GADIS TARUHAN ALVARO

GADIS TARUHAN ALVARO
155


Plaakk ...


Sebuah tamparan keras membentur pipi Tara ketika ia yang sedang membawa minuman di atas nampan tak sengaja menabrak seorang karyawati karena ia merasa kepalanya sedikit pusing.


Nona Karin -- wanita yang ditabrak Tara itu tidak terima karena minuman yang dibawa oleh Tara tumpah dan mengenai roknya. Karena kesal ia pun menampar pipi Tara dengan keras hingga pipi putih mulus yang selalu kemerah-merahan saat Ikram menggodanya itu semakin memerah dan meninggalkan jejak jari Karin disana.


"Dasar office girl sialan! Berani sekali kau menabrakku dan menumpahkan minuman itu di rok mahal ku. Kau pikir gajimu sebulan bekerja disini bisa mengganti rok ini?" bentak Karin, ia tidak puas menampar wajah Tara dan kini ia kembali memarahinya.


Tara hanya diam menundukkan kepalanya, ia sedang menahan rasa pusing yang membuatnya tidak fokus dan hampir jatuh saat berjalan. Daripada mendengar ocehan Karin, Tara lebih memilih menenangkan pikirannya dan juga perasaannya yang entah mengapa sejak tadi begitu aneh.


"Bukannya minta maaf, kau hanya diam saja. Dasar wanita tidak berguna!" teriak Karin kemudian ia menjambak rambut Tara.


Tara meringis kesakitan berusaha untuk melepaskan cengkraman Karin dari rambutnya tetapi ia tidak kuat karena tubuhnya saat ini terasa begitu lemas.


"Nona maafkan saya, saya akan mengganti kerugian anda," ucap Tara mengiba, ia tidak tahan lagi dengan gejolak di dadanya yang seolah mendorong untuk dikeluarkan.


"Apa kau bilang, mengganti? Hahaha ... Gajimu saja tidak cukup untuk makan, bagaimana kau akan mengganti rokku ini? Oh ya, atau mungkin kau punya uang dari hasil merayu pria kaya dengan tampang polosmu ini?" tuding Karin, kini semua mata karyawan yang berlalu-lalang di sekitar mereka fokus menatap Tara.


"Anda bicara apa nona?" bantah Tara, ia tidak terima dengan ucapan Karin barusan.


"Aku bicara fakta. Asal kalian tahu saja, wanita ini selalu keluar masuk ruang bos Ikram, aku yakin dia pasti menggoda bos Ikram dengan tampang polosnya dan juga menjual dirinya. Aku sering menyaksikannya keluar dari ruangan bos Ikram dengan wajah lelah dan juga masih ada jejak-jejak percintaan di tubuhnya!" teriak Karin dengan lantang.


Para karyawan mulai terprovokasi, bisikan-bisikan yang menjelek-jelekkan Tara mulai terdengar. Tara tidak peduli karena saat ini ia hanya ingin mengeluarkan isi perutnya yang sedari tadi membuatnya merasa sangat pusing.


Hueeekk ....


Akhirnya Tara memuntahkan isi perutnya dan tepat jatuh di sepatu Karin.


Karin memekik kuat begitu isi perut Tara berceceran di sepatu mahalnya, bahkan Tara yang sudah tidak punya tenaga untuk berlari ke toilet terus saja memuntahkan isi perutnya di tempat itu.


"Air," lirih Tara namun tidak ada yang membantunya memberikan air, kebanyakan dari mereka sibuk merekam Tara yang muntah-muntah dan Karin yang kini melepas sepatunya dan hendak ia lemparkan ke wajah Tara yang pucat.


Tara yang sedang membungkukkan tubuhnya itu hampir saja terkena lemparan sepatu dari Karin jika saja Nurul tidak datang menahan tangan Karin.


"Kau apa-apaan? Berani sekali melempar sepatu pada nyonya muda keluarga Elard?" bentak Nurul yang sangat kesal melihat perlakuan karyawan Ikram terhadapn istri bosnya sendiri.


"Anda bicara apa nona? Jangan mengada-ngada!" bentak Karin tidak mau kalah.


Tara berusaha melerai, namun ia yang sudah tidak memiliki tenaga langsung jatuh ke pelukan Nurul.


"Tara!" teriak Ikram yang berlari keluar dari lift dengan wajah yang tidak bisa dijelaskan lagi.


Ia segera mengambil Tara dari pelukan Nurul karena ia tahu Nurul tidak akan kuat menopang tubuh istrinya sebab tubuh Nurul dan Tara pun tak jauh berbeda.


"Ikram, sebaiknya kau cepat bawa istrimu ke rumah sakit. Kau ini bagaimana sih, punya istri bukannya dimanjain malah tetap dibiarin kerja jadi cleaning service!" gerutu Nurul, ia sudah sangat menyayangi Tara seperti adiknya sendiri semenjak mereka berkenalan dan menjadi dekat.


"I-istri?" pekik seluruh karyawan yang ada di sekitar mereka. Apalagi Karin, dia sangat syok berat mendengar ucapan Nurul.


"Oh ya, kau jangan lupa untuk memberi peringatan pada karyawanmu. Bukannya menolong, mereka malah diam dan menonton saja istrimu diperlakukan buruk oleh karyawan lainnya. Jika saja itu Alvaro, maka sudah habis mereka dipecat! Atau kau mau aku membantu memecat mereka?"


Semua yang ada di tempat itu langsung menunduk saat melihat tatapan membunuh dari Ikram. Terlebih lagi Karin yang saat ini lututnya terasa begitu lemas.


"Aku akan menemui kalian sebentar lagi. Sampai terjadi sesuatu dengan istriku, maka kalian yang akan menanggung akibatnya!" ancam Ikram yang membuat seluruh karyawannya semakin tidak berkutik.


Nurul melirik tajam pada semua karyawan yang baru saja mengangkat pandangan mereka. Ia sangat tidak suka jika ada orang lain menganiaya sesama hanya karena kesalahan kecil apalagi sesama wanita.


Di dalam mobil Ikram sangat gelisah karena ini pertama kalinya ia melihat Tara pingsan. Ia takut istri kecilnya itu mengidap penyakit serius sedangkan mereka akan menggelar resepsi pernikahan kurang dari seminggu lagi.


Dengan kecepatan tinggi, mobil Ikram melintas di jalan dan kurang dari waktu rata-rata mereka sudah sampai di rumah sakit. Ikram meletakkan Tara di atas brankar yang langsung di dorong oleh para perawat.


Tak lupa Nurul mengabari Alvaro jika ia berada di rumah sakit. Karena kabar yang setengah-setengah dari Nurul, Alvaro yang sedang memimpin rapat langsung menutup rapat tersebut sebab mendengar istrinya masuk rumah sakit. Dengan gila ia menyetir mobil hingga sampai di rumah sakit dimana Nurul berada.


Di depan ruang UGD ...


"Kenapa kau memelihara karyawan berwajah iblis seperti itu sih? Lihat adik kecilku masuk rumah sakit karena ulahnya!" gerutu Nurul pada Ikram yang sedang gelisah dan mondar-mandir di depan ruang UGD.


"Ya aku tidak tahu kalau sampai ada kejadian seperti ini," jawab Ikram.


"Harusnya kau antisipasi dan biarkan Tara berhenti bekerja. Atau kau mau aku menculiknya darimu dan aku bawa ke rumah mertuaku?" sergah Nurul yang membuat langkah Ikram terhenti.


Ikram berdecak, ia tidak tahu harus berkata apa pada Nurul yang tiba-tiba menjadi begitu menyebalkan. Nurul yang ia kenal adalah pribadi yang lebih banyak diam mendengarkan dan juga lembut dalam berbicara.


"Kau bilang aku suamu tidak berguna? Kau kenapa menyebalkan sekali sih? Jika bukan istri sahabatku dan bukan sahabatku juga maka sudah aku lakban mulutmu itu. Berhenti bicara dan mengoceh, diam!"


Satu detik ...


Dua detik ...


Tiga detik ...


"Huaaa ... Ikram, kenapa kau begitu jahat dan membentakku. Akan aku laporkan kau pada Alvaro. Huhuu ...."


Ikram dibuat tercengang dengan Nurul yang tiba-tiba menangis. Apalagi menangisnya semakin kencang saat ia berusaha membujuk Nurul.


Ayolah, dia sedang gelisah menunggu kabar dari dokter tentang kondisi istrinya dan sekarang ia harus direpotkan dengan Nurul yang mendadak menangis dan membuat orang-orang yang lewat menatap curiga pada mereka.


Dengan cepat Ikram membekap mulut Nurul yang tidak mau berhenti menangis namun sayang sekali Ikram salah perhitungan hingga akhirnya Nurul menggigit tangan Ikram.


"Nurul Aina Emrick! Lu udah gila ya!" pekik Ikram sambil mengibaskan tangannya yang terasa panas setelah digigit Nurul.


Tak jauh dari tempat Nurul dan Ikram berdiri, sosok yang memiliki paras tampan namun wajahnya dan penampilannya terlihat acak-acakan itu bergegas menghampiri mereka. Wajahnya menjadi tegang saat mendapati istri tercinta sedang menangis di depan sahabatnya sedangkan Ikram justru terlihat sedang memarahinya.


"Bro, lu apain istri gue? Kenapa dibikin nangis gini? Bosan hidup lu?" cecar Alvaro ya langsung membawa Nurul ke dalam pelukannya.


Ikram berdecak kesal, jika pasangan gila ini sudah berkumpul itu tandanya sebentar lagi ia akan semakin dibuat pusing. Ia yang sedang resah memikirkan nasib istrinya di dalam ruangan itu justru malah dibuat semakin kacau dengan tingkah laku pasangan suami istri yang menurutnya semakin hari semakin gila.


"Yang pria cabul ini apain kamu?" tanya Alvaro khawatir, ia kemudian memeriksa seluruh tubuh Nurul.


"Huhuu ... dia bentak aku Yang," jawab Nurul semakin menangis di dada suaminya.


Ikram rasanya ingin menangis mendengar aduan Nurul, dengan cepat ia mengusir pasangan suami istri gendeng itu. Alvaro tidak sempat membuat perhitungan, ia mengajak Nurul untuk pergi tetapi Nurul tidak mau karena ia masih menunggu kabar dari dokter mengenai kondisi Tara.


"Gue bisa stress kalau kalian berdua disini. Harusnya kalian itu hibur gue, bukan malah bikin gue tambah stres!" ucap Ikram kesal.


Alvaro kemudian menanyakan Ikram tentang apa yang terjadi sebelumnya, Ikram pun menjelaskan sedetail mungkin mulai dari kantor hingga mereka sampai di rumah sakit.


"Emang sih, beberapa hari ini dia mendadak jadi galak. Kalau di tegur eh dia malah nangis kejer. Aneh, 'kan?" ungkap Alvaro, ia berani berkata seperti itu karena saat ini Nurul sudah tertidur di dada bidangnya walaupun sambil berdiri.


Setiap kali Nurul menangis, maka Alvaro akan mendekapnya dan dalam hitungan detik Nurul pasti langsung tertidur dalam dekapannya.


Alvaro pun membawa Nurul duduk di kursi tunggu dan ia merebahkan kepala Nurul di pundaknya.


"Aneh sih, dia bukan orang yang kayak gitu, 'kan?" timpal Ikram dan Alvaro mengangguk.


Alvaro kembali menceritakan keresahannya dengan perubahan sikap Nurul. "Gue bahkan searching di internet bro. Jangan sampai istri gue punya gebetan baru. Perubahan sikapnya ini ada di artikel tanda-tanda pasangan berselingkuh Bro," celetuk Alvaro yang langsung digeplak kepalanya oleh Ikram.


"Lu kelewat bego ya!" cibir Ikram yang tidak tahu harus menanggapi seperti apa cerita Alvaro barusan.


Saat Alvaro hendak membuka suara, pintu ruangan UGD terbuka dan dokter yang tadi memeriksa Tara pun segera keluar. Ikram langsung mendekatinya.


"Bagaimana keadaan istri saya dok? Istri saya sakit apa?" tanya Ikram dengan raut wajah tegang.


Dokter tersebut tersenyum, "Dari hasil pemeriksaan kami, istri anda tidak sedang sakit melainkan sedang mengandung dan usia kandungannya sekitar tiga minggu. Dan untuk lebih jelasnya sebaiknya anda membawa istri anda ke poli kandungan. Selamat ya Pak, saya permisi dulu. Istri anda sudah bisa dijenguk," ucap dokter tersebut.


Ikram seolah terpaku di tempat ia berdiri. Ucapan dokter tersebut sangat jelas ia dengar tetapi ia seolah tidak bisa mempercayainya hingga suara Alvaro membuyarkan lamunan Ikram.


"Bro, itu istri lu hamil. Cepat tengok dan selamat ya sebentar lagi lu bakalan jadi bapak," ucap Alvaro turut bahagia.


"Hamil? Tara hamil? Kok bisa?" lirih Ikram.


Alvaro langsung memasang wajah datar, "Ya bisa lah, 'kan tiap hari lu kungkungin. Kalau lu nggak ninaninu sama dia ya dia nggak bakalan hamil. Gimana sih lu!" ucap Alvaro sewot.


Satu detik ...


Dua detik ...


Tiga detik ...


"Bro, istri gue hamil bro. Dan sebentar lagi gue bakalan jadi ayah," teriak Ikram heboh kemudian ia bergegas masuk ke dalam ruang UGD.


Alvaro hanya bisa menatap datar punggung Ikram yang mulai masuk ke dalam ruang UGD. dalam hati ia mencibir sahabatnya, itu bisa-bisanya seorang Ikram Ben Elard lambat dalam berpikir.