GADIS TARUHAN ALVARO

GADIS TARUHAN ALVARO
Danissa


Keluarga Emrick nampak mondar-mandir di depan ruangan dimana ada Nurul di dalam yang tengah di tangani oleh dokter. Mereka yang panik mengira jika Nurul akan melahirkan, akan tetapi dokter mengatakan ini adalah karena terjadinya perbedaan Rhesus antara ibu dan bayi dalam kandungan, atau yang dalam istilah medisnya disebut inkompatibilitas Rhesus.


Inkompatibilitas Rhesus sendiri adalah kelainan pada bayi akibat perbedaan golongan darah Rhesus ibu dan bayi. Dimana sang ibu memiliki Rhesus negatif sedangkan janinnya memiliki Rhesus positif.


Kasus ini dapat menyebabkan komplikasi seperti anemia parah, gagal jantung, kejang, penyakit kuning, kelainan saraf, gangguan mental bahkan bisa mengakibatkan kematian pada bayi.


Bu Dianti terus berdoa berharap agar Nurul dan bayinya baik-baik saja sedangkan pak Deen sedari tadi diam karena sibuk menerka mengapa Danish mengatakan Danissa membutuhkan bantuan mereka.


Diantara ketiganya, saat ini Danish yang paling cemas. Ia tak hentinya mondar-mandir sambil terus menggumamkan doa.


"Diam dan duduklah. Papa pusing lihat kamu dari tadi mondar-mandir," tegur Deen.


Danish menghembuskan napasnya dengan kasar kemudian ia duduk di samping papanya. "Aku hanya cemas, Pa," lirihnya.


"Danish, apa maksud ucapan kamu tadi tentang Danissa?"


Pertanyaan tersebut langsung membuat Bu Dianti menatap kedua lelaki kesayangannya. Mendadak nama anak perempuannya disebut langsung menarik perhatian Bu Dianti. Ada rasa degdegan dalam dadanya dan juga rasa sedih yang teramat dalam karena kehilangan putri kecilnya.


"Ada sesuatu yang nggak mama tahu, Danish?" tanya Bu Dianti dengan bibir bergetar.


Danish tersadar jika dirinya tadi sudah terlanjur kelepasan bicara. Mau tidak mau ia harus menjelaskan agar tidak terjadi kesalahpahaman. Danish menatap papanya kemudian ia menatap mamanya dan mengambil tangan wanita itu dan menggenggamnya dengan erat.


"Perasaan Danish tidak pernah salah sejak pertama kali melihatnya, Ma. Danish selalu bilang jika Danish memiliki perasaan aneh terhadapnya tetapi bukan cinta. Dan ternyata, Nurul adalah adik kecil Danish yang hilang ketika berusia sebulan. Danish sudah membuktikannya, Ma, Pa. Kita akhirnya menemukan dia," cerita Danish tanpa bisa menahan air mata yang sedari tadi sudah tidak sabar untuk menerobos keluar.


Tidak ada kata yang bisa diucap oleh tuan dan nyonya Emrick. Hanya bibir yang bergetar dan mata yang berkaca-kaca. Jantung mereka bahkan seakan berhenti berdetak, mereka berharap ucapan Danish ini bukanlah sebuah mimpi belaka.


"Bagaimana bisa?" Itu adalah pertanyaan yang lolos dari bibir Deen Emrick.


Danish pun mulai menceritakan awal mulai ia menyelidiki Nurul. Dimana awal bertemu ia merasakan perasaan aneh yang melihat Nurul menangis malam itu dan ia pun ikut menangis. Setelah itu ia tak sengaja melihat Nurul yang dengan mudah membuat mamanya merasa nyaman padahal selama ini mamanya itu menjaga jarak dari anak perempuan karena tidak sanggup jika terus teringat akan Danissa.


Melihat kedekatan yang terjalin begitu saja serta Nurul yang langsung diterima oleh mamanya dengan baik semakin membuat keanehan itu menggerogoti pikiran Danish. Ia mencoba mendatangi panti asuhan Nurul dan menanyakan tentang kapan dan bagaimana Nurul bisa sampai di panti.


Bu Uswa mengatakan jika subuh itu suaminya--Pak Budi, yang hendak keluar untuk shalat di masjid tak sengaja melihat bayi di depan pintu rumah mereka. Ia membawanya masuk dan diberikan kepada Bu Uswa. Mereka sama sekali tidak tahu siapa yang menaruh bayi tersebut di depan rumah mereka. Tapi itu bukan masalah karena memang rumah mereka adalah sebuah panti. Dengan senang hati Bu Uswa membawa bayi itu ke dalam rumah dan ia beri nama Nurul Aina.


"Danish tanya ke Bu Uswa apakah ada yang ditinggalkan ketika Nurul dititip di panti. Bu Uswa sempat lupa, tetapi waktu aku mau pulang ia teringat akan selimut bayi milik Nurul yang masih ia simpan dan ternyata setelah aku periksa, di selimut itu terdapat inisial DGE atau Dannisa Guzelim Emrick. Dan aku sudah menyimpan selimut itu di rumah di kamar Danissa. Dan jika tidak percaya lagi, aku sudah melakukan tes DNA dan tadi hasilnya baru keluar makanya aku buru-buru ke butik untuk mengabarkan kalian tapi malah ini yang terjadi."


Panjang lebar Danish menjelaskan, kedua orang tuanya kini berpelukan menangis haru, bahagia dan bersyukur karena saat ini permata mereka yang hilang telah ditemukan dan Tuhan membawanya datang dengan sendirinya ketika mereka sudah putus ada dan kehilangan harapan.


Bu Dianti meraung menangis dalam dekapan suaminya. Ia begitu bersyukur karena kasih sayang yang ia curahkan selama ini pada Nurul adalah murni karena Nurul adalah anaknya yang selama ini ia cari. Yang selama ini ia rindukan dan yang selama ini selalu ia sematkan dalam doa.


Begitupun dengan Deen Emrick yang tidak bisa membendung air matanya. Ia menangis bagaikan anak kecil yang sedang kesakitan tetapi tangis ini adalah tangis bahagia. Ia bersyukur karena akhirnya penantian dan pencarian mereka selama ini sudah menemukan hasilnya. Danissa, putrinya kecil mereka akhirnya ditemukan dan selama ini sudah hidup berdampingan dengan mereka tanpa mereka sadari.


Pantas saja dirinya pun merasa dekat, ikatan batin yang menghubungkan mereka. Dirinya yang lebih tertutup pada orang asing justru begitu menerima kehadiran Nurul. Ia sangat tidak menyangka putrinya itu akan datang sendiri pada mereka. Rencana Tuhan memang paling indah.


"Danissa, anak mama. Putri mama, akhirnya kamu pulang Nak. setelah sekian lama kamu berpetualang akhirnya kamu pulang juga. Terima kasih Nak, terima kasih Tuhan," tangis histeris Bu Dianti.


Ketiganya berpelukan erat membagi rasa haru dan bahagia mereka. Tak lama kemudian dokter Aleesha keluar dan langsung menemui mereka.


"Bagaimana keadaan Danissa?" tanya Bu Dianti langsung berdiri menghampiri dokter Aleesha.


"Danissa?"


Danish yang tanggap jika dokter Aleesha tidak mengenal Danissa dan ia hanya mengetahui pasiennya itu adalah Nurul pun langsung turun tangan.


"Nurul gimana?"


Dokter Aleesha terdiam sesaat karena bingung dengan sikap keluarga Emrick ini. "Nurul keadaannya tidak baik karena pendarahan yang disebabkan oleh perbedaan Rhesus ibu dan janin. Kami akan memberikannya suntikan Rho dan juga kami membutuhkan transfusi darah A Rhesus negatif untuk pasien," jelas dokter Aleesha.


Mereka mengerutkan dahi karena tidak paham dengan ucapan dokter Aleesha. Akhirnya dokter cantik itu pun memberikan penjelasan.


Untuk mencegah inkompatibilitas rhesus, dokter dapat memberikan suntikan Rho saat ibu menjalani kehamilan pertama. Pemberian Rho pada kehamilan pertama akan membantu mencegah sistem imun ibu membentuk antibodi terhadap rhesus. Pemberian Rho dapat dilakukan pada waktu usia kandungan memasuki dua puluh delapan Minggu pada kehamilan pertama dan pada hari ketiga bayi dilahirkan. Hal ini dimaksudkan agar dapat mencegah sistem imun ibu membentuk antibodi terhadap Rhesus. Dengan begitu pada kehamilan kedua tidak ada antibodi yang merusak darah janin yang bergolongan Rhesus positif.


Paham tidak paham dengan pernyataan dan penjelasan dari dokter Aleesha, mereka hanya ingin Nurul mendapatkan yang terbaik. Ketiganya siap mendonorkan darah mereka namun hanya Danish yang dipilih oleh dokter.


.


.


Seorang pria yang sedang membaca sebuah buku mendadak memegang dadanya yang terasa sesak juga ngilu. Ia tidak tahu mengapa padahal ia dalam keadaan baik-baik saja satu detik sebelumnya.


"Al, ada apa?"


Yang ditanya langsung menengok, "Tidak. Hanya teringat sesuatu. Aku pamit ya," jawabnya.


"Tapi Al, tugas kita gimana?"


"Biar aku yang menyelesaikan bagian akhir dan kau kerjakan bagian awalnya," jawabnya yang langsung mengemasi buku-bukunya.


Belum sempat ia mencegah, pria ini langsung pergi tanpa mengajaknya untuk pulang bersama.


"Dia bahkan begitu cuek sama aku. Gimana mau menangin hati kamu Alvaro kalau kamu saja sedingin ini," gumamnya sambil menatap punggung Alvaro menjauh.


Saat ia sedang meratapi nasib ditinggal Alvaro, seseorang datang mendekatinya.


"Clar, dicuek lagi?" tanya Sheila.


Clarinta, gadis itu bernama Clarinta yang sudah beberapa bulan ini mendekati Alvaro karena jatuh cinta pada pandangan pertama. Hanya saja, selalu mendapat penolakan secara tidak langsung dari cowok yang ia juluki cowok kulkas itu.


"Seperti biasa. Tapi aku akan berusaha untuk mendapatkannya. Aku Clarinta Wistara, apa yang aku inginkan pasti akan aku dapatkan. Kau akan jadi saksinya," ucapnya dengan penuh tekad dan percaya diri tinggi.


Alvaro Genta Prayoga, kau akan ada digenggamanku. Bukan hari ini, tapi pasti hari itu akan tiba. Tunggu saja.