
Nurul membuka matanya perlahan, ia merasakan tubuhnya seperti ditindih oleh sesuatu yang berat hingga ia kesulitan untuk bangun. Pertama-tama ia mencoba memegang perutnya dan mendapati ada tangan kekar yang memeluknya erat. Nurul mencoba menenangkan dirinya karena ia hampir saja menjerit. Mungkin efek baru bangun tidur, ia lupa jika dirinya semalam sudah menikah.
Alvaro yang sebenarnya sudah terbangun karena pergerakan Nurul itu diam-diam memerhatikan gelagat Nurul. Ia sendiri ingin tersenyum melihat Nurul yang terlihat tegang namun memilih tenang dan kini kembali memejamkan matanya dengan erat.
"Oke Nurul, lu jangan panik. Ini hanya mimpi, gue nggak mungkin tidur bareng laki-laki," gumam Nurul yang bisa didengar oleh Alvaro.
Cuuppp ....
"Good morning my wife. Kamu emang nggak lagi tidur sama laki-laki melainkan sama suami kamu. Kenapa bisa lupa sih?" ucap Alvaro yang sudah tidak tahan ingin menimpali ucapan Nurul.
Nurul langsung kaget begitu mendengar suara Alvaro. Ia kemudian mengumpulkan kesadarannya sambil mengingat kejadian sebelumnya tidur. Nurul mendesah lega, ia baru ingat kembali jika semalam ia dan Alvaro sudah menikah.
"Punya istri satu di morning pertama udah bikin kesal ya. Harusnya tuh suaminya dapat morning kiss, bulan mendapat serangan jantung ketika sang istri mendadak amnesia kalau semalam udah nikah," celetuk Alvaro yang membuat Nurul terkekeh.
Tidak menghiraukan ucapan Alvaro, Nurul memilih untuk turun dari tempat tidur dan karena posisinya berada di tengah, ia harus turun melewati kaki Alvaro.
"Mau kemana, heem?" Alvaro langsung menarik tangan Nurul dan kini ia sudah berada di atas Alvaro.
Nurul memalingkan wajahnya ketika jarak wajah mereka hanya kurang dari lima sentimeter. Alhasil bibir Alvaro justru mengecup telinga Nurul yang sialnya justru Alvaro sengaja membuat Nurul terangsang dengan memainkan telinga Nurul dengan ciumannya.
Nurul mati-matian menahan suara aneh yang hampir lolos dari mulutnya sedangkan ia tidak bisa menghindar karena Alvaro memeluknya erat.
"Jangan ditahan sayang, aku ingin mendengar kau menikmatinya," bisik lirih Alvaro tepat di telinga Nurul kemudian ia kembali menciumi salah satu titik sensitif Nurul itu.
"Emmm ... Varo, bisa nggak jangan gini dulu. Aku mau bersih-bersih. Ini udah masuk waktu subuh lho, aku nggak mau terlambat," ucap Nurul meminta Alvaro berhenti.
Mendengar hal tersebut langsung saja membuat Alvaro menghentikan langkahnya.
"Oh iya ya. Ya udah, kamu siap-siap gih. Nanti aku yang imamin kamu. Kita sholat berjamaah ya," ucap Alvaro dengan santai melepas pelukannya dari tubuh Nurul dan membantu Nurul untuk turun dari tempat tidur.
Tentu saja ucapan Alvaro tersebut membuat Nurul terbengang. Ia tidak percaya seorang Alvaro Genta Prayoga bisa menjadi imam sholat.
Alvaro berdecak, antara merasa gemas juga kesal. "Ya ampun, aku juga bisa kali Yang. Jangan natap gitu deh. Eh tapi jujur aku juga baru kembali belajar sih. Dulu aku nih waktu SD pernah juara lomba adzan tapi setelah aku SMP dan mengenal percintaan dan dunia percipokan, aku jadi lupa kalau cowok itu harus alim biar bisa jadi imam. Setelah kita ketemu lagi, aku udah belajar lagi dan aku yakin aku udah bisa jadi imam kamu."
Untuk sesaat Nurul terdiam mendengar ucapan Alvaro tersebut. Hal yang ia paling tangkap dari ucapan Alvaro tersebut adalah kata 'percipokan' yang entah Alvaro mendapat istilah nyeleneh itu darimana lagi. Apalagi itu sejak SMP, Nurul yakin sekali Alvaro memang sudah sangat berpengalaman.
"Ya udah, aku siap-siap dulu," ucap Nurul memilih melipir ke kamar mandi daripada harus menimpali ucapan Alvaro yang ia yakin tidak akan ada habisnya.
Saat Nurul masuk ke kamar mandi, Alvaro langsung tersadar jika ia tidak memiliki alat tempur untuk melaksanakan ibadah. Ia segera keluar dari kamar dan mencari Danish atau mertuanya.
Bertepatan dengan Danish yang keluar dari kamar sudah siap untuk pergi ke masjid, Alvaro langsung meminjam pakaian Danish dan kakak iparnya itu langsung setuju untuk memberikan Alvaro sarung dan baju Koko.
Danish tidak banyak bertanya, ia hanya tersenyum senang karena Alvaro ternyata bisa melakukan kewajibannya menjadi imam untuk Nurul. Ia sempat mengira pria model Alvaro ini sangat jauh dari kata ibadah. Ia memuji-muji Alvaro dalam hati dan andai saja ia tahu Akbari baru kembali belajar beberapa waktu belakangan, mungkin Danish akan kembali menarik kata-katanya.
.
.
Alvaro mengangkat kedua tangannya untuk memanjatkan doa, namun ia sedikit tersentak begitu Nurul maju ke sampingnya dan mendekatkan tangan kanannya ke tangan Alvaro. Paham dengan maksud dan tujuan dari sang istri, Alvaro kemudian menurunkan tangan kanannya dan ia menyatukan tangan kirinya berdampingan dengan tangan kanan Nurul lalu mereka menengadahkan tangan tersebut.
Keduanya saling berpandangan dan melempar senyuman. Tangan mereka menengadah ke atas dan keduanya memanjatkan doa yang sama. Berharap dengan tangan keduanya yang bersatu dalam memanjatkan doa, rumah tangga mereka pun akan terus bersatu dan tidak tercerai berai.
Banyak doa dan harapan yang mereka panjatkan dan berharap Sang Pencipta mengabulkannya.
"Lomantis!"
Keduanya terkejut dengan suara dari belakang dan sangat familiar untuk mereka. Alvaro dan Nurul sontak menoleh ke belakang dan mendapati Aluna sedang menatap mereka dengan ponsel yang terarah pada keduanya.
Nurul kemudian mendekat ke arah Aluna tanpa melepas mukenah begitupun dengan Alvaro yang langsung mengikuti istrinya.
"Aluna sudah bangun sejak kapan sayang?" tanya Nurul yang kini sudah duduk di samping Aluna.
Tidak mau ketinggalan, Alvaro pun kini duduk di samping Aluna dan bocah tengil yang cantik itu berada di tengah-tengah.
"Emm belum lama bunda. Lihat deh, bagus 'kan Aluna ambil fotonya," ucap Aluna sambil memperlihatkan hasil tangkap gambarnya dimana Nurul mengecup punggung tangan Alvaro dan Alvaro mengecup dahinya.
"Kerja bagus gilr. Anak papi memang pintar, nanti kirim sama papi ya fotonya," ucap Alvaro merasa senang karena ia mendadak mendapat sebuah ide untuk memposting foto tersebut di WhatsApp dan hanya menyetel Ikram dan Nandi saja yang akan melihatnya.
.
.
Keluarga Emrick mengantar rombongan keluarga Prayoga menuju ke bandara. Nyonya baru di keluarga Prayoga pun turut ikut bersama karena mulai saat ini Alvaro yang berhak penuh atas dirinya.
Mereka sengaja mengambil penerbangan pagi agar bisa menyiapkan beberapa hal untuk menyambut keluarga Emrick yang akan singgah di rumah mereka sebelum dan sesudah melamar Clarinta. Sedangkan keluarga Emrick akan datang nanti sore karena masih ada pekerjaan yang penting dan mendesak yang harus mereka selesaikan.
Setelah mereka sampai di kediaman keluarga Prayoga, Nurul merdekagum dalam hati melihat betapa mudahnya rumah Alvaro Yang sebentar lagi atau sudah menjadi tempat yang akan ia tinggali seumur hidup.
Sesuai pembicaraan pada saat sarapan, Nurul dan Alvaro akan tetap tinggal bersama Genta dan Yani dan tidak diperbolehkan untuk memiliki rumah sendiri. Alasannya karena Genta dan Yani tidak ingin kesepian di rumah itu apalagi ada cucu mereka Aluna mereka pasti akan merasa senang dan tidak merasa ditinggalkan.
Hanya beristirahat beberapa jam saja, Alvaro kemudian mengajak Nurul untuk pergi ke pusat perbelanjaan karena ada beberapa barang yang ingin ia beli untuk Nurul dan juga katanya untuk persiapan nanti malam.
Awalnya Nurul mengiyakan saja saat Alvaro mengajaknya masuk ke dalam toko khusus pakaian wanita. Namun ketika ia melihat banyaknya pakaian yang diberikan Alvaro untuk dirinya, Nurul langsung menatap sengit pada suaminya itu.
"Ini pakaian model apa Alvaro? Kau berniat membuat aku masuk angin? Atau jangan-jangan kau jatuh miskin dan hanya mampu membelikanku pakaian dengan kain tipis dan transparan seperti ini? Lebih baik kita pulang saja, aku tidak ingin membeli baju model aneh seperti ini," ucap Nurul kesal karena Alvaro justru memborong beberapa lembar pakaian aneh menurut Nurul.
"Sayang, ini namanya pakaian dinas malam. Tapi ... aku ingin kau memakainya sebentar lagi karena setelah dari sini kita akan segera melangsungkan pembukaan kerja rodi kita," ucap Alvaro yang membuat tubuh Nurul meremang.
Seringai Alvaro membuat Nurul memalingkan wajahnya, bahkan sampai mereka berada di dalam mobil pun Nurul terkesan mengindari bertatapan dengan Alvaro. Pria tengil itu selalu saja menggodanya dan membuat Nurul terus saja malu dan mengatakan Alvaro adalah pria mesum dan cabul.
Nurul merasa aneh, perjalanan mereka kali ini bukanlah kembali ke rumah Alvaro karena Nurul melihat jalan yang diambil oleh Alvaro berbeda dengan alamat rumah keluarga Prayoga.
Nurul sendiri seperti merasa tidak asing dengan jalan yang saat ini sedang mereka lalui. Alvaro yang melihat Nurul tengah kebingungan hanya tersenyum tipis.
"Kita sedang menuju ke tempat seharusnya," ucap Alvaro.
Ucapan tersebut terasa deja vu oleh Nurul. Dan benar saja, begitu ia teringat akan ucapan tersebut mobil mereka berhenti di sebuah gubuk yang dulu pernah menjadi saksi penyatuan mereka. Walau sudah ada beberapa bagian yang direnovasi, tetapi Nurul masih ingat betul jika di tempat ini Alvaro berhasil merenggut kesuciannya secara paksa.
"Kenapa kita datang ke tempat ini?" tanya Nurul gugup, saat ini kenangan kelam itu kembali berputar di ingatannya hingga membuatnya merasa takut.
Alvaro tersenyum kemudian ia meraih tangan Nurul dan dikecupnya dengan lembut.
"Dulu kita pernah melakukannya di tempat ini dengan kesan yang jauh dari kata baik. Semuanya buruk bagimu dan aku tahu kau tidak akan lupa tempat ini. Tapi, aku sengaja membawamu ke tempat ini agar kita sama-sama menghapus kenangan buruk itu dan menggantinya dengan kenangan manis. Aina, di tempat ini dulu aku pernah begitu brengsek padamu. Dan aku harap, hari ini kita akan menutupi kenangan itu di tempat ini. Lu mau nggak bantu gue mewujudkannya? Jujur Aina, gue udah nggak tahan. Jadi, mari kita mulai acaranya sayang."