
Keluarga Griffin yang merupakan pengusaha dibidang kuliner itu hanya memiliki satu pewaris yaitu Safira Magdalena Griffin. Sang ibu, Magdalena Griffin divonis tidak bisa lagi mengandung karena setelah melahirkan Safira, rahimnya mengalami masalah hingga akhirnya mereka memutuskan untuk mengadopsi anak.
Ruri Griffin, mereka menamai bayi yang mereka ambil dari panti asuhan itu dan memberikan kasih sayang yang sama dengan yang diberikan pada Safira Magdalena.
Karena ia anak lelaki, maka ia yang lebih ditempa untuk belajar mengelola bisnis dan bisa membantu meneruskan usaha. Tentu saja Ruri sangat bersemangat. Namun begitu tuan dan nyonya besar Griffin wafat, pembagian warisan justru hampir seluruhnya diberikan kepada Safira.
Ruri tidak terima karena merasa turut andil dalam membesarkan perusahaan. Hingga akhirnya pengacara tersebut mengatakan bahwa Ruri hanyalah seorang anak adopsi sehingga ia hanya mendapatkan 25 persen dari seluruh kekayaan keluarga Griffin.
Ruri tidak terima akan hal tersebut, ia mendendam dan yang menjadi sasarannya adalah Safira. Ben yang kala itu juga turut hadir dalam pembacaan wasiat tidak terima ketika Ruri berusaha menyakiti Safira yang tengah mengandung anak mereka, Ikram.
Ruri berambisi untuk mendapatkan seluruh harta kekayaan Safira namun Ben selalu berhasil menggagalkannya. Berkali-kali Ruri datang dengan membawa perdamaian namun Ben tetap tidak percaya dan hanya baik saja jika bersama Safira.
"Mereka sebenarnya mengincar Ikram. Ikram kandidat kuat untuk meneruskan bisnis keluarga Griffin. Jika Ikram tiada maka otomatis semua akan jatuh pada Kriss. Mengingat mereka yang memakai marga Griffin, maka tentu semua akan dilimpahkan pada Kriss sebagai penerus Griffin dan kau Ikram, kau adalah seorang Elard," ucap Ben sambil tersenyum kecut.
Ketiga tuan muda itu kembali tercengang. Selama ini mereka tidak tahu jika Kriss berhubungan keluarga dengan Ikram. Bisa dibilang mereka adalah saudara sepupu walaupun kenyataannya Kriss hanyalah cucu dari anak adopsi. Harusnya mereka bisa lebih dekat dari sahabat.
"Jika memang seperti itu, berarti selama ini Kriss tahu siapa aku?" tanya Ikram dan ayahnya mengangguk. "Tapi kenapa ibu hanya diam saja di rumah? Harusnya dia sibuk mengurus bisnisnya, bukan sibuk memikirkan kelakuan ayah yang tiada hentinya membuat ibu sakit hati," sindir Ikram.
Genta, Yani dan Ezio menahan tawa mereka. Tentu saja mereka menertawakan wajah kecut Ben saat anaknya sendiri memberikan serangan padanya.
"Itu karena ayahmu sudah melimpahkan seluruh harta ibumu atas namanya," ujar Ezio yang membuat Ikram terbelalak.
"Ayah! Kenapa setega itu? Apa ayah belum puas dengan semua harta ayah?!" pekik Ikram.
"Ayah melakukan itu untuk mengamankan posisi ibumu dan posisimu," jawabnya dengan enteng.
"Juga posisimu sendiri," timpal Genta.
"Ck …."
"Maksudnya?" tanya Ikram.
"Sudahlah, Ben kau mengaku saja kalau selama ini kau tidak benar-benar selingkuh. Bicaralah sejujurnya pada Safira dan ajaklah dia menemanimu untuk pengobatan. Sekarang kau bisa memberikan pekerjaanmu kepada Ikram dan kau bisa pergi ke luar negeri untuk mengobati penyakitmu itu. Sebelum terlambat, kau bisa memulai kembali dari sekarang," ujar Genta menasihati.
Ayolah, Ikram semakin tidak paham begitupun dengan Nandi dan tuan muda Alvaro.
"Ayahmu sengaja mengambil alih seluruh harta ibumu agar ibumu tidak bisa kabur darinya. Benar-benar budak cinta, bukan?" ledek Ezio.
"Ayah punya penyakit apa? Kenapa Ikram nggak tahu?"
"Tidak perlu tahu dan sepertinya ayah akan mengikuti saran dari Genta. Kau cepatlah sembuh dan gantikan ayah di perusahaan," jawab Ben.
Meskipun penasaran, Ikram tidak lagi mengorek lebih dalam. Ia bahkan merasa begitu lega karena masalah yang membelenggunya sudah terlepas. Ia baru tahu kalau ayahnya sebenarnya tidak seperti yang ia tunjukkan. Ayahnya bahkan sebucin itu padahal dirinya yang selalu terlihat adalah pria brengsek yang suka berselingkuh dan melakukan KDRT.
"Gimana sama Varo? Udah boleh kerja? Varo butuh banyak persiapan untuk mencari Aina?" tanya Alvaro.
"Setelah sembuh kau akan tetap berangkat ke Amerika dan lupakan gadis itu. Dia tidak mencarimu artinya dia tidak menginginkanmu. Papi harap kau bisa mendapatkan yang lebih baik darinya. Jika memang dia berjodoh denganmu, dia pasti akan kembali dengan sendirinya," jawab Genta.
"What? Nggak semudah itu Pi. Varo cinta sama Aina, Pi. Varo cuma mau dia!" bantah Alvaro, yang benar saja papinya menyuruh untuk melupakan sedangkan cintanya semakin bertumbuh setiap detiknya.
"Waktumu tinggal satu minggu. Setelah itu ikuti kata papi tadi. Papi tidak ingin dibantah!"
Alvaro menatap maminya, berusaha merayunya dengan merengek seperti anak kecil namun justru tidak ditanggapi.
.
.
Ikram dan Alvaro yang sudah sehat dan keluar dari rumah sakit kini kembali mencari Nurul dalam sisa waktu Alvaro yang tinggal tiga hari. Ia tidak ingin mengukur waktu lagi. Ia tidak mau berangkat tanpa kepastian apalagi dipaksa melupakan cintanya, ia tidak mau melakukannya.
Alvaro teringat akan Kriss yang kini mendekam di penjara, ia berpikir ada kemungkinan bajingan itu tahu keberadaan Nurul namun Ikram menolak sependapat dengannya. Ia merasa jika Kriss tidak tahu dimana Nurul dan hanya mau memanas-manasi Alvaro saja.
Alvaro mencoba mengingat apakah ia memiliki jejak tentang keluarga panti Nurul, hingga akhirnya ia mengingat sesuatu.
"Mbak Dessy. Ya, dia adalah teman Nurul di panti yang sekarang udah nikah. Lu tahu rumahnya?" tanya Alvaro, berharap ia bisa menemukan Nurul melalui Dessy.
Ikram berpikir sejenak. Ia mengingat pernah mengantar Nurul ke rumah seseorang ketika mereka pulang dari danau, apakah mungkin itu rumah Dessy?
"Gue pernah nganterin dia ke rumah temannya, tapi gue nggak tahu itu rumah Dessy atau bukan. Tapi kalau nggak mencoba kita nggak akan tahu. Let's go."
Dengan penuh harapan besar, kedua pria itu meluncur ke arah rumah Dessy. Tak begitu jauh, mereka hanya perlu mengendarai selama dua puluh menit hingga akhirnya sampai di depan rumah sederhana yang begitu asri.
Alvaro dengan gugup turun dari mobil begitupun dengan Ikram. Ia melihat seorang wanita yang sedang berjalan masuk ke dalam rumah itu. Dengan cepat ia menghampirinya.
Alvaro terkejut melihat wanita itu begitupun dengan wanita itu.
"Lho, bukannya kamu temannya Nurul?"
"Mbak Dessy, 'kan?" tanya Alvaro dan wanita itu mengangguk.
"Silahkan masuk," ajak Dessy.
Setelah duduk bersama, Alvaro mulai menceritakan jika dirinya mencari Nurul. Ia sudah berusaha menghubungi, mencari ke tempat yang mungkin Nurul datangi dan tahu tentang keberadaannya tetapi nihil, ia tidak mendapatkan informasi apapun. Terakhir kali justru informasi yang sengaja dipalsukan karena Kriss yang memintanya.
Dessy tertegun, cowok tampan ini mencari Nurul sampai seperti ini. Ia bertanya tentang hubungan mereka dan Dessy semakin terkejut karena Nurul memiliki pria setampan ini tetapi ia heran mengapa Nurul meninggalkannya.
"Dia salah paham dan pergi tanpa pesan apapun. Mbak bisa bantu saya?" tanya Alvaro memohon.
Dessy mengangguk, "Waktu itu ibu bilang mereka akan pindah ke Bandung. Kebetulan suamiku yang mencarikan tempat tinggal. Sebentar, aku coba hubungi pemilik rumah yang dibeli ibu," ucap Dessy. Ia merogoh sakunya mengeluarkan ponsel.
Panggilan tersambung dan dengan cepat dijawab oleh seorang wanita yang di telepon oleh Dessy.
"Maaf Bu, apakah Bu Uswa sudah menempati rumah yang Mas Bian tanyakan waktu itu?"
"Apa?! Oh iya, terima kasih Bu."
Dessy menggeleng lesu, hal itu membuat Alvaro dan Ikram juga ikutan lesu.
"Katanya ibu memang sudah membayar uang muka, tetapi tidak jadi pindah ke tempat itu dan tidak mengambil uang mukanya. Hahh … lalu mereka pindah kemana? Ibu selama ini tidak memegang ponsel dan hanya menggunakan telepon rumah. Nurul tidak mengaktifkan ponselnya, lalu bagaimana?"
Melihat tuan rumah juga resah karena tidak mendapatkan informasi membuat Alvaro dan Ikram pamit undur diri. Mereka berpesan jika ada kabar tentang mereka, ia minta dihubungi. Alvaro meninggalkan nomor teleponnya kemudian berpamitan dengan membawa segudang kekecewaan.
Setelah melihat mobil Alvaro menjauh, Dessy segera menutup pintu rumahnya. Ia meraih ponselnya sambil mengintip di balik jendela.
"Halo Bu, ibu ternyata benar. Ada teman Nurul yang datang mencarinya. Aku sudah mengatakan bahwa aku tidak tahu apa-apa. Tolong jaga Nurul Bu, kasihan jika dia patah hati lagi. Orang kaya memang seperti itu, suka mempermainkan karena punya segalanya. Baik-baik selalu ya, Bu. Kalau ada apa-apa tolong kabari Dessy."