GADIS TARUHAN ALVARO

GADIS TARUHAN ALVARO
Ketika Sahabat Menjadi Bangsat


Pak Nadir menatap Frey dan Keenan bergantian. Ia duduk di kursinya sedangkan dua siswa tersebut berdiri di depannya yang hanya dibatasi oleh meja. Pak Nadir sengaja menjauhkan kursi agar Frey dan Keenan berdiri saja sebagai hukuman awal keduanya.


Guru itu merasa dilema,di satu sisi Frey adalah anak dari Alvaro Genta Prayoga yang pastinya akan menghancurkannya jika ia menyentuhnya. Di sisi lain ada Keenan yang ayahnya saat ini menjadi tuannya. Pak Nadir sangat dilema, ia harus mengambil jalan yang aman untuk dirinya sendiri.


"Kenapa kalian berkelahi? Apa ada masalah yang harus diselesaikan dengan kekerasan? Kau Frey, kau adalah siswa paling pintar di sekolah ini, otakmu sudah kau fungsikan dengan baik, apakah kau ingin memperlihatkan kemampuan ototmu juga?" hardik pak Nadir, ia kemudian menatap kembali ke arah Keenan.


"Dan kau siswa baru, jangan mencari keributan di sekolah ini. Mungkin kau belum mengetahui semua tata tertib yang ada di sekolah ini sehingga berani membuat keributan."


Pak Nadir kemudian diam sesaat sambil menimbang-nimbang apa hukuman yang tepat untuk keduanya. Ia tidak boleh membeda-bedakan hukuman keduanya karena ia tidak ingin mendapatkan peringatan dari kedua pihak.


"Karena perbuatan kalian melanggar tata tertib sekolah, kalian akan dihukum. Frey, kau membersihkan toilet di lantai satu dan Keenan membersihkan toilet di lantai dua. Dan ingat, hanya toilet pria. Jangan pergi sebelum semuanya selesai dikerjakan!"


Keenan kemudian mengajukan protes karena saat ini wajahnya lebam dan ia ingin mengobati lukanya dulu di UKS. Ia juga mengatakan bahwa ia sama sekali tidak melakukan kesalahan dan Frey yang memukulnya, ia adalah korban. Tetapi pak Nadir kemudian mengatakan jika mereka sama-sama bersalah dari yang ia lihat di CCTV kantin.


Keenan tidak bisa mengelak, mau tidak mau ia menerima hukuman tersebut sambil menatap pak Nadir dengan sengit. Tatapan penuh ancaman, sedangkan pak Nadir hanya bersikap biasa saja.


Frey sendiri hanya menerima saja dan langsung bergerak agar segera selesai. Ia harus menjaga Aluna sehingga lebih baik ia menyegerakan hukumannya tersebut.


Sementara itu, di kelas saat ini Aluna dan Riani sedang mengobrol. Cici hanya mendengarkan saja karena ia sudah tidak bisa sebebas dulu dan seakrab kemarin.


Dalam diam Cici menguping pembicaraan Aluna dan Riani. Ia sangat ingin mendapatkan informasi tentang siapa yang sudah membuat Aluna hamil. Jelas sekali kemarin ia mendengar dokter Samantha mengatakan jika Aluna sedang hamil, belum lagi Keenan yang menceritakan padanya hal yang sama. Cici sangat penasaran, ia mencoba mengingat cowok mana saja yang dulunya dekat dengan Aluna akan tetapi ia tidak menemukan satupun.


Cici teringat kembali ucapan Keenan di kantin tadi. Ia tersenyum seringai, sebuah ide terbesit di benaknya. Ia kemudian berbalik untuk bergabung dengan Aluna dan Riani mengobrol.


"Oh ... jadi benar kalau anak di kandungan lu itu adalah anak dari Leon, Luna?" tanya Cici dengan nada mengejek.


Aluna yang sedang asyik membahas tujuh pria yang populer dan berasal dari negeri ginseng itu pun menatap ke arah Cici dengan sengit. "Masih belum jera juga dia. Masih mau dapat bogeman gue atau tendangan maut?" ucap sarkas Aluna, kini ia sudah memperlihatkan wajah tak bersahabat pada Cici.


Cici tertawa, ia sangat suka membuat Aluna kesal karena pasti Aluna akan meluapkan segala kekesalannya dan mungkin saja ia akan kecoplosan dan mengatakan siapa sebenarnya yang sudah menghamilinya.


"Nggak usah di ladenin, Lun. Lagian siapa sih yang berani sebar gosip kalau Aluna itu hamil? Yang benar saja, kita ini masih sekolah dan nggak mungkin lah kalau Aluna sampai hamil. Lu ngigau ya," ejek Riani, ia harus bisa menyembunyikan fakta tentang kehamilan Aluna walaupun satu sekolah sudah mendengar kabar tersebut.


Cici menatap sengit ke arah Riani. "Gue nggak ngomong ya sama lu. Jadi lu nggak usah ikut campur. Lagi pula kabar tentang Aluna hamil itu benar adanya, kemarin gue dengar sendiri dokter Samantha mengatakan kalau Aluna hamil. Kalau lu nggak percaya ya itu urusan lu. Kuping gue masih berfungsi dengan baik ya. Dan kalau lu masih nggak percaya, lu tanya aja sama dokternya langsung,"


Aluna sempat terkejut, akan tetapi untuk menghindari kecurigaan ia harus kembali memasang tampang biasa-biasa saja. Kali ini Aluna sangat yakin bahwa tersebarnya berita tentang kehamilannya itu pasti dari Cici, mengingat Aluna yang sudah tahu bagaimana kedok asli sang sahabat atau bisa disebut mantan sahabat.


"Oh, apakah ini secara nggak langsung lu yang udah nyamperin berita hoax ini?" sambar Riani.


Cici terdiam, ia sampai lupa tentang hal ini. Jika nanti Frey sampai tahu jika ia yang menyebarkan kabar kehamilan Aluna itu, bukan tidak mungkin Frey akan marah padanya dan harapan untuk memiliki Frey tentu akan pupus.


"Ketika sahabat menjadi bangsat, apapun bisa terjadi. Nggak usah munafik deh lu sama gue. Tadi lu sendiri yang bongkar kedok lu di hadapan gue, sebenanrya apa mau lu?" potong Aluna, ia sudah sangat geram terhadap Cici.


Di awal kehamilan ini Aluna memiliki mood yang berubah-ubah. Emosinya tidak stabil dan ia kadang bisa marah bahkan sangat marah hingga terjadi hal seperti tadi dimana ia memukul wajah Cici. Dan saat ini sebenanrya Aluna sangat ingin menjahit mulut Cici, namun ia takut nantinya ia akan melahirkan seorang anak yang psikopat.


Aluna kadang menangis di dalam kamarnya karena kesal pada dirinya yang sangat suka membuat orang berkelahi dan menonton perkelahian. Ia merasa hobi baru saat hamil ini sangat tidak baik. Ia takut anaknya akan terlahir seperti apa yang selalu ia dengar dan lihat.


"Oke, gue emang bangsat. Tapi lu ngaca dong, lu lebih parah dari gue karena hamil diluar nikah! Di rahim lu ada anak har—"


Plakkk ...


Habis sudah kesabaran Aluna menghadapai Cici yang terus membuat emosinya naik. Ia memberikan satu tamparan keras hingga membuat seisi kelas terkejut.


Cici memegangi pipinya yang terasa begitu panas dan perih, sedangkan Aluna sang pelaku justru terlihat santai-santai saja.


"Lu berani nampar gue? Gue bakalan aduin sama gue dan sama Frey juga. Lu jadi perempuan kasar banget!" gertak Cici.


"Bodoh amat!" balas Aluna, ia kemudian meminta Riani untuk fokus belajar karena bel selesai istirahat pun berbunyi.


Belum sempat Cici membalas, guru mereka sudah lebih dulu masuk dan memberikan pelajaran. Sepanjang pelajaran berlangsung, mata Aluna terus tertuju ke pintu karena Frey belum juga datang. Ia hanya bisa berharap semoga Frey baik-baik saja.


.


.


Harris menatap Naufal yang terlihat sedang fokus menerima materi di depan. Ada beberapa hal yang ingin ia tanyakan terutama mengenai buku itu, ia sangat penasaran.


Naufal sendiri hanya acuh saja. Dari ekor matanya sana ia sudah bisa tahu kalau sedari tadi Harris terus saja menatapnya, akan tetapi Naufal tidak ingin menggubrisnya saja.


Tak ingin hanya diam dan saling memberi tatapan saja, Naufal pun berinisiatif untuk membiarkan saja pada Harris. Setelah mendengar Naufal bertanya, dengqn cepat Harris menulis di selembar kertas tersebut bertuliskan permintaan maaf tersebut.


"Udah, gue udah tahu siapa itu Farah Anastasya Darwin. Dia itu kakak dari ibunya Zyan dan Ziya," ucap Naufal yang membuat Harris bergitu terkejut. "Emang dia siapa? Nyokap atau kekasih lu?" tanya Naufal lagi dan Harris menggeleng juga mengiyakan membuat Naufal merasa kebingunga.


Kembali Harris menulis di bukunya lalu ia berikan kepada Naufal nantinya. Sebenarnya Naufal kesal karena Harris memberikan jawaban lewat tulisan saja. Namun ketika ia membaca tulisan dari Harris, Naufal pun langsung memekik hingga membuat teman-teman dan gurunya juga terkejut.


Naufal meminta maaf, kelas kembali tenang kemudian ia berbisik kepada Harris dengan berkata, "Jadi wanita itu nyokap lu?" pekik Naufal, ia mencoba untuk memastikan, namun sayang sepertinya semua ini adalah benar.