GADIS TARUHAN ALVARO

GADIS TARUHAN ALVARO
Tidak Bisa Lapor Polisi


Nurul menautkan kedua alisnya melihat Axelle yang berdiri di hadapannya dengan keadaan cukup kacau. Pria tampan ini terlihat gusar dan Nurul tidak tahu apa sebabnya. Sudah pukul dua dini hari dan Axelle datang membangunkannya, tentu ada hal penting.


Nurul juga kembali tercubit oleh kenyataan kalau tadi ia hanya bermimpi didatangi oleh Alvaro. Mungkin karena seharian ini ia terus saja bertemu atau bersinggungan dengan orang-orang yang berada di masa lalunya juga orang-orang yang tahu seperti apa kisah cintanya bersama Alvaro. Andai saja tadi itu nyata, Nurul pasti akan sangat bahagia dan ia siap lari bersama Alvaro.


"Ada apa?" tanya Nurul.


Axelle mengusap wajahnya dengan kasar, ia tahu jika ia sudah mengusik waktu tidur Nurul tapi ia tidak bisa meninggalkan wanita ini sendiri atau pergi tanpa memberi kabar. Nurul adalah tanggung jawabnya saat ini.


"Tadi aku dapat kabar kalau grandma masuk rumah sakit. Aku harus pulang, jet pribadi akan segera sampai. Kau mau ikut denganku atau mau tinggal dulu. Jika kau mau tinggal maka aku akan menjemputmu lagi besok pagi," jawab Axelle dengan cepat tanpa menjeda ucapannya.


Nurul mengernyit, heran saja dengan sikap Axelle yang berbicara tanpa spasi itu. Biasanya ia bicara penuh penekanan tapi Nurul paham situasi saat ini dimana Axelle sedang panik dan Nurul turut prihatin.


"Kita akan kembali bersama. Aku akan bersiap," ucap Nurul.


"Baiklah, aku akan menunggu dan bersiap juga," seru Axelle.


.


.



Alvaro dan Ikram berjalan keluar dari area bandara dan langsung disambut oleh sopir keluarga Dameer yang memang sudah menunggu mereka sejak tadi. Sambutan hangat tersebut langsung membuat Ikram dan Alvaro menyukai keluarga Emrick ini, terlebih lagi Alvaro yang sudah meyakini jika tuan Deen Emrick ini adalah calon ayah mertuanya.


Punya mertua yang hangat, nggak bakalan gue sakitin putrinya. So, berikan gue restu secepatnya.


Ikram kembali menggeleng-gelengkan kepalanya melihat Alvaro yang senyam-senyum sendiri di dalam mobil. Keduanya saat ini sudah duduk di dalam mobil dan mobil itu kini bergerak menuju ke kediaman Emrick.


"Lu lupa minum obat Ro?" sindir Ikram.


Alvaro langsung menatap Ikram dengan tajam, yang benar saja sahabatnya ini berkata seperti itu. "Lu kira gue sakit jiwa hah?!" sungut Alvaro.


Ikram mengangkat kedua bahunya, "Habisnya gue perhatiin dari tadi lu itu sering senyam-senyum sendiri," ujar Ikram.


Alvaro terkekeh, "Lu bakalan tahu sebentar lagi. Tunggu aja," ucap Alvaro tanpa niat memberitahukan Ikram kebenaran tentang Nurul.


Ikram mencebikkan bibirnya, Alvaro selalu saja bermain teka-teki dan ia begitu malas mencaritahu jawabannya. Lihat nanti saja.


Mobil mewah itu memasuki pekarangan rumah bernuansa klasik dan berlantai dua dengan halaman yang begitu luas dan terdapat beberapa fasilitas bermain anak yang Alvaro yakini dikhususkan untuk anak Nurul. Mungkin saja anaknya bersama Nurul. Tidak mungkin anak Daniyal, 'kan? Pikir Alvaro.


Dua sahabat itu turun dari mobil dengan menarik koper mereka masing-masing. Di depan pintu sudah berdiri pria paruh baya yang mereka yakini sebagai Deen Emrick. Pria itu tersenyum ramah dan celakanya senyuman itu persis seperti senyuman Nurul.


Fix, dia calon papa mertua gue.


"Selamat datang di rumah kami Nak Ikram dan Nak Alvaro. Ayo masuk, pasti kalian lelah dan mengantuk mengingat ini sudah larut malam," ajak Pak Deen sambil merangkul keduanya dimana ia berdiri di tengah-tengah.


Jika saja Pak Deen tahu perlakuannya sudah membuat Alvaro semakin bersemangat menjadikan pria ini sebagai satu-satunya ayah mertuanya.


Dari dalam muncul seorang wanita paruh baya yang membuat Alvaro menatapnya tanpa berkedip. Benar-benar duplikat Nurul Aina! Alvaro yakin memang ia pas mendarat di rumah Nurul.


"Jadi tamunya sudah datang, ya ampun jajaran pria tampan rupanya," celetuk Bu Dianti sengaja menggoda keduanya agar tidak merasa canggung. Ia ikut duduk bersama ketiga pria itu. "Halo, saya Bu Dianti panggil saja Tante Dian," imbuhnya.


Ini baru calon mama mertua yang cocok buat gue, kita satu server calon mama mertua.


Bu Dianti dan Pak Deen saling menatap, mereka tentu tidak asing dengan nama Alvaro karena mereka tahu seseorang bernama yang sama dengan pria tampan ini adalah ayah dari Aluna, cucu mereka.


Gelagat pasangan suami istri ini tak luput dari perhatian Alvaro dan Ikram. Mereka merasa pasangan suami istri ini menjadi kurang bersahabat ketika Alvaro menyebutkan namanya.


"Saya Ikram Tante," ujar Ikram berusaha untuk mencairkan suasana. "Maaf, mungkin ada yang salah dengan kami?" tanya Ikram mencaritahu. Ia tidak mau membuat tuan rumah merasa tidak nyaman dengan mereka. Dalam hati ia merutuki ayahnya yang memintanya menginap di tempat ini.


"Oh, oh tidak sama sekali. Maaf ya, Tante soalnya sensitif dengan nama Alvaro. Hehehe," celetuk Bu Dianti yang langsung dipelototi suaminya.


Bu Dianti membuang muka, ia tahu jika dia sudah kecoplosan dan suaminya pasti tidak suka hal ini.


Diam-diam Alvaro menipiskan bibirnya, ia yakin dirinyalah yang sedang mereka bahas. Namun Alvaro tidak mau terburu-buru ke akar permasalahan, bisa habis dirinya ditangan calon papa mertua jika datang dan langsung bilang jika dirinya yang sudah merusak putri mereka, Alvaro masih sayang nyawanya. Kecuali jika di tempat ini ada Nurul, ia bahkan rela jika digantung terbalik oleh papa Deen.


Ikram melirik Alvaro, "Lu nggak bikin masalah di rumah ini 'kan Ro?" tanya Ikram dengan berbisik.


Alvaro langsung menggeleng, "Mana mungkin. Datang aja baru, gimana sih lu!" balas Alvaro berbisik.


Paham akan kecanggungan yang terjadi, Pak Deen langsung mencairkan suasana. "Maaf ya jika istri saya ini bikin kalian tidak enak hati, nggak usah dipikirkan karena bukan kamu orangnya," ucap pak Deen.


Ikram menghembuskan napas lega, ia tidak mau merusak kesan pertama ini dan buntutnya ayahnya akan memarahinya karena sudah membuat onar di tempat sahabatnya ini.


"Sebaiknya kalian beristirahat di kamar tamu, kami sudah mempersiapkannya untuk kalian. Besok pagi Danish akan sampai di rumah ini dan kalian bisa langsung membahas masalah tuntutan tuan Kriss Griffin. Dan buat nak Alvaro, jangan diambil hati ucapan istri saya barusan. Dia hanya teringat seseorang yang sudah mencuri sesuatu dari putri kami," ucap pak Deen sambil menipiskan bibirnya, entah mengapa ada perasaan aneh setiap kali melihat wajah Alvaro.


"Wah, lu emang berbakat jadi pria brengsek Ro. Nama Alvaro memang cocok jadi penjahat Om," timpal Ikram yang langsung mendapat geplakan di kepalanya dan pelakunya adalah Alvaro. "Ya sakit dong Ro," keluhnya.


Pak Deen dan Bu Dianti tertawa melihat interaksi manis ala persahabatan kedua pria muda ini. Mengingatkan Deen akan sahabatnya Ben Elard yang seperti Alvaro dan ia yang seperti Ikram kala muda dulu.


"Kalau boleh tahu putri anda kehilangan apa Om? Barang apa yang dicuri dan sudah lapor polisi belum Om?" cecar Alvaro, ia sangat penasaran.


"Nggak bisa lapor polisi, yang dicuri 'kan hatinya. Mana bisa lapor polisi Nak," celetuk Bu Dianti yang langsung membuat Ikram menahan tawa sedangkan Pak Deen meringis mendengar jawaban asal istrinya walaupun jawaban itu benar adanya.


Ya Tuhan, kenapa gue nggak bisa berhenti tersenyum malam ini. Aina, keluarga lu hangat banget. Lu pantas dapatin ini semua setelah semua pesakitan lu selama ini dan gue minta maaf karena gue termasuk dalam salah satu list orang yang pernah nyakitin lu.


"Ya sudah kalian istirahat saja di kamar, nggak usah dengerin omong kosong Tante Dian, dia sedang mengantuk. Mama sebaiknya balik ke kamar nanti papa nyusul," titah pak Deen dan kali ini auranya begitu kuat sehingga ketiga orang itu tidak lagi berani membantah.


.


.


Di dalam kamar, Pak Deen dan Bu Dianti saling diam dan tenggelam dalam pikiran mereka masing-masing. Duduk di atas tempat tidur sambil bersandar di headboard dengan rasa kantuk yang semakin menjauh.


"Pa, papa mikir hal yang sama nggak sama mama?" tanya Bu Dianti serius seraya menoleh ke arah suaminya.


Pak Deen menghela napas, "Wajah cucu kita sangat mirip dengannya 'kan ma?" timpal Pak Deen.


Bu Dianti dengan gemetar mengangguk, "Apa dia orangnya Pa?" tanya Bu Dianti dengan bibir bergetar.


Pak Deen menatap sang istri dengan lekat lalu membawa kepala sang istri untuk bersandar di bahunya.


"Papa nggak bisa bilang iya untuk saat ini, tapi papa punya keyakinan kalau dia adalah orangnya," jawab pak Deen.