
Assalamu'alaikum, selamat hari raya Idhul Fitri semuanya. Mohon maaf lahir dan batin.
Maaf ya teman-teman, baru bisa Up lagi. Bukan nggak mau up, bukan malas atau habis stok ide cerita. ❌❌
Aku kehilangan ponsel waktu itu dan ini baru punya lagi. Dan sekarang semangat up lagi 😁😁😁😁 semoga kalian masih setia nungguin up-nya ya 🙏🙏🙏
...****************...
Di dalam mobil kini terjadi keheningan antara Nurul dan Axelle. Nurul masih sedih dan masih belum bisa menerima kenyataan dimana ternyata harapannya pupus sudah. Semangatnya untuk bertemu dengan Alvaro kini hilang sudah berganti dengan rasa lemas di sekujur tubuhnya.
Berbagai pertanyaan muncul di benaknya. Haruskah ia tetap menemui Alvaro? Apakah dia akan disambut dengan baik walaupun sebagai kawan lama dari Alvaro? Ia hanya ingin mengatakan perasaannya yang selama ini selalu menghantui malam-malamnya. Ia hanya ingin mengatakan bahwa Alvaro memilki anak dengannya dan berharap Alvaro mau hanya untuk sekadar mengakui Aluna. Nurul tidak akan meminta lebih apalagi berharap Alvaro mau hidup dengannya. Cukup dengan mengungkapkan isi hatinya saja itu akan membuatnya lega dan membuat Aluna percaya bahwa paman yang pernah datang di dalam mimpinya itu memang benar ayahnya.
Bagaimanapun hasilnya, gue bakalan ketemu sama Alvaro. Gue nggak bisa nunda lagi dan gue nggak bakalan puas kalau nggak langsing ketemu dia. Gue memang anak buangan, cewek taruhan dan nggak ada kelebihan apapun yang bisa gue pamerin dan gue jadiin tameng untuk ngelawan Alvaro. Gue emang keturunan Emrick tapi Aina yang Nurul tahu hanyalah seorang gadis panti dan Aina akan segera datang untuk menemui Alvaro.
Axelle sendiri, ia terdiam sambil fokus menyetir mobilnya. Sesekali ia mencuri pandang pada Nurul, ia tahu bahwa wanita ini tengah bersedih. Ada banyak kata yang ingin Axelle tanyakan tapi hanya bisa ia pendam karena tidak ingin disangka 'kepo' oleh Nurul. Bagaimanapun ia tetap harus menjaga image di hadapan Nurul.
Axelle tak sengaja melihat Nurul yang sedang menyeka air matanya, dadanya bergemuruh. Ia tidak suka pemandangan ini, ia seperti seorang pengecut yang membiarkan wanitanya menangis dan ia tidak bisa melakukan apapun bahkan mengusap air mata itu.
Tunggu dulu, Axelle langsung meralat pikirannya sendiri karena sampai detik ini Nurul adalah wanita di atas kertas bukan wanita miliknya seperti pada umumnya. Tapi mengapa rasanya se-sungguhan ini?
Brengsek! Apa sebenarnya yang terjadi dengan Nurul? Tadi di pesta sama sekali tidak ada yang mencela atau mem-bully tapi mengapa dia keluar dalam keadaan menangis? Apa ini ada hubungannya dengan Kriss Griffin? Apa pria itu ayah dari Aluna?
Berbagai tanda tanya muncul dalam benak Axelle namun tidak bisa ia utarakan. Andai ia lebih berani, maka ia tentu saja sudah mendapatkan jawaban dari tanya yang ada di pikirannya.
Axelle hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia lelaki pemberani bahkan ia hanya takut pada mommy dan Tuhan, tapi ia tahu bahwa yang ketiga adalah ia takut pada Nurul. Sedangkan tingkahnya itu justru menarik perhatian Nurul. Ia merasa aneh sekaligus lucu dengan sikap Axelle.
Nurul sudah bisa menguasai dirinya, ia sudah membulatkan tekad untuk bertemu Alvaro. Apapun hasilnya, setidaknya ia sudah mencoba daripada tidak sama sekali.
"Ada apa?" tanya Nurul yang membuat Axelle menoleh padanya.
Axelle menghela napas sambil menatap intens pada Nurul, "Hahh ... aku cuma sedang bingung karena ternyata kau membuatku menjadi pengecut," jawab Axelle yang terdengar ambigu di telinga Nurul. "Aku bahkan nggak berani nanya kamu itu kenapa karena sejak tadi aku lihat kamu kayak sedih gitu. Aku nggak berani nanya apa kamu punya masalah atau enggak karena takut disangka kepo!"
Nurul terkekeh, ia merasa lucu dengan sikap seorang Daniyal Axelle Farezta ini. "Nah! Ini barusan bukannya berani nanya ya? Lancar banget malah," ledek Nurul.
Axelle tersentak, "Eh iya ya!"
Keduanya sama-sama tertawa dan tawa Nurul terdengar indah di telinga Axelle.
Jadi milikku please! Akan aku tunjukkan kebahagiaan itu seperti apa asal kamu jadi milikku.
"Aku nggak kenapa-napa. Hanya saja bertemu dengan Kriss membuatku merindukan sahabatku di Jakarta. Sudah empat tahun aku nggak tahu kabarnya gimana," kilah Nurul. Dan ia langsung merutuki dirinya mengapa harus menjawab pertanyaan Axelle.
Axelle mengangkat sebelah alisnya, "Sahabat?"
Nurul mengangguk, "Namanya Flora. Satu-satunya sahabat yang aku punya dan sekarang entah seperti apa dia karena aku kehilangan kontaknya. Aku ingin ke Jakarta tapi nggak bisa kalau nggak sama Kak Danish dan kasihan Aluna juga kalau ditinggal," jawab Nurul dan kini ia benar-benar merindukan Flora.
Axelle tersenyum, ia kini paham mengapa Nurul bahkan tidak pernah terlihat bersama siapapun sebagai teman, rupanya ia juga selama ini hanya memiliki satu orang teman.
"Besok aku akan ke Jakarta. Ada urusan pekerjaan. Kau mau ikut?" tanya Axelle.
Please bilang iya!
Nurul langsung menatap Axelle penuh binar dan ia bahkan mengangguk antusias. Axelle yang melihatnya langsung terkekeh dan tangannya dengan refleks mengusap puncak kepala Nurul.
Nurul menjadi salah tingkah dan pipinya merona dengan perlakuan Axelle padanya. Mendadak jantungnya tidak bisa diajak kompromi, dag-dig-dug seperti sedang berdisko. Buru-buru Nurul mengalihkan pandangannya dan itu membuat Axelle tersenyum penuh kemenangan. Ia suka momen ini dan sangat suka.
Mungkin aku udah bermain hati sama dia. Oh Tuhan, kalau sampai hati ini patah, rasanya kayak gimana ya?
Sampai di kediaman Emrick, Nurul dan Axelle sudah tidak lagi terlibat percakapan. Axelle ingin membukakan pintu mobil untuk Nurul tetapi dengan cepat Nurul cegat namun apalah daya Axelle lebih cekatan darinya.
"Aku harus mengantarmu sampai di depan pintu, agar keluargamu yakin kalau aku memulangkan anak mereka dengan aman dan selamat," ucap Axelle sebelum Nurul turun dari mobil.
Nurul sendiri hanya mendelik lalu berjalan mendahului Axelle.
Di depan pintu sudah ada Bu Dianti yang sedang menunggu kedatangan mereka. Ia begitu senang karena putrinya bersama pria yang tepat dan tadi ia sudah dapat kabar dari mommy Axelle kalau Nurul dan Axelle ini ternyata sepasang kekasih. Ia sendiri terkejut dan bahkan sangat senang mendengar kabar tersebut.
"Selamat malam Tante," sapa Axelle.
"Malam. Makasih udah antar Nurul," balas Bu Dianti.
Axelle mengangguk, "Oh iya Tan, besok aku ada urusan pekerjaan di Jakarta dan rencananya aku bakalan ngajak Nurul ke Jakarta. Apa boleh?" tanya Axelle tanpa basa-basi.
Nurul menatap terkejut kepada Axelle, segampang itu pria ini meminta izin. Dan ia juga berdoa dalam hati semoga ia mendapatkan izin.
"Sebenarnya kami selalu berat melepas Nurul keluar tanpa kami, tetapi karena kali ini perginya dengan Nak Axelle yang notabenenya adalah calon suami Nurul, tentu saja kami mengizinkan. Tetapi ingat, harus jaga Nurul baik-baik, kami pernah kehilangan dia," ucap Bu Dianti yang membuat Nurul dan Axelle terkejut.
"Calon suami?" tanya Nurul bingung.
Sedang Axelle sendiri sudah merasa was-was, ia tidak ingin Nurul marah atau mengamuk padanya. Ia yakin benar ini pasti kabar dari mommunya. Untuk menghindari berbagai kemungkinan maka Axelle memilih untuk berpamitan.
"Terima kasih Tante, besok saya akan datang untuk jemput Nurul. Selamat malam," ucap Axelle memilih melipir dari kediaman Emrick.
"Hati-hati!" seru Bu Dianti.
Kini tinggallah Nurul dan Bu Dianti di depan rumah. Bu Dianti senyam-senyum menatap Nurul dan Nurul langsung tanggap dengan tatapan mamanya itu.
"Ma, Nurul ke dalam ya. Mau lihat Aluna. Kasihan udah ditinggal lama. Selamat malam, Ma," ucap Nurul dan buru-buru ia berjalan ke dalam rumah.
Bu Dianti tertawa renyah sambil geleng-geleng kepala melihat kelakuan Nurul dan Axelle yang begitu kompak. Ia dalam hati begitu senang sekaligus bersyukur karena putrinya itu jatuh di tangan yang tepat.
"Terima kasih Tuhan, semoga putriku mendapatkan kebahagiaan dan bisa hidup dengan tenang bersama Axelle," gumam Bu Dianti kemudian ia masuk ke dalam rumah.
Sedangkan Nurul di dalam kamar kembali menangis sambil membelai wajah Aluna. Ia sudah membersihkan diri dan mengganti pakaian, tadinya ia bersiap untuk tidur tetapi begitu melihat wajah putrinya, ia kembali teringat akan pertemuannya dengan Kriss yang akhirnya berujung luka lagi.
"Alvaro, hatiku begitu lelah selama ini berusaha melupakanmu tetapi aku tidak pernah berhasil sampai detik ini. Bahkan setelah tahu kabar tentangmu dari Kriss, aku bahkan nggak bisa lupain kamu gitu aja. Kenapa hatiku begitu keras dan nggak mau berpindah dari kamu? Aku juga ingin bahagia seperti kamu tapi bodohnya hatiku dia hanya mau kamu saja. Hahaha, aku kenapa seperti seorang budak cinta ah salah! aku bahkan maniak cinta. Aku segila ini karenamu Alvaro Genta Prayoga!"
Nurul menangis sambil memeluk lututnya, dadanya terasa sesak bahkan ia menepuk-nepuknya agar sesaknya berkurang.
"Besok aku pastikan kita akan bertemu! Aku cinta kamu Alvaro! Aku cinta kamu!"
Di tempat yang jauh dari tempat dimana saat ini Nurul berada, seorang pria pun terlihat sama sepertinya. Sedang menangis sambil memeluk lututnya di atas tempat tidur. Ia tidak bisa tidur bahkan matanya kini terlihat sembab. Ia memukul-mukul dadanya karena merasakan sesak disana.
"Gue cinta lu Aina, gue cinta. Bahkan jika Tuhan nggak menakdirkan kita, gue bakalan bikin takdir buat kita berdua. Udah cukup selama ini gue nanggung rindu dan udah cukup buat gue selama ini menangis di kesunyian malam. Sudah tiba waktunya buat gue berjuang dan bawa lu kepelukan gue. Lu bisa bilang gue gila dan gue kejam, tapi ... apa sih yang nggak buat lu Aina!"