
Dia memang memiliki berbagai celah untuk dilemahkan tetapi aku yang nyaris sempurna ini dapat menutupi seluruh kelemahannya, jika siap mari kita bermain hati bersama ~ Daniyal Axelle Farezta
...****************...
Setelah pertemuannya dengan Nurul yang tidak membuahkan hasil apapun tetapi memberi kesan untuknya itu, Axelle kembali ke kantornya. Ia duduk di kursi kebanggaannya dan mulai memeriksa satu per satu dokumen. Lalu ia beralih mengecek email yang masuk.
Axelle mengangkat sebelah alisnya, ia tidak tahu sejak kapan perusahaannya bekerja sama dengan perusahaan yang saat ini ia baca karena seingatnya tidak ada kliennya dengan identitas ini. Ia terus membaca sedetail mungkin dan baru ingat jika dirinya sendiri memiliki usaha yang tidak diketahui oleh keluarganya.
"Oh aku sampai lupa tentang sahamku ini," gumamnya.
Axelle pun memberi balasan jika ia siap bertemu dengan kliennya ini. Ia bersiap menyambut pemilik saham tertinggi pada perusahaan yang ia tanami modal ini karena katanya akan datang ke kota ini dia hari mendatang untuk membahas beberapa hal.
"Kriss Griffin ya? Aku baru tahu jika dia yang mengelolanya. Tapi lumayan juga kinerjanya, dalam setahun ini perusahaan itu sudah berkembang dan aku yakin tidak lama lagi akan menjadi perusahaan maju. Tidak salah dulu aku membantu mereka," ucap Axelle sambil membaca laporan dari perusahaan yang ia tanami modal tersebut.
Axelle menghubungi seseorang yang selama ini menjadi kaki tangannya namun ia rahasiakan identitasnya agar tidak ketahuan jika ia memiliki beberapa bisnis di luar sana. Ia hanya jaga-jaga saja karena terlalu banyak anggota keluarga yang mengincar perusahaan turun temurun ini dan Axelle tahu jelas bahkan sedarah pun bisa saling menghabisi jika sudah menyangkut kekuasaan.
Axelle menghela napas, menjadi penerus keluarga Farezta begitu berat baginya. Ayahnya memiliki satu adik perempuan dan satu adik laki-laki dan mereka masing-masing sudah memiliki anak yang juga bekerja di perusahaan ini. Masing-masing dari mereka memiliki pembagian harta yang sama dari kakek mereka tetapi karena Axelle yang merupakan gadis pewaris yang kuat karena cucu tertua maka ia yang menjadi pimpinan.
"Cari tahu tentang pria yang bernama Kriss Griffin. Aku membutuhkan informasi hari ini." Axelle langsung mematikan teleponnya.
Beberapa saat kemudian ponselnya berdering lagi menandakan ada pesan masuk dan ia yang membaca pesan itu langsung memijat pelipisnya.
"Tante Baya menyekolahkan anaknya jauh-jauh dan hanya menjadi pengangguran. Sungguh miris," cemoohnya saat mendapat laporan dari salah satu orang suruhannya yang ia minta untuk menjaga sepupunya itu.
Axelle juga tahu dibelakangnya salah satu sepupunya yang merupakan anak dari adik lelaki ayahnya itu berniat membelot dan ingin menjatuhkannya. Untung saja pria ini adalah orang cerdas sehingga ia bisa lebih cepat membaca pergerakan lawan sebelum ia diserang.
"Kim, bawa Clarinta Wistara ke rumah utama dan aku akan menemuinya. Bagaimana pun caranya bawa dia kembali dan hari ini juga!"
Axelle tidak mau dibantah, seperti biasanya. Ia sudah sakit kepala dengan perbuatan Madava yang ingin membelot darinya, kini sepupunya yang luar biasa aktif itu pun membuatnya semakin pusing.
"Harusnya dia menikah saja dulu dengan Danish. Kenapa sampai putus segala sih? Kalau dia menikah dengan Danish maka tanggung jawabku semakin berkurang. Apa aku paksa saja Danish menikahi Clarinta agar bocah itu tidak terus membuat kepalaku sakit. Ah, sepertinya itu ide yang menarik karena setahuku sampai detik ini Danish belum memiliki kekasih." Axelle menyeringai, membayangkan ide gilanya ini saja sudah membuatnya bahagia. Akan melepas satu beban agar bisa menyelesaikan beban yang lainnya.
Namun beberapa saat kemudian wajahnya berubah lagi menjadi tegang saat teringat dirinya yang dipaksa menikah dan jika tidak maka Madava yang akan menggantikannya. Madava sudah menikah dan memiliki satu orang anak sehingga ia memprovokasi keluarga Farezta untuk menurunkan Axelle dari jabatannya jika ia belum juga menikah.
"Cih, kau mau coba melawanku. Jangan mimpi," dengusnya. Mengingat Madava adalah satu paket dengannya yang akan langsung teringat Nurul, "Semoga dia tidak menolak. Aku bahkan tidak keberatan bermain hati dengannya. Memiliki pasangan sepertinya pasti akan membuat hari-hari yang aku jalani lebih berwarna," lanjutnya sambil tersenyum tipis mengingat wajah terkejut Nurul saat ia menawarkan pekerjaan ini.
Dalam hati ia memuji keberanian dan kejujuran Nurul padanya, ia sudah tahu Nurul akan menolaknya karena mengingat keduanya tidaklah akur selama ini.
Pertama kali bertemu saat ia tidak sengaja menabraknya dan bahkan ia mengumpati Nurul padahal dirinya yang salah. Pertemuan kedua terjadi di kafe dimana ia dan Nurul saling berebut tempat duduk karena kafenya sangat ramai hingga akhirnya karena Nurul tidak tahan dengan ucapan kasarnya wanita itu memilih pindah saja.
Dan pertemuan yang ketiga terjadi di kantor keluarga Emrick dimana Axelle yang saat itu sedang berjalan terburu-buru kembali menabrak Nurul hingga keduanya jatuh di lantai dengan posisi Nurul berada di atas tubuh Axelle dan Axelle tak sengaja mengecup dahinya kemudian ia sendiri yang marah-marah.
.
.
Berbeda dengan Axelle yang sedang menanti rencana Tuhan padanya, wanita yang ia masukkan dalam rencana takdirnya itu justru kini tengah memarahi kakaknya lewat sambungan telepon.
Bagiamana tidak marah jika dijebak dalam pekerjaan yang tidak seharusnya. Nurul juga merasa ia dipermainkan seperti yang Alvaro lakukan padanya.
"Kak ini tidak lucu dan juga mengingatkan aku pada dia. Jangan dong Kak," lirih Nurul.
Danish terdiam, ia lupa jika adiknya ini memiliki trauma masa lalu. Ia pikir dengan mencoba mendekatkan Nurul dengan Axelle walaupun lewat cara yang tidak biasa, akan membantu adiknya itu keluar dari masa lalu yang masih menyiksa hidupnya.
"Kakak tidak akan memaksamu untuk melakukannya. Kau boleh menolaknya dan kakak akan membayar dendanya. Maaf ya," ucap Danish tak tega.
Denda penalti, itu tidaklah benar. Tidak ada perjanjian apapun antara dirinya dan Axelle selain kesepakatan dimana Axelle akan membantunya membawa Nurul keluar dari lubang masa lalunya.
"Jangan seperti itu juga Kak. Aku hanya takut jika kebersamaan akan menimbulkan kenyamanan. Ketika aku merasa nyaman dengannya aku takut dia akan menghilang tanpa alasan. Aku tidak mau bermain hati lagi Kak. Luka ini saja masih menganga, jangan menambah luka lagi," ungkap Nurul.
Danish tidak menimpali atau menyangkal ucapan Nurul. Ia membiarkan Nurul mengungkapkan isi hatinya agar adiknya itu merasa lega. Menjadi pendengar yang baik kadang lebih baik dibanding memberikan banyak nasihat tetapi diri sendiri tidak bisa melakukannya.
Kadang seseorang hanya butuh didengarkan, cukup mendengar ketika ia berkeluh kesah.
"Itulah risiko dari jatuh cinta, Dek. Ketika kau membiarkan hatimu untuk jatuh cinta maka secara tidak langsung kau mengizinkannya untuk terluka walau kau yakin cintamu itu tidak akan melukaimu. Percayalah akan ada pelangi setelah hujan dan walaupun pelangi itu tak kunjung datang, percayalah tidak selamanya hujan turun dan badai pasti berlalu. Kau hanya perlu melihat lebih luas lagi. Jangan diam di tempat. Kakak menyayangimu."
Nurul tertegun mendengar ucapan Danish barusan. Kakaknya begitu peduli padanya dan ia merasa begitu dikasihi.
"Tidak ada salahnya membantu Kakak kali ini. Intinya jaga hati dan mata agar tidak sampai bermain hati. Gue nggak bakalan main hati. Nggak bakalan!"
Nurul memutuskan untuk mengirim pesan pada kakaknya yang langsung diteruskan pada ponsel seseorang yang tengah mengomeli para stafnya.
^^^Danish Emrick^^^
^^^Kak, tolong bilang pada pria arogan nan menyebalkan itu kalau aku siap menjadi kekasih kontraknya. Tapi bilang juga dilarang bikin aku baper. Kalau sampai terjadi, dia harus tanggung jawab!^^^
Axelle yang membaca pesan terusan dari Danish pun tak kuasa menahan senyumnya. Wajahnya terlihat sangat tampan membuat para peserta rapat menerka-nerka dan merasa lega karena tadi pimpinan mereka ini sedang marah-marah dan begitu menerima pesan, moodnya langsung berubah.
Siapapun pengirim pesan itu, kami berterima kasih!