GADIS TARUHAN ALVARO

GADIS TARUHAN ALVARO
Saksi Kunci


Pertanyaan tuan Genta Prayoga membuat Ikram gugup dan bingung. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Ia butuh Alvaro untuk membantunya menyelesaikan masalah ini setidaknya ia bisa lari dulu untuk saat ini. Namun jika ia lari, bisa ia pastikan semakin besar rasa curiga tuan Genta.


"Itu--"


Belum sempat Ikram menjawab, Felix dan dua orang anggotanya datang menghadap tuan Genta. Mereka menampilkan wajah datar yang mampu membuat orang disekitarnya bergidik ngeri.


Tuan Genta Prayoga menantikan laporan mereka. Ia sudah tidak sabar untuk mengeksekusi pelaku yang menyebabkan putranya kini tengah berbaring tak sadarkan diri di ruang operasi, berjuang antara hidup dan mati. Memikirkannya saja sudah membuat tuan Genta geram tak tertahan.


Dengan suara yang begitu dingin ia berkata, "Bagaimana hasilnya Felix?"


Felix menunduk, sebuah isyarat yang sangat dibenci oleh tuan Genta. Tangannya terkepal erat, hampir saja ia melayangkan pukulan pada orang kepercayaannya ini jika saja ia tidak ingat putranya butuh ketenangan dan kesabaran serta doa darinya.


Genta Prayoga hanya bisa menghela napas. Ia adalah sosok yang selalu berusaha bersikap tenang dan tidak meledak-ledak karena bagaimanapun status seseorang, ia tetap menganggap mereka sama. Apalagi terhadap bawahannya dan orang-orang yang berjasa dalam hidupnya, ia tidak pernah merendahkan mereka. Hal itu lah yang membuat anggotanya betah terhadapnya. Tuan mereka ini tidak pernah mencaci maki mereka atau bahkan ketika mereka gagal, ia sama sekali tidak langsung memecat mereka melainkan justru memberi mereka semangat dan juga sedikit banyak petuah.


Pria paruh baya ini kembali terduduk sambil memijat pelipisnya. Ia harus bisa menekan kemarahannya karena itu tidak baik untuk kesehatan dan juga ia tidak ingin Yani tahu dirinya menjadi pemarah. Ia adalah sosok lemah lembut di mata Yani, sehingga Genta tidak ingin pandangan istrinya itu berubah.


Berbicara soal Yani, Genta jadi teringat akan istrinya sehingga ia kembali menanyakan kepada Felix, "Apakah nyonya sudah tahu masalah ini?"


Felix menggeleng pasti, "Belum, tuan. Kami belum memberitahukannya karena itu bukan hak kami," jawabnya.


Genta mengangguk-anggukkan kepalanya seraya berkata, "Bagus. Biar aku nanti yang akan memberitahukannya. Setelah Alvaro selesai operasi maka kau jemputlah istriku untuk datang kemari. Oh ya, hubungi Billy dan katakan untuk menunda beberapa rapat untuk dua hari kedepan. Atau jika tidak maka mintalah ia yang menghadiri rapat tersebut dan kau temani dia."


Titah Genta langsung diangguki oleh Felix. Pria yang berdarah dingin dan kaku ini sudah lama ikut bersama tuan Genta Prayoga dan kesetiaannya sudah tidak bisa dipertanyakan lagi. Felix merasa kecewa pada dirinya sendiri sehingga dalam hati ia terus merutuki dan mengumpati dirinya sendiri. 


Felix melirik tuan Genta yang sudah terlihat lebih tenang dan tak sengaja ekor matanya menangkap sosok yang sedang duduk di kursi roda dengan pandangan yang kosong. Felix tahu jika anak muda itu tidak sedang diam seperti mulutnya yang tertutup rapat. Ia bisa menebak jika Ikram saat ini tengah asyik dengan pikirannya. Felix rasanya ingin menginterogasi Ikram karena hanya Ikram saksi kunci kejadian dimana mereka berdua ditembak oleh seseorang.


Beberapa saat sebelum Felix mendekatinya, wajah Ikram mendadak pucat dan bulir keringat membasahi pelipisnya. Ia berusaha menahan rasa sakit dan nyeri di bagian perutnya. Felix yang sadar kalau salah satu tuan muda di negara ini diam-diam menahan sakitnya pun langsung berinisiatif membawa kursi rodanya untuk kembali ke kamar perawatan.


"Gue ingin disini, Bang Felix. Gue mau nungguin Alvaro," tolak Ikram begitu Felix memutar kursi rodanya.


Felix tahu persahabatan erat mereka sudah terjalin sejak masa kanak-kanak. Mereka tidak pernah saling meninggalkan dalam situasi apapun. Ia mengerti dengan penolakan Ikram tetapi tuan muda ini juga perlu istirahat mengingat dirinya juga mengalami luka serius walaupun tidak membutuhkan tindakan operasi.


Nandi, Flora dan Genta menoleh saat Ikram memohon agar tetap menunggu Alvaro di depan ruang operasi. Ketiganya terkejut karena melihat wajah Ikram semakin pucat. Dengan cepat Nandi memaksa Ikram untuk kembali dan ia akan mengantarnya bersama Flora.


Tentu saja Ikram menolak. Mana bisa dirinya meninggalkan Alvaro. Ia juga takut jika dalam kesendirian maka orang-orang Genta Prayoga akan datang menanyainya. Tetapi ia juga tidak bisa mengelak dari rasa sakit yang ia rasakan saat ini. Begitu nyeri hingga membuat ia mengepalkan tangannya erat-erat menahan sakit.


Nandi dan Felix tersenyum mengejek.


"Sudah seperti ini saja masih keras kepala. Ayo gue antar ke kamar lu. Istirahat aja, gue yang bakalan jagain Alvaro disini dan lu bakalan jadi orang pertama yang gue kabarin kalau Alvaro sudah selesai di operasi," ucap Nandi yang mendapat tatapan tajam dari Ikram.


"Berpura-pura baik-baik saja dengan wajah yang nampak jelas kesakitan itu sama saja dengan omong kosong. Cepat kembali ke kamarmu dan istirahat yang cukup. Jika kau melawan maka akan aku siapkan dua penjaga di depan pintu kamarmu," timpal Felix.


Diserang oleh dua orang sekaligus membuat Ikram mengangkat tangannya menyerah. Ia akhirnya mau diantar ke kamarnya oleh Nandi dan Flora. Nandi terus berbicara sendiri, ia menanyakan pertanyaan entah pada Ikram atau Flora dan pertanyaan itu dijawab pula oleh dirinya sendiri.


Sesampainya di dalam ruang rawat, Ikram dibantu Nandi untuk naik ke tempat tidur karena perutnya terasa begitu nyeri.


Nandi kembali tersenyum mengejek, "Sudah tahu belum sembuh benar sudah kelayapan. Entar deh kalau lu udah baikan lu mau kemana kek, jungkir balik ke, itu terserah lu. Tapi yang jelas sekarang lu harus istirahat," ucap Nandi sembari menyelimuti tubuh Ikram.


Ikram dengan cepat menghempaskan selimut tersebut. Ia mendengus melihat sikap Nandi yang sudah mirip seperti ibunya kala menceramahi dirinya. Mengingat hal itu Ikram kembali merutuki dirinya yang sama sekali tidak memberi kabar kepada orang tuanya jika dirinya masuk rumah sakit.


Ikram pun menanyakan pada Nandi tentang orang tuanya yang sudah tahu atau belum mengenai inside ini.


Nandi menggeleng, "Gue cuma takut nyokap lu nggak kuat dengar anaknya kenapa-napa. Kita sama-sama tahu lah kalau nyokap lu terlalu banyak beban pikiran. Tapi kalau lu mau, gue bisa bawa nyokap lu kesini dan jagain lu. Dan biar gue telepon bokap lu biar sekalian dia juga datang ke sini," ucap Nandi.


Ikram dengan cepat menggeleng. Ia memang menginginkan kehadiran ibunya tapi tidak dengan ayahnya. Ia tahu betul perangai ayahnya yang tidak jauh lebih tenang dalam menghadapi masalah dibandingkan tuan Genta Prayoga. Ikram khawatir ayahnya akan bertindak yang tidak seharusnya dilakukan walaupun Ikram tahu itu adalah wujud kasih sayang ayahnya terhadap dirinya. Walaupun membenci sikap ayahnya nyatanya Ikram tahu dengan benar ayahnya selalu berusaha melindunginya.


Ia hanya ingin menghindari kegilaan ayahnya ketika mengamuk pada Kriss. Ia tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada sahabat liciknya itu.


"Tolong lu jemput nyokap gue. Tapi jangan bilang ke bokap," ujar Ikram.


Nandi jelas saja tahu alasannya. Ia pun mengajak Flora untuk pergi dengannya dan mereka akan ke rumah Ikram. Sebelumnya ia menyempatkan diri untuk menengok keadaan di ruang operasi. 


Masih sama dan Alvaro belum juga selesai dioperasi. Nandi menghela napas kemudian ia menggandeng tangan Flora untuk ikut dengannya. Nandi tidak tahu saja sudah berapa kali Flora mengumpatinya dalam hati karena berhasil membuatnya baper. 


Melihat Nandi yang sudah pergi, Genta segera menyuruh dua pengawalnya yang datang bersama Felix untuk bertugas. Yang satu mengikuti Nandi dan yang satunya lagi berjaga di depan ruangan Ikram.


"Aku merasa khawatir, jangan sampai orang ini berniat buruk pada Alvaro dan teman-temannya. Mungkin saja ini adalah ulah saingan bisnis tapi sejauh ini Billy tidak menemukan kendala pada saingan bisnisku. Dan kau selalu berhasil mendapatkan musuh sebelum menyerang," ucap Genta setelah kedua pengawalnya itu pergi.


Genta menatap ruang operasi yang lampunya masih menyala. Dalam hati ia terus mendoakan agar anaknya berhasil dioperasi dan bisa kembali berkumpul dengannya. Hatinya terasa sakit mengetahui anaknya berjuang di ruang operasi dan tengah bertaruh hidup dan mati. Jika bisa, dirinya saja yang ada di dalam dan bukan anaknya.


"Aku juga memikirkan tentang kelompok-kelompok yang mungkin tidak senang dengan persahabatan mereka dan berniat mencelakai. Bukan tidak mungkin sikap Alvaro yang semena-mena itu dan selalu membuat banyak orang sakit hati menjadi alasan dibalik kejadian ini. Bisa saja ada sekelompok orang yang memang merencanakan kejadian ini karena tak tahan dengan sakit hati mereka."


Felix pun sebenarnya memiliki pemikiran yang sama. Ia hanya tidak berani menyuarakannya karena takut membuat tuannya ini tersinggung tapi justru malah tuannya sendiri yang mengatakannya. Ia memang curiga ini adalah hasil kenakalan remaja yang akhirnya berujung tembakan seperti ini.


"Ahh … aku mendadak butuh penyemangat. Kau jemputlah istriku tapi jangan langsung mengatakan tentang Alvaro. Nanti biar aku saja yang akan bilang padanya. Cepatlah Felix, aku merasa sepertinya istriku sedang memanggil-manggil namaku."


Wajah Felix langsung berubah datar dan kaku. Jelas saja ia tahu kalau tuannya ini memang ingin bersama dengan istrinya tapi tetap gengsi hanya sekadar mengatakannya.


Sampai setua ini pun anda masih sebucin itu pada nyonya. Bagaimana kalau saingan anda tahu kelemahan anda ini. Bisa-bisa nyonya diculik brondong umpanan pesaing. Dasar orang tua bucin!


"Jangan mengataiku. Cepat saja sana jemput istriku."


Felix menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Selalu saja ketahuan jika sedang bermonolog dalam hati. Daripada mendapat petuah yang tiada habisnya, Felix memilih untuk cepat pergi dari sana.


"Aku masih sayang telingaku," gumam Felix ketika mulai menjauh.