GADIS TARUHAN ALVARO

GADIS TARUHAN ALVARO
Keputusan Keenan


Langkah lebar Frey memasuki markas dan ia dipersilahkan untuk masuk ke dalam ruangan yang dimana dikhususkan untuk para tahanan. Tahanan yang saat ini sedang duduk dan terikat di kursi tengah tertidur lelap padahal ia sedang dalam bahaya. Bukan sebab ia mengantuk, akan tetapi tahanan itu sudah diberi obat penenang sehingga ia tidak bisa melakukan apa-apa lagi hingga Frey datang.


Tadi saat mereka menunggu kedatangan Frey, tahanan mereka ini terus saja berteriak dan memberontak, sehingga mau tidak mau mereka menyuntikkan obat penenang daripada mereka mendahului menyiksa orang ini sebelum ada perintah dari Frey.


"Bangun!" ucap Frey menendang kaki tahanan yang memang benar-benar sangat ia kenali.


Tidak ada respon dari tahanan tersebut, Frey kemudian mengangkat wajahnya lalu memukulnya dengan keras tetapi tahanan ini memang tidak benar-benar bangun.


"Keenan Bastian Elard! Bangun atau aku akan membunuhmu!" ancam Frey.


Masih tidak ada pergerakan dari Keenan, sepertinya obat penenang itu bekerja cukup berlebihan padanya. Mau tidak mau Frey menyuruh anak buahnya untuk menyiram Keenan dengan air seember.


Keenan mangap-mangap bagaikan ikan yang terdampar di pasir dan tidak mendapatkan air untuk bisa berenang, ia tidak bisa mengusap wajahnya karena kedua tangannya terikat. Ia hanya bisa membiarkan air tersebut mengalir di wajahnya dan berharap bisa segera mengering.


"Brengsek? Lepasin gue. Beraninya main keroyokan, kalau lu emang laki ya udah satu lawan satu," teriak Keenan belum menyadari keberadaan Frey.


"Tapi sayangnya lu itu banci! Beraninya mengutak-atik mobil gue, akan lebih baik lu maju satu lawan satu dengan gue, kita fighting biar kita bisa tahu siapa yang pecundang dan siapa yang loser!" tantang balik Frey yang membuat Keenan terdiam karena ia mengetahui suara tersebut.


Frey tersenyum kecut, entah kemana perginya Keenan yang tadi mengumpat dengan begitu kasarnya. Begitu pula dengan anak buah Frey yang tadi menahan Keenan, mereka begitu tahu bagaimana tadi Keenan begitu berani berkoar-koar dan mengumpat serta membentak-bentak mereka, tetapi begitu berhadapan dengan Frey, lelaki itu bagaikan kucing yang baru saja disiram dengan air seember.


"Kenapa masih berani? Sudah sesulit ini masih juga ingin menghancurkan hidup gue. Lu nggak akan bisa menang lawan gue sekalipun lu bekerja sama dengan Jessica. Ini baru gue yang lu hadapi, lu belum menghadapi Kakak Aluna yang siap membunuh siapa saja yang berani mengusik kehidupan adiknya. Dan asal lu tahu, Jessica itu berada dalam daftar orang yang ingin dia bunuh. Apakah lu ingin ikut-ikutan?"


Bagaimana Frey bisa tahu? Tentu saja ada informasi dari Reyhan yang mengatakan bahwa Jessica sedang melakukan sebuah rencana yang dibantu oleh seorang anak muda. Dan ketika tadi Reyhan mengirimkan foto orang yang bekerja sama dengan Jessica, Frey langsung terkejut karena ternyata Keenan masih berani untuk mengusik hidupnya.


Frey pikir kehidupan Keenan yang sudah berubah drastis ini mampu menyadarkan cowok itu. Tetapi semua sama saja, Keenan tetap pada ambisinya untuk membalas dendam.


"Kenapa lu bisa tahu?" tanya Keenan yang begitu terkejut.


"Apa yang nggak bisa gue tahu? Siapapun yang berniat buruk ke gue maupun Aluna, gue pasti akan lebih dulu tahu," jawab Frey dengan begitu angkuhnya.


Keenan mendengus, satu hal yang paling tidak dia sukai dari Frey, ucapan angkuhnya. Tetapi memang benar-benar terbukti membuat lawan mati kutu. Wajah tampan, sikap angkuh, dan juga ketangkasannya membuat Kenan benar-benar iri pada Frey.


Keenan terbelalak, dua pilihan tersebut sangat sulit baginya. Akan tetapi jika ia tidak memilih salah satunya, ia pasti akan mendapatkan dua-duanya yang berakibat buruk ia akan dibunuh oleh seseorang yang memang hendak membunuh Jessica. Dan ia pula akan habis di tangan Frey jika tidak membuat keputusan.


"Gue kasih lu waktu 10 menit untuk berpikir. Dan tentang semua kenyamanan kalian, gue bakalan atur semuanya. Kalian masih keluarga Elard, paman Ikram juga masih membiayai kalian. Jika lu berjanji untuk tidak mengusik kehidupan gue bersama Aluna, dan memilih pergi dari kota ini tanpa ada hubungan lagi dengan Jessica, gue bakalan kasih satu cabang kafe gue buat kalian. Lu nggak perlu mengelolanya tetapi hasil keuntungan dari kafe itu buat kalian saja. Silakan lu pikirkan baik-baik."


Keenan terdiam mendengar ucapan Frey tersebut. Dia sangat tahu Frey adalah lelaki yang memegang teguh kata-katanya. Dia hanya bisa menatap punggung Frey yang mulai menjauh dari ruangan tersebut.


Keenan terdiam, ia merenung dan memikirkan langkah apa yang harus ia ambil ke depannya dan hal itu harus yang terbaik untuk ia dan ibunya nanti. Saking seriusnya Keenan memikirkan jalan hidupnya, ia bahkan tidak sadar dari tadi bahwa waktu yang diberikan Frey untuk berpikir telah berakhir dan kini sudah berdiri tepat dihadapannya.


"Bagaimana, apakah kamu sudah memikirkannya dengan matang?" tanya Frey yang kemudian duduk berhadapan dengan Keenan.


Keenan masih diam, dia juga belum tahu dimana nantinya ia akan pergi bersama dengan ibunya. Kampung halaman ibunya adalah di kota ini dan Keenan pun begitu. Keluarga mereka hanya ada di kota ini saja, bagaimana ia akan memulai hidup baru nantinya bersama ibunya di tempat yang begitu asing bagi mereka?


"Gue punya satu restoran dan kafe di daerah X, lu sama nyokap lu bisa pergi ke sana dan tinggal di sana. Gue bakalan sediain rumah dan tadi juga gue udah bicarain sama paman Ikram dan beliau setuju–setuju saja. Bibi Safira juga mengizinkan kalian untuk mengelola kafe dan restoran tersebut, nyokap lu bisa menjadi pemilik restoran itu dan lu hanya perlu fokus belajar. Sekarang keputusannya ada di tangan lu. Lu maunya kayak gimana, itu terserah lu."


Keenan terdiam dan menimbang-nimbang ucapan Frey. Memang ada baiknya ia mengambil langkah ini, ia harus melupakan dendamnya dan hidup tentram bersama ibunya. Mengingat raut wajah ibunya yang begitu menyedihkan dan jauh dari kata-kata bahagia serta kehidupan lama mereka yang terenggut dengan tiba-tiba, membuat Keenan berpikir bahwa ia harus fokus memberikan kebahagiaan untuk wanita yang begitu mencintainya tersebut.


"Baiklah gue setuju, tapi lu harus tahu untuk pindah ke tempat itu nggak mudah. Lu tahu sendiri gue ini masih sekolah dan sudah kelas dua belas. Surat pindah harus gue urus dan masih banyak lagi," ucap Keenan yang sebenarnya hanya ingin melimpahkan tanggung jawab itu kepada Frey. Ia hanya ingin terima beres dan malas untuk mengurus ini dan itu.


Frey mendengus. Ia lalu berkata "Semua gue yang ngurus, lu tinggal pindah aja dan menikmati semuanya bersama nyokap lu. Dan ingat, jadilah anak yang baik, good boy for your mother. Suatu saat kalau lu udah sukses, baru kita boleh bersaing lagi," ucap Frey kemudian ia membuka ikatan yang melillit tubuh Keenan.


Frey kemudian berbalik dan melangkah menjauhi Keenan, tetapi langkahnya terhenti ketika Keenan yang sudah berdiri tiba-tiba memanggil namanya.


"Ada apa?" tanya Frey dengan satu alisnya terangkat.


Tangan Keenan terkekal kuat, ia kemudian memajukan satu pukulan dan berhenti tepat di hadapan wajah Frey. Akan tetapi yang terjadi tiba-tiba membuat Frey terkejut. Keenan memeluknya dengan begitu erat dan menangis bagaikan anak kecil.


"Thanks untuk seluruh kebaikan lu. Aluna nggak salah menilai lu dan lu emang adalah cowok terbaik. Leon memang benar tentang lu dan semoga kita bisa menjadi teman yang baik karena gue udah lelah mencari masalah dan udah lelah berada dalam bayang-bayang dendam masa lalu yang sebenarnya kita berdua tidak perlu meneruskannya."


Free tersenyum, ia kemudian membalas pelukan Keenan. "Be a good boy, dan kita nanti akan bersaing untuk sukses bersama."