
Lelah fisik tidak seberapa bagi Axelle tapi lelah hati yang membuatnya begitu malas mengerjakan pekerjaan kantor yang begitu banyak dan bertumpuk di atas meja kerjanya. Ia sebenarnya tidak ingin datang ke kantor mengingat ia dan keluarganya saat ini sedang bersitegang pasca mereka menolak merestui hubungannya dengan Nurul. Namun Axelle sadar jika masalah hati tidak boleh dilibatkan dalam urusan pekerjaan. Ia harus tetap profesional dan mengesampingkan urusan pribadi saat bekerja.
Nyatanya walaupun fokus memeriksa dokumen, tetap saja otak Axelle lebih memikirkan Nurul oh lebih tepatnya memikirkan mengapa seorang Alvaro Genta Prayoga bisa ada di rumah Nurul sepagi itu. Hal ini membuat Axelle tidak memiliki minat untuk bekerja. Ia lebih ingin menemui Nurul saja.
Axelle mengambil ponselnya, ia sudah merindukan Nurul sejak tadi mereka berpisah. Ia ingin mendengar suara wanitanya itu. Panggilan tersebut tersambung tapi belum mendapatkan jawaban. Axelle tidak menyerah, ia lagi dan lagi menelepon Nurul.
"Ada apa?"
Suara ketus itu justru membuat Axelle melebarkan senyumannya. "Tidak ada. Cuma rindu," jawab Axelle yang akhirnya geli sendiri dengan ucapannya barusan.
"Oh."
Axelle menggenggam erat ponselnya.
Cuma oh?
Tak habis akal, Axelle kembali mencari topik pembicaraan agar ia bisa berlama-lama mendengar suara Nurul. Ia menanyakan Nurul sedang apa dan dijawab sekenanya tanpa bertanya balik, Axelle oke-oke saja. Ia menanyakan kabar juga dijawab baik dan Axelle iya-iya saja.
"Boleh aku kesana?"
Nah, pertanyaan ini justru tidak mendapat jawaban dan panggilan tersebut terputus. Axelle tergelak, wanita yang ia cintai ini memang menguji kesabarannya tapi anehnya semakin ketus jawaban dan sikap Nurul padanya, semakin ia menyenangi wanita beranak satu itu. Axelle bahkan lupa jika tadi ia sedang dalam keadaan kacau. Baginya, mendengar suara Nurul saja sudah menjadi mood booster untuknya. Sudah cukup, ia tidak minta apapun lagi asalkan Tuhan memberikan Nurul untuknya.
Axelle mengambil telepon yang ada di atas mejanya dan menekan nomor yang langsung mendapatkan jawaban dari seberang.
"Ringgo, batalkan semua meetingku hari ini. Aku sedang ada urusan penting diluar," ucapnya kemudian ia menutup telepon dan bergegas berdiri dari kursi kerjanya.
Axelle membetulkan jasnya, ia harus mengecek penampilannya sebelum menemui sang pujaan hati. Begitu ia keluar, Ringgo langsung mencegatnya dan menanyakan tuannya ini hendak kemana tapi Axelle tidak menjawab dan hanya menyuruhnya mengurus beberapa pekerjaan lainnya selagi ia pergi.
Kayaknya tuan Axelle sedang jatuh cinta.
Ringgo hanya bisa mengangguk dan mengantarkan Axelle hingga ke mobilnya. Axelle sendiri tidak ingin menggunakan jasa sopir, ia ingin menyetir sendiri agar bisa berduaan dengan Nurul.
Mobil yang Axelle kemudikan itu sampai di rumah keluarga Emrick. Nurul yang sedang bersama Aluna keluar dari rumah langsung kaget mendapati Axelle yang turun dari mobil sambil berjalan mendekatinya.
"Mau kemana?" tanya Axelle yang melihat Nurul yang menggandeng Aluna keluar.
"Kenapa datang?"
Nah, Axelle harus menambah lapisan kesabaran di hatinya menghadapi Nurul. Ia yang bertanya bukannya di jawab malah ditanya balik dan pertanyaannya itu cukup membuat Axelle gemas.
"Salah kalau datang ke rumah calon mamah dari anak-anak gue?" Lagi, Axelle justru melempar pertanyaan.
Nurul memutar bola matanya jengah. "Nyesal gue, nyesal udah curhat ke elu. Mendadak songong ya!" cibir Nurul dan Axelle–pria 99% sempurna itu hanya mengangkat bahunya saja.
Daripada berdebat dengan Nurul yang membuat hatinya nyesek itu, Axelle beralih menatap Aluna. Lagi, ia menatap bocah itu dengan intens dan menyamakan wajahnya dengan nyonya Yani prayoga.
Benar-benar mirip!
Ada yang sesak di dada Axelle begitu ia membandingkan kemiripan Aluna dengan anggota keluarga Prayoga namun dengan cepat ia mengusir rasa galaunya itu.
Walaupun Alvaro benar masa lalu Nurul, aku nggak takut. Toh dia itu hanya pria masa lalu dan hanya akan menjadi masa lalu. Aku yang akan menjadi masa depan Nurul.
"Halo Aluna, masih ingat om Axelle?" sapa Axelle sambil mengelus rambut Aluna yang diikat dua.
"Ingat dong om ganteng. Oh iya, Aluna dan bunda mau ke panti. Om ganteng antelin kita ya. Mau 'kan, om?"
Dengan cepat Axelle mengiyakan keinginan bocah tersebut sedangkan Nurul langsung mendengus.
"Paling bisa ya ngambil kesempatan dalam kesempitan!" sindrinya dan Axelle menatapnya dengan tatapan 'bodoamat!' asalkan bisa bersama Nurul dan Aluna.
Dengan cepat Axelle menggandeng Aluna masuk ke dalam mobil dan membiarkannya duduk di jok belakang sedangkan ia membukakan pintu di jok depan untuk Nurul. Namun Axelle harus menggaruk kepalanya yang tidak gatal ketika Nurul justru maju selangkah dan masuk di jok belakang bersama Aluna.
Axelle menggigit bibir bawahnya merasa gemas dengan sikap Nurul. Mau protes pun tidak bisa, ia terlalu cinta pada wanita ini. Saat Axelle memutar untuk masuk ke dalam mobil, Nurul terkekeh geli. Ia memang sengaja mengerjai Axelle. Cukup menyenangkan membuat pria arogan dan pemarah itu menjadi bego karena jatuh cinta.
Baru kali ini gue ngerasa udah bikin seseorang jadi bego karena jatuh cinta ke gue.
Andai saja Nurul tahu, empat tahun yang lalu ada pria yang benar-benar jadi bego, bikin malu dan memalukan, hampir gila dan nyaris depresi karena dirinya, mungkin ia tidak akan pernah berpikir untuk lari atau berpikir untuk main hati dengan pria lain.
"Berasa jadi sopir ya," sindir Axelle yang membuat Nurul tertawa.
Oh God! Dia ketawa aja udah bikin jantung ini degdegan. Cantik banget sih makhluk ciptaan-Mu yang satu ini.
Di dalam mobil Aluna banyak berceloteh bersama Axelle dan Nurul hanya menjadi pendengar yang baik untuk keduanya. kadang-kadang ia menimpali percakapan mereka tapi ia lebih banyak diam dan merenung.
Apakah Axelle bisa menjadi ayah yang baik untuk Aluna?
Apakah keluarga Axelle mau menerima Aluna?
Apakah mereka nantinya akan melenggang ke pelaminan?
Apakah ia dan Axelle akan berujung indah?
Dan masih banyak kata apakah di benak Nurul. Ia sebenarnya sangsi akan hubungannya dengan Axelle nanti. Entah mengapa Nurul tidak bisa mempercayakan hatinya pada Axelle, seolah-olah ada yang menekan perasaannya.
Mobil mewah Axelle berhenti di depan panti dimana ada banyak mobil sudah berjejer di halaman yang cukup luas itu bersamaan dengan satu mobil mewah yang juga berhenti di sampingnya.
Nurul dan Aluna keluar bersamaan dan Axelle langsung menjemput mereka dan menggandeng Aluna. Ia merasa senang dan sangat menyukai sikap dan sifat Aluna yang periang dan cerewet.
Merasa menjadi tuan rumah di panti, Nurul berinisiatif untuk menyambut tamu yang baru datang bersamaan dengan mereka. Axelle pun ikut menyambutnya dan mereka bertiga terlihat seperti sebuah keluarga bahagia dengan Aluna yang berada di gendongan Axelle.
Dari dalam mobil, seseorang yang niatnya dihindari justru berdiri tegak dengan tatapan yang sulit diartikan ketika melihat pemandangan di depannya ini. Hatinya seolah diiris belati dan disiram dengan perasan air jeruk nipis lalu ditaburi garam. Perih!
Mata Nurul pun bertabrakan dengannya, ia bisa menangkap kekecewaan dan kesakitan dalam tatapan itu. Nurul tahu, posisinya saat ini tidak enak dengan Axelle yang menggendong Aluna dan terlihat begitu posesif pada putrinya.
Aleesha yang keluar dari mobil pun hatinya langsung ngilu melihat pemandangan di depan matanya. Ia melirik Alvaro yang terlihat sedang gemetar menahan rasa sakit. Aleesha merasa iba dengan nasib adiknya. Ia tidak tahu jika Nurul sudah memiliki kekasih dan sialnya itu adalah Daniyal Axelle Farezta, pria kaya raya dengan nol skandal dalam kehidupannya. Aleesha hanya bisa berdoa dalam hati semoga Alvaro kuat dalam menghadapi keadaan ini.
Kok hati gue ngilu ya?
Lama bertatapan dengan Nurul dan melihat anaknya berada di gendongan saingannya, Alvaro langsung menegakkan kepalanya. Ia harus lebih santai menghadapi situasi ini. Ia pun mengajak Aleesha untuk masuk diikuti oleh baby sitter dan keponakannya itu.
Mata Axelle dan Alvaro saling bertatapan. Alvaro melempar senyuman tipis padanya dan beralih pada Nurul yang ia tatap dengan begitu datar hingga membuat hati Nurul meradang.
"Boleh pinjam Aluna sebentar? Gue sebagai papinya nggak suka anak gue digendong sembarangan orang!"