GADIS TARUHAN ALVARO

GADIS TARUHAN ALVARO
Kencan?


Tokk ... Tokk ... Tokk ...


Frey mengumpat kesal, baru saja bibirnya menempel di bibir sang istri, seseorang sudah menghentikan aksinya dari balik pintu. Rasanya Frey ingin berteriak dan memarahi orang yang sudah mengganggu kesenangannya. Padahal sebentar lagi ia akan meneruskan niatnya sebab ia sudah tegang setelah melihat tubuh polos Aluna.


"Ada ap--"


Ucapan Frey terhenti begitu melihat di hadapannya ternyata Nurul. Frey langsung garuk-garuk kepala dan salah tingkah di hadapan sang bunda.


Nurul tersenyum kaku, ia sepertinya langsung mengerti jika dirinya baru saja mengganggu ritual pengantin baru di dalam kamar. Ia sedikit meringis dan tidak berani menatap ke dalam kamar Frey sebab ia khawatir akan melihat hal yang seharusnya tidak ia lihat misalnya Aluna yang mungkin saja sudah tidak mengenakan sehelai benangpun.


"Bunda ganggu ya?" tanya Nurul dengan hati-hati.


Frey menggeleng cepat, "Enggak kok Bun. Itu tadi Frey baru aja dapat telepon dari kafe. Masih capek pulang sekolah dan udah diminta untuk datang kesana jadi aku sedikit emosi Bun, maaf ya," ucap Frey mencoba mencari jawaban yang paling tepat agar Nurul tidak merasa bersalah.


Selama ini Frey sangat hati-hati dan berharap ia tidak pernah melukai hati wanita yang sudah mencurahkan kasih sayang terhadapnya dengan tulus.


"Benar juga, harusnya jangan dulu kerja Nak. Apalagi hari ini adalah hari Senin dan pasti di sekolah sangat melelahkan. Kamu nanti ada waktu senggang saja baru kerja ya, jangan capek-capek apalagi sampai sakit," ucap Nurul sembari tangannya mengusap lembut rambut Frey walaupun ia harus setengah berjinjit karena anak angkat sekaligus menantunya itu bertubuh tinggi.


"Tapi Bun, kalau Frey nggak kerja terus dia kasih Luna makan apa? Nggak ada uang jajan dong," ujar Aluna yang tahu-tahu sudah keluar dan menyembulkan kepalanya dari bawah ketiak Frey.


"Bukannya tiap hari kamu makan ya? Jajan juga masih lancar dan Frey juga masih punya banyak uang walaupun nggak kerja. Fokus kalian itu sekolah, selesai ujian Frey baru boleh fokus sama kerjaan. Bunda ke kamar dulu, tadi bunda hanya mau bilang kalau besok bunda akan pergi ke rumah kakek dan nenek Emrick untuk dua hari kedepan. Baik-baik ya di rumah. Yang akur dan jangan buat masalah Luna," ucap Nurul, ia bergegas pergi sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


Apa-apaan pikiranku ini, mengapa jadi semesum itu memikirkan anak sendiri. Haihh ... aku rasa ini semua karena pengaruh Alvaro. Ya, dia memang membawa dampak buruk bagi otakku.


Setelah Nurul pergi, Frey menatap Aluna yang sudah berdiri di sampingnya. Wajah Frey terlihat masam sedangkan Aluna menahan tawa. Ia sangat tahu kalau tadi suaminya ini sangat ingin membobol gawangnya akan tetapi karena kedatangan bunda mereka, semua menjadi terhalang.


"Lain kali lu nggak bakalan lolos dari gue!" kata Frey dengan ketus lalu ia melenggang masuk ke dalam kamar.


Frey sudah duduk di meja belajarnya, ia mengambil beberapa buku pelajaran dan mulai membacanya sedangkan Aluna menatap Frey dengan begitu gemas. Ia diundang datang ke kamar ini dan sekarang malah ditinggal belajar. Apakah Frey tidak tahu jika tadi Aluna juga berharap mereka akan melakukan proses bercocok tanam? Dan sekarang dia masalah asyik dengan dirinya sendiri.


"Dasar menyebalkan!" gerutu Aluna, ia kemudian menghampiri Frey dan langsung duduk di pangkuan suaminya itu lalu mencuri satu ciuman di pipi Frey.


Bibir Frey tersenyum, mendapat ciuman dari Aluna tanpa diminta adalah sebuah bonus baginya. Ia melepaskan bukunya dan tangannya langsung melingkar di pinggang ramping Aluna.


"Menggodaku, heem?"


Aluna terkekeh, "Frey, ayo kita pergi kencan," ajak Aluna.


"Kencan?"


Aluna mengangguk, wajahnya dibuat seimut mungkin agar Frey mau diajak pergi. Ia sudah pusing dengan teror pesan dari teman-temannya yang menanyakan alamat kafe milik Frey sedangkan hari ini Frey mendadak malas untuk pergi kemana-mana.


"Ya kencan. Kita nggak pernah pacaran dan berkencan eh tahu-tahu udah nikah aja. Sekali-kali ajak dong istri cantik lu ini keluar kayak pasangan-pasangan muda pada umumnya. Gue juga mau kali Frey pacaran dan jalan sama cowok gue. Apalagi lu statusnya suami gue, nggak bakalan ada yang ngelarang!" rengek Aluna.


"Ya udah gue ganti baju dulu," ucap Aluna kegirangan. Sekali lagi ia mengecup pipi Frey dan langsung turun lalu ia berlari ke kamarnya.


Frey memegang pipinya yang dua kali dikecup oleh Aluna, ia kembali tersenyum. Jantungnya berdebar-debar dan ia kembali menemukan dirinya yang ternyata sudah sejauh cinta itu ada seorang Danissa Aluna Guzelim Emrick Prayoga.


"I love you my wife!"


.


.


Tangan keduanya saling bertautan menyusuri setiap tempat yang berada di dalam mall. Frey dibuat cukup kesal karena sedari tadi Aluna masuk ke toko demi toko hanya untuk melihat-lihat tanpa berniat untuk membelinya. Padahal Frey sudah siap menguras isi dompetnya demi istri tercinta akan tetapi justru ia dibuat malu karena Aluna hany membuat para pramuniaga itu kelelahan melayaninya dan ia justru mengatakan tidak jadi membeli.


"Sayang, lu beli sesuatu deh. Jangan bikin gue malu dong," bisik Frey yang tidak enak hati dengan kelakuan Aluna.


"Nggak ada yang bagus. Gue cuma mau lihat-lihat doang kok. Tapi emang beneran nggak ada yang gue suka," ucap Aluna dan hal tersebut masih didengan oleh beberapa pramuniaga dan juga pemilik toko tersebut.


Kesal dengan ulah gadis ini, pramuniaga yang sedari tadi mencuri-curi pandang pada Frey langsung menumpahkan kekesalannya diikuti oleh pemilik toko tersebut.


"Mending kalau nggak punya uang sekarang keluar deh. Jangan membuat kami repot melayani sedangkan kalian hanya melihat-lihat saja," ujar pemilik toko tersebut dan ditimpali oleh karyawannya.


Kesal, tentu saja. Aluna tidak suka jika ada yang mengatakan bahwa ia tidak mampu membeli sesuatu. Bahkan jika ia menunjukkan kartu identitasnya maka ia berani jamin semua yang menatap sinis menjurus merendahkan itu akan dibuat kaget.


"Lho, bukannya pembeli itu adalah raja?" ujar Aluna tak mau kalah.


"Ya, tapi kau sama sekali tidak membeli dan hanya melihat-lihat saja. Sebaiknya kalian pergi. Apakah jangan-jangan kalian ini punya motif tertentu? Kalian mau mencuri ya?" tuding pemilik toko tersebut.


Wajah Aluna merah padam, ia dituduh mencuri oleh wanita yang dandanannya cukup menor ini. Habis sudah kesabaran Aluna, ia maju selangkah dan kini sudah berhadapan langsung dengan wanita tersebut. Frey mencoba untuk menghalangi akan tetapi Aluna tidak mengizinkannya.


"Aku mencuri?" ucap Aluna dengan senyuman yang sinis. Ia kemudian mengeluarkan kartu namanya dari dalam tas kecil miliknya dan ia lemparkan ke hadapan wanita tersebut.


"Mulai besok kau harus pergi dari sini dan segera kosongkan tempat ini!" ucap Aluna dengan begitu dingin lalu ia berbalik dan menarik tangan Frey keluar dari toko tersebut.


Wanita itu mengambil kartu nama yang jatuh di lantai lalu mendadak tubuhnya menggigil. "Ja-jadi dia anak dari tuan Alvaro Genta Prayoga, pemilik mall ini ? Oh, mati aku!"


Jika wanita tadi sedang gemetar ketakutan, berbeda halnya dengan Frey dan Aluna yang sedang berdebat tanpa peduli banyaknya orang yang berlalu-lalang di sekitar mereka. Frey menyalahkan Aluna yang memang menurutnya salah sebab selama masuk ke beberapa toko, istrinya itu hanya melihat saja tanpa berniat membeli padahal sudah dilayani sebaik mungkin.


Aluna kesal mendengar ucapan Frey hingga ia menghempaskan tangan suaminya itu lalu ia berjalan cepat dan karena tidak hati-hati, Aluna sampai menabrak seseorang dan ia jatuh terduduk di lantai.


"Aluna!" pekik cowok yang baru saja menabraknya.


"Keenan? Leon?"