
Alvaro menatap langit-langit kamar dan enggan menutup matanya sedangkan Ikram sudah tertidur pulas. Alvaro tidak sabar menunggu untuk bertemu dengan Nurul. Ia juga tidak sabar untuk melihat anak yang waktu itu bersama Nurul dan ingin segera memastikan anak itu sebenarnya siapa. Memikirkannya membuat kantuk Alvaro semakin jauh sedangkan waktu sudah menunjukkan pukul tiga dini hari.
Alvaro harus menyusun kata-kata agar ketika bertemu dengan Nurul nanti, ia tidak kehabisan stok kalimat untuk membuat Nurul percaya dan yakin jika kali ini dia datang untuk berjuang. Kemarin mereka memang sudah selesai membahas masalah perasaan tapi Alvaro tidak merasa demikian karena terselesaikannya masalah perasaan adalah ketika ia dan Nurul akhirnya bersatu dan sah di mata agama dan hukum. Bukan sebuah perpisahan setelah lamanya ia menunggu.
Gila aja, selama bertahun-tahun gue nunggu dan akhirnya gue harus merelakan, ogah! Kali ini biarin gue berjuang sekali lagi buat lu. Lu mau minta waktu sebulan lagi, dua bulan atau setahun gue oke aja. Asal nggak ada dia diantara kita.
Kata dia yang merujuk pada sosok Axelle membuat Alvaro kesal lagi. Saingannya kali ini bukan kaleng-kaleng. Jika dulu yang ia anggap saingan adalah Ikram padahal musuh sebenarnya adalah Kriss, ia tidak peduli karena baginya ia yang akan tetap jadi pemenang. Tapi Axelle, pria itu memiliki level tinggi yang sulit untuk ditaklukkan dan sayangnya Alvaro justru takut kalau Nurul justru berhasil ditaklukan oleh Axelle.
"Nggak, nggak boleh. Cuma gue satu-satunya yang boleh bersama Aina. Gue emang brengsek dan egois, tapi kalau lu udah bersama gue, gue nggak akan seperti itu lagi. Aina, you Drive me crazy!"
.
.
Tautan tangan Nurul dan Axelle tidak terlepas bahkan saat mereka memasuki kamar rawat VVIP dimana grandma Delila di rawat.
Dalam ruangan tersebut ada seluruh keluarga inti Axelle tak lupa Madava yang sedang menatap penuh seringai padanya. Pandangan mereka semua jatuh pada tautan tangan Nurul dan Axelle yang dengan cepat Nurul lepas begitu ia merasa diperhatikan, Nurul merasa tidak nyaman karena ditatap seintens itu oleh banyak orang.
"Grandma, bagaimana kondisi grandma saat ini?" tanya Axelle setelah mencium kening wanita yang terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit ini.
Wanita tua itu tersenyum tipis, "Lebih baik setelah kedatanganmu," jawabnya.
Axelle menarik Nurul untuk menengok grandma-nya dan Nurul pun menyapa wanita tua itu dan menanyakan kabarnya.
"Aku merasa lebih baik sekarang. Axelle, kau antarlah kekasihmu ini pulang ke rumahnya. Tidak baik langsung membawanya ke rumah sakit tanpa meminta izin orang tuanya. Lagi pula ini sudah subuh, kalian juga harus istirahat setelah perjalanan jauh tadi," ucap grandma Delila, ia tersenyum menatap Nurul yang terlihat gugup di hadapannya.
Axelle menoleh ke samping melihat seluruh keluarganya yang sedang duduk di sofa tanpa menyapa kehadirannya. Ia sedikit merasa aneh karena kali ini semuanya berkumpul di rumah sakit dengan formasi lengkap padahal grandma-nya masuk rumah sakit di waktu dimana mereka semua pasti sedang terlelap. Jangankan waktu tidur, waktu senggang saja mereka datangnya bergantian.
"Baik grandma, Axelle akan mengantar Nurul pulang dulu. Nanti Axelle akan kembali lagi," pamitnya.
"Saya permisi nyonya, semoga lekas sembuh," timpal Nurul.
Wanita tua itu tersenyum tipis dan mengangguk pelan, "Hati-hati di jalan," lirihnya.
Tanpa berpamitan pada anggota keluarganya yang lain, Axelle merangkul Nurul dan membawanya keluar dari ruangan tersebut. Agak aneh karena tidak satupun keluarganya menyapa Nurul padahal pertemuan pertama mereka dulu sangat berkesan bahkan mommy dan ayahnya saja sangat menyukai Nurul.
Mungkin mereka semua masih mengantuk.
Sepanjang menyusuri jalan di rumah sakit, Nurul terdiam. Ia sedang memikirkan satu persatu ekspresi keluarga Axelle begitu tadi mereka datang. Tidak ada sapaan dan juga sambutan untuknya dulu. Hal ini membuat Nurul curiga jika mereka tidak menyukainya. Sesuatu yang Nurul takutkan, ia tidak mau menjalin hubungan yang harus terhalang oleh restu dan ia tidak mau kembali patah hati lagi sehingga ia tidak memberikan jawaban pada Axelle lebih dini.
"Kenapa diam? Kamu mengantuk atau lelah?" tanya Axelle, ia pun sama memikirkan hal yang dipikirkan oleh Nurul namun ia tidak ingin berasumsi lebih dulu. Setelah mengantar Nurul pulang, ia akan menanyakan semuanya.
"Aku lapar," jawab Nurul namun sedetik kemudian ia langsung membekap mulutnya.
Axelle tertawa renyah dan wajahnya terlihat sangat tampan. Bisa Nurul lihat dari pancaran mata pria ini ada begitu besar cinta untuknya dan Nurul semakin takut terjerat dalam tatapan itu. Pria ini memang yang terbaik tapi Nurul sadar dirinya bukanlah wanita terbaik yang cocok bersamanya.
Andai gue ketemu lu lebih dulu sebelum Alvaro, mungkin nggak akan serumit ini. Mungkin gue bakalan berkata iya saat lu minta hati gue dan gue bakalan berkata iya juga saat lu ngajak gue buat menjalin hubungan serius. Lu itu pria terbaik yang gue kenal tapi gue juga punya pria terbaik versi gue yang nggak ada gantinya.
"Kalau gitu ayo kita cari makanan, kebetulan aku juga lapar," usul Axelle, pria tampan ini langsung menggandeng lengan Nurul. Pasca obrolan heart to heart mereka di pesawat, Axelle semakin mencintai Nurul dan takut jika wanita ini hilang dari jarak pandangnya.
.
.
Nurul tidak keberatan, entah mengapa ia belum ingin sampai ke rumah dan justru tadinya ia berniat pulang ke panti untuk mencari Bu Uswa dan menceritakan tentang pertemuannya dengan Alvaro. Namun ia urungkan karena nanti Aluna akan mencarinya sebab ia mengatakan akan langsung pulang ke rumah jika sudah sampai.
Waktu sudah menunjukkan pukul setengah enam pagi dan Axelle membelokkan mobilnya menuju ke kediaman keluarga Emrick. Petugas keamanan rumah keluarga Emrick langsung membukakan pintu gerbang agar mobil Axelle bisa masuk.
Nurul dan Axelle keluar dari mobil dengan Axelle yang kembali menggenggam tangan Nurul, menautkan jemari mereka seolah ia ingin mengatakan pada dunia jika wanita ini adalah miliknya. Nurul sendiri sebenarnya kurang suka dengan sikap posesif yang mulai ditunjukkan Axelle namun ia tidak menolak karena tidak ingin menyakiti perasaan Axelle apalagi mereka berada di rumahnya, Nurul takut kedua orang tuanya akan curiga jika mereka terlihat tidak akur.
Pintu rumah terlihat sudah dibuka karena memang setiap sholat subuh, Pak Deen akan keluar menuju masjid dan pintu rumah sudah tidak di tutup lagi. Nurul dan Axelle melenggang masuk dan mendapati di ruang tamu ada papa dan mama Nurul.
"Selamat pagi Ma, Pa," sapa Nurul.
"Selamat pagi Om, Tante," timpal Axelle.
Mata kedua orang tua Nurul berhenti pada jemari anaknya yang berada dalam jemari tangan Axelle. Keduanya saling berpandangan sarat akan makna terpendam dari tatapannya.
"Selamat pagi. Kalian berangkat jam berapa dari Jakarta?" tanya Pak Deen. Ia terus melirik ke arah tangan Axelle dan Nurul hingga akhirnya tangan itu saling melepas.
"Ya ampun Nurul, Axelle, dunia serasa milik kalian berdua ya. Bahkan sampai di dalam rumah masih gandengan, emang mau nyebrang?" ledek Bu Dianti yang membuat Axelle dan Nurul tersipu malu.
Sedangkan yang sedari tadi di kamar tamu sedang pasang telinga baik-baik mendengar percakapan mereka di luar. Hatinya sakit mendengar godaan yang dilemparkan oleh Bu Dianti. Ingin rasanya ia keluar namun ia masih menahan diri.
"Duduk dulu," ujar pak Deen.
"Maaf Om, lain kali saja. Saya harus kembali ke rumah sakit karena grandma sedang di rawat," tolak Axelle secara halus. Sebenarnya ia ingin sekali duduk dan mengobrol juga langsung melamar Nurul secara pribadi namun ia ingat keadaan grandma-nya saat ini sehingga ia tidak mau mementingkan dirinya sendiri.
Nampak wajah pak Deen terkejut, "Salam untuk nyonya Delila, semoga lekas sembuh," ucap pak Deen.
Axelle mengangguk, ia langsung berpamitan. Tak lupa ia mencium tangan kedua orang tua Nurul yang ia yakini sebentar lagi akan menjadi mertuanya. Lalu ia mengusap kepala Nurul dengan penuh kasih sayang hingga membuat Nurul tersipu malu di depan kedua orang tuanya.
"Aku pulang ya sayang, nanti aku telepon kamu. Jangan lupa istirahat," pesan Axelle sebelum ia keluar.
Dada Alvaro bergemuruh, ia tidak suka ada yang mengatakan cinta dan memanggil sayang pada Nurul selain dirinya. Merasa Axelle sudah tidak lagi berada di kediaman Emrick--sebab Alvaro sudah mendengar deru mobilnya menjauh, ia berniat keluar dan mengejutkan Nurul. Namun langkahnya kembali terhenti karena telinganya masih ingin mendengar percakapan anak dan orang tuanya itu.
"Apa hubunganmu dengan Axelle sudah sejauh itu?" tanya pak Deen dengan tatapan mengintimidasi, biasa dia adalah seorang pengacara dan berharap bisa mendapatkan jawaban jujur dari putrinya.
Nurul yang menunduk langsung mengangkat kepalanya dan menatap sang papa, ia menggeleng.
"Apa kau jatuh cinta padanya?" tanya Pak Deen lagi.
Nurul menggeleng pelan, "Aku tidak tahu Pa. Aku tidak tahu dengan perasaanku. Aku tidak punya jawaban untuk itu," jawab Nurul.
"Saran Papa, jauhi dia. Papa tahu dia baik dan kandidat paling sempurna untuk kamu. Tapi maaf membuatmu kecewa Nak, kami sebagai orang tuamu tidak merestui hubunganmu dengan Axelle!"
Nurul terkejut, bagaimana bisa orang tuanya tidak merestui padahal kemarin mereka begitu senang dengan hubungan dirinya dan Axelle.
Sedangkan pria yang sedari tadi mencuri dengan tidak hentinya mengacungkan kepalan tangannya ke atas sambil berkata "Yes" berulang kali.
"Ta-tapi kenapa Pa, Ma?" tanya Nurul gugup, padahal ia sudah bersedia jika harus menikah dan memulai kehidupan baru dengan Axelle sebagaimana kegigihan Axelle untuk mendapatkannya dan akan melindunginya, menjadi kekuatannya dan juga mencintainya dengan setulus hati.