
Axelle dan Nurul berpamitan, ia hendak mengantar Nurul ke rumah Flora seperti yang diinginkan Nurul. Padahal dulu itu hanya alibi semata, tujuannya sudah tercapai. Ia sudah mengeluarkan isi hatinya dan yang paling penting ia sudah tahu juga tentang perasaan Alvaro. Juga keinginannya untuk memeluk Alvaro, justru Alvaro yang memeluknya. Nurul sudah senang, ia sudah bersyukur dan ia tidak ingin apa-apa lagi. Semua hal yang terjadi tadi sudah lebih dari cukup untuknya.
Bukankah cinta yang murni itu tidak harus memiliki. Mencintainya dan membiarkan dia bahagia dengan pilihannya adalah kasta tertinggi dalam mencintai seseorang. Ketika kita mendamba seseorang tapi tidak bisa kita miliki, hanya ikhlas yang bisa dilakukan. Merelakannya bersama pilihannya asalkan dia bahagia dan ya, walaupun diri sendiri merana tapi bukankah ketika kita mencintai kita harus siap tersakiti?
Nurul harus bersikap bijak dalam hal ini. Ia tidak mau memaksa, cukup baginya pernah dicintai Alvaro dan ia juga sudah membawa sebagian dari Alvaro untuk hidup dengannya, Aluna. Alvaro tidak perlu tahu tentang anaknya dan biarkan berjalan seperti sebelumnya dimana ia dan Aluna hanya mereka berdua saja.
Sekarang di dalam mobil Nurul sedang dilema, haruskah ia ke rumah Flora atau mencari tempat beristirahat. Hatinya saat ini sedang ingin merasa tenang. Jika ia menemui Flora dan sahabatnya itu akan mencecarnya dengan ribuan pertanyaan, Nurul tidak siap. Ia benar-benar hanya butuh ketenangan. Tapi apakah ia harus kembali berbohong pada Axelle.
Nurul bingung.
Axelle sendiri fokus pada ponselnya sambil sesekali melirik Nurul yang diam melamun. Ada ribuan tanda tanya di benaknya tetapi ia bukan siapa-siapa yang harus mengutarakan semua pertanyaan itu. Ia terus menekankan bahwa dia dan Nurul sebatas partner kerja, tidak lebih walaupun sesungguhnya ia ingin lebih.
"Nurul, bagiamana kalau kita makan siang dulu. Ini bahkan sudah lewat waktu makan siang, sudah jam tiga sore," ajak Axelle, ia tidak menemukan ide lain untuk membuka pembicaraan. Mungkin saja jika Nurul setuju makan dengannya maka ada kesempatan untuknya bertanya.
Nurul menoleh kemudian ia mengangguk pelan, "Boleh, aku juga sudah lapar," jawabnya sambil tersenyum kecil. Sadarkah Nurul senyumannya itu mampu mengobrak-abrik hati seseorang.
"Oke. Pak kita ke restoran terdekat ya," ucap Axelle pada sopirnya.
"Baik tuan muda."
Kebisuan kembali terjadi hingga mobil itu memasuki area restoran. Barulah ketika keduanya turun, Nurul dan Axelle terlibat percakapan lagi walaupun agak kaku. Axelle juga meminta sang sopir untuk turun dan makan siang.
Sesampainya di dalam restoran, pelayan langsung datang memberikan buku menu dan Nurul tidak tertarik untuk memesan satupun selain air putih. Ia menyerahkan semuanya pada Axelle karena pria ini lebih tahu makanan restoran. Nurul bukan orang yang picky akan makanan ataupun minuman kecuali makanan dan minuman itu tidak halal baginya.
"Mari makan," ucap Axelle begitu makanan dan minuman sudah tersedia di atas meja mereka.
Nurul tersenyum hangat kemudian mengangguk. Axelle sedikit heran karena wanita yang ia kenal begitu judes dan tidak pernah jika tidak membalas ucapannya walaupun itu ucapan pedas kini justru irit bicara. Ia yakin sesuatu telah terjadi dan hal itu yang memicu Nurul menjadi lebih pendiam.
"Uhhh ...." Nurul melenguh, tangan kanannya terasa sakit begitu ia mulai menggerakkan memotong makanan.
Axelle yang hendak memasukkan sesuap makanan ke mulutnya langsung meletakkan kembali sendoknya dan menatap Nurul yang terlihat meringis.
"Kenapa?" tanyanya, sebisa mungkin Axelle tidak menunjukkan jika ia sedang panik saat ini.
Nurul menghela napas, "Tanganku terasa sakit, mungkin karena tadi terkena pisau dan lukanya masih cukup terasa," jawab Nurul jujur.
Tuh 'kan!
Axelle kini mengambil piring Nurul dan membantu memotong-motong daging di piringnya. Ia sesakali melirik Nurul yang terlihat malu karena sikap Axelle barusan.
"Aku yang membawamu ke tempat ini, semua hal sudah menjadi tanggung jawabku termasuk memberitahukan insiden ini pada keluargamu. Aku tidak ingin memulangkanmu dalam keadaan seperti ini tanpa penjelasan. Aku yang akan bertanggung jawab," ucap Axelle menegaskan dan ia sudah memasang tampang tidak ingin dibantah.
Nurul memalingkan wajahnya ke arah lain, ia cukup tersanjung dengan sikap Axelle barusan. Ia mulai berpikir apakah setelah ini ia akan bermain hati dengan pria ini? Pria 99% ini, bisakah menggantikan Alvaro di hatinya?
Nurul langsung menepis pikirannya barusan, sungguh tidak mungkin ia bersama pria arogan nan pemarah ini. Pria yang nyaris sempurna sungguh tidak layak mendapatkan perempuan yang memiliki masa lalu kelam seperti dirinya. Keluarga besar Farezta pasti tidak akan setuju jika tahu Nurul pernah hamil dan memiliki anak di luar nikah. Mereka tentu tidak mau mendapatkan skandal dari calon nyoya Musa Farezta. Masih banyak perempuan yang lebih baik darinya bahkan jauh lebih baik.
Eh, kenapa gue malah baper gini? Ada-ada aja sih pikiran gue ini. Mentang-mentang gue patah hati berat dan baru saja menyalurkan kerinduan gue sama Alvaro dan sekarang gue udah mau buka hati lagi. Yang benar saja! Nggak boleh dan nggak mungkin. Hmmm ... sampai sejauh ini pun gue masih berharap bisa bersatu dengan Alvaro walaupun gue tahu dan sangat sadar itu nggak mungkin! Nurul sadar dong, jangan nyiksa diri sendiri.
Axelle menjentikkan jarinya di hadapan Nurul yang sedari tadi ia panggil tapi tidak di respon. Nurul terkejut lalu ia menunduk malu karena kedapatan melamun. Dalam hati ia berharap semoga Axelle tidak tahu jika yang tengah dilamunkannya adalah dia.
"Lagi mikirin apa? Aku panggil-panggil nggak direspon," tanya Axelle.
Nurul sedikit kesulitan mencari alasan, "Aku sedang merindukan Aluna," jawabnya sedikit berbohong karena memang ia sudah merindukan putrinya itu setelah bertemu dengan ayahnya.
Axelle tersenyum, "Kamu memang seorang ibu yang baik. Dia pasti juga sedang merindukanmu. Bagaimana kalau nanti kita belanja buat oleh-oleh Aluna. Dia pasti senang. Nanti setelah sampai di hotel, kamu bisa meneleponnya. Dia pasti menunggu," ucap Axelle sambil tersenyum manis.
Dia pasti sangat cocok jadi ibu dari anak-anakku. Oh ya ampun mikir apa aku, hihi.
Dari kejauhan seorang pria sedang mengamati interaksi keduanya. Hatinya terasa ngilu begitu melihat Nurul yang menunduk malu sedangkan Axelle tersenyum manis menatapnya. Sebuah pemandangan yang sangat menyakitkan matanya juga hatinya. Ia selalu berharap jika dirinya yang selalu ada di posisi itu, bukan pria yang lain.
"Nurul, andai lu tahu kalau sampai detik ini gue juga masih cinta sama lu terlepas lu udah jadi bekas Alvaro. Gue nggak masalah karena yang gue mau itu adalah lu, bukan sekadar tubuh lu. Tapi untuk bersaing dengan seorang Daniyal Axelle Farezta gue nyerah," gumam Kriss sambil terus mengawasi Nurul dan Axelle.
Kriss awalnya tidak melihat keduanya datang, hingga akhirnya ia tak sengaja menoleh ke arah meja mereka dan melihat Nurul bersama Axelle. Ia sempat terkejut karena tahu jika Nurul sedang berada di Jakarta. Ia was-was, jangan sampai Nurul bertemu dengan Alvaro dan menanyakan soal anak yang waktu itu pernah ia beritahukan pada Nurul. Mereka tentu saja akan dengan mudah kembali bersama.
Ponsel Kriss berdering, seseorang yang sedari tadi ia tunggu-tunggu untuk menghubunginya akhirnya memberi kabar.
"Bagaimana?" tanya Kriss.
"Sorry bos, dua kali kami mencoba mencelakai nyonya Prayoga tapi dua kali juga ada yang menolongnya. Dua-duanya juga cewek cantik bos."
Kriss meremas ponselnya karena kesal rencananya meneror keluarga Prayoga gagal lagi. Ia langsung mematikan ponselnya, ia harus mengambil tindakan lain dan harus ia pastikan berhasil. Misi balas dendam ya harus terlaksana.
Dari meja Axelle dan Nurul, keduanya sudah menghabiskan makanan mereka. Keduanya sama-sama kenyang dan hendak kembali ke mobil. Namun sebelum mereka kembali terjebak dalam kebisuan di dalam mobil, Axelle berinisiatif untuk menanyakan pertanyaan yang sedari tadi tertahan di tenggorokannya.
"Oh ya Nurul, kamu kenal sama Alvaro Genta Prayoga?"
Deggg ....