GADIS TARUHAN ALVARO

GADIS TARUHAN ALVARO
Paman Tian?


Aluna menatap dirinya di pantulan cermin, ia sudah cukup cantik karena permintaan mutlak dari sang suami agar Aluna jangan berdandan berlebihan kalau perlu berdandanlah seperti pergi ke sekolah. Dan alhasil, Aluna hanya memakai make up seadanya. Ia tidak marah karena ia tahu hal ini adalah wujud dari kecemburuan Frey dan Aluna sangat suka jika Frey cemburu padanya.



Melihat istirnya yang tetap cantik walau hanya berdandan ala kadarnya membuat Frey mengurungkan niatnya menyetujui Aluna pergi bersama Naufal. Ia berjalan mendekati Aluna dan langsung menyambar bibir manis istrinya itu. Rasanya Frey tidak rela Aluna ditatap oleh pria lain diluar sana.


Awalnya Aluna menggerutu karena lipstik yang ia pakai menjadi terhapus karena ciuman panas Frey akan tetapi lama-kelamaan ia menikmati juga ciuman tersebut bahkan mereka saling membelit untuk waktu yang cukup lama.


"Frey!!"


Frey menyeringai saat melihat bibir Aluna bengkak dan lipstik tersebut memudar. "Ini hukuman karena lu berani tampil secantik ini! Kayaknya gue harus batalin izin gue buat Naufal. Lu ikut gue aja ke restoran. Gue khawatir disana ada banyak pasang mata yang nikmatin kecantikan lu. Lu itu istri gue, nggak boleh ada yang mandang-mandang lu penuh minat!" oceh Frey yang membuat mulut Aluna menganga.


"Wah Frey, gue nggak mungkin juga 'kan nyuruh mereka buat nggak lihatin gue? Mata juga punya mereka. Lagian lu itu harusnya bersyukur karena istri lu itu cantik, kayak gue bersyukur punya suami tampan kayak lu," ucap Aluna dan Frey langsung mendengus.


"Terus lu suka nggak kalau gue ditatap-tatap sama cewek-cewek?" balas Frey dan Aluna menggeleng keras.


Frey mulai membujuk Aluna untuk tidak ikut bersama Naufal apalagi tanpa pengawasannya. Perasaan Frey sebenarnya tidak enak sejak tadi, hanya saja ia mencoba menepisnya karena Aluna juga hanya akan pergi bersama Naufal dan berkumpul dengan teman-teman yang dibenak Frey hanyalah perkumpulan para bocah.


Dan lagi, Frey juga punya kesibukan malam ini. Sebenarnya sejak tadi sore hanya saja ia mencuri waktu untuk pulang dan melihat bagaimana Aluna berdandan pergi ke pesta.


Tak lama kemudian Naufal datang dan mengetuk pintu kamar Frey. Mau tidak mau Frey melepaskan pelukannya dari istri tercinta. Sekali lagi ia mengecup lembut dahi Aluna lalu bersama-sama mereka keluar kamar.


Nampak Naufal memakai kemeja berwarna hitam dengan celana berwarna senada. Jika Aluna dan Naufal berdiri bersama maka tidak akan terlihat sebagai kakak-beradik melainkan sebagai pasangan kekasih. Frey saja sampai merasa cemburu.


"Kenapa kalian justru terlihat sangat serasi?" keluh Frey.


Aluna dan Naufal memutar bola matanya, tak peduli dengan keluhan Frey dan mereka bertiga berjalan keluar. Aluna bersama Naufal naik motor dan Frey naik mobilnya. Tadinya Frey menawarkan untuk mengantar mereka akan tetapi Naufal menolak karena mereka juga butuh kendaraan untuk pulang nanti dan tidak mungkin menunggu kedatangan Frey.


"Hati-hati," ucap Frey dan Aluna mengangguk. Sempat-sempatnya Aluna mencuri kecupan di pipi Frey di hadapan Naufal agar suaminya itu tidak terus mengeluh.


Jika Naufal menatap datar dengan kejadian tersebut, berbanding terbalik dengan Frey yang langsung tersenyum salah tingkah karena pertama kalinya Aluna menciumnya di hadapan orang lain. Hampir saja Frey melompat-lompat saling senangnya.


"Jangan cemburu lagi, oke!"


.


.


Aluna dan Naufal sudah bergabung di hotel tempat dimana Leon mengatakan akan mengadakan acara. Aluna menatap tempat ini yang lebih tepatnya adalah acara ulang tahun dari dekorasinya dan ada kue ulang tahun yang terlihat besar di depan. Ia sendiri tidak diberitahu oleh Naufal acara seperti apa yang akan mereka hadiri. Hingga Aluna dibuat terkejut dengan kedatangan Leon.


"Ah, akhirnya kalian datang juga," sapa Leon dengan wajahnya yang berseri-seri karena bisa melihat Aluna sebab tadi di sekolah ia hampir tidak melihat keberadaan Aluna jika ia tidak nongkrong di parkiran ketika pulang sekolah.


"Leon!" pekik Aluna, ia kemudian menatap Naufal yang hanya mengangkat kedua bahunya tak berminat menjawab.


"Gue udah datang dengan kakak gue dan sekarang gue mau pulang. Gue dan kakak gue nggak minat sama acara beginian. Taruhan selesai dan gue mau pulang!" ucap Naufal dengan wajahnya yang nampak sangat datar hingga membuat Leon merasa ia sedang berbicara dengan Frey.


"Lho, baru juga datang. Makan atau minum aja dulu," ucap Leon mencoba mencegah. Bisa-bisa rencananya gagal jika Aluna lansung pulang.


Naufal menggeleng, ia segera meninggalkan Leon yang masih memikirkan cara mencegah Naufal untuk pulang. Malam ini adalah momen yang ia tunggu-tunggu dan tidak akan ia biarkan gagal begitu saja.


Langkah Naufal terhenti saat melihat kakaknya sedang duduk berbincang bersama seorang pria. Ia mengamati lebih dulu dan di sampingnya kini sudah ada Leon. Tangan cowok tampan itu terkepal, walaupun ini adalah misi dari sepupunya tetap saja ia tidak terima jika Aluna duduk bersama Keenan dan terlihat akrab.


Leon mengambil sedikit jarak dan memanggil seorang pelayan lalu membisikkan sesuatu padanya.


Sedangkan di tempat Aluna dan Keenan, keduanya sedang berbincang. Lebih tepatnya Keenan yang banyak berbicara. Ia tidak menyangka Aluna akan datang di acara ulang tahunnya.


Jadi ini kejutan dari Leon? Gue nggak nyangka dan ini memang kejutan yang menyenangkan!


"Jadi ini sebenarnya acara ulang tahun lu ya, Keenan? Maaf tapi gue nggak tahu dan gue bahkan nggak bawa hadiah buat lu," ucap Aluna tidak enak hati. Setelah ini ia berjanji akan menceramahi Naufal.


"Nggak masalah Luna, lu datang aja udah jadi hadiah terindah buat gue," kata Keenan yang memang terlalu senang.


Aluna tersenyum canggung, ia hanya bisa menganggukkan kepalanya. Bisa ia lihat Keenan menatapnya dengan penuh rasa suka dan Aluna hanya bisa meringis dalam hati karena dulu Keenan ini adalah daftar cowok yang menjadi bahan taruhannya dan tidak pernah ia masukkan ke dalam hatinya.


"Lho Keenan, ini bukannya Aluna ya?" tanya seorang pria yang tidak lain adalah ayah Keenan.


Keenan, Aluna dan Naufal serta Leon yang sudah bergabung menatap kaget ke arah ayah Keenan karena mengenal Aluna. Di kepala mereka semua memilik satu pertanyaan yang sama, 'bagaimana bisa mengenal Aluna?' dan itu terlihat jelas dari tatapan mereka.


"Ini pasti Naufal. Lalu Frey dimana?" lanjutnya.


"Anda mengenal kami?" tanya Aluna bingung.


Sebuah pertanyaan dari Aluna mewakilkan rasa penasaran Keenan, Leon dan Naufal.


Pria yang biasa siapa Paman Tian itu mengangguk, "Tentu. Orang tua kalian adalah kerabat saya. Tumben sekali tunanganmu itu tidak mengekori. Biasanya Frey akan selalu mengikuti kemanapun kau pergi. Apa dia sedang sibuk sekarang?"


"Apa?"


"Tunangan?"


Leon dan Keenan sama-sama memekik begitu mendengar ucapan Tian yang bagaikan petir yang menyambar mereka di siang bolong. Jelas saja mereka terkejut dan kini wajah Aluna sudah memucat karena ada Leon yang satu sekolah dengannya yang bukan tidak mungkin akan membocorkan ke satu sekolah.


"Yah, bukannya Frey itu saudaranya Aluna?" tanya Keenan harap-harap cemas.


Wajah Tian terkejut, "Upss ... maaf Aluna. Saya tidak sengaja membocorkannya. Saya permisi dan katakan pada orang tuamu saya menitip salam. Katakan dari paman Tian, eh Bastian Elard!"