
Di pabrik, tepatnya di tempat dimana terjadinya kegaduhan terlihat banyak anak buah Brandon yang sudah terkapar di lantai. Brandon dan Ben masih saling melakukan adu fisik dan tidak ada seorangpun yang menengahi atau membantu keduanya.
Di sudut lain terlihat seorang anak kecil yang sedang menangis karena mencari orang tuanya dan juga ketakutan melihat perkelahian yang sangat mengerikan untuk anak seusia dirinya. Sangat tidak pantas bagi Frey untuk menyaksikan semua ini. Beruntunglah tak lama kemudian Kriss sampai dan langsung menggendong sang anak untuk segera dibawa pergi.
Hal tersebut tidak luput dari pandangan Genta. Ia ingin memastikan bahwa cucu Rama tetap aman walau bersama Kriss sekalipun.
"Sebenarnya apa maumu Brandon? Selama ini aku sama sekali tidak pernah mengusikmu dan kau bahkan menghilang. Tapi kenapa justru kau tiba-tiba datang dan menyerang kami?" terbaik Ben, ia melihat sang adik sudah terkapar di lantai, ia pun berjongkok di hadapannya.
"Kau masih bertanya? Apa kau lupa jika kau mengambil seluruh aset keluarga kita dan menjadikannya atas namamu hanya karena kau anak tertua? Kau juga membantu Genta untuk melamar Yani sedangkan kau tahu aku yang lebih dulu jatuh cinta padanya! Kau hidup enak dengan menjadi pemegang perusahaan keluarga sedangkan aku harus merintis dari bawah dan kau juga tidak ingin memberikan aku modal usaha dan dengan seenaknya kau menyuruhku menjadi karyawan biasa. Kau sungguh serakah!" umpat Brandon. Walaupun saat ini napasnya terasa sesak dan dadanya sangat sakit, ia tetap berusaha untuk berbicara.
Ben tidak habis pikir karena yang dikatakan oleh Deen tadi ada benarnya. Ia tidak tahu jika masa lalu tentang Genta dan Yani pun menjadi pemicu sang adik melakukan pembalasan. Yang ia ketahui dulu Genta dan Yani memang dua orang yang saling tidak akur sampai-sampai ia dan Deen membuat rencana untuk menyatukan kucint dan tikus tersebut dan ternyata mereka sukses hingga akhirnya Genta dan Yani saling jatuh cinta lalu menikah.
Mereka hanya membantu persiapan Genta melamar. Ben juga mengatakan pada Brandon jika ia melakukannya sebab ia tahu Yani hanya mencintai Genta, sama sekali tidak ada perasaan untuk Brandon sehingga Ben memilih menyetujui permintaan Genta. Ben hanya tidak ingin Brandon kecewa karena cintanya bertepuk sebelah tangan.
Lebih lanjut Ben mengatakan bahwa ia memang sengaja menempatkan posisi Brandon di perusahaan dari posisi rendah karena seperti itulah pesan orang tua mereka agar Brandon belajar dari bawah juga. Ben menegaskan jika dulu saat dirinya ikut bergabung di perusahaan, orang tua mereka juga menempatkannya sebagai karyawan biasa untuk masa uji coba hingga akhirnya ia berhasil dan naik jabatan.
"Semua bukan karena keserakahanku semata. Semua itu memang murni didikan orang tua kita, hanya kau saja yang gagal paham untuk itu semua dan memilih menjadi pendendam!" ucap Ben dengan suara yang dingin dan Brandon pun tak mau tahu dengan penjelasan Ben karena semua rasa bencinya sudah mengakar dan menyatu di dalam darahnya.
Saat ini Brandon sedang mencoba untuk menguatkan tubuhya karena ia ingin kembali menyerang sang kakak walaupun saat ini sekujur tubuhnya terasa sakit. Brandon akan melawan sang kakak hidup atau mati. Ia harus membunuh Ben atau ia yang terbunuh karena percuma selama ini Brandon berlatih dan menjauh jika saja tidak ada yang kalah diantara keduanya.
Ben berusaha untuk mengambil ponsel dari saku jasnya dan ia berniat menghubungi polisi. Ben tidak sanggup untuk membunuh adik kandungnya sendiri sehingga ia memilih jalur hukum saja. Namun ketika ia sedang fokus menelepon, Brandon dengan cepat bangun dan memukul keras kepala sang kakak hingga mengeluarkan darah dan ponsel di tangan Ben terjatuh begitu saja.
Kepala Ben terasa sakit, namun ia tetap berusaha untuk bangun sambil menggerakkan kepalanya untuk menghilangkan rasa pusing. Ia kemudian menatap Brandon dengan sangat tajam. Rupanya keputusan Ben untuk tetap melindungi adiknya dari kematian adalah kesalahan besar. Nyatanya sang adik sama sekali tidak mengindahkan semua ucapan Ben tadi.
Ben maju dan menghajar Brandon, ia tidak peduli kali ini apakah adiknya itu akan mati di tangannya atau tidak. Ia hanya ingin melumpuhkannya saja karena walau sudah diberi kesempatan untuk hidup nyatanya Brandon bukan mengintrospeksi dirinya sendiri tetapi justru kembali menyerang.
Dengan membabi buta Ben memukuli Brandon yang bahkan wajahnya sudah bengkak karena lebam, juga Brandon tak hentinya memuntahkan darah. Kali ini Brandon sadar jika sedari tadi sang kakak sedang menahan amarahnya dan ia tidak benar-benar serius berkelahi. Namun demikian Brandon tidak mau kalah, ia memilih mati dibandingkan harus meminta belas kasih sang kakak.
Sementara itu, Genta yang mengikuti kemana Kriss pergi tak sengaja melihat Kriss yang hendak masuk ke mobil tetapi seseorang memukul kepalanya dengan balok kayu besar dan dari kepala itu keluar darah yang membuat Kriss pingsan sedangkan Frey sendiri sudah berada di dalam mobil. Genta yang melihat hal tersebut langsung melepaskan satu peluru dari pistolnya ke arah kaki pria yang diketahui adalah asisten pribadi Brandon.
"Jangan berpikir untuk kabur jika kau tidak ingin aku menembak tangan atau kepalamu!" hardik Genta. Ia kemudian mengambil balok kayu tersebut dan memukulkannya di kepala pria itu hingga jatuh pingsan.
Genta melihat ke dalam mobil, ia tersenyum ketika mengetahui cucu Rama baik-baik saja. Tak berselang lama kemudian bunyi sirene mobil polisi mendekati lokasi kejadian dan Genta segera menyerahkan mereka untuk menangkap Kriss dan juga pria yang merupakan asisten Brandon. Ia juga mengatakan bahwa di dalam masih ada banyak yang harus mendapatkan penanganan sehingga beberapa polisi pun masuk ke dalam gedung pabrik.
Terlihat Ben keluar bersama dengan Deen dengan raut wajah dingin. Beberapa anak buah mereka yang masih selamat setelah bertarung dengan anak buah Brandon pun turut keluar dan jumlah mereka masih sangat banyak.
"Bagaimana Brandon?" tanya Genta.
Ben tersenyum miring kemudian menggelengkan kepalanya. "Dia memilih untuk tidak lagi melihat dunia," jawab Ben dengan suara dingin.
Lagi pula selama ini dia menghilang dan dianggap mati, sekalian saja kubuat dia mati.
Namun Ben hanya mengatakannya dalam hati. Ia kemudian mengajak Genta dan Deen untuk segera ke rumah sakit karena ia sangat penasaran dengan kondisi sang menantu begitupun dengan Genta dan Deen yang teringat akan Nurul.
Tak lupa Genta membuka pintu mobil dimana Frey terlihat sudah sangat mengantuk. Bocah tampan itu menatap Genta dengan waspada.
"Kakek siapa?" tanya Frey ketakutan.
Genta tersenyum, "Aku adalah sahabat kakekmu dan mulai sekarang aku akan menjadi kakekmu. Ayo sekarang ikut pulang bersamaku. Disini sangat tidak aman," ucap Genta dengan suara lembutnya.
Frey nampak ragu, ia sudah menyimpan banyak trauma karena berulang kali menjadi korban penculikan Brandon. Genta yang paham pun kembali memberi penjelasan pada bocah seumuran Aluna tersebut.
"Kakek tidak akan menyakitimu. Lagi pula kakek akan membawamu ke rumah sakit untuk melihat kondisi ibumu. Ayahmu juga sedang di bawa ke rumah sakit, kau mau tidak menengok mereka?" bujuk Genta.
Frey nampak berpikir, sepertinya Genta bisa melihat jika bocah ini sangat pandai dalam mempertimbangkan sesuatu. Diam-diam Genta tersenyum, apalagi wajah bocah ini cukup tampan dan terkesan dingin.
Jika Alvaro dan Miranda tidak bisa berjodoh maka ....