GADIS TARUHAN ALVARO

GADIS TARUHAN ALVARO
Aku Percaya Kamu


Alvaro terkejut bukan main dengan ucapan Miranda yang mengajaknya bercinta. Jika dulu ia akan langsung mengiyakan maka entah mengapa saat ini hasratnya hilang. Mungkin karena lelah mencari Nurul, ataukah lelah karena pikirannya yang kini terbagi antara Nurul dan Miranda. Entahlah, Alvaro hanya merasakan ia benar-benar lelah.


"Kenapa diam? Kau juga ingin menolakku?" tanya Miranda dengan gurat kecewa.


Alvaro buru-buru menyadari kesalahannya, ia membelai rambut Miranda.


"Nggak gitu sayang. Aku bukannya mau nolak atau nggak dengerin kamu ngomong. Jujur saja hari ini aku lelah banget setelah prosesi wisuda tadi. Bahkan aku tadi sudah mempersiapkan tempat untuk kita makan malam seperti yang tadi pagi kamu bilang ke aku. Tapi kamu dalam kondisi kayak gini, kita batalin aja acaranya ya," ucap Alvaro dengan cepat mencari alasan agar Miranda tidak curiga padanya.


Biasanya gue jadi pemain handal, tapi kali ini gue bahkan nggak pintar hanya untuk membuat alasan. Hahh ... selamat Aina, lu udah berhasil buat gue jadi bego.


Mata Miranda membulat, ia baru menyadari sesuatu.


"Ya ampun sayang, maaf ya aku lupa soal itu. Mana aku belum ngucapin selamat buat kamu. Maafin aku ya, aku lebih mentingin diri aku ketimbang kamu," ucap Miranda merasa bersalah.


Alvaro tersenyum, "It's okay. Aku lebih baik nggak ngerayain itu ketimbang lihat kamu kayak gini. Lebih baik aku menemi kamu disini daripada kita keluar. Kondisi kamu nggak memungkinkan untuk itu. Masih ada hari lain," ucap Alvaro.


Miranda memeluk Alvaro. "Makasih sayang, kamu memang yang paling terbaik. Jangan pernah kecewain aku seperti Daddy. Aku percaya kamu," ucap Miranda dan ucapannya itu semakin menohok Alvaro.


Bagaimana ini?


Miranda menatap wajah Alvaro dan dengan cepat Alvaro merubah ekspresi wajahnya.


"Aku pikir kalau aku menengadah buat natap kamu, kamu bakalan langsung kiss aku. Hmmm." Miranda berpura-pura merajuk dan Alvaro sadar bahkan ia belum mencium Miranda sedari tadi.


Wah lu hebat Aina, lu bikin player kayak gue kehilangan hasrat setelah melakukannya sama lu.


Secepat kilat Alvaro menarik wajah Miranda dan memberikan ciuman panas di bibir Miranda. Miranda langsung membalasnya dengan gesit dan ciuman itu cukup lama dan berulang-ulang hingga tanpa sadar keduanya kini sudah berada di atas ranjang.


Awalnya Alvaro hanya berniat mencium Miranda agar kekasihnya itu tidak curiga atau marah padanya, namun Miranda dengan penuh semangat menyambut ciuman darinya dan akhirnya keduanya sampai di atas ranjang.


Alvaro mulai kehilangan sedikit demi sedikit akal sehatnya. Tangannya sudah mulai menjelajahi setiap inci tubuh Miranda tanpa melepaskan pagutan mereka. Ciuman Alvaro kini turun ke leher jenjang Miranda. Gadis itu mendesah kenikmatan dan itu membuat hasrat Alvaro semakin membara.


Kini seluruh tubuh mereka sudah tidak lagi tertutup sehelai benang pun. Kulit Miranda yang putih mulus kini dipenuhi dengan hiasan tanda cinta dari Alvaro. Keduanya terbuai akan kenikmatan yang merupakan jurang dosa bagi keduanya.


Alvaro bersiap untuk memasuki Miranda namun mendadak wajah Miranda berubah menjadi wajah Nurul yang ketakutan sedang berada di bawah kungkungannya. Alvaro mengusap wajahnya dan masih sama, wajah itu wajah malang Nurul.


****! Damn it!


"Kenapa sayang? Aku tidak tahan lagi. Mari kita lanjutkan," rengek Miranda.


Alvaro bergeming. Ia menatap langit-langit kamar sambil membayangkan Nurul serta merutuki dirinya yang menjadi aneh seperti ini.


Kini Miranda yang merasa diabaikan oleh Alvaro langsung naik ke atas tubuh Alvaro namun dengan cepat Alvaro menahannya.


"Ini bukan waktunya sayang. Aku sudah berjanji untuk tidak menyentuhmu sampai kamu menjadi istriku. Maaf karena aku kelepasan. Biar aku bantu pakai baju ya," ucap Alvaro yang langsung membaringkan Miranda di sampingnya sedangkan ia memunguti pakaian mereka di lantai.


"Aku bisa sendiri," ucap Miranda dengan kesal. Ia menarik pakaiannya dari tangan Alvaro dan buru-buru masuk ke kamar mandi.


Alvaro hanya bisa menatap penuh sesal pada Miranda.


"Sebenarnya gue ini kenapa sih? Miranda pasti marah dan kecewa. Tapi kenapa bayangan Aina menari-nari di pikiran gue seakan-akan dia ingin gue nggak nyentuh siapapun kecuali dia. Aina ... lu dimana sih? Lu baik-baik aja? Gue kangen ...."


Tak lama kemudian Miranda keluar dari kamar mandi dengan wajah di tekuk. Ia membelakangi Alvaro. Alvaro yang tanggap bahwa gadisnya ini tengah merajuk pun berusaha membujuk.


Alvaro duduk sambil mengelus-elus rambut Miranda. Ia sesekali menciumi pipi gadisnya hingga Miranda kegelian.


"Mending kamu pulang aja. Oh iya, dua hari lagi aku bakal balik karena kerjaan disini di percepat. Aku harap dalam dua hari ini kamu mau ngenalin aku sama orang tua kamu sebagai calon istri. Aku nggak mau kalau kita sampai berujung pisah. Aku takut kehilangan kamu, Varo. Aku tahu kita pernah ditentang, tapi aku yakin kali ini orang tua kamu pasti setuju. Aku bakal menerima syarat apapun dari mereka," ucap Miranda sambil memeluk tubuh Alvaro yang sedang duduk menghadap padanya.


What?!! Masalah Aina aja gue belum nemuin jalan keluarnya dan sekarang Miranda minta dikenalin sama mami dan papi? Ya ampun gue harus gimana? Belum lagi tadi mami dan papi dengar soal Aina di kampus. Gue pasti habis kali ini di tangan Papi.


"Aku pasti usahain untuk itu. Kamu baik-baik ya disini. Kalau ada apa-apa langsung hubungi aku. Aku pamit dulu," ucap Alvaro kemudian ia menciumi pipi Miranda.


"Aku tunggu kabar dari kamu. Aku harap secepatnya karena aku akan balik dua hari lagi. Kalau kita dapat restu, aku janji bakal ninggalin pekerjaan aku dan membayar penalti atas kontrak yang sudah aku tandatangani," ucap Miranda.


Alvaro tersentak namun ia tidak tahu harus berkata apa. Disatu sisi Miranda siap kembali padanya dan meninggalkan pekerjaannya. Sedangkan disisi lainnya ia siap berjuang untuk mengembalikan Nurul ke sisinya. Ia benar-benar pusing dan bingung entah harus melakukan apa.


Alvaro mengangguk sambil tersenyum kemudian ia pergi meninggalkan kamar Miranda dalam keadaan kacau, pikirannya juga perasaannya.


Andai satu tahun yang lalu lu bilang kayak gini ke gue, gue pasti akan sangat bahagia. Tapi hari ini entah mengapa gue nggak bahagia. Gue berharap lu masih terus berada di sana untuk waktu yang lama. Andai dulu lu nggak ninggalin gue dan bikin gue patah hati, gue pasti nggak bakalan terjebak dalam situasi ini. Gue nggak bakalan terjebak dalam jebakan cinta yang gue buat sendiri.


Sepeninggalan Alvaro, Miranda bangkit dari tempat tidurnya kemudian ia mencari ponselnya. Ia mencari nomor kontak seseorang dan langsung meneleponnya.


"Gue lagi butuh lu sekarang. Lu bisa datang ke kamar gue? Gue lagi nggak baik-baik aja," ucap Miranda kemudian ia menutup teleponnya.