GADIS TARUHAN ALVARO

GADIS TARUHAN ALVARO
168


Sesampainya di rumah, Nurul tidak langsung masuk ke kamar, ia memastikan dulu anak-anaknya tidur siang karena memang sekarang sudah waktunya beristirahat. Ia membiarkan Alvaro masuk ke kamar lebih dulu karena merasa suaminya itu pasti sebenarnya sangat merasa lemas menghadiri acara tersebut hanya saja ia masih bisa menahannya demi Nandi.


Frey sendiri tidur bersama Aluna dengan ranjang terpisah. Setelah kedatangan Frey, Aluna yang biasanya tidur bersama kedua orang tuanya kini diberikan satu kamar untuk mereka. Bukan karena ingin mendekatkan diri dengan calon suaminya sejak dini, akan tetapi semua karena Alvaro yang mengatakan jika ia tidak mungkin menambah Frey lagi di dalam kamar sehingga diputuskan Aluna dan Frey diberikan satu kamar di samping mereka. Alvaro juga tidak ingin Frey sendirian sehingga mau tidak mau ia merelakan putri kesayangannya tidur bersama calon jodohnya.


Frey sendiri hanya menurut setiap kali Nurul memintanya untuk istirahat dan dalam sekejap bocah tampan itu langsung tertidur sedangkan Aluna sendiri matanya masih terlihat berkedip-kedip. Nurul rasanya ingin tertawa melihat tingkah menggemaskan putrinya ini. Ia tahu Aluna sedang berpura-pura tidur sehingga ia masih menjaga putrinya itu di kamar.


Nurul sendiri terus menciumi tangan Aluna sebab setelah mereka pindah ke rumah ini ia sangat jarang menghabiskan waktu bersama Aluna. Putri kecilnya ini selalu saja merengek ingin ikut dengan neneknya ke butik dan kadang kala ia juga terlalu sibuk mengurus Alvaro yang masih mengalami morning sickness.


Nurul ingin memberikan seluruh kasih sayang kepada Aluna sebelum nanti konsentrasinya terbagi setelah ia melahirkan anak keduanya, begitupun terhadap Frey. Nurul sangat bertanggung jawab untuk membentuk karakter Frey yang digadang-gadang akan menjadi menantunya kelak. Nurul tentunya harus menjamin sikap Frey terhadap Aluna kelak. Ia tidak ingin anaknya menderita ketika nanti sudah menjadi seorang istri.


Aku tidak meminta Aluna mendapatkan cinta seperti diriku ketika dulu. Itu rasanya sangat sakit, walaupun pada akhirnya Alvaro datang ke gue dan balik lagi lalu meratukanku. Cukup aku yang mengalami kepahitan, Aluna jangan.


Setelah memastikan kedua bocah tersebut terlelap, Nurul pun kembali ke kamarnya. Ia melihat Alvaro sudah tertidur dengan posis tengkurap dan satu tangannya ia rentangkan di tempat Nurul. Bibir Nurul tersenyum tipis, ia kemudian mendekati suaminya itu sambil mengelus-elus kepalanya.


Ia kemudian ikut berbaring, posisi Nurul menyamping. Ia sibuk memandangi wajah Alvaro yang begitu tampan bahkan seiring dengan bertambahnya usia, wajah Alvaro justru semakin mempesona. Ia kemudian meraba wajah Alvaro lalu ia menarik tangannya dan mengelus di perutnya yang masih terlihat rata.


"Entah mengapa aku selalu ingin wajah anakku mewarisi wajah Alvaro. Jika anak ini nantinya berjenis kelamin laki-laki, akan sangat menyenangkan jika dia juga mengambil wajah Alvaro. Aku suka menatap wajah Alvaro dan jika anak-anakku mirip dengannya maka aku akan selalu merasa Tuhan begitu sayang padaku karena terus memberiku Alvaro dan Alvaro Alvaro junior," gumam Nurul, ia kemudian mengecup pipi Alvaro dan turut memejamkan matanya.


Ayang, lu kok sweet banget sih. Kalau kayak gini 'kan gue nggak jadi ngagetin elu. Keburuh meleyot gue dengar ucapan lu barusan. Kayaknya nggak usah dulu deh minta jatah, ucapan ayang barusan udah bikin gue senang luar biasa. Cinta tanpa bercinta itu pun bukan masalah. I love you Nurul Aina Alvaro Prayoga. Je t'aime.


Alvaro sebenarnya sudah terbangun begitu Nurul mengusap wajahnya, hanya saja ia masih ingin menunggu apa saja yang akan Nurul lakukan dan ia berencana untuk mengagetkan istrinya itu dan langsung meneruskan kegiatan mereka tadi yang tertunda. Namun begitu mendengar keinginan manis Nurul, Alvaro pun mengurungkan niatnya dan ia memilih tidur kembali.


.


.


Di kamar sebelah, setelah dua jam berlalu keduanya pun bangun dari tidur siangnya dan yang lebih dulu membuka mata adalah Aluna. Ia kemudian naik ke tempat tidur Frey untuk membangunkan bocah itu yang sebenarnya sudah bangun hanya saja masih malas bergerak.


"Fley, ayo bangun. Kita main yuk diluar," ucap Aluna sambil menusuk-nusuk pipi Frey.


Frey menangkap jari Aluna tanpa membuka matanya, "Aku sedang malas. Kau saja yang belmain. Jangan ganggu aku!"


"Jika tidak tahu maka tidak usah ditanya. Pelgi lah Aluna, aku masih mengantuk. Lagi pula aku tidak menyukaimu, wajahmu sungguh tidak cantik!" ucap Frey yang membuat Aluna memelototkan matanya.


"Tapi aku menyukaimu Fley!"ucap Aluna sambil mengedipkan kedua matanya dan itu terlihat menggemaskan namun tidak untuk Frey. Bocah kecil itu langsung menarik selimutnya dan hingga menutupi seluruh wajahnya.


Aluna mendengus kemudian ia melipat kedua tangannya di dada. Wajahnya cemberut, bahkan bibirnya ia bengkok-bengkokkan sambil menggerutu kecil. Karena kesal, ia pun keluar dari kamarnya dan langsung mencari kedua orang tuanya.


Aluna mengetuk pintu kamar orang tuanya akan tetapi tidak mendapatkan jawaban sama sekali. Bocah cilik yang cantik itu kemudian mencoba membuka pintu yang ternyata tidak di kunci. Ia bisa melihat kedua orang tuanya masih terlelap dengan posisi Alvaro memeluk Nurul dari belakang.


Gadis kecil itu pun langsung naik ke atas tempat tidur. Ia mengambil tempat di tengah-tengah dengan menggeser tangan papinya. Kedua orang tuanya pun terbangun kaget dengan kedatangan Aluna.


Alvaro mengambil jarak sedikit untuk memberi ruang pada anaknya itu. Ia kemudian mengecup pipi Aluna lalu memeluk putrinya itu. Begitupun dengan Nurul, ia melakukan hal yang sama dengan Alvaro.


"Ada apa sayang? Wajahnya kenapa terlihat cemberut begitu?" tanya Alvaro yang kini berbaring menyamping dengan menyanggahnya kepalanya dengan satu tangannya


Ia sedikit heran karena putrinya itu biasanya jika sudah dipeluk dan dicium maka akan tersenyum namun kali ini tidak sama sekali. Alvaro menatap Nurul, istrinya pun menggeleng karena ia juga tidak tahu.


"Pi, tadi Aluna tanya sama Fley apa itu suami. Tapi Fley juga tidak tahu dan dia bilang kalau Aluna tidak cantik dan dia tidak suka sama Aluna. Tapi kata papi Fley itu calon suami Aluna dan halus selalu jagain Aluna," cerita bocah itu.


Alvaro langsung kesal mendengarnya, yang benar saja Frey si bocah kecil yang seperti kulkas sepuluh pintu itu mengatai anaknya tidak cantik. Ia ingin sekali menyadarkan Frey kalau Aluna itu sangat cantik dan girlfriend material.


Nurul yang melihat suaminya kesal dan seakan menunjukkan kalau saat ini ia ingin menguliti Frey hidup-hidup pun langsung mencari akal. Ia segera menggelitik Aluna hingga bocah itu kembali tertawa dan Alvaro pun melakukan hal yang sama.


Gelak tawa terdengar dari dalam kamar tersebut hingga membuat bocah kecil yang tampan itu menatap sendu. Ia tadinya merasa bersalah setelah mengatakan perkataan ketus pada Aluna hingga berniat menyusul dan menemani saudara angkat also known as calon istri masa depannya itu bermain walau ia tidak senang.


Akan tetapi ia justru melihat Aluna tengah berbahagia dengan kedua orang tuanya. Aluna memang tidak sempat menutup rapat pintu kamar tersebut hingga Frey bisa dengan mudah melihat apa yang terjadi di dalam kamar.


Ia kemudian kembali ke kamar dan kembali berbaring sambil dengan menyelimuti tubuhnya keseluruhan.


Mami, Papi, aku kangen kalian.