
Aluna menggenggam tangan Frey yang sudah terkepal kuat. Ia tahu sebentar lagi Frey pasti akan melesatkan satu pukulan kepada Leon. Genggaman Aluna tersebut membuat Frey merasa lebih tenang dan memang seharusnya ia lebih tenang dalam menghadapi Leon. Frey sadar kalau mulai detik ini Leon pasti tidak akan tinggal diam untuk terus mengacau dan membuatnya kehilangan rasa sabar.
"Maaf Leon, sekalipun di dunia ini cuma ada lu dan Keenan, gue memilih setia sama Frey!"
Jawaban Aluna membuat Leon, Keenan dan Frey terdiam. Tiga cowok tampan itu mengira Aluna akan mengatakan ia tidak akan memilih dari keduanya eh ternyata lanjutan Kalimantan sungguh membuat mereka terbengang.
Frey lebih cepat menyadarinya dan menahan tawa. Aluna-nya memang selalu penuh kejutan seperti papi Alvaro. Tangan mereka yang masih saling menggenggam tertarik ke depan mana kalau Frey sudah berjalan dan membawa Aluna pergi menuju ke kelas yang masih cukup jauh dari parkiran.
Leon dan Keenan saling menatap. Keduanya saling tersenyum penuh arti dan sama-sama paham makna dari senyuman mereka.
Hari ini Keenan pindah sekolah, sebenarnya proses pindah sekolah tidak se-instan ini tetapi karena kekuatan finansial maka apapun akan jadi bahkan jika mungkin dalam sekali kedipan mata.
Kedatangan Aluna dan Frey ke sekolah hingga di depan kelas membuat Cici terkejut karena yang ia tahu Aluna dan Frey belum pulang ke rumah mereka -- menurut Pak satpam mereka kemarin. Tetapi hari ini keduanya sudah terlihat sampai di sekolah bahkan pandangan Cici terarah pada tangan mereka yang saling menggenggam.
Rasanya Cici ingin melepaskan genggaman tangan tersebut tetapi ia harus bisa menahannya mengingat keduanya adalah pasangan saudara dan juga Ia adalah sahabat yang baik untuk Aluna.
"Lho Aluna, gue kira lu belum balik, soalnya kemarin gue ke rumah lu nanyain lu sama Pak satpam tapi katanya lu lagi nggak di rumah. Katanya kalian lagi ke rumah kakek-nenek lu yang di Kalimantan," ucap Cici membuka pembicaraan, ia berusaha mengalihkan tatapannya dari tangan Aluna dan Frey yang saling bertautan.
Aluna menautkan alisnya, Ia bahkan tidak tahu jika Cici sempat datang ke rumah mereka untuk mencarinya. Ia kemudian menatap Frey yang pasti tahu akan hal tersebut tetapi Frey hanya diam saja dan Aluna pun langsung tanggap jika memang kemarin Ia tidur seharian dan kelelahan akibat begadang bersama Frey. Dan mungkin saja Frey hanya ingin menjaga privasi mereka agar tidak ada yang tahu jika mereka habis melakukan hal besar semalam.
"Oh iya, kemarin gue emang ke sana sih. Tapi gue balik lagi malamnya soalnya gue nggak sempat izin. Begitu juga dengan Frey sama adik gue, kita nggak sempat izin soalnya acara di sana juga udah selesai kok hanya saja Bunda sama papi masih di sana. Kami bertiga doang yang pulang duluan," jawab Aluna dengan terbata-bata karena ia tidak memiliki alasan yang jelas untuk menjawab pertanyaan dari Cici.
Cici mengangguk-anggukkan kepalanya, dalam hati ia langsung membenarkan ucapan Aluna karena pikirnya Aluna merupakan anak dari konglomerat yang memiliki jet pribadi yang kapan saja mereka ingin melakukan penerbangan maka langsung dituruti.
Cici tidak tahu saja jika Papi Alvaro begitu menyayangi jetnya dan tidak ingin digunakan sembarang karena ia lebih memilih menggunakan pesawat komersial yang hanya membayar uang tiket saja dibandingkan harus menggunakan jet pribadi miliknya dengan jarak tempuh yang tidak memakan waktu hingga lebih dari tiga jam. Pemborosan katanya.
"Freeyy!!"
Suara teriakan melengking tersebut langsung membuat Aluna dan Cici menutup telinga mereka. Siapa lagi pelakunya kalau bukan Riani. Ia begitu senang melihat Frey sudah kembali ke sekolah dan itu artinya semangatnya kembali berkobar.
Cici memutar bola matanya malas melihat sikap lebay Riani. Selalu saja ingin mendekati Frey yang nyata-nyata sudah ditolak mentah-mentah. Sedangkan Aluna, entah mengapa ia tidak cemburu pada Riania, terkadang ia berpikir Riani justru terlihat lucu saat sedang menggombali Frey.
"Lu! Bisa nggak lu nggak usah seheboh itu kalau ketemu Frey. Sakit kuping gue," gerutu Cici.
Riani tidak peduli dan memang tidak akan peduli dengan cibiran teman-temannya. Ia hanya mencebikkan bibirnya.
"Hei, nggak masalah dong kalau gue masih ngejar Frey. Lagian ditolak itu harusnya gue berjuang keras. Daripada memendam perasaan dan berpura-pura jadi teman, itu nyesek tahu! Buat kalian nih ya teman-teman gue tersayang, sebaiknya kalau kalian jatuh cinta ya nyatain kayak gue. Jangan cuma dipendam doang dan sok nggak punya rasa, diambil orang baru tahu rasa. Apalagi cara menyukainya nggak sehat, yang ada bakalan celaka. Contoh nih gue, mengagumi dalam ribut," ucap Riani panjang lebar.
Ucapan Riani tersebut membuat Cici merasa tersinggung. Sangat jelas menyinggung dirinya akan tetapi Cici tahu kalau Riani tidak bermaksud begitu padanya sebab mengenai perasaannya, hanya ia, Tuhan dan Leon yang tahu.
"Mengagumi dalam ribut? Apaan tuh? Baru dengar gue," tanya Aluna.
Riani memutar bola matanya lalu ia menghela napas. Ditatapnya Aluna lamat-lamat kemudian ia mende-sah pelan. "Maksud gue tuh, orang kebanyakan mengagumi dalam diam. Nah kalau modelan kayak gue yang selalu koar-koar cinta gue ke Frey ya itu namanya mengagumi dalam ribut," jawab Riani menjelaskan hingga membuat Aluna tergelak.
"Frey," rengek Riani dan Frey hanya tersenyum manis padanya lalu ia melenggang masuk ke dalam kelasnya.
Riani menghentakkan kakinya di lantai dan aksinya tersebut membuat Aluna gemas sedangkan Cici merasa malas dengan sikap berlebihan Riani tersebut.
Cici langsung menggandeng tangan Aluna masuk ke dalam kelas membiarkan Riani di luar sendirian dengan kegilaannya. Sepeninggalan kedua teman sekelasnya itu, Riani menyeringai menatap punggung mereka.
Ia kemudian mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang untuk menemuinya nanti di waktu istirahat. Ia mengantongi kembali ponselnya lalu ia menyusul masuk ke kelas.
.
.
Mendapat kabar dari Ikram kemarin langsung membuat tuan yang dulunya disapa tuan muda Alvaro Genta Prayoga itu pulang pagi ini bahkan dengan menggunakan jet pribadinya. Ia bahkan memaksa Nurul untuk ikut pulang dengannya padahal Nurul masih ingin bersama dengan Clarinta yang baru saja melahirkan anak ketiganya.
Nurul kembali bekerja di butik sedangkan Alvaro sayang ke kantor Ikram, tempat dimana mereka membuat janji. Keduanya tanpa basa-basi langsung membahas tentang kejadian bertemunya Aluna dan Naufal dengan Bastian Elard.
"Ini udah nggak bisa dibiarkan. Kita harus menumpas dari akarnya dulu. Anak-anak seperti mereka tidak mungkin kita sentuh. Kita hanya bisa meminta bantuan Nandi untuk mempekerjakan beberapa detektifnya untuk mengawasi pergerakan mereka," ucap Alvaro. "Gue bahkan masih sanggup berkelahi, bro. Gimana kalau kita adu tanding saja. Gue udah bosan mikir gimana keluar dari masalah ini kalau nggak kita musnahkan sumber masalahnya," imbuhnya merasa geram.
Ikram menganggukkan kepalanya, ayahnya juga menyarankan hal yang sama. Sepertinya mereka harus menyusun rencana untuk memancing kedatangan Bastian dan Brandon ke negara ini agar nanti mereka bisa berhadapan langsung. Sangat tidak elok membiarkan anak-anak memainkan peran yang tidak pantas mereka lakukan. Hal tersebut hanya akan mencemari dan merusak pikiran serta jiwa muda mereka.
"Sebenarnya gue ada rencana. Gue yakin kali ini kita pasti berhasil membuat dua iblis itu keluar dari kandangnya," ucap Ikram seraya menyeringai devil hingga Alvaro sendiri bergidik ngeri melihatnya.