengangguk pada pria itu lalu berpamitan begitupun dengan Aluna yang menggenggam tangan Danish.


Baru saja beberapa langkah, Aluna berbalik dan berbisik pada paman tampan itu, "Paman doakan aku agar bisa mempunyai suami yang setampan paman kelak."


Pria itu terbelalak lalu tertawa terbahak. Bagaimana mungkin bocah ini mengerti akan semua hal yang ia ucapkan. Mengingatkan saja pada dirinya ketika masih bocah dengan gaya tengilnya.


Ketika ia hendak mengenakan kembali kacamatanya, tak sengaja netranya menangkap sosok yang selama ini menghantui malam-malamnya. Ia membeku dan seolah kakinya terpaku di bumi sehingga ia tidak bisa melakukan apapun selain menatap kepergiannya.


"A-Aina."


Lamunannya terbuyarkan karena sosok yang menepuk pundaknya, "Lu ngelamun di bandara?" tanya Ikram yang datang menjemputnya.


Alvaro mendengus, ia kemudian berjalan meninggalkan Ikram tanpa sepatah katapun karena baru saja dirinya melihat sesuatu yang selama ini tidak ia lihat namun tidak bisa ia gapai. Matanya melihat jelas wanita yang selama ini ia rindukan itu menggandeng tangan pria dan seorang anak di gendongan pria itu yang tidak lain adalah bocah kecil yang tadi ia tabrak.


Apakah gue telat? Mengapa waktu kita selalu salah?


Sepanjang perjalanan Alvaro banyak diam. Ia tidak peduli dengan Ikram yang terus mengoceh bahkan ia tidak sadar mereka sudah sampai di kafe dimana mereka sudah janjian untuk nongkrong bersama.


Nandi yang sudah lebih dulu berada di kafe terkejut melihat wajah dingin Alvaro semakin dingin saja. 


"Dia kenapa?" tanya Nandi pada Ikram yang dijawab dengan hanya mengangkat kedua bahunya.


Mereka pun memesan makanan dan tetap saja suasana terasa mencekam dengan Alvaro yang terus diam saja dengan pikirannya. Nandi yang tidak tahan dan selalu kepo itu pun mendesak agar Alvaro bicara.


"Tadi gue lihat dia di bandara," ucapnya.


Kata 'dia' yang dimaksud Alvaro tentu saja langsung dimengerti oleh kedua sahabatnya. Pantas saja Alvaro diam sejak tadi, rupanya ia bertemu dengan cinta taruhannya beberapa tahun lalu.


"Kenapa lu masih disini? Kenapa nggak kejar dia dan bilang kalau lu cinta sama dia?" cecar Ikram.


Alvaro menatap kedua sahabatnya dengan tatapan sulit untuk diartikan. Ia kemudian tertunduk lemas dengan kedua tangannya terkepal kuat.


"Gimana mau nyusul kalau dia udah ada yang gandeng dan sialnya sudah punya anak."


Hening, tidak ada yang bisa memberikan kata-kata untuk keadaan Alvaro selama ini. Tiba-tiba Alvaro tertawa, tawa yang terdengar menakutkan juga menyedihkan.


"Gue yang selama empat tahun ini nungguin dia dan setiap waktu yang gue lalui hanya untuk memikirkan dan merindukan dia justru mendapatkan jawaban seperti ini. Gue udah kayak orang bodoh dengan terus percaya kalau dia bakalan balik buat gue ternyata cuma halu doang. Dia nggak merindukan gue dan dia bahkan udah bahagia dengan kehidupannya sekarang. Gue udah patah hati bahkan berkubang dalam penyesalan karena dia tapi dia tidak demikian. Gue udah kayak orang gila dan gue dari dulu emang bego dan bodoh. Hahaha … kenapa ini terasa begitu sakit."


Ikram dan Nandi tidak bisa berbuat apa-apa karena apapun yang akan mereka lakukan tidak akan bisa membantu mengubah keadaan. Mereka bisa melihat sakit yang dirasakan Alvaro saat ini dengan melihat tubuh sahabatnya itu bergetar menahan tangis dan juga napasnya tersendat-sendat menandakan ia tengah menahan sakit di dadanya yang terasa sesak.


Alvaro menepuk dadanya dengan keras berulang kali, ia merasakan sesak luar biasa dan juga jantungnya begitu sulit untuk ia kendalikan. 


"Gue bahkan udah merencanakan pertemuan indah buat gue dan dia. Gue udah persiapin semuanya buat dia saat kami bertemu nanti. Seluruh cinta udah gue berikan ke dia bahkan gue mengunci rapat hati dan pikiran gue cuma buat dia. Tapi disini gue merasa paling bego. Kenapa gue merasa takdir membalik keadaan ya? Hahaha, kenapa gue begitu bodoh selama ini. Hahahaha … kenapa rasanya sesakit ini. Gue nggak pernah ngerasain sakit seperti ini sebelumnya."


Bruukk …


Ikram dan Nandi terperanjat kaget begitu mendapati Alvaro yang pingsan ketika hendak berdiri. Keduanya pun langsung membawanya ke rumah sakit karena khawatir ada hal yang membahayakan karena Alvaro tidak pernah seperti ini sebelumnya.


Dari sudut kafe, seseorang yang sedari tadi memperhatikan tiga pria itu ikut terkejut begitu melihat Alvaro pingsan. Ingin rasanya mendekat tapi ia tidak ingin ketahuan sedang mengintai.


Apakah sesakit ini yang lu rasain sampai tubuh lu pun melemah? Alvaro, ternyata sedalam itu lu cinta sama dia dan nggak terima sama kenyataan. Hmmm, baiklah Clarinta. Mungkin ini saatnya lu masuk dalam hidup Alvaro.