GADIS TARUHAN ALVARO

GADIS TARUHAN ALVARO
Hari Pertama


Pagi sudah kembali menyapa, hari pun sudah mulai berganti. Aktivitas akan segera dimulai. Begitupun dengan hidup yang harus terus berjalan walaupun hati masih berada di tempat yang sama.


Gadis yang tak lagi gadis ini sedang berhadapan dengan pantulan dirinya di depan cermin. Ia sedikit gugup karena hari ini ia akan memulai pekerjaan baru bersama orang-orang baru pula. Entah seperti apa karakter yang akan ia hadapi nanti, Nurul mulai menduga-duga.


Sesekali ia menghela napas, teringat akan pembicaraannya semalam bersama Bu Uswa. Nurul memusatkan pandangannya pada perut ratanya. Ia dengan ragu mengelusnya.


"Semoga kamu tidak ada di dalam sini," lirihnya.


Jika sudah membahas hal ini, ujung-ujungnya pasti akan kembali ke tempat yang sama yaitu Alvaro Genta Prayoga. Semakin hari rindu semakin menggebu dan kebencian entah apa itu benci atau benar-benar cinta. Nurul tidak bisa membedakan. 


Ingin rasanya ia menghubungi Flora hanya sekadar mencari tahu apakah sahabatnya itu tahu kabar terbaru tentang Alvaro? Apakah Alvaro sudah bersama dengan Miranda? Apakah mereka sudah bertunangan atau bahkan sudah menyiapkan pernikahan?


Pertanyaan terakhir menambah ngilu di hati Nurul. Hari ini ia baru saja akan memulai lembaran baru dan kegiatan baru namun belum juga bergerak ia sudah lemah dibuat hatinya.


"Ayo Nurul, lu pasti bisa. Lupain Alvaro. Dia juga pasti udah nggak pernah ingat sama lu," ucap Nurul memberi semangat pada dirinya.


Menyemangati diri sendiri dan memaksakan bibir untuk tersenyum tentu saja cukup sulit untuk Nurul lakukan namun ia bertekad akan melakukan itu semua setiap harinya. Berawal dari keterpaksaan lama-lama akan menjadi kebiasaan dan Nurul akan lupa jika ia awalnya hanya memaksakan diri saja.


Ah … mengingat awalnya terpaksa kembali mengiris hati Nurul. Ia menggerutu mengapa semua harus selalu berkaitan dengan ingatannya tentang Alvaro. Ia ingin marah namun marah kepada siapa.


Ketukan di pintunya menarik kembali kesadaran Nurul yang hari ini ia harus bersemangat dan melupakan sejenak patah hatinya. Luka batinnya harus di perban dulu. Ada hal yang lebih penting daripada sekadar mengingat Alvaro.


"Nurul, udah siap Nak?"


Suara lembut Bu Uswa dari luar kamar langsung memberikan energi positif pada Nurul.


"Udah, Bu. Ayo kita berangkat," ujarnya.


Baiklah, mari kita taklukkan hari ini. Dan biarlah bayangmu pergi bersama waktu yang akan berlalu. Walaupun aku nggak bisa sepenuhnya lupa, tapi aku akan membiasakan diriku untuk tidak mengingatmu. 


Suasana perkebunan cukup ramai dimana sudah banyak pekerja yang datang dan memulai aktivitas mereka. Hari ini Nurul datang tepat di waktu mereka mulai memanen hasil perkebunan. Sempat grogi karena merasa baru di tempat ini, nyatanya para pekerja langsung menyambutnya dengan ramah. Apalagi mereka yang sudah berumur seperti Bu Uswa, mereka menyambut hangat kehadiran Nurul.


Bu Uswa mengatakan bahwa mereka adalah teman-teman lama Bu Uswa dan Bu Uswa menjamin mereka akan membantu Nurul dalam bekerja. Melihat ketulusan mereka pun membuat hati Nurul menghangat.


Baru datang dan disambut dengan begitu baik langsung membuat Nurul bersemangat memulai pekerjaan. Di ajari cara mengolah tanaman dan juga apa-apa saja yang akan dikerjakan di perkebunan ini membuat Nurul lupa waktu hingga tak terasa sudah jam makan siang dan Nurul masih ingin melakukan pekerjaannya. Ia begitu bersemangat.


"Makan dulu Nak," ajak Bu Juleha.


Bu Juleha adalah yang membimbing Nurul selama bekerja disini sampai Nurul bisa mengerjakannya sendiri. Ia adalah salah satu orang kepercayaan keluarga Bu Uswa dalam mengelola perkebunan mereka ini. Usianya sepantaran dengan Bu Uswa namun wajahnya terlihat lebih tua, mungkin karena sering berjemur di alam terbuka seperti ini.


Nurul dan Bu Juleha mulai makan siang bersama pekerja yang lain. Pantas saja Bu Uswa memberikannya bekal, rupanya di perkebunan ini mereka memang menyediakan makanan mereka masing-masing dan akan dimakan bersama-sama.


"Wah, kamu bening begini nggak pantas lho kerja di perkebunan. Nggak takut panas matahari?" tanya Bu Juleha yang mendapat anggukan dari ibu-ibu yang lain.


"Pantasnya kerja di kantoran atau di salon. Kamu cantik begini nggak cocok menanam atau berpanas-panasan. Nanti nggak ada yang lirik, hehehe. Ibu bercanda ya Nurul, hanya ingin menggoda," timpal yang lainnya.


Nurul ikut tertawa, "Semua pekerjaan sama saja Bu. Tergantung dari niat kita yang mengerjakan. Lihat, ibu-ibu semua bahkan betah kerja disini. Tentu saja saya juga akan begitu," ucap Nurul bersemangat.


"Asyik. Anak muda seperti ini barulah betul. Jangan milih-milih pekerjaan. Asalkan halal, itu lebih baik daripada mau cepat sukses pakai jalan yang nggak baik. Semangat Nurul," ucap pak Purnomo, saudara Bu Uswa yang tak sengaja lewat dan mendengar obrolan mereka.


"Semangat!" Mereka semua berseru lalu tertawa bersama.


Jika lingkunganku seperti ini maka gue yakin lambat lain gue pasti akan berhasil menyembuhkan luka ini.


.


.


.


Di dalam ruang rawat milik tuan muda Alvaro Genta Prayoga kini tiga sekawan tengah berkumpul. Ikram tak henti-henti membuat ulah dengan selalu kabur dari ruang rawatnya dan memilih nongkrong di kamar Alvaro. Sering kali perbannya terbuka dan suster hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya karena setiap beberapa jam harus terus menggantinya.


Ikram hanya menjawab asal-asalan dan itu tidak membuat ayahnya–Ben Elard merasa puas. Membayangkan pewaris satu-satunya mengalami insiden penembakan sudah membuatnya gila. Ingin rasanya ia membumihanguskan pelaku itu jika sampai di depan matanya. Sayangnya Ikram memilih tutup mulut.


Ben Elard bahkan mendatangi Genta Prayoga namun Genta juga sama tak tahu dan ia meminta agar Ben jangan mendesak anak-anak karena cepat atau lambat akan segera ketahuan siapa dalang dari kejadian ini.


Meskipun merasa tak puas dengan ucapan Genta, nyatanya Ben pun tak bisa berbuat apa-apa.


Saat ini, Nandi tengah menatap Ikram dan Alvaro bergantian. Ia menatap bagaikan elang yang sedang bersiap menerkam mangsanya.


"Siapa?"


Pertanyaan Nandi membuat Ikram dan Alvaro mengernyit.


"Siapa pelakunya?" ulang Nandi. "Lu berdua boleh sembunyiin ini dari orang tua kalian tapi nggak dengan gue. Gue rasa ini nggak ada hubungannya sama saingan bisnis orang tua kalian karena kalau itu memang berasal dari mereka, kalian berdua nggak mungkin bego dengan datang sendiri ke tempat itu buat nyerahin nyawa kalian. Gue nggak se-bego itu percaya sama kalian. Ayolah, sudah tiga hari dan kalian masih belum membuka mulut," desak Nandi. Mulutnya sudah begitu gatal ingin menginterogasi.


Baik Alvaro maupun Ikram hanya diam saja. Ikram menatap Alvaro mengisyaratkan agar dirinya saja yang bicara namun Alvaro juga sebaliknya terhadap Ikram.


"Oh ya, tumben lu nggak ngajak Flora?" celetuk Alvaro.


Demi Tuhan, rasanya Nandi ingin menembaki mulut Alvaro saat ini. Ia marah namun sang sahabat hanya menatapnya dengan cengengesan.


Ikram menahan tawanya sedangkan Nandi menahan amarahnya. Bukan saatnya bercanda tapi Alvaro dengan entengnya mengubah pertanyaan agar bisa mengalihkan suasana.


"Lu berdua masih diam, gue bakalan bawa pistol bokap gue biar sekali lagi lu berdua tertembak. Mau?!"


Alvaro menghela napas. Ia mungkin bisa menghindari papinya tapi tidak dengan Nandi. Sahabatnya ini yang paling tak bisa diam jika ada hal-hal terjadi diantara mereka. Mengalahkan ke-kepoan para wartawan dan juga para detektif.


"Nan, menurut lu siapa yang kira-kira pantas untuk dijadikan tersangka?" tanya Alvaro mulai serius.


Nandi terdiam, berpikir namun nihil. Ia menggelengkan kepalanya.


"Oh iya, kenapa seperti ada yang kurang ya? Kenapa gue merasa cuma ngelihat lu doang ya?" timpal Ikram yang mulai mengikuti alur Alvaro.


Nandi melotot tak suka dengan ucapan Ikram namun ia juga merasa seperti ada yang kurang. Flora? Tapi bukan itu yang ia rasakan.


"Kriss? Oh iya kemana anak itu? Seingat gue dia terakhir datang waktu lu ada di operasi. Dia nemenin gue nungguin lu, tapi keburu pergi. Gue sih yang nyuruh soalnya wajahnya habis babak belur gitu. Katanya dihajar sama cewek-cewek di toilet wanita," ujar Nandi.


Nandi terkekeh kala mengingat wajah Kriss dan juga ceritanya. Namun tawanya berhenti mana kala ia melihat raut wajah tegang dari kedua sahabatnya. Sekali lagi ia mengamati dan wajah Alvaro serta Ikram mengetat kala ia mengatakan …


"****! Jangan bilang kalau dia …."


Nandi mengumpat! Bahkan ia tidak bisa berbicara dengan lancar dan memilah kata-kata yang tepat untuk ia keluarkan saat ini. Dirinya terlalu syok mengetahui fakta sebenarnya. Tidak bisa ia masukkan kedalam akal pikirannya.


Sekali lagi ia melihat Alvaro dan Ikram bergantian. Wajah mereka dipenuhi amarah dan juga sesal. Nandi semakin yakin dan semakin bingung mengapa dan apa alasan Kriss sampai tega berbuat seperti ini.


Dan jangan lupakan kekhawatiran yang ia tunjukkan di depan ruang operasi. Bertopeng kan sahabat sejati datang dengan membawa kepedulian besar nyatanya dirinyalah pelaku sebenarnya.


"****! Harusnya gue nggak ngeraguin insting seorang lulusan hukum! Waktu itu Flora tanpa diduga langsung menuduh Kriss tapi gue malah nggak percaya, harusnya gue peka."


Nandi kembali menggerutu ketika ia teringat akan Flora yang langsung menebak jika Kriss lah pelaku sebenarnya namun ia justru menertawakan gadis pujaannya itu. Harusnya ia menanyakan lebih lanjut pada Flora mengenai kenapa ia bisa mengatakan jika Kriss pelakunya. Ia yakin saat itu Flora sudah bisa melihat sesuatu yang janggal dengan sikap Kriss.


Alvaro dan Ikram hanya bisa tersenyum getir. Keduanya awalnya sepakat untuk menjadikan ini rahasia saja. Tapi menghadapi Nandi tidak semudah itu. 


"Felix, kamu sudah dengar sendiri siapa pelakunya. Cari anak itu dan hubungi Ben Elard. Dia bahkan jauh lebih tidak sabar untuk membumihanguskan pelakunya."


Degg ….


"Sudah cukup bermain tebak-tebakan dengan papi. Kalian sudah tertebak. Jangan coba-coba halangi kami untuk melakukan pembalasan. Mulai detik ini Kriss Griffin bukan lagi bagian dari kalian. Papi akan menghancurkannya. Jangan menghalangi papi!"