GADIS TARUHAN ALVARO

GADIS TARUHAN ALVARO
Promise


Jessica mengajak daddynya untuk segera pulang karena perasaannya sudah sangat tidak enak melihat bagaimana Aluna dan Frey berbahagia di atas pelaminan. Belum lagi keberadaan Reyhan yang terus menjaganya dan mengawasinya, membuat Riani tidak bisa berbuat apa-apa.


"Daddy baru tahu kalau yang menikah adalah anak sekaligus cucu dari tuan Griffin. Itu berarti adalah kolega bisnis daddy. Pasti kau sangat mengenalnya, bukannya kalian baru saja menjalin kerjasama?" tanya daddynya.


Jessica hanya mengangguk dan menjelaskan bahwa ia dan Frey memang menjalin kerjasama, akan tetapi yang sering bertemu adalah asisten mereka masing-masing. Ia tidak ingin daddynya sampai tahu jika sebenarnya ia menyukai Frey, itu bisa gawat karena pasti akan ada halangan dan juga nasihat yang berbuntut panjang dari daddynya.


Walaupun sedikit bingung nyatanya priaparuh baya ini turut mempercayai ucapan anaknya dan ia tidak lagi menanyakan ini dan itu. Wajah anaknya terlihat buruk ketika ia mengajaknya untuk segera kembali ke rumah. Entah apa yang sudah terjadi pada Jessica di pesta itu, anaknya pun enggan untuk berbicara.


Sementara itu Riani terus menunggu waktu dimana Aluna tidak menjabat tangan para tamu, ia ingin bertanya lebih lanjut tentang pelakor tersebut. Cici sudah berhasil dihempaskan dan bahkan sudah mendekam di rumah sakit jiwa karena kelebihan tekanan hingga membuat mental gadis tersebut rusak dan sakit.


Namun sepertinya ia tidak bisa menunggu lebih lama karena sang kekasih akan segera pergi untuk bertugas, jadi Riani pun berpamit untuk pulang lebih dulu. Dia akan mendatangi Aluna di rumah untuk menanyakan ini dan itu.


Frey bernapas lega karena Riani sudah pergi. Ia sangat tahu benar jika saudara sepupunya itu sedang menantikan waktu di mana bisa berbicara dengan Aluna. Ia memperhatikan Riani selalu berada di dekat pelaminan dan terus saja menatap ke arah Aluna, sepertinya dua sahabat ini saling memberikan kode lewat tatapan mata mereka.


Jessica ... apakah dia ingin mencari mati? Cari masalah, juga mencoba untuk merusak rumah tanggaku, walaupun gue nggak percaya dan gue terlalu PD tapi dari gelagatnya emang iya jika dia sedang berusaha untuk melakukan sesuatu terhadap hubungan gue dengan Aluna. Ini memang nggak bisa dibiarin dan gue yang harus menanganinya secara langsung, gumam Frey dalam hati.


Bahkan para orang tua sampai menggeleng kepala melihat aksi Frey dan berpikir apa yang sudah merasuki anak itu hingga dia dengan santainya mempertontonkan adegan kemesraannya dengan Aluna.


"Kamu harus tahu kalau aku hanya cinta dan sayang sama kamu, bahkan dihadapan wartawan sekalian yang meliput acara resepsi kita aku berani mencium kamu dan menyatakan kepada publik bahwa aku adalah milikmu dan kamu adalah milikku. Tidak akan ada yang bisa membuat kita berpisah dan tidak akan ada tempat untuk orang ketiga masuk. Aku hanya menginginkan kamu, kamu, dan kamu saja!"


Aluna meneteskan air matanya, ia sungguh terharu dengan ucapan Frey tersebut. Pria yang selama ini tidak pernah bermain-main dengan kata-katanya dan selalu membuat gebrakan yang membuat Aluna selalu terkagum-kagum dan merasa selalu dicintai olehnya.


"Aku percaya kamu dan jangan pernah membuat kepercayaanku ini rusak terhadapmu. Aku bisa sakit hati nantinya, jika aku patah Hati lalu harus bagaimana sementara kamu yang membuat hatiku ini bahagia dan kamu membuatnya terluka? Aku berharap semua ucapanmu itu akan menjadi kenyataan. Aku hanya ingin kita bahagia, Frey," ucapan Aluna dengan mata berkaca-kaca.


Frey menganggukkan kepalanya kemudian ia kembali membawa Aluna ke dalam dekapannya lalu ia kecup puncak kepalanya. "I'm promise!"


Tak jauh dari pelaminan Keenan mengepalkan tangannya. Ia sudah kehilangan banyak hal dan kini Frey justru terlihat sangat bahagia. Ia tidak terima dan ia ingin Frey juga merasakan apa yang sudah ia alami dan penderitaan yang ia rasakan.


"Lu bakalan dapat gilirannya Frey. Gue memang dulu selalu kalah dari lu tapi bukan berarti gue nggak bisa menang. Lu akan lihat setelah ini. Habis lu di tangan gue!"