
Bruukk …
Cici hampir saja jatuh jika Keenan tidak menahan tubuhnya. Ia yang berlari karena ketakutan tidak melihat dengan baik hingga Keenan yang baru saja keluar dari lorong toilet itu bertabrakan dengannya.
"Sorry …" lirih Cici, ia kemudian hendak pergi tetapi Keenan langsung menarik tangannya. "Ada apa?" tanya Cici, ia merasa kurang nyaman bersama Keenan karena dulu ia dan Aluna pernah menjadikan cowok di hadapannya ini sebagai bahan taruhan.
Keenan tersenyum sinis. "Lu temannya Aluna, 'kan? Gue juga tahu lu pernah kerja sama dengan Leon buat misahin Aluna dengan Frey. Nah … sekarang apa lu mau kerja sama dengan gue untuk hal yang sama? Leon udah kasih tahu gue kalau lu itu cinta berat sama Frey," ucap Keenan, ia merasa yakin jika Cici akan menerima tawarannya.
Cici terdiam sesaat, ia mencoba menelisik wajah Keenan. Ia tahu ini adalah tawaran yang bagus karena mantan partner in crime-nya – Leonardo Shan itu sudah pindah sekolah. Dan mengingat tentang ia yang sudah diketahui oleh Riani, sepertinya ia harus menyusun rencana lain agar tidak ada yang mencurigainya.
Namun jika bekerja sama dengan Keenan yang begitu membenci bahkan membayar banyak siswa-siswa untuk merundung Frey di sekolah, Cici sangsi bisa bekerja sama dengan cowok ini. Keenan bukan hanya ingin merebut Aluna tetapi juga menghancurkan Frey. Sedangkan Leon dulu hanya ingin merebut Aluna saja, berbeda dengan Keenan yang memiliki maksud tertentu pada Frey yang entah apa, karena sejak kedatangan Keenan di sekolah, Leon pindah sekolah dan rahasia keluarg Frey terungkap.
Andaikan bisa, Cici ingin menjadi pelindung Frey. Berdiri di garis terdepan untuk melerai semua cercaan juga hinaan yang diterima oleh Frey. Namun ia tidak memiliki keberanian itu karena ia masih ingin menyimpan rapat rasa cintanya ini sampai nanti waktunya tiba ia akan mengungkapkan dan juga membuktikannya pada Frey.
"Gue nggak bakalan maksa lu, hanya saja tawaran gue ini adalah yang terbaik. Tenang aja, selama lu jadi partner gue, lu nggak bakalan kenapa-napa. Bodyguard gue yang sangat banyak buat ngelindungan lu dari keluarga Prayoga maupun keluarga Elard …"
Hati Keenan terasa begitu sesak ketika ia mengucapkan marganya sendiri yang selama ini tidak pernah ia gunakan atas perintah dari ayahnya sendiri. Akhirnya Keenan tahu apa alasannya, ternyata di negara yang tepatnya di kota ini, ia masih memiliki keluarga dari pihak ayahnya. Dan ternyata pula memiliki masa lalu yang begitu rumit dengan menyisakan dendam yang belum juga usai hingga saat ini.
Padahal akan sangat menyenangkan jika memilki banyak saudara yang bisa berbagi cerita dan juga bermain bersama. Namun hubungan persaudaraan mereka dihalangi oleh dendam masa lalu yang Keenan sendiri sebenanya tidak terlibat dalam hal ini.
"Ya udah iya, tapi yang pertama gue pengen lu urus Riani. Gue nggak suka sama dia dan dia adalah penghalang terbesar gue," ucap Cici menerima tawaran Keenan karena saat ini orang yang paling ia benci adalah Riani yang mencoba untuk membongkar semua rahasianya.
Keenan tersenyum. "Pilihan yang bagus!"
Namun sayang, rencana keduanya selalu saja gagal dan gagal bahkan sebulan mereka melakukan penyerangan secara fisik maupun mental terhadap dua sasaran mereka itu, akan tetapi selalu saja berhasil digagalkan oleh Riani dan juga Frey.
Keenan sendiri tidak berani menyentuh Frey secara langsung karena ia tidak ingin merasakan pukulan dari Frey. Ia hanya menyuruh beberapa siswa untuk merundung Frey, akan tetapi semua berakhir sama ... para siswa-siswa itu terluka akibat ulah Frey.
Dan apakah Frey yang menghajar para siswa-siswa suruhan Keenan tersebut, jawabannya adalah bukan dirinya. Frey sama sekali tidak menyentuh mereka karena ia melakukan taktik yang sama dengan Keenan. Baginya, Keenan sangat pengecut karena hanya bisa bersembunyi dibalik orang-orang suruhannya.
Frey tahu jika tujuan Keenan sebenarnya adalah membuat Frey menyerang banyak anak-anak di sekolah mereka hingga berakhir Ia yang dihukum. Atau bahkan dikeluarkan dari sekolah dan yang paling-paling fatal adalah ia akan dimasukkan ke dalam penjara anak.
Namun dengan cerdasnya Frey juga meminta anak-anak yang dibayar oleh Keenan tersebut untuk tidak menyerangnya dan jika mereka tetap melakukannya maka Frey mengancam akan membawa banyak preman kenalannya untuk menghabisi mereka satu per satu.
"Ini masalah gue sama Keenan. Kalau kalian masih sayang nyawa, berhenti menjadi kacung dia. Uang yang dia berikan pada kalian tidak sebanding dengan setiap hembusan napas yang kalian punya," ucap Frey ketika siswa-siswa suruhan Keenan itu hendak menyerangnya.
"Apa kalian lupa kalau gue ini anak penjahat? Kalian pasti tahu seberapa banyak pembunuh bayaran yang gue kenal. Apakah kalian berniat mendaftarkan nama kalian dalam list target?"
Hingga satu bulan itu berlalu dan rencana Keenan tetap tidak berhasil menyerang Frey maupun Riani sebab kekasih Riani yang merupakan seorang TNI angkatan darat itu selalu menjaganya dengan banyak mata-mata yang tentunya sangat berguna untuk menggagalkan rencana Cici dan Keenan.
.
.
Di dalam kelas saat ini suasana sedang gaduh, itu semua dikarenakan Cici dan Riani yang sedang beradu argumen. Awalnya mereka masih berdebat masalah pelajaran dimana saat ini mereka sedang melakukan diskusi bersama kelompok masing-masing dan kali ini giliran Riani yang bertanya pada kelompok penyaji yang kebetulan kelompok Cici.
Awalnya memang masih seputar tema diskusi, namun karena keduanya sama-sama saling membenci, Riani terus menyerang dengan memberikan pertanyaan dari setiap jawaban yang diberikan Cici.
"Lu itu sebenarnya niat nanya atau sekadar ngetes gue doang? Atau lu itu sebenarnya ada dendam pribadi sama gue, hah? Nggak masuk akal banget dari pertanyaan lu muncul banyak pertanyaan baru dan masing-masing lu minta contohnya," protes Cici.
"Gue benar bertanya dan ini memang pertanyaan dari kelompok gue. Lu aja yang sensitif sama gue. Kenapa lu, masalah pribadi jangan diturut campurkan dalam pelajaran. Lagi pula di kelas ini nggak ada Frey yang bakalan lirik lu yang sok cerdas. Biar juga lu cosplay jadi Aluna, lu nggak bakalan bisa mendapatkan hati Frey. Makanya jangan jadi pengkhianat. Lu nggak lihat kerja sama para pahlawan untuk mendapatkan kemerdekaan dan lu jadi penikmat perjuangan mereka malah jadi musuh dalam selimut. Stop pengkhianat! Merdeka!!"
Suara teriakan Riani diikuti oleh teman-teman sekelas. Aluna sendiri justru asyik menonton jalannya perdebatan antara Cici dan Riani. Ia begitu senang sekali melihatnya bahkan ia sama sekali tidak memberikan tanggapan untuk melerai sebagai siswi yang paling cerdas di kelas ini setelah Frey pindah.
"Ayo Cici, ayo Riani, jambak-jambakannya mana?" teriak Aluna yang membuat satu kelas terdiam.
"What?!" pekik Cici dan Riani bersamaan.
"Lho ... gue maunya kalian jambak-jambakan lho. Ini mah nggak seru kalau nggak ada aksi baku hantam. Ayo dong Ci, Riani, kalian kayaknya seru dan keren banget kalau berkelahi. Please ...."
Ucapan Aluna tersebut justru dianggap sebuah teguran secara tak langsung oleh guru mereka. Ia kemudian melerai Cici dan Riani karena mata pelajaran akan segera berakhir dan waktu diskusi pun sudah selesai.
Riani menatap Aluna dengan tatapan membunuh saat gadis yang bukan lagi gadis itu justru menangis karena Riani tidak menjambak rambut Cici. Kebetulan di kelas sudah tidak ada guru lagi karena baru saja keluar sebab jam mata pelajaran telah selesai.
Riani menghela napas, ia kemudian berjalan ke arah dimana Cici berdiri dan dengan cepat ia menarik rambut Cici seraya berteriak, "Aluna, apakah seperti ini yang lu mau?"
Aluna bertepuk tangan, "Iya. Ayo Ci, balas Jambak Riani!" teriak Aluna begitu senang.
Dan akhirnya terjadi aksi jambak-jambakan antara Cici dan Riani sedangkan Aluna begitu senang menjadi penonton dan bahkan ia duduk di atas meja sambil menyemangati keduanya.
Dari luar kelas, Frey menggeleng-gelengkan kepalanya melihat bagaimana Aluna bersenang-senang di atas penderitaan teman-temannya.