GADIS TARUHAN ALVARO

GADIS TARUHAN ALVARO
116


"Ta-ra?"


Ikram tergagap begitu melihat Tara berada di kontrakan ini. Belum hilang rasa terkejutnya tentang Farah dan kini ia bertemu lagi dengan Tara di rumah ini, di tempat Tante Rosa–orang tua Farah.


Melihat Ikram yang terlihat syok membuat Tara heran. Ia kemudian mengambil tempat di dekat Ikram sambil menatap wajah tampan bosnya.


"Lu kok disini?" tanya Ikram.


Tara tergelak mendengar pertanyaan bosnya ini. "Jelas saja saya disini bos, ini 'kan tempat tinggal saya. Bagaimana sih bos, bukannya malam itu bos nganterin saya?"


Ikram menggaruk batang hidungnya dengan jari telunjuknya. Ia keki. Pantas saja ia merasa seperti pernah datang ke tempat ini, rupanya malam itu saat mengantar Tara. Wajar sih, malam hari di sini sangat sepi dan minim pencahayaan.


Dari dapur Tante Rosa datang dan melihat Tara sudah pulang. Ia kemudian memberikan secangkir teh untuk Ikram kemudian duduk di dekat Tara.


"Mi, kok bisa sama bos Ikram?" tanya Tara karena Ikram tidak menjawab pertanyaannya tadi.


"Lho, Rara kenal toh? Dia ini teman kakakmu dulu. Kebetulan tadi bertemu tidak sengaja," jawab Tante Rosa. "Kamu kenal juga sama Nak Ikram?"


Tara mengangguk, "Tara kerja di kantornya bos Ikram, mi."


Tara sedikit terkejut karena tahu bosnya ini adalah teman kakaknya dulu, kemudian ia tersenyum pada Ikram yang juga tengah menatapnya sambil tersenyum. Ikram terlihat begitu tampan dan Tara terus saja terpesona.


Jadi gue jatuh cinta sama kakak beradik. Apa ini yang dinamakan turun ranjang? Eh tapi gue nggak pernah naik ranjang lho sama Farah. Fix, setelah semua ini gue yakin emang di Tara ini jodoh gue. Lamar sekarang deh. Tapi apa enggak terlalu dini, entar di kabur lagi dan takut sama gue.


Tante Rosa menatap Ikram, ia mengucapkan terima kasih karena Ikram sudah mempekerjakan Tara di perusahaannya. Anaknya yang masih berusia sembilan belas tahun ini tidak bisa melanjutkan kuliah karena tidak memiliki biaya. Belum lagi hutang mereka pada Miranda yang cukup banyak.


Berbincang-bincang cukup lama Ikram pun pamit untuk segera pulang karena mendapat telepon dari ayahnya jika malam ini mereka akan bertemu untuk rapat keluarga besar. Mau tidak mau Ikram harus pulang padahal ia masih betah berada di rumah itu.


Tara yang sudah mengganti pakaiannya pun mengantar Ikram sampai di mobilnya yang di parkir di depan gang. Ikram memperlambat jalannya, ia ingin menikmati hari bersama Tara dan sungguh ia sangat ingin menggenggam tangan itu. Tapi ia takut Tara marah dan malah mengatakan dirinya mesum atau sebagainya.


Sesampainya di pinggir mobil, Ikram berhenti lalu menatap Tara. Ia mengusap puncak kepala gadis itu membuat Tara kaget dan malu.


"Gue balik dulu, lu masuk dan istirahat. Jangan kemana-mana. Oh iya, masalah waktu itu gue serius mau melamar lu. Lu mau nggak jadi istri gue?"


Tara tersedak ludahnya sendiri. Bosnya ini mendadak punya hobi membuat Tara tersedak dan mendapat serangan jantung dadakan.


"Bos, anda jangan bercanda terus dengan saya. Saya takut baper," lirih Tara.


Melihat Tara yang menundukkan kepalanya membuat tangan Ikram terulur untuk mengangkat dagu itu pelan hingga pandangan keduanya bertemu dan Ikram melempar senyum pada Tara.


"Lu lihat gue, emang gue becanda?"


Tara menggeleng lalu mengangguk membuat Ikram gemas.


"Gue tahu ini terlalu cepat tapi kadang kita nggak butuh waktu satu menit untuk bisa jatuh cinta. Dan itu yang gue alami sekarang. Lu nggak perlu jawab sekarang dan gue nggak maksa tapi gue bakalan pastiin lu jadi istri gue," ucap Ikram dengan tatapannya mengunci Tara.


Tidak memaksa? Tapi sudah memastikan. Bos Ikram ini ternyata sedikit aneh.


Melihat Tara yang hanya diam sambil menatapnya membuat Ikram terkekeh. Ia teringat dengan ucapannya sendiri barusan.


Apa gue udah berubah jadi pemaksa dan pembuat takdir sendiri seperti Alvaro? Kenapa semua ejekan gue buat tuh bajingan malah berbalik ke gue? Sial! Virus Alvaro nih! Tapi kok kayak gini menyenangkan ya? Apa sesenang ini perasaan Alvaro waktu dia usulin Nurul?


"Masuk gih, gue udah mau balik. Ingat baik-baik ucapan gue tadi. Gue nggak bercanda karena perasaan gue ke elu nggak sebercanda itu!"


.


.


Bukkk ….


Bukkk …


Bukkk …


Tiga pukulan untuk tiga pria tengil dan bucin dari ketiga orang tua mereka. Alvaro dan Ikram yang paling parah karena keduanya adalah anak dari teman dekat Deen Emrick dan disini Alvaro yang paling berperan. Dan Ikram yang melihat sendiri Alvaro menculik Nurul.


Tadi ketiganya diminta untuk menceritakan sedetail mungkin kejadian dimana Nurul menjadi korban Alvaro dan keusilan mereka tentang taruhan tersebut. Tidak ada yang bisa mereka tutupi terutama Alvaro. Ia bahkan siap jika papinya menghukumnya lebih berat dari ini bahkan lebih parah dari cara Danish menghajarnya, ia rela. Ia tahu ia salah dan ia siap menerima konsekuensinya.


"Papi memang merestui kamu sama dia Varo, tapi papi nggak bisa menyembunyikan rasa kecewa papi terhadap sikap kamu ke Aina. Kamu memang brengsek! Bajingan! Papi nggak pernah ngajarin kamu bersikap seperti ini. Dan dia itu anaknya Deen, teman papi, teman om Ben juga. Dan kalian bertiga benar-benar kelewatan. Untung Deen tidak membawa kasus ini ke jalur hukum. Papi yakin 1000 persen kalau dia akan bisa memenjarakan kalian bertiga detik ini juga. Hahh …."


Ezio memang tidak begitu akrab dengan Deen Emrick tapi ia kenal baik dengan pria itu. Pernah beberapa kali membantu mengurus kasus karena saran dari Ben dan kini ia seperti kehilangan muka pada pria bijaksana itu. Sebagai pelampiasannya, malam ini wajah tampan Nandi menjadi sasarannya.


Apalagi Ikram, malam itu ia berhasil lolos tetapi malam ini justru ia tidak bisa berkutik. Wajahnya babak belur belum lagi perutnya yang sakit karena mendapat tendangan dari ayahnya.


"Kenapa harus anak sahabat ayah sih?! Ayah harus gimana sama Deen nantinya, Ikram Elard? Bagaimana jika di tahu anak ayah ini terlibat, dia bisa membenci ayah nanti!"


Alvaro berusaha membela diri tetapi dengan cepat Ikram menginjak kakinya agar sahabatnya itu tidak berbicara. Padahal kaki Ikram saat ini begitu sakit. Bukannya apa, Ikram hanya tidak mau Alvaro berbicara aneh dan di luar nalar lagi seperti waktu di rumah keluarga Emrick.


"Besok kita semua berangkat ke rumah Deen. Kita akan meminta maaf dan sekalian kita akan melamar Nurul untuk Alvaro," putus Ben Elard.


"Ya, besok dan jangan ada yang membuat alasan lagi," timpal Ezio Ragnala.


Alvaro tersenyum senang mendengar keputusan Ben Elard, pria sadis ini tahu saja apa yang dia inginkan.


"Lihat Genta, putramu itu langsung tersenyum senang mendengar keputusanku," ejek Ben.


Genta hanya bisa menghela napas, jelas saja Alvaro akan senang jika mereka semua pergi untuk melamar Nurul.


"Tapi, bukannya Danish bilangnya tiga bulan lagi?" ujar Ikram yang langsung membuat Alvaro lemas karena teringat syarat tiga bulan yang diberikan calon kakak ipar.


Ketiga orang tua itu menatap Ikram lalu menatap Alvaro yang kini mengangguk lemas, "Danish tidak ingin dilangkah dan saingan Varo itu berat. Daniyal Axelle Farezta, dia juga melamar Nurul secara pribadi waktu itu," ucap Alvaro yang mendadak jadi kesal.


Mengingat Axelle membuat mood pria tampan ini menjadi tidak baik. Ia menerka-nerka apakah selama ini tidak bersama Nurul, Axelle datang untuk menemuinya atau mereka jalan berdua dan bermesraan. Alvaro resah, ia gelisah dan cemburu buta padahal ia sendiri yang membayangkannya.


Sempat terjadi keheningan di ruangan itu begitu Alvaro mengatakan saingannya ini adalah pria sukses nomor satu di negara ini. Jelas saja saingan Alvaro ini berat.


Di restoran milik keluarga Griffin yang di pegang oleh Ikram–di dalam ruang VIP ini keenam pria berbeda generasi itu terdiam bersama.


Nandi yang tidak begitu buruk keadaannya seperti Ikram dan Alvaro pun mengajak mereka semua untuk duduk kembali. Ia membantu Ikram untuk duduk di kursi karena sahabatnya itu mengalami cedera di kaki karena ayahnya justru menyerang kaki Ikram.


"Ayah nggak akan pukul wajah kamu karena wajah itu adalah aset nomor satu. Kau belum memiliki pasangan, jangan sampai wajahmu jadi jelek dan tidak ada bidadari yang mau padamu."


Begitulah ucapan Ben Elard ketika mulai memukuli perut Ikram dan membuat kaki anaknya itu terkilir. Sadis memang, tetapi lebih sadis lagi permainan taruhan anaknya dan sahabat-sahabatnya itu menurut Ben Elard.


Setelah semuanya kembali duduk, Ben langsung menatap Alvaro. "Kau mencintainya?"


Dengan cepat Alvaro mengangguk, "Sangat om!"


Ben tersenyum tipis, "Lalu, apakah dia mencintaimu juga?"


Kembali Alvaro mengangguk, "Tentu saja om. Aku sudah memastikannya sendiri. Dia mencintaiku meskipun tidak pernah mengatakannya. Aku bisa merasakan dari sikapnya padaku," jawab Alvaro.


Ikram mendengus, Alvaro memang sangat percaya diri. Tapi mendadak ia menjadi merindukan Tara.


Dia sedang apa sekarang?


"Nah, kamu mencintainya dan dia juga sama, tunggu apa lagi sih! Besok kita melamar, nggak ada bantahan!" tegas Ben Elard.


Alvaro tergagap, ia bukannya tidak mau, ia sangat mau bahkan. Tapi ia juga memikirkan Danish.


"Tapi kakak ipar nggak mau aku datang melamar sebelum dia nikah, katanya harus tiga bulan lagi," lirih Alvaro.


Ezio berdecak, "Untuk apa menunggu tiga bulan lagi sih! Kau mencintainya dan dia pun sama padamu. Kalau sama-sama suka dan cinta tidak perlu menunggu lagi. Kalau dia tidak mau dilangkah ya yang penting kamu sudah melamar Nurul. Tunangan dulu juga nggak masalah. Mau kamu ditikung orang lain di sepertiga malam?"


Alvaro menggeleng keras, "Nggak mau lah om. Tikungan sepertiga malam itu sangat menakutkan dan aku tidak akan bisa melambung lagi kalau tikungannya seperti itu."


"Ya sudah, besok kita datang dan melamar. Begini saja sudah bikin pusing. Kalau cinta ya lamar dong. Nggak usah mikir yang lain, kalau Nurul maunya sama kamu dia pasti tidak akan memilih Axelle. Deal, besok kita semua ke rumah Deen Emrick," sambar Genta yang gemas sendiri dengan anaknya ini.


Gue juga sudah nggak sabar mau lihat cucu gue disana.


Kesepakatan telah tercapai dan Alvaro kini tengah senyam-senyum sendiri membuat Ikram dan Nandi menjadi risih. Kumat lagi tingkah aneh Alvaro.


"Oh iya Yah, tadi juga Ikram sudah melamar calon istri Ikram. Kami akan segera menikah dan ayah hanya perlu merestui, Ikram nggak butuh komentar!"


"What?!"