
Alvaro menatap sinis ke arah pasangan pengantin baru yang duduk di jok belakang. Ia mendadak jadi sopir pengantin baru dibawah guyuran hujan. Ia mendengus ketika Ikram membawa Tara bersandar di bahunya sambil pria itu mengusap kepala istrinya. Alvaro merasa sang sahabat tengah memanas-manasi dirinya.
Alvaro mencengkram erat setir mobilnya kemudian ia memukulnya. Tara terkejut namun dengan cepat Ikram mengalihkan perhatiannya.
"Tenang saja, dia emang gitu kalau hujan. Suka kumat gendengnya. Nggak usah dilihatin, nanti lu ikutan gendeng kayak dia," ucap Ikram, Tara pun mengangguk menuruti perkataan suaminya.
Alvaro berbalik ke belakang kemudian ia menatap Ikram dengan tatapan menghunus. Yang ditatap hanya memperlihatkan wajah mengejek kemudian ia dengan cepat mengecup puncak kepala Tara. Ikram sengaja melakukannya hanya untuk membuat Alvaro semakin panas.
Rasain, emang enak jadi anti nyamuk lihatin gue sama Tara bermesraan. Waktu itu lu sama Nurul bikin gue panas, sekarang giliran lu, rasain! Hehehe.
Alvaro kembali fokus ke depan, namun satu tangannya berusaha meraih ponsel yang ada di dalam saku jasnya. Dengan cepat ia menekan satu kontak dan dalam hitungan detik panggilannya langsung terhubung.
"Bang Felix, gue nggak mau tahu pokoknya saat ini juga kalian siapin Jet buat gue! Gue mau pergi."
Alvaro melempar sembarangan ponselnya ke jok di sampingnya. Ini tidak bisa dibiarkan, Ikram sudah menikah sedangkan dirinya sama sekali belum mendapat kepastian kapan ia akan menikahi Nurul.
Tawa Ikram pecah, Ia tidak menyangka hanya dengan perbuatan kecil saja sudah membuat tuan muda ini panas. Alvaro yang paling anti kemana-mana menggunakan jet pribadi karena katanya pengeluarannya lebih mahal padahal perjalanannya hanya singkat mendadak meminta salah satu orang kepercayaan papinya untuk menyiapkan jet untuknya. Ikram yakin tujuannya tidak lain tidak bukan adalah pergi ke tempat di mana Nurul berada.
"Truk aja gandengan, masa lu enggak sih bro? Kasihan, lihat nih gue nggak pacaran, nggak ada cem-ceman, nggak ada gebetan, eh tiba-tiba nikah. Ini nih yang namanya jodoh, nggak kayak lu yang terus digantung kayak jemuran. Udah nunggu empat tahun, nyari sana-sini eh pas nemu disuruh nunggu lagi tiga bulan. Miris ya Bun."
Ucapan Ikram barusan langsung membuat Alvaro menginjak rem mobilnya. Bukan tanpa alasan, tetapi karena mereka sudah sampai di halaman rumah Ikram. Tawa Ikram kembali pecah, sedangkan Tara hanya bisa mendengar suaminya tertawa juga meledek sahabatnya ini.
"Keluar nggak lu turun nggak," ucap Alvaro dengan ketus.
Ikram hanya mengangkat kedua bahunya kemudian Ia memapah Tara untuk keluar dari mobil Alvaro. Tara yang keluar dan tak tahu dibawa kemana pun langsung bergumam melihat bangunan rumah yang super megah di hadapannya. Ia bertanya-tanya rumah siapakah ini, apakah rumah Ikram atau rumah Alvaro.
"Bos–" Tara langsung meralat ucapannya begitu ia melihat tatapan Ikram seperti membunuh. Sedangkan Alvaro yang mendengar istri Ikram ini memanggilnya dengan sebutan bos langsung memecahkan tawanya.
"Bos? Hahaha, lu suaminya atau bosnya?" ledek Alvaro, akhirnya ia memiliki kesempatan untuk mengejek sahabatnya ini karena sedari tadi hanya Ia yang diejek dan merasa ditindas.
"Tara," panggil Ikram dengan lembut namun bisa Tara liat wajah suaminya itu saat ini sedang menahan kesal.
"Maksudnya Mas Ayang, kita sekarang berada di mana?" tanya Tara dengan tergagap karena ia tidak terbiasa menyebutkan kata tersebut.
"What? Mas Ayang?" pekik Alvaro, kemudian ia menatap Ikram sambil menahan tawanya. "Kok panggilan itu terlalu imut ya buat lu, nggak sesuai banget sama muka lu. Narsis-alay-najis!" ledek Alvaro, ia benar-benar tidak menyangka jika sahabatnya yang paling dingin ini meminta istrinya untuk memanggilnya dengan sebutan 'Mas Ayang', sedangkan wajah Ikram saja sangat tidak cocok dipanggil seperti itu.
"Udah puas lu? Mending sekarang lu pulang deh," usir Ikram, ia sangat jengah dengan Alvaro yang terus menertawanya seperti ini.
"Pulang? Ya nggak lah! Masa gue ketinggalan momen dimana seorang Ikram Ben Elard akan memperkenalkan calon istrinya di depan kedua orang tuanya. Gue kepo lah sama reaksi bokap nyokap lu. Masuk yuk, gue yakin Om sama Tante pasti udah nungguin kalian."
Kenapa jadi dia yang ngebet masuk ke rumah gue? 'kan tuan rumahnya gue? Kenapa jadi dia yang nyuruh gue sama Tara masuk. Dasar gendeng!
Pria tengil itu memilih berjalan lebih dulu, ia tidak peduli dengan umpatan Ikram begitu ia melenggang masuk ke dalam rumah.
Alvaro yang sudah biasa keluar masuk di rumah megah ini langsung berteriak memanggil kedua orang tua Ikram. Untung saja Ben dan Safira bukanlah orang yang jantungan mendengar suara Alvaro yang menggelegar. Mereka juga sudah terbiasa dengan kelakuan pria tengil tersebut karena Alvaro sudah seperti itu sejak dulu jika datang ke rumah ini.
Suami istri yang sedang berada di ruang makan itu langsung keluar dan menemui Alvaro yang sudah berada di ruang tamu.
Pandangan pasangan suami istri itu jatuh pada Ikram yang sedang menggenggam tangan seorang gadis kemudian mereka menatap Ikram secara bergantian dengan gadis yang sedang digenggam tangannya oleh Ikram.
"Dia adalah–"
"Namanya Tara. Dia itu menantu tante sama Om, tadi tuh nikahnya, masa Om sama Tante nggak diundang sih. Durhaka 'kan dia Om! Udah kutuk aja jadi batu terus buang di kali," sambar Alvaro, ia sudah tidak sabar melihat adegan di mana Ben Elard akan memberi pelajaran kepada anak kesayangannya ini.
"What?!" peki Ben dan Safira bersamaan, kemudian mereka melihat pada gadis yang ada di sebelah Ikram yang kini kepalanya sudah menunduk ketakutan.
"Alvaro Genta Prayoga! Cari mati lu?" sentak Ikram dengan wajah sangar menatap Alvaro sedangkan yang ditatap hanya memberikan senyuman tengilnya.
Tidak mempedulikan ucapan Ikram dan perdebatnya dengan Alvaro, Safira justru memilih menarik tangan Tara untuk ia bawa duduk di kursi. Ia sangat penasaran, apa benar gadis ini adalah menantunya. Ia bisa melihat pilihan anaknya ini cukup baik dengan membawa gadis pemalu ini dan juga masih terlihat muda serta wajahnya begitu cantik dan imut. Wajar saja jika Ikram jatuh cinta pada gadis ini, tetapi tidak wajar bagi Safira apabila Ikram sudah menikahinya tanpa meminta restu terlebih dahulu. Apalagi Ikram sama sekali belum pernah mengenalkannya kepada mereka.
"Nama kamu siapa Nak?" tanya Safira begitu keduanya sudah duduk. Ikram, Alvaro dan Ben Elard pun ikut duduk mengikuti Safira dan Tara.
"Saya Tara, nyonya," jawab Tara sedikit mengangkat kepalanya menatap Safira kemudian ia menunduk lagi
"Apa benar kau sudah menikah dengan Ikram?" tanya Safira lagi dan Tara hanya menjawab dengan anggukan pelan.
Tanpa aba-aba Ben langsung berdiri dan melesatkan sebuah pukulan di wajah anak tampannya itu.
Semuanya terkejut kecuali Alvaro, sahabat Ikram itu justru saat ini sedang asyik menyaksikan bagaimana Ben Elard terus menghajar wajah anaknya itu. Tak lupa Alvaro merekam video tersebut yang akan ia pamerkan pada Nandi nantinya.
Selama ini Ben tidak pernah menyentuh wajah Ikram karena katanya wajah anak tampannya itu adalah aset nomor satu sehingga tidak boleh ia rusak walaupun ia sedang marah. Ben akan selalu mencari tempat lain untuk menghukum anaknya ini, kecuali di wajahnya dan kini wajah anaknya itu menjadi sasaran empuk kemarahannya.
"Ayah cukup! Jangan sakiti putraku. Kamu nggak kasihan sama dia, lihat wajahnya babak belur dan istrinya sudah ketakutan!" lerai Safira, dia juga tidak tega melihat wajah anaknya yang babak belur sedangkan menantunya ini pun sudah ketakutan.
"Tuan tolong maafkan bos Ikram, diia tidak salah. Saya yang salah, hangan pukul dia lagi. Jika anda ingin memukul maka pukul saja saya dan hukum saja saya tapi jangan bos Ikram. Dia sangat baik kepada saya dan Mami saya, jadi tolong jika anda ingin marah lampiaskanlah kepada saya," pinta Tara, ia yang tadinya menundukkan kepala dan badannya yang gemetar itu memberanikan diri untuk menatap mertuanya.
Dua wanita yang kini ada dalam hidup Ben membuatnya menghentikan aksinya memukuli wajah tampan anaknya itu. Ia kemudian menatap Safira kemudian beralih menatap ke arah Tara.
"Katakan padaku Nak, apa yang sudah pria brengsek ini lakukan padamu? Apakah dia menghamilimu? Dia melecehkanmu? Dia mencabulimu? Atau ada hal yang lebih parah yang dilakukan kepadamu sehingga kau bersedia menikah dengannya dan membelanya seperti ini?" cecar Ben dengan tuduhan begitu banyak sedangkan Ikram tidak habis pikir dengan ucapan ayahnya barusan.
Tara menggeleng keras, entah ia harus miris melihat nasib Ikram yang dipukuli atau harus miris dengan nasibnya yang ternyata dipikiran ayah mertuanya dirinya adalah salah satu korban dari kebejatan Ikram. Dalam hati Tara bertanya-tanya, apakah suaminya ini memang adalah penjahat wanita, tetapi wajahnya tidak terlihat demikian. Tara menjadi bingung sendiri.
"Tidak tuan, bos Ikram sama sekali tidak melakukan hal-hal buruk seperti itu terhadap saya. Dia sudah menolong saya dari pernikahan saya bersama rentenir yang saya pinjami uangnya untuk menebus hutang saya terhadap Nyonya Miranda. Tetapi saya juga tidak menduga karena bos Ikram bukan hanya membayar hutang saya tetapi menikahi saya juga. Sampai saat ini pun saya tidak percaya jika saya sudah menjadi istrinya bos Ikram," jawab Tara mengemukakan apa yang menurutnya harus ia katakan.
Memang benar sedari tadi Tara belum menganggap pernikahannya dengan Ikram, bukan karena ia tidak mau tetapi ia hanya sadar diri. Tara tidak ingin berharap lebih karena tidak ingin sakit hati.
"Ouh, syukurlah kalau begitu," ucap Ben merasa lega. Namun beberapa saat kemudian ia menatap sengit lagi ke arah Ikram. "Ayah pikir kau sudah menghamilinya. Padahal ayah baru saja akan bersyukur jika kau akan memberikan ayah cucu," imbuh Ben.
Ikram meringis memegang wajahnya yang bonyok akibat serangan membabi-buta ayahnya. Ia tersenyum pada Tara yang masih terlihat sangat bingung dalam situasi ini.
"Ayah nggak mau tahu, kau harus mencontoh Alvaro. Belajar sama dia tentang tedi," ujar Ben sambil menyeringai menatap putra kebanggaannya.
"Tedi?" tanya Alvaro dan Ikram bersamaan.
"Ya tedi, tembak sekali langsung jadi. Bukan begitu Alvaro? Kamu tedi 'kan sama Nurul? Langsung jadi Aluna 'kan?"
Mendadak Safira ingin menangis mendengar ucapan frontal suaminya tersebut.