
Acara lamaran tersebut berlangsung dengan baik, keluarga Wistara-Farezta menerima lamaran Danish dengan suka cita. Clarinta yang paling heboh, ia tidak peduli dengan tatapan membunuh keluarganya, ia tetap saja bersorak sambil bertepuk tangan begitu papinya mengatakan menerima lamaran Danish.
Danish sendiri hanya bisa tertawa lirih melihat kelakuan calon istrinya. Untung sayang, ucapnya dalam hati.
Jika yang lainnya tengah fokus pada Danish yang memasangkan sebuah cincin indah di jari Clarinta, Axelle justru sibuk memperhatikan Nurul yang lebih banyak diam di samping Alvaro. Tidak mudah baginya untuk membuang rasa cinta itu begitu saja sedangkan rasa itu sudah menggerogoti hatinya.
Semakin dilihat semakin membuat hatinya sakit tetapi Axelle tidak bisa mengalihkan pandangannya dari Nurul sedikitpun. Mommynya yang melihat kemana arah pandangan Axelle langsung mendengus.
"Ingat Axelle, kau sudah menerima perjodohanmu dengan Evelyn Mahesa. Jangan bikin malu dengan kau yang terus saja memandang wanita itu dengan tatapan menghiba. Dia tidak layak untukmu," bisik mommynya di telinga Axelle.
Tangan Axelle terkepal kuat, mommynya ini masih saja menghinakan Nurul di depannya. Jika saja ia tidak mengingat saat ini mereka sedang berada di kediaman Wistara dan acara ini sangat penting untuk adik kesayangannya, maka Axelle pasti sudah mengamuk dan membentak mommynya.
Mata Axelle terbelalak ketika mommynya kembali berbisik dan mengatakan bahwa ia bisa melakukan apa saja pada Nurul jika Axelle masih berani menatapnya. Ia meminta Axelle untuk berhenti mengharapkan wanita yang sama sekali tidak ia harapkan menjadi menantunya.
Padahal dulu Carla Farezta begitu menyukai Nurul. Selain cantik, Nurul juga sangat cerdas dan yang terpenting dia adalah anak Deen Emrick, pengacara keluarganya yang terkenal hebat itu. Sayangnya, Nurul sudah memiliki anak dan hasil dari kesalahan tanpa menikah. Carla tidak bisa menerima hal tersebut hingga ia membenci Nurul yang tidak bersalah padahal yang harus ia marahi adalah anaknya sendiri.
Carla Farezta sebenarnya tidak ingin mencari masalah dengan keluarga Emrick, ia bahkan sejak lama sudah membangun hubungan kekerabatan dengan baik. Akan tetapi, Axelle yang mencintai Nurul membuatnya harus mengambil langkah tegas walaupun ia dan keluarga Emrick akan bersitegang. Dia hanya ingin menyelamatkan hidup putranya dari skandal-skandal yang akan menyeret nama baik keluarganya yang selama ini mereka sudah jaga dengan baik sehingga keluarga Farezta berada jauh dari yang namanya skandal.
Nurul sendiri sebenarnya sadar jika saat ini pasangan ibu dan anak itu sedang memperhatikannya. Ia menundukkan kepalanya, ia tidak ingin melihat tatapan dari kedua orang yang sudah menyakiti hatinya walaupun Axelle menyakitinya secara tidak langsung lewat sang mommy. Nurul masih belum menerima ketika ia dipermalukan oleh Nyonya Farezta di hadapan banyak orang, walaupun pada kenyataannya Axelle datang menyelamatkannya. Tetapi semua sudah terlanjur dan ia sudah cukup malu.
Alvaro yang melihat Nurul menundukkan kepala, ia langsung menatap lurus kedepan dan mendapati Axelle dan mommynya sedang menatap Nurul. Alvaro tidak terima dengan tatapan sinis dan meremehkan dari Nyonya Farezta kepada istrinya. Tangannya terkepal kuat, ingin rasanya ia memarahi wanita tua itu tetapi Nurul yang menyadari kepalan tangan suaminya itu langsung mencegahnya.
Nurul mengusap tangan Alvaro, kepalanya ia gelengkan. Alvaro hanya bisa mende-sah pasrah, dia tahu istrinya hanya tidak ingin membuat keributan di acara kakaknya.
Nyonya Farezta yang melihat Nurul sedang berinteraksi dengan diam-diam bersama seorang pria di sampingnya langsung mencibir dalam hati. Memang dasar wanita murahan, pasti dia mencoba menggoda tuan muda dari keluarga Prayoga itu.
Setelah Danish menyematkan cincin di jari manis Clarinta, keluarga pihak wanita langsung mengajak para tamu undangan untuk menikmati hidangan yang sudah mereka sediakan.
Nurul langsung berpamitan pada Alvaro, ia mengatakan jika ia ingin pergi ke kamar kecil karena sadari tadi ia sudah menahan rasa ingin buang air. Sudah tidak terhitung berapa kali tadi Nurul di rumah buang air kecil sebelum datang ke acara lamaran kakaknya ini. Dalam hati ia mengutuk Alvaro yang sudah membuatnya harus bolak-balik ke kamar kecil untuk buang air dan malam ini ia bertekad akan mengunci pintu dan tidak membiarkan Alvaro masuk ke dalam kamar jika hanya untuk kembali menggempurnya di atas tempat tidur.
Langkah Nurul yang terlihat pincang itu mengundang perhatian Nyonya Farezta. Ia kemudian mengikuti Nurul ke arah kamar kecil yang ditunjukkan oleh salah satu asisten rumah tangga keluarga Wistara. Ia menunggu di depan pintu, tidak sabar rasanya ia ingin kembali mengejek dan mencibir Nurul.
Saat Nurul keluar dari kamar mandi, ia terkejut melihat mommy Axelle berdiri di depan pintu sambil melipat tangan di atas perut dan meliriknya dari atas ke bawah dan dari bawah ke atas dengan tatapan menghina.
"Wah Nurul, ada apa dengan cara berjalanmu? Apakah kau baru saja melakukan hubungan intim dengan pria di luar sana? Ck! Ternyata perasaanku benar jika kau bukanlah perempuan baik-baik. Kau memang anak dari Deen Emrick dan juga Dianti, tetapi kau tidak tumbuh kembang bersama mereka sehingga kelakuanmu menjadi sangat liar. Seharusnya kau tidak kembali pada keluarga kandungmu sehingga kau tidak membuat mereka menjadi malu karena memiliki anak seliar dirimu."
Hinaan yang dilontarkan dari mulut Nyonya Farezta membuat hati Nurul sakit. Ia tidak menyangka saja jika wanita ini kembali menyerangnya di kediaman Wistara, padahal baru saja kemarin ia menghina Nurul dan kali ini ia mengulanginya lagi.
"Anda bicara apa nyonya? Jika tidak mengetahuinya tolong jangan sembarangan menuduh. Saya bisa melaporkan anda dengan tuduhan pencemaran nama baik," ucap Nurul yang kini merasa ia tidak perlu takut lagi atau segan dengan wanita di hadapannya ini. Kakak dan papanya mengajarkan ia untuk tidak lemah dan mengalah jika seseorang menginjak-injak harga dirinya.
"Nyonya Farezta!"
"Mommy!"
Dua suara yang berasal dari dua pria yang kini tengah berjalan mendekati mereka langsung membuat nyonya Farezta tersentak.
Alvaro langsung mendekati Nurul yang ia lihat dari arah belakang punggung istrinya itu sedang naik turun yang menandakan ia sedang menangis. Dengan cepat Alvaro membawa Nurul ke dalam dekapannya. Hal tersebut tidak luput dari pandangan mata Nyonya Farezta. Ia menerka-nerka ada hubungan apa antara tuan muda keluarga Prayoga dengan Nurul.
"Apa yang sudah anda lakukan hingga membuat istri saya menangis?" tanya Alvaro dengan sorot mata yang begitu tajam Komang hingga Nyonya faresta merasa tertusuk hanya dengan tatapan Alvaro.
"I-istri?" ucap nyonya Farezta terkejut.
"Ya mom, Nurul adalah istri dari tuan muda Prayoga. Mommy sudah melakukan apa pada Nurul hingga membuatnya menangis?" cecar Axelle dengan suara yang ditekan hingga membuat mommya merasa tertekan.
Belum habis keterkejutannya dengan mendengar bahwa Nurul adalah menantu dari keluarga Prayoga, kini anaknya kembali memberinya sebuah tekanan.
"Tuan Alvaro, saya minta maaf atas nama mommy saya," ucap Axelle tidak enak hati.
"Minta maaf? Ini kali kedua dia menyakiti istri saya dengan ucapan pedasnya. Harusnya yang anda hinakan itu saya karena saya yang sudah membuatnya hamil lalu melahirkan tanpa didampingi oleh saya yang waktu itu ke luar negeri untuk melanjutkan studi. Nurul tidak melakukan itu karena dia adalah seorang wanita rendahan tetapi semua itu adalah perbuatan saya yang tidak ingin melepaskannya karena saya terlalu mencintainya. Dan lihat, sekarang saya sudah menikahinya dan anda sangat tidak pantas untuk menghina Nyonya Prayoga," ucap Alvaro geram, ia memberi tatapan mengintimidasi pada nyonya Farezta.
"Dan anda tuan Daniyal Axelle Farezta, bukankah anda turut menghadiri acara pernikahan saya dan Nurul kemarin? Lalu mengapa Anda masih saja menatap istri saya dengan penuh cinta dan mendambakannya sehingga membuat ibu anda ini menyerang istri saya? Harusnya yang dipersalahkan di sini itu adalah anda! Sudah tahu cinta ditolak tetapi masih saja menginginkan istri orang," imbuh Alvaro. Ia masih belum puas memberi pembalasan pada keluarga Farezta yang sudah seenaknya menghina wanita yang paling ia cintai tentu saja selain maminya.
Axelle mengalihkan pandangannya ke samping, ucapan Alvaro sangat benar. Sedangkan Nyonya Farezta, ia menundukkan kepalanya karena merasa malu. Walaupun posisi mereka berada di peringkat pertama untuk kedudukan bisnis tetapi ia juga masih begitu segan pada keluarga Prayoga yang mereka geser jumlah kekayaannya. Walau bagaimanapun, sudah bertahun-tahun keluarga Prayoga menjadi pemegang peringkat pertama jumlah kekayaan dan kesuksesan di negara ini.
Alvaro mengecup puncak kepala Nurul, ia mengusap punggung sang istri yang kini sudah tidak lagi menangis. Ia tahu Nurul adalah wanita yang kuat, hanya saja ia tahu mental istrinya saat ini pasti terluka. Ia merutuki perbuatannya pada masa lalu, jika saja ia tidak kelewatan pada Nurul, istrinya ini pasti tidak akan mendapatkan penghinaan seperti ini.
"Varo, ayo kita ke depan," ajak Nurul dengan suaranya yang terdengar lirih.
"Kita masuk dulu ke toilet dan basuh wajahmu agar tidak terlihat baru saja menangis. Ka tentu saja tidak ingin Danish bersedih melihatmu bersedih di acara bahagianya, 'kan?" bujuk Alvaro dan Nurul menganggukkan kepalanya.
Alvaro melewati nyonya Farezta dengan melayangkan tatapan sinis sedangkan Nurul terus saja menunduk.
"Tegakkan kepalamu Yang. Kau itu nyonya Prayoga, kau tidak pantas menunduk. Orang lain yang harusnya menunduk di hadapanmu," ucap Alvaro sarkas, ia tentu saja mengatakan itu untuk memperingatkan nyonya Farezta secara tidak langsung.
Alvaro tidak ikut masuk, ia berjaga di depan toilet sambil menatap datar pada pasangan ibu dan anak itu. "Oh ya nyonya Farezta, sebelumnya saya ingin mengucapkan terima kasih kepada anda. Jika saja kemarin anda tidak menghina istri saya, mungkin saja kami masih harus menunggu beberapa bulan lagi untuk menikah. Akan tetapi saya sangat mengapresiasi tindakan anda yang membuat papa mertua langsung meminta saya menikahi Nurul dan membuat putra kebanggan anda patah hati!" ucap Alvaro sambil tersenyum mengejek pada Axelle.