
Di rumahnya, Genta yang tadi tidak sengaja mencuri dengar obrolan Miranda dan Brianto menjadi banyak diam. Setelah mengantar istrinya masuk ke kamar, Genta memilih masuk ke ruang kerjanya. Ia duduk di kursinya kemudian ia menarik laci dan mengambil selembar foto.
Mata Genta menatap pria yang tersenyum sambil merangkulnya itu. Genta biasanya turut tersenyum setiap kali menatapnya tetapi kali ini ia justru tidak tahu harus berekspresi seperti apa.
Ia tentu saja sangat terkejut setelah mengetahui bahwa Miranda adalah anak sahabatnya yang telah lama tiada. Selama ini ia memang tahu jika Miranda adalah bagian dari keluarga Smith tetapi karena bukan anak dari Rama--sahabatnya, juga didukung dengan perilaku Miranda yang tidak ia sukai, maka Genta tidak begitu peduli pada Miranda. Siapa yang akan menyangka jika Miranda adalah anak dari sahabatnya.
"*Nanti kalau lu udah nikah, terus anak gue sama lu berbeda jenis kelamin, kita bakalan jodohin mereka. Kalau sama Alee nggak mungkin. Nanti kalau lu nikah terus istri lu hamil, gue juga bakalan bikin Yani hamil lagi. Biar kita bisa jadi besan."
"Deal, kita bakalan jadi besan*!"
Sepenggal ingatan Genta tentang percakapannya dulu bersama Bramantyo alias Rama kini kembali terputar di memorinya. Genta menjadi dilema tetapi ia tidak mungkin memenuhi janjinya tersebut sebab anak-anak mereka sudah memilih jalannya masing-masing.
Genta menyalahkan dirinya karena tidak meminta Felix untuk mencari informasi sedetail mungkin tentang Miranda. Ia hanya meminta Felix mencaritahu siapa ayah dan ibunya dan yang Genta tahu, istri Rama menikah dengan adiknya yaitu Brianto setelah Rama meninggal. Genta yang sibuk mengurus perusahaan juga selalu keluar negeri karena urusan bisnis tidak tahu jika istri Rama tengah mengandung saat Rama meninggal. Ia bahkan datang sehari setelah Rama di makamkan dan tak pernah bertemu lagi dengan mendiang istri Rama.
"Jika saja aku tahu lebih awal kalau Miranda itu adalah anakmu Rama, mungkin kita sekarang sudah memiliki cucu bersama. Maafkan aku yang tidak bisa memenuhi janji. Tapi aku janji, aku janji mulai sekarang aku akan memperhatikan anakmu itu. Aku akan menjaganya dan menjamin hidupnya walau tidak secara terang-terangan. Jika kita tidak bisa menjadi besan, jangan marah ya. Aku janji akan melakukan hal terbaik agar persahabatan kita tetap terjaga walau kau sudah lebih dulu tiada."
Genta mengusap foto tersebut, kemudian ia kembali menyimpan ke dalam laci. Biarkan rahasia ini menjadi miliknya sendiri. Yani maupun Alvaro tidak perlu tahu karena ia tidak ingin menjadi beban pikiran mereka. Apalagi Yani sangat tidak menyukai Miranda, Genta akan melakukannya secara diam-diam. Dia juga tidak ingin egois pada Alvaro yang sedang berjuang untuk cintanya. Genta tidak mungkin menjadi penghalang untuk Alvaro dan Nurul bersatu.
"Jika aku ditakdirkan untuk membalas kebaikanmu padaku Rama, Tuhan pasti akan menunjukkan jalannya tetapi bukan dengan menjadikan anakmu sebagai menantuku. Aku sudah punya calon menantu favoritku, maaf."
.
.
Aluna berlari dan masuk ke dalam pelukan Alvaro begitu ia diberitahu jika papinya datang berkunjung. Gadis cantik yang luar biasa tengil itu senang sekali karena ia memang begitu merindukan papinya padahal setiap hari mereka selalu melakukan panggilan video, tetap saja bagi bocah ini rasanya tidak sama.
Alvaro tertawa, ia langsung mengecup pipi Aluna berkali-kali. Titisannya ini memang sangat menggemaskan. Bahkan kedua orang tuanya sering kali memaksa Alvaro untuk membawa Aluna ke Jakarta tetapi keluarga Emrick tidak mengizinkan karena Aluna adalah hak mereka. Aluna bukan anak dari pernikahan, itu artinya Aluna bernasab pada ibunya dan itu artinya Aluna sepenuhnya adalah milik keluarga Emrick.
"Anak papi makin cantik ya," puji Alvaro.
Di belakang mereka, Nurul hanya tersenyum melihat pemandangan ayah dan anak yang saling menyayangi. Dulu sekali Nurul pernah begitu takut jika Alvaro menolak kehadiran Aluna. Tapi who knows jika ternyata Alvaro begitu mencintai Aluna. Kadang Nurul merasa dirinya memang sangat keliru ketika menjauhkan diri dari Alvaro dan membiarkan Aluna tidak merasakan kasih sayang ayahnya bertahun-tahun.
"Iya dong, papi ganteng dan bunda cantik. Jadi Aluna luar biasa cantik," ujarnya membuat Alvaro tergelak namun sesaat kemudian ia langsung setuju dengan ucapan Aluna.
"Tentu saja. Jika ada yang mengatakan Aluna jelek berarti mereka sudah rabun. Anak papi yang paling cantik di dunia ini," timpal Alvaro.
Nurul hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya. Sejak Aluna bertemu Alvaro dan komunikasi mereka berjalan lancar, tingkat ketengilan bocah itu semakin bertambah dan Nurul mengucapkan terima kasih kepada Alvaro yang sudah jelas adalah guru Aluna.
Dari arah belakang, Danish dan Deen datang. Mereka cukup terkejut karena di rumah ini ada Alvaro. Perasaan baru beberapa hari yang lalu pria tampan dengan alis tebal dan tegas ini berada di rumah mereka, dan kini ia sudah datang lagi.
"Kenapa ada dia?" tanya Danish yang membuat Nurul sedikit kaget. Ia lalu berbalik ke belakang dan tersenyum melihat kakak dan papanya sudah sampai di rumah.
Alvaro sendiri tidak peduli dengan ucapan Danish, sudah menjadi hal biasa baginya yang selalu diberi ucapan ketus oleh calon kakak ipar lucknut ini.
Mereka pun duduk di sofa, Alvaro sama sekali tidak membiarkan Nurul jauh darinya. Terbukti dengan ia yang duduk rapat dengan Nurul tak peduli tatapan Danish menghunusnya.
"Kenapa kau datang terus ke rumah kami, apakah ini tempatmu untuk berekreasi?" cibir Danish, sebenarnya ia tidak keberatan dengan kedatangan Alvaro hanya saja jika tidak mengejek Alvaro rasanya tidak lengkap untuk menyambut kedatangan calon adik iparnya ini. Danish pun sudah setuju dengan Alvaro hanya saja ia a begitu suka mem-bully Alvaro hingga membuatnya kesal.
"Bukan lagi tempat rekreasi kakak ipar, tetapi ini adalah rumah mertua gue. Jadi gue bebas dong datang ke sini. Apalagi disini ada jantung hati gue, sudah pasti gue bakalan sering datang. Papah mertua aja nggak marah, iya 'kan Pa?"
"Lho, bukannya lamaran kamu ditolak ya waktu itu. Apa kamu lupa Alvaro?"
Danish dan Nurul sama-sama menahan tawa mereka begitu Alvaro justru diserang oleh orang yang ia harap membelanya. Mata Alvaro terbelalak, Ia tidak percaya dengan ucapan calon mertuanya tersebut.
Alvaro berusaha mencari kejujuran dari raut wajah Deen, tetapi pria yang memang paling ahli bermain ekspresi dan memasang mimik muka serius itu tidak menunjukkan tanda-tanda jika ia tidak sedang mengerjai Alvaro.
Tentu saja alarm bahaya di kepala Alvaro langsung berbunyi. Jika calon papa mertua ini tidak merestui maka tentu saja Alvaro tidak akan mudah untuk memperistri Nurul Aina.
Melihat wajah lesu Alvaro, Deen langsung memecahkan tawanya. Mendengar tawa tersebut langsung membuat Alvaro tersadar jika ia baru saja dikerjai oleh calon papa mertua favoritnya ini.
"Ekhmm ... aku baru tahu lho kalau keluarga ini sangat hobi mengerjai. Ck, aku harus belajar banyak dan pandai membaca ekspresi," ucap Alvaro yang kini wajahnya sudah berseri karena Nurul bisa ia jadikan istri.
"Dan kamu sangat hobi menyakiti!"
Nyesss ...
Ucapan Nurul barusan langsung membuat senyum indah di bibir Alvaro sirna. Alvaro tidak menyangka Nurul yang biasanya hanya menjadi pendengar yang baik setiap kali ia berdebat dengan Danish sekalinya bersuara lansung jleb ke hati Alvaro.
Danish menertawai wajah Alvaro yang terlihat mengenaskan usai disindir oleh Nurul dengan begitu telak. Ternyata Nurul bisa juga membuat Alvaro mati kutu hanya dengan beberapa kata saja.
"Ayang kamu kok gitu sih. Harusnya suaminya itu dibela, bukan dijatuhkan kayak gini. Ayang mah ih!" rengek Alvaro, ia sangat suka sekali bermanja pada Nurul namun balasan Nurul tentu saja langsung membuat Alvaro seolah dihempas ke bumi dari ketinggian.
"Entah mengapa gue jijik sama omongan lu barusan. Alay tahu nggak!" ucap Nurul kemudian ia memutuskan untuk meninggalkan Alvaro dan pergi ke kamarnya.
Setelah Nurul pergi, Deen meminta Aluna menyusul bundanya. Ia ingin berbicara serius dengan Alvaro.
Alvaro yang ditatap oleh Deen dengan begitu intens menjadi keki sendiri. Ia merasa deg-degan, perasaannya mendadak tidak enak.
"Kenapa tegang begitu?" ledek Deen yang kemudian memasang wajah biasa-biasa saja. Sejujurnya ia tadi hanya berniat mengerjai Alvaro dan siapa sangka Deen justru menikmati momen dimana wajah Alvaro terlibat cemas, tegang dan cenderung takut.
Alvaro menghela napas, sepertinya ia memang harus selalu santai dalam segala situasi di rumah calon mertuanya ini.
"Jadi kau mengirim bodyguard untuk menjaga Nurul? Kenapa kau romantis sekali sih," ujar Deen, ia tentu tahu dengan apa saja yang terjadi di sekeliling anggota keluarganya.
Alvaro sedikit tersentak tetapi ia langsung ingat jika pria di hadapannya ini adalah orang cerdas dan cerdik. Alvaro mengangguk.
Deen dan Danish tersenyum, mereka rupanya tidak salah merestui dan Nurul memang tidak salah memilih tambatan hati.
"Rupanya kau begitu melindungi kekasihmu itu ya," ucap Deen merasa bersyukur karena anaknya begitu dicinta oleh pria yang dulunya pernah menyakiti Nurul.
"Tentu saja, aku pernah membuatnya terluka jadi aku tidak ingin ada orang lain lagi yang melukainya. Aku tidak akan segan-segan untuk menghilangkan siapapun yang membuat Nurul terluka," jawab Alvaro dengan tegas, ia tidak lebay seperti yang Nurul katakan tetapi ini adalah janjinya.
Deen menganggukkan kepalanya, ia cukup salut dengan keberanian dan ketegasan calon menantunya ini. Begitupun dengan Danish, ia merasa lega karena Alvaro sudah berubah dan ia juga tahu tidak seharusnya Nurul terluka dan Alvaro tidak salah sepenuhnya karena pada saat itu Nurul yang memilih pergi tanpa menyelesaikan masalahnya.
Deen kembali membuka suara, "Alvaro Genta Prayoga, jika aku memintamu untuk menikahi Nurul malam ini juga dengan acara yang sederhana apakah kau bersedia dan siap melakukannya?"