
Merasa diremehkan oleh Evelyn membuat Axelle dendam pada wanita itu. Sesekali ia menatap pada Evelyn yang juga sedang menatapnya dengan sinis. Harusnya Axelle fokus mendengarkan ucapan kliennya tetapi yang ada ia hanya sibuk berbalas tatapan sengit dengan Evelyn yang sedang duduk sambil menunggu pesanannya.
Evelyn sendiri memang sengaja memasang wajah garang agar Axelle tahu jika dirinya tidak segampang itu untuk di taklukkan. Bagi Evelyn, untuk mendapatkan pria arogan seperti Axelle ya harus dilawan dengan sifat yang sama. Jika dia saja kalah berdebat bukan tidak mungkin kalah juga dalam dalam perjodohan ini dan akhirnya jatuh ke pelukan Evelyn.
"Kenapa dia terus saja menatapku seperti itu. Dia pikir wajahku ini buruk rupa," gumam Axelle kesal.
Kliennya yang sedang sibuk menjelaskan poin-poin kerja sama itu menjadi heran karena rekan kerjanya justru menggumam tidak jelas.
"Ada apa tuan Daniyal? Apakah ada yang salah dengan poin-poin yang baru saja saya bacakan?" tanya kliennya.
Axelle gelagapan, sepanjang sejarah ia tidak pernah tidak fokus saat meeting walau pikirannya kemana-mana dan ada masalah besar ia selalu bisa menangkap apa-apa saja yang disampaikan oleh kliennya walau tidak semuanya ia dengar dengan baik. Baru kali ini, baru kali ini Axelle kehilangan konsentrasi karena bertemu Evelyn.
Sial! Wanita itu memang menyebalkan. Awas saja dia, akan kubalas nanti!
Axelle hanya bisa menggelengkan kepalanya kemudian ia meminta kliennya itu untuk meneruskan membahas kontrak kerja mereka.
Harusnya aku mengajak Pak Edwin meeting di ruangan VIP saja. Kalau saja aku tidak ingat restoran ini sering didatangi Nurul kalau meeting dengan kliennya aku pasti tidak akan duduk di tempat ini. Niat ingin bertemu Nurul namun justru bertemu Evelyn. Membuat hatiku sial saja!
Evelyn sendiri memalingkan wajahnya kemudian ia cekikikan. Bisa ia lihat wajah memerah Axelle karena salah tingkah di depan kliennya. Terbesit ide jahil di benak Evelyn, ia kemudian berpura-pura menelepon seseorang sambil berjalan ke arah toilet yang kebetulan melewati meja Axelle.
"Oh ya ampun Grace, aku sudah selalu mengingatkan padamu untuk tidak terlalu kesal apalagi membenci Givan. Lihat 'kan sekarang, kau jadi tergila-gila padanya. Ingat Grace, benci dan cinta itu bedanya tipis. Jangan sampai kau merasakan karma dan Tuhan mengutukmu untuk jatuh cinta dan membucin pada Givan!"
Evelyn membesarkan suaranya begitu melewati meja Axelle. Ia tentu saja melakukannya dengan sengaja agar Axelle merasa tersindir.
Memang benar, Axelle langsung membelalakkan matanya mendengar obrolan Evelyn dengan temannya di telepon.
Oh ya ampun jangan sampai Tuhan mengutukku juga! Aku sudah pernah melihat seseorang menanggung karmanya dan aku tidak mau seperti dia. Cukup Alvaro saja yang menderita karena kutukan Tuhan, aku jangan. Amit-amit.
.
.
Keluarga Deen Emrick terkejut begitu kedatangan tamu yang begitu ramai mengunjungi rumahnya. Ia baru saja pulang untuk makan siang di rumah dan ketika ia hendak kembali ke kantor justru ia terkejut karena para kawan lamanya dayang berkunjung. Deen langsung menarik kesimpulan bahwa ini ada hubungannya dengan anaknya Nurul Aina. Tetapi ia tidak melihat sosok Alvaro yang selalu mengagungkan cintanya itu. Hanya ada Ikram dan Nandi disana.
Meskipun kaget, dengan cepat Deen mempersilahkan tamunya untuk masuk dan meminta istrinya untuk membuatkan minuman. Sedangkan ia menghubungi Danish dan Nurul untuk segera pulang. Ia tidak mungkin menerima tamu sebanyak ini hanya berdua saja sedangkan yang bersangkutan sedang tidak di rumah.
Di depan panti asuhan, sebuah mobil mewah berwarna hitam mengkilap berhenti begitu Nurul hendak keluar dari panti bersama Aluna karena papanya meneleponnya dan meminta mereka untuk segera pulang tanpa memberitahukan ada apa.
Pria tampan plus tengil itu duduk manis di depan mobilnya sambil memperhatikan dua perempuan yang selalu ada di hati dan pikirannya itu. Ia tersenyum karena Nurul belum menyadari keberadaannya karena ia pun masih menutupi sebagian wajahnya dengan kacamata hitam.
"Hei calon makmum gue, lu apa kabar? Gue kangen lho. Lu nggak mau samperin gue, udah pegal nih tangan gue direntangin dari tadi tapi lu nggak langsung lari ke pelukan gue," celetuk Alvaro kemudian ia membuka kacamatanya dan melempar senyuman maut yang membuat hati Nurul meleleh.
Nurul yang hendak naik ke dalam mobil taksi yang ia pesan langsung terjungkit mendengar suara khas seseorang yang sangat ia kenali. Nurul berbalik badan dan melihat dengan jelas pria tampan yang sedang tersenyum padanya.
"Alvaro!" pekik Nurul.
"Papiii!" Aluna langsung berlari dan dengan sigap Alvaro membawa Aluna ke dalam pelukannya. Ia kemudian menggendong anak cantiknya itu.
"Anak papi makin cantik nih," ucap Alvaro kemudian ia menciumi wajah imut itu. Persis sekali seperti dirinya dalam versi perempuan.
Nurul menghela napas, ia kemudian berjalan mendekati Alvaro dan tersenyum tipis pada pria yang ia rindukan itu. Alvaro kemudian merangkul Nurul dan mengecup puncak kepalanya.
"Ya ampun, kita udah kayak keluarga harmonis dimana gue pulang kerja dan anak istri gue nyambut dengan riang gembira. Ayang nikah yuk!"
Apa gue nggak salah mendaratkan hati sama dia?
Alvaro kemudian memanggil sopir taksi online itu dan mengeluarkan uang dari dompetnya. Ia memberikan beberapa lembar uang untuk ganti rugi ongkos karena Nurul tidak akan naik ke taksi itu.
Alvaro kemudian membuka pintu dan meminta Aluna untuk masuk ke jok belakang dan ia memaksa Nurul masuk dan duduk di jok depan agar mereka bisa berdekatan.
"Kita jalan-jalan ya," ajak Alvaro.
Nurul menggeleng, "Nggak bisa, gue harus pulang. Tadi papa minta gue buat segera sampai ke rumah. Kita pulang!" tolak Nurul.
Alvaro mencebikkan bibirnya kemudian ia membawa mobil itu ke arah rumah Nurul. Alvaro terus mengajak Nurul bercerita begitupun dengan Aluna. Ingin sekali Alvaro mennggombali Nurul tetapi ia ingat situasi di dalam mobil ada anak mereka.
Nurul bernapas lega begitu Alvaro mengarahkan mobil ke arah rumahnya dan tidak membawanya kabur. Tetapi baru saja Nurul senang karena mobil sudah sampai di depan gerbang rumah, mendadak Alvaro menancap gas dan membawa Nurul dan Aluna pergi dari sana.
"Alvaro!" pekik Nurul.
"Apa sayang?"
Blusshh ...
Alvaro melebarkan senyumannya begitu ia melihat rona merah di pipi Nurul. "Lu bakalan pulang ke rumah tapi nanti setelah gue puas-puasin ngabisin waktu bareng lu dan Aluna. Urusan pulang ya gampang, lu juga tetap bakalan nyampe rumah tapi nanti kalau gue ingat rumah lu dimana. Hari ini gue amnesia dulu deh," celetuk Alvaro yang langsung mendapat cubitan di lengannya. "Ya sakit dong sayang," protes Alvaro tapi tidak benar-benar merasa sakit.
Sedangkan di rumah Deen Emrick, para keluarga besar itu sedang membahas tentang masalah Nurul dan Alvaro. Ikram dan Nandi meminta maaf pada keluarga Nurul atas tindakan mereka dulu. Danish sempat marah karena tahu jika Ikram juga terlibat dan selama ini pria itu diam saja selama bertamu di rumahnya.
Deen dengan bijaksana berkata, "Walau kita mau menjungkir balikkan dunia, semua juga sudah terlanjur terjadi dan kami sudah memaafkan. Kita hanya bisa belajar dari pengalaman agar tidak terjadi lagi. Bohong kalau gue nggak marah, gue bahkan sangat marah karena hal yang menimpa anak gue itu atas perbuatan anak-anak sahabat gue sendiri. Kalian harus tahu kalau sekarang pun gue rasanya ingin membunuh kalian semua tapi gue sadar itu cuma akan menambah masalah. Lebih baik mari kita menyongsong masa depan agar lebih baik lagi," ucap Deen berusaha legowo dan menerima semuanya sebagai takdir yang sudah ditetapkan oleh Yang Maha Kuasa.
Mendengar ucapan Deen membuat Yani terharu. Putranya yang nakal itu tidak salah memilih perempuan dan mertua. Ia yakin sekali anaknya itu akan jadi lebih baik jika bersama dengan Nurul.
"Gue sebagai papinya Alvaro benar-benar meminta maaf karena kenakalan anak gue itu. Tapi lu harus tahu Deen, selama ini anak gue juga tersiksa dan dia sama gue nggak pernah berhenti nyari anak lu. Bahkan gue sudah memaksanya untuk berhenti mencari tapi hati dan pikirannya cuma tertuju sama anak lu saja. Dia benar-benar ingin menebus kesalahannya," ucap Genta merasa bersalah pada teman lamanya ini.
Deen mengangguk kemudian ia tersenyum. Ia tidak ingin memperpanjang masalah dan Danish pun harus meredam amarahnya karena etiket baik keluarga Alvaro yang mau datang meminta maaf walaupun waktunya sudah lama berlalu.
Cukup lama mereka berbincang-bincang tetapi baik Nurul maupun Alvaro belum ada yang sampai di rumah itu juga. Dianti mulai resah, ia khawatir anaknya itu kenapa-napa di jalan begitupun dengan cucunya.
"Ya ampun om Genta, seperti nggak tahu aja gimana anaknya. Coba telepon deh, paling dia yang nyulik Nurul. Nandi berani jamin kalau sekarang Nurul sama Alvaro," celetuk Nandi yang sangat yakin dan hapal dengan tingkah sahabatnya itu.
Mereka semua saling menatap, ada kemungkinan seperti itu adanya tetapi untuk memastikan Genta pun memutuskan untuk menelepon Alvaro tetapi justru panggilan dari Alvaro lebih dulu terpampang di layar ponselnya. Genta pun langsung mengangkatnya dan tidak lupa ia mengaktifkan loudspeaker.
"Halo Pi, gimana? Udah yes belum sama keluarga Aina? Tolong bujuk ya Pi. Nanti Varo nyusul. Varo mau pacaran dulu sama Aina. Jangan sampai gagal Pi, seorang Genta Prayoga nggak mungkin gagal, 'kan? Bye Pi, Varo mau kencan dulu jangan di ganggu."
Tutt …
Tutt …
Tutt …
"Alvaro Genta Prayoga!!!"
...****************...
Hai semua, terima kasih sudah membaca 😊😊