
Bughhh ....
Satu pukulan mengenai telak di pipi Cici dan pelakunya adalah Aluna. Cici bahkan sampai hampir jatuh jika saja ia tidak bersandar di wastafel. Ia sangat kaget karena Aluna yang begitu lembut tiba-tiba memberikan satu bohemn mentah di pipinya dan itu menyisakan lebam, serta rasa sakit yang Cici rasakan seolah giginya hendak rontok di dalam.
"Aluna! Lu ..."
"Itu belum seberapa, Ci. Gue bahkan bisa bikin lu lumpuh detik ini juga. Jaga batasan lu, gue masih anggap lu sebagai sahabat gue dan tolong jangan bikin gue marah karena lu nggak bakalan tahu apa yang bisa gue lakuin sama lu," ucap Aluna dengan begitu dingin hingga membuat Cici merasa bahwa Aluna sangat berbeda dari biasanya.
Cici merasa geram. Ia ingin membalas Aluna dan dengan cepat ia bergerak untuk mendorong Aluna yang sudah berbalik badan. Hampir saja Aluna jatuh jika tidak ada Frey yang datang menahan tubuhnya.
"Sayang kamu nggak apa-apa?"
Pertanyaan Frey tersebut seperti petir yang menyambar Cici di siang bolong. Ia berulang kali mengusap telinganya, ia mencoba memastikan kalau ia hanya salah dengar saja.
Nggak, nggak mungkin. Gue pasti salah dengar, Frey nggak manggil sayang sama Aluna.
Cici ketakutan, bukan karena ia takut akan kena marah karena terlihat mendorong Aluna, ia takut akan kenyataan jika ia tidak salah mendengar ucapan Frey tadi. Namun untuk bertanya, lidah Cici seakan kelu.
Aluna menggeleng. "Enggak. Gue baik-baik saja. Cici yang nggak baik-baik saja karena tadi dia kejedot di lantai. Dia nggak hati-hati," jawab Aluna dengan senyumannya yang begitu polos menatap ke arah Cici yang sedang syok dituduh seperti itu oleh sang pelaku sebenarnya.
Frey menatap sekilas ke arah Cici. Hanya sekilas kemudian ia membawa Aluna pergi tanpa sempat bertanya bagaimana keadaan Cici. Gadis itu mengepalkan kedua tangannya. Ia merasa kesal karena lagi dan lagi Frey mengabaikannya.
"Mau sampai kapan coba gue nutupin ini semua? Toh Aluna udah tahu gue kayak gimana, mungkin sekarang saatnya gue menunjukkan kepada Aluna kalau gue itu nggak benar-benar tulus sahabatan sama dia. Gue cuma mau Frey!" ucap Cici seraya menyeringai.
Suara tepuk tangan membuat Cici kembali terkejut. Ia menatap malas pada sosok yang baru saja masuk. Padahal ia baru saja akan mengejar Frey dan meminta pertanggungjawaban Aluna karena sudah menonjoknya, akan tetapi pengganggu ini selalu saja menghantuinya.
Riani bersedekap. Ia menatap Cici dari ujung sepatu hingga ujung rambut dengan tatapan mengejek. "Enak kena tonjok?" ledek Riani yang semakin membuat Cici geram.
Tak ingin berurusan dengan Riani, Cici segera berlalu meninggalkan Riani yang masih menertawakannya. Dalam hati Cici berjanji akan menghancurkan Riani lebih dulu dan itu dalam waktu yang dekat.
Sementara itu, Aluna yang berjalan bersama Frey merasa semakin tidak nyaman karena bisikan-bisikan siswa-siswi di sepanjang ia melewati kelas menuju ke kelasnya. Ada tatapan mencemooh dan ada juga yang secara terang-terangan menghina Aluna.
"Untung gue jelek jadi gue sadar diri dan nggak pacaran biar bisa jaga diri. Cantik itu berisiko woy, berisiko hamil maksudnya. Hahaha ..."
Emosi Aluna naik ke ubun-ubun dan ia hendak kembali melawan tetapi genggaman tangan Frey meyakinkan Aluna kalau mereka mampu melewati semuanya.
Seandainya gue dengerin apa kata uncle Axelle, gue nggak bakalan merasa setertekan ini. Emang homeschooling pilihan yang paling tepat, tapi gue nggak mau belajar di rumah doang. Bosan!
Aluna mengeluh dalam hati. Ia tidak lagi berniat membalas kerjaan dari teman-teman sekolahnya ini, karena ada Frey yang selalu siaga di sampingnya untuk melindunginya.
Sesampainya di kelas, semua mata kini tertuju pada Aluna, lalu pada perutnya yang begitu datar. Salah satu temannya kemudian mendekati Aluna dan mencoba untuk menyentuh perutnya akan tetapi tangan tersebut langsung ditepis oleh Frey dengan kasar.
"Jaga batasan lu kalau lu nggak mau tangan lu itu hilang saat ini juga!" ucap Frey dengan sarkas.
Ucapan Frey tersebut membuat mereka semua terdiam. Yang hendak membuka suara untuk menghina Aluna atau menanyakan kabar itu benar atau tidak langsung mengurungkan niat mereka.
Ketika guru datang untuk memberikan mata pelajaran pertama, mereka juga dibuat kaget karena Frey sama sekali tidak keluar dan justru duduk di belakang, di tempat Riani dulu duduk sendiri dan ia meminta Riani untuk duduk di tempat Aluna.
Frey berusaha menjauhkan Cici dari Aluna, karena sebenarnya ia tahu apa yang terjadi tadi di toilet hanya saja ia tidak ingin membahas masalah tersebut. Dan ia benar-benar bangga karena Aluna bisa melawan dengan memberikan pukulan, bukan hanya dengan mengeluarkan air mata saja seperti biasanya.
Kali ini Cici yang merasa tertekan karena Riani justru pindah duduk di sampingnya. Duduk di belakangnya saja sudah membuat Cici merasa kesal, apalagi kini mereka duduk berdampingan. Sungguh hari-hari Cici pasti akan semakin menyebalkan.
Saat pelajaran tengah berlangsung dan Frey tengah konsentrasi menyimak pelajaran tersebut, tiba-tiba tangan Aluna mere-mas tangannya dengan kuat. Hampir saja Frey memekik jika ia tidak ingat pelakunya adalah istrinya sendiri.
Frey menatap Aluna yang terlihat gelisah. Ia kemudian berbisik, "Ada apa?"
"Gue pengen muntah, Frey. Gue udah nggak tahan lagi nih," ucap Aluna, ia kemudian menutup mulutnya yang hendak bersendawa.
Keresahan mereka itu tak sengaja diperhatikan oleh Riani yang memang sudah tahu jika Aluna benar hamil. Ia sebagai calon bibi dari bayi yang dikandung Aluna tersebut langsung menempatkan diri sebagai aunty yang siaga. Ia tiba-tiba berdiri dan memanggil guru mereka yang sedang menulis soal di papan tulis.
"Pak, apa saya dan Aluna boleh izin ke toilet?" tanya Riani yang mengejutkan Aluna karena namanya di bawa-bawa.
"Lho, kalau mau ke toilet kenapa harus mengajak orang lain. Pergi saja sendiri," ucap pak guru.
"Nggak bisa Pak. Saya lagi dapat dan ini sudah tembus, Pak. Saya malu jika harus berjalan sendirian. Boleh ya, Pak," ujar Riani dengan asal. Baginya hanya ini satu-satunya cara untuk meyakinkan guru tersebut.
Pak guru langsung mengizinkan dan ia kembali fokus pada pelajaran yang sedang ia ajarkan. Riani mengedipkan mata kepada Frey dan juga Aluna. Frey yang tahu maksud Riani pun langsung tersenyum lega.
.
.
Bel istirahat berbunyi, seluruh siswa-siswi berhamburan ke kantin. Aluna yang sudah mengeluarkan semua isi perutnya tadi di toilet pun merasa sangat lapar dan Frey membawanya ke kantin.
Namun hal yang sama kembali terjadi, di kantin Aluna kembali mendapatkan perundungan. Awalnya Aluna masih santai saja dan tidak peduli karena ia merasa sangat kelaparan. Namun ketika Keenan datang ke meja dimana ia makan bersama Frey dan Riani, emosi Aluna langsung memuncak.
"Yang satu anak narapidana, yang satu cantik tapi murahan. Luna, jadi lu nolak gue karena lu itu udah isi? Siapa tuh cowok yang beruntung bisa jebolin lu? Ah apa jangan-jangan si Leon ya? Kalau nggak salah ingat malam itu di acara ulang tahun gue, lu 'kan pergi sama Leon ke kamar hotel. Lu sama dia ngapain disana? Praktek bercocok tanam?"
Bughhh ....
Pukulan cepat dan telak dari Frey langsung mengenai hidung Keenan hingga mengeluarkan darah. Frey tidak peduli lagi, selama ini ia sudah cukup sabar mendengar Keenan berkoar-koar dan juga berusaha mencelakai dirinya. Tapi tidak kali ini karena Keenan sudah menyinggung hal paling sensitif dalam hidup Frey yaitu Aluna.
Suasana kantin menjadi begitu gaduh. Keenan yang tadi tersungkur di salah satu meja kini tengah ditarik kerah bajunya oleh Frey. Remaja yang sebentar lagi akan menjadi seorang ayah itu tidak melepaskan Keenan sama sekali.
Riani dan Cici bahkan sudah berteriak untuk meminta bantuan agar memisahkan Keenan dari Frey karena Riani sangat tahu Frey bahkan bisa menghabisi Keenan detik ini juga.
Lain halnya dengan Aluna yang justru jadi penikmat perkelahian sengit tersebut. "Lagi Frey, jangan cuma perutnya yang lu tonjok. Itu pipinya juga, bikin mukanya lebam biar kelihatan kaya pakai blush-on. Matanya juga dua-duanya lu tonjok biar keliatan kayak mata mbak Kunti!"
Krikk ... Kriikk ...
Riani yang sedang panik langsung dibuat dongkol oleh ucapan Aluna. Frey pun hampir saja memecahkan tawanya namun ia masih sadar kalau saat ini ia sedang memberi pelajaran pada Keenan yang sudah berani menghina makhluk favoritnya.
Dasar bumil. Untung gue cinta berat. Ah ... gue jadi penasaran akan seperti apa watak anak gue nanti. Masih sebesar biji kacang hijau saja sudah sangat suka melihat kegaduhan. Bagaimana nanti kalau udah lahir, jangan sampai dia malah jadi biang onar. Amit-amit ...!
Baru saja Keenan hendak melayangkan pukulannya ketika melihat Frey sedang lengah, suara guru membuat perkelahian itu terhenti. Keenan sempat mengeluh karena para bodyguar-nya sama sekali tidak ada yang datang untuk membantunya padahal ia hampir mati di tangan Frey.
Keenan hanya tidak tahu saja, jika para bodyguard itu sudah terkapar tak berdaya karena banyaknya bodyguard milik Frey dan juga Aluna yang sudah siap siaga. Apalagi setelah mendengar kabar Aluna hamil, penjagaan semakin bertambah. Ada beberapa dari kelompok bayangan besutan Danish Emrick, pengawal milik Axelle dan juga bodyguard dari keluarga Prayoga.
"Kalian semua ikut saya ke ruang BK!" teriak pak Nadir.
Keenan tersenyum miring begitu mendengar perintah pak Nadir. Ia jelas tahu jika ia pasti akan mendapatkan pembelaan karena pak Nadir adalah orang suruhan ayahnya.
Frey menitipkan Aluna pada Riani, setelah itu ia menuju ke tempat dimana ibu kantin sedang berdiri. "Mohon maaf untuk kekacauan ini, Bu. Saya akan mengganti kerugiannya. Tolong berikan nomor rekening Anda dan saya akan mengirim uang ganti rugi. Sekali lagi saya minta maaf," ucap Frey dengan tulus.
Ibu kantin merasa lega karena Frey berniat baik untuk bertanggung jawab. Ia yang juga merupakan penggemar Frey itu langsung mendoakan agar Frey selalu dilindungi Tuhan.
"Riani, lu lihat noh laki gue. Baik banget 'kan. Dan nanti rencananya setelah lulus, gue sama Frey mau ke Korea. Dia janji mau buat pertemuan privat gue sama tujuh member BTS. Dia sangat kaya, bukan? Lu jangan iri," bisik Aluna.
Riani memutar bola matanya, ia cukup itu namun sesaat kemudian Riani tersadar.
Eh ... bukannya ayang Jin sama oppa J-Hope lagi wamil ya? Hahaha ... gue yakin rencana Aluna bakalan gagal total. Nggak jadi iri deh gue, hehehe.