
Alvaro memukul setir mobilnya begitu ia melihat Nurul sudah menjauh. Harusnya bukan seperti ini pertemuan mereka, harusnya ketika mereka bertemu itu dalam suasana romantis seperti yang sudah ia susun sejak lama. Bukan malah berderai air mata seperti ini. Bukan malah melihat Nurul datang dan diperkenalkan sebagai kekasih seseorang. Bukan pula dengan keadaan dimana dirinya memberi janji pada wanita lain. Mengapa waktu mereka selalu saja salah?
"Arrrrggghhh!"
Alvaro berteriak frustrasi, membayangkan kisah cintanya dengan Nurul yang bahkan semesta saja tidak mendukung. Ia tidak cinta pada Clarinta dan entah sampai kapan ia akan berpura-pura bahagia. Ia juga akan menyakiti hati Clarinta jika memaksakan kehendak. Tapi ... Clarinta sudah begitu baik padanya dengan menyelamatkan sang mami. Tapi bukankah Nurul juga melakukan hal yang sama?
Kepala Alvaro semakin pusing, ia bisa saja merebut Nurul jika itu bukan Daniyal yang bersamanya. Ia bukannya minder atau takut kalah saing, tetapi ia menyadari kalau Daniyal bahkan ribuan kali lipat lebih baik darinya. Ia tahu tentang kehidupan Daniyal yang jauh dari skandal dan bersih dari lendir perempuan. Bukan seperti dirinya yang dulu begitu handal di ranjang dan menjadi petualang ranjang panas. Jika dibandingkan maka ia tidak akan menang mendapatkan Nurul.
"Tapi, apakah Daniyal tahu kalau Nurul sudah tidak perawan lagi? Apakah Daniyal tahu jika Nurul sudah memiliki anak?" gumam Alvaro dan tiba-tiba ia tersentak, "Anak? Iya anak itu anak siapa? Pria yang bersama Nurul adalah kakaknya. Lalu siapa anak perempuan itu? Apakah anak kakaknya atau anak Nurul?" terka Alvaro.
Alvaro mulai berpikir dan mencari cara agar bisa mengetahui siapa anak yang datang bersama Nurul tempo hari. Ia harus tahu dan apabila memang anak itu adalah anaknya bersama Nurul maka ia akan mengambilnya agar sang mama juga ikut bersama anaknya. Ia akan menjadikan anak itu sebagai senjata untuk bisa kembali merebut Nurul dari Daniyal Axelle Farezta.
"Gue memang jahat dan egois. Dan kali ini maaf kalau gue kembali bersikap seperti itu, semua demi cinta gue ke elu Aina. Gue cinta lu!" ucap Alvaro yang kemudian bersiap untuk kembali ke ruangan Clarinta.
Di dalam ruang rawat Clarinta, Axelle dan tuan Genta sedang membahas proyek kerja sama yang akan mereka kerjakan bersama-sama di Sumatera nanti. Keduanya memang sepakat akan melakukan kontrak kerja sama untuk sebuah pembangunan resort dimana pemiliknya adalah keluarga Farezta dan urusan konstruksi akan dilakukan oleh pihak Prayoga.
Meskipun pembahasan itu sangat menggiurkan dan dapat tercium aroma pundi-pundi uang, tapi pikiran Axelle justru tertuju pada Nurul dan Alvaro. Ia mulai menerka-nerka ada hubungan apa antara Nurul dan Alvaro karena semenjak ia masuk tadi, ia bisa melihat gelagat yang tidak biasa dari keduanya. Dadany terasa sesak, tapi ia tidak mungkin menginterogasi Nurul karena keduanya hanyalah kekasih di atas kertas.
Kesalahan terbesar gue adalah ngajak Nurul jadi kekasih kontrak bukan langsung mengajaknya menjadi kekasih halal.
"Bagaimana tuan Daniyal?" tanya tuan Genta setelah ia selesai menjelaskan proyek mereka.
Axelle tersentak halus, ia memang melamun tetapi karena sudah terlatih sigap dalam situasi apapun maka ia tetap mendengar walaupun sedikit penjelasan dari tuan Genta.
"Hampir keseluruhan saya menyetujui, akan tetapi mengenai penggusuran itu kita memang harus kembali meninjau agar para warga bisa mengatakan pendapat mereka. Bagaimanapun kita tidak boleh egois dan langsung memberikan mereka kompensasi tanpa tahu seperti apa keinginan mereka. Saya selalu siap untuk hal itu dan mungkin kita bisa bersama-sama menuju ke lokasi proyek nantinya," jawab Axelle dengan lancar walaupun hanya sedikit yang ia ketahui dari penjelasan tadi.
Tuan Genta tersenyum, ia suka dan kagum dengan cara Axelle menjalankan pekerjaannya. Selama ini hampir seluruh pebisnis yang ia kenal hanya mau enaknya saja tanpa memikirkan perasaan orang lain. Mungkin ini kunci suksesnya keluarga Farezta dan akhirnya menggeser posisi keluarga Prayoga di urutan pertama.
"Saya juga selalu siap. Dan nantinya biar Alvaro saja yang akan pergi bersama anda. Kalian masih muda dan pastinya sangat bersemangat dalam melakukan pekerjaan. Semoga kerja sama kita ini berjalan lancar dan akhirnya membuahkan hasil yang diharapkan," ucap tuan Genta sambil mengulurkan tangannya dan langsung disambut oleh Axelle.
"Saya mengaminkan," ucapnya seraya tersenyum.
Tak jauh dari kedua pria yang sibuk membahas pekerjaan, Bu Yani dan Clarinta justru sedang asyik mengobrol membahas tentang Alvaro. Clarinta awalnya malu karena wanita yang pernah ia anggap sebagai calon saingan merebut hati Alvaro ini justru adalah orang tuanya. Clarinta juga sempat meminta maaf dan langsung dimaafkan.
"Memangnya kamu benar suka sama Alvaro? Kamu yakin dia bisa ditaklukkan?" tanya Bu Yani menggoda Clarinta. Bukan tanpa alasan ia berbicara seperti ini, dari sorot mata Alvaro tadi ia jelas tahu cinta itu masih membara untuk Nurul dan begitupun dengan Nurul.
Mami hanya bisa berdoa agar Tuhan memberikan yang terbaik buat Varo.
"Saya sih pesimis ya Bu, tapi tadi Alvaro bilang dia mau buka hati untuk saya, ya saya sih sangsi. Soalnya selama ini saya itu bagai makhluk tak kasat mata baginya. Mana mungkin secepat itu dia langsung jatuh cinta. Huhh, saya pesimis banget!" jawab Clarinta dengan wajah ditekuk.
"Kalau memang cinta ya berjuang dong," ucap Bu Yani.
Clarinta tersenyum, "Saya sudah berjuang sejak lama, tapi Alvaro juga sejak lama berjuang untuk perempuan yang saya yakin sampai detik ini masih memenuhi ruang di hatinya. Saya galau Bu," cicit Clarinta.
Kembali dalam hati Bu Yani membenarkan. Sebenarnya ia tidak ingin memberikan harapan pada Clarinta apalagi memberi dorongan untuk memperjuangkan perasaannya. Tapi mengingat Nurul juga tidak sendiri saat ini, bukan tidak mungkin jika ada celah untuk Clarinta masuk ke dalam hati Alvaro.
"Jangan bikin malu kakak ya, jaga sikap sedikit bisa, 'kan?" tegur Axelle yang memang sedari tadi mendengar percakapan nyonya Prayoga dan adiknya itu.
Wajah Clarinta langsung cemberut. Kakaknya memang paling hebat dalam membuat mood Clarinta memburuk. Tapi walau bagaimanapun ia selalu tahu kalau kakaknya ini sangat sayang padanya dan selalu menjaganya.
"Tidak apa-apa tuan Daniyal, justru sikapnya yang seperti ini itu sangat menggemaskan lho," ujar Bu Yani dan Clarinta langsung menjulurkan lidahnya pada Axelle.
Wajah Axelle terlihat kesal, kemudian ia berdiri dan menghampiri Clarinta. Satu kecupan sayang ia berikan di dahi adiknya. "Jangan nakal lagi dan jangan bertindak bodoh. Kakak takut kamu kenapa-napa dan kalau bisa kamu istirahat dulu. Nggak masalah kalau kamu dipecat, kamu masih bisa bantuin kakak di perusahaan. Oh ya, mami dan papimu sudah tahu kamu disini?"
Clarinta menggeleng keras, "Jangan kasih tahu, Kak. Aku bisa dipenggal nanti. Mami usia pingsan dan papi bisa kena serangan jantung kalau anak tercintanya ini kenapa-napa," ucap Clarinta yang langsung mendapat tatapan horor dari Axelle sedangkan ia justru terkikik.
"Clarinta, kamu sebaiknya mengambil cuti dalam dua atau tiga hari kedepan. Saya tidak akan memaksamu bekerja. Jangan membantah karena saya adalah bosnya," ucap Alvaro yang baru saja datang.
Mata Clarinta langsung berbinar dan senyum manis sudah menghiasi bibirnya. Axelle sampai bergidik ngeri melihat perubahan wajah adiknya. Ingin rasanya ia mentoyor kepala Clarinta saat ini.
"Kamu dengar sendiri, 'kan? Oh ya tuan Alvaro, Nurul dimana?" tanya Axelle karena ia tidak melihat keberadaan kekasih kontraknya itu.
Alvaro berpura-pura memang tampang kaget padahal ia tahu jika saat ini Nurul sedang berada di toilet karena tadi ia menyusul dan mengikuti pemilik hatinya itu diam-diam.
"Lho, saya kira dia sudah kembali karena tadi saya mendapat telepon penting dan meminta izin pamit padanya. Mungkin sebentar lagi dia akan kembali," ucap Alvaro dan dalam hati ia berharap agar mereka percaya.
Tak lama kemudian, Nurul sudah terlibat memasuki ruang rawat Clarinta dengan kepala tertunduk. Ia tidak mau memperlihatkan wajah sembabnya di hadapan semua orang. Axelle bernapas lega karena Nurul sudah ada di hadapannya dan ia langsung merangkulnya.
"Setelah ini kamu mau ke rumah Flora? Biar aku antar ya," ucap Axelle dengan begitu lembut. Ia tidak tahu ada hati yang panas melihat interaksinya dengan Nurul. Nurul hanya mengangguk sebagai jawaban.
Bu Yani dan tuan Genta hanya bisa menatap iba pada putranya itu. Mereka yakin jika diantara Alvaro dan Nurul tadi terjadi sesuatu tapi bukan ranah mereka untuk mencari tahu.
"Pi, besok Varo akan pergi ke luar kota. Bisa papi handle pekerjaan Varo untuk dua hari? Ada urusan yang penting yang harus Varo kerjakan," tanya Alvaro sambil sesekali melihat ke arah Nurul.
Bukan besok, tapi malam ini gue bakalan berangkat ke tempat tinggal lu dan gue bakalan cari tahu siapa anak itu.