
Bu Dianti membuka pintu ruang kerja suaminya sambil membawa minuman dan camilan. Sudah beberapa jam suaminya itu bersibuk dengan pekerjaannya sedangkan ia sudah menidurkan cucunya, Aluna. Hari semakin sore dan suaminya belum juga keluar padahal setelah makan siang ia sudah masuk ke dalam ruangan tersebut.
"Pa, sibuk banget ya?" tanya Bu Dianti setelah meletakkan nampan yang ia bawa, ia mendaratkan bokongnya di kursi di hadapan suaminya.
Pak Deen yang sedang membaca berkas itu mengangkat kepalanya, ia menatap lembut pada sang istri lalu memberikan senyuman tipis. "Ada beberapa dokumen yang sedang papa pelajari, Ma. Aluna dimana?"
"Dia sudah tidur sejak tadi Pa. Untunglah dia tidak rewel dan mencari bundanya. Papa minum dulu, mama udah buatin teh," ucap Bu Dianti.
Suaminya itu mengangguk, ia melepaskan sebuah berkas kemudian mengambil secangkir teh. Keduanya sama-sama menikmati teh hangat dan juga camilan.
Bu Dianti yang melihat ada hal aneh dari raut wajah suaminya pun bertanya, "Pa, ada apa?"
Pak Deen menggeleng kecil, "Papa sedang bingung saja Ma. Ini salah satu anggota keluarga Griffin meminta pihak kita menjadi pengacara untuk memperebutkan harta turun temurun mereka. Dan mama tahu 'kan kalau Safira Griffin itu istrinya Ben Elard, sahabat papa? Mereka itu tidak akur. Dan papa harus gimana?" jelas pak Deen sambil menunjukkan berkas yang ia maksud.
Bu Dianti yang membacanya pun terkejut. Ia tidak menyangka serumit ini permasalahan harta keluarga Griffin. Ia tahu kalau Safira Magdalena Griffin itu adalah pewaris tunggal sedangkan Kriss Griffin ini hanyalah cucu angkat dari anak angkat keluarga Griffin. Bagaimana mungkin mereka menuntut hak sedangkan mereka bukanlah pewaris. Sudah untung keluarga Griffin masih mau memberikan mereka beberapa aset dan juga diizinkan mengelola beberapa bisnis untuk mereka dengan hasil dibagi dua dengan Safira Griffin.
Ia menghela napas, ternyata perebutan harta itu akan terus ada, bersyukurlah ia karena hanya memiliki satu saudara dan mereka tidak saling berebut harta warisan karena sudah memiliki bagiannya masing-masing.
"Tunggu apa lagi sih Pa, telepon Ben dan katakan masalah ini. Sepertinya Kriss Griffin ini tidak tahu kalau papa berteman baik dengan Ben," seru Bu Dianti, ia selalu geram kalau masalah perebutan harta yang menjadi kasus yang akan ditangani oleh suaminya.
Pak Deen melepas cangkirnya kemudian ia meraih ponselnya yang ada di atas meja. Istrinya benar, ia harus menghubungi Ben Elard dulu sebelum menyetujui menghandle kasus ini. Ia tidak mau menjadi pengacara untuk membela orang yang salah walaupun seperti itulah pekerjaannya sebagai pengacara–bertugas membela kliennya entah benar atau salah.
Panggilan terhubung, namun belum mendapatkan jawaban. Pak Deen tidak menyerah, ia kembali menghubungi sahabatnya itu untuk yang ke empat kali dan akhirnya panggilannya disambut.
"Halo Deen, sorry tadi gue lagi nggak megang hp. Ada apa nih?" sambut Ben Elard yang kini sedang duduk di sofa di dalam kamarnya sambil merangkul sang istri, Safira Magdalena Griffin.
Pasca kasus Kriss menembak Alvaro dan Ikram tempo hari dan akhirnya terkuak rahasia dibalik sikap Ben yang selalu main perempuan padahal semuanya itu tidak benar, hubungan pasangan suami istri ini semakin harmonis dan selalu bersama kemanapun.
"Ada hal penting yang harus gue omongin sama lu," jawab pak Deen.
"Oke, gue mendengarkan!"
Pak Deen pun mulai menceritakan tentang berkas masuk dari seorang klien yang menghubungi Danish untuk meminta bantuan dari firma hukum mereka untuk merebut harta warisan milik keluarga Griffin. Ia menjelaskan bahwa kliennya itu tidak bertemu dengannya melainkan dengan Danish yang memang tidak tahu seluk beluk keluarga Griffin dan tidak begitu tahu jika Ben Elard dan Safira Griffin adalah sahabatnya. Danish sudah menerima berkas dan tinggal menunggu pertemuan selanjutnya untuk menyetujui kerja sama ini.
Ben Elard yang mendengarkan panjang lebar penjelasan sahabatnya–Deen Emrick itu menjadi geram. Ia pikir selama ini mereka sudah jera setelah ia memberikan ultimatum dan setelah sebagian besar usaha milik keluarga Griffin diambil alih oleh Ikram. Tapi ternyata di belakang mereka diam-diam sudah menyusun strategi untuk merebut kembali harta tersebut. Tentu saja hal ini semakin membuat Ben Elard naik darah. Rahangnya mengeras serta tangannya yang menggenggam ponsel tersebut kini semakin kuat meremas benda pipih tersebut.
"Pasti. Gue bakalan nunggu anak lu datang. Dia langsung ke rumah gue aja, nggak usah lu suruh tinggal di hotel atau penginapan. Kalau gitu gue mau lanjut pelajari berkas dari Kriss Griffin ini. Nanti kalau anak lu udah otewe kasih tahu gue. Biar orang suruhan gue yang jemput dia," pinta Pak Deen.
"Oke, thanks bro."
Panggilan tersebut berakhir, namun raut wajah penuh amarah seorang Ben Elard masih tersisa dan itu membuat Safira menerka-nerka ada masalah serius apa hingga suaminya yang sudah jarang marah ini kembali tersulut emosi.
Beberapa tahun ini semenjak Ikram mengambil alih kuasa mengurus kerajaan bisnis mereka, Ben Elard melakukan pengobatan tentang penyakitnya pada beberapa psikiater hingga ke luar negeri dan membuahkan hasil yang baik. Safira senang dengan rumah tangga mereka yang semakin hari semakin harmonis dan suaminya itu tidak lagi marah, membawa perempuan lain atau menindas para saingan bisnis maupun karyawannya sendiri. Bisa dibilang Ben Elard sudah tidak lagi mencampuri bisnis, semua sudah dilimpahkan pada Ikram dan untung saja anaknya itu bisa mengurus semuanya dengan baik dan sesekali ia membantu walau tidak turun tangan langsung.
Dan kini, wajah bengis suaminya itu kembali terlihat. Safira takut, ia tidak mau suaminya kembali seperti dulu lagi–menjadi manusia tidak berperasaan. Ia jelas ingat julukan sang suami–iblis berwujud pengusaha. Safira tidak mau dan tidak rela jika suaminya kembali seperti itu lagi.
"Mas, sebenarnya ada apa?" tanya Safira khawatir. "Deen ngomongin soal apa?" imbuhnya.
Mendengar suara lembut namun sarat akan kekhawatiran dari istrinya langsung membuat wajah Ben melembut. Ia tahu istrinya saat ini khawatir cenderung takut.
"Lagi-lagi keponakan angkatmu itu membuat ulah, sayang. Bagaimana bisa dia meminta Danish Emrick membantunya merebut harta warisan milik keluarga Griffin. Cari mati dia!" jawab Ben sambil mengelus rambut istrinya yang sebahu itu.
Mata Safira terbelalak, ia tentu lebih terkejut daripada Ben tadi. Ia pikir semuanya sudah baik-baik saja dan mereka sudah puas karena Safira membagi dua harta warisan tersebut beberapa tahun yang lalu karena ia tidak ingin ada pertengkaran hingga pertumpahan darah hanya karena yang. Safira memilih mengalah tapi nyatanya mereka justru tidak puas dan ingin lebih. Benar-benar definisi orang tamak yang tidak tahu terima kasih.
"Mereka benar-benar keterlaluan, mas. Kalau tahu akan seperti ini sekalian aja aku nggak usah kasih mereka harta itu. Biar mereka jadi gelandangan aja. Aku kok nggak senang ya Mas, aku udah baikin mereka tapi ini balasannya," ucap Safira yang tidak tahu bagaimana caranya mengekspresikan kemarahannya. Wajahnya justru terlihat sangat menggemaskan di mata Ben.
Istrinya ini adalah wanita paling lembut dan tidak tahu marah. Wajar jika Ben merasa gemas dengan sikap Safira yang bermaksud marah tetapi justru tidak terlihat marah. Ia tersenyum kemudian mengecup lembut pelipis istrinya.
"Kamu tenang aja, aku akan menyuruh Ikram berangkat ke Kalimantan malam ini. Deen akan membantunya mengurus masalah ini. Biar Ikram yang menghadapi Kriss," ucap Ben, ia merebahkan kepalanya di bahu Safira, "Semua akan baik-baik saja," bisiknya.
Safira mengangguk, ia yakin dan selalu yakin jika suaminya sudah berkata seperti itu maka semuanya pasti akan terselesaikan dengan baik.
"Sekarang kamu istirahat, aku harus ke kantor untuk membahas masalah ini dengan Ikram. Sekalian menyuruhnya agar bersiap, biar aku yang menghandle urusan kantor sementara waktu dan kamu tentu harus selalu ikut denganku. Aku tidak bisa jauh darimu sedikitpun. Oke darling?"
Wajah Safira terasa panas, pipinya memerah. Walau sudah begitu lama berumah tangga nyatanya ia masih muda tersipu malu setiap kali Ben menggodanya. Ben sendiri, ia suka melihat reaksi Safira kala ia menggodanya.
Aku tidak akan membiarkan siapapun merusak kebahagiaan keluargaku. Siapapun kalian yang berusaha menyakiti keluargaku baik secara fisik maupun hati dan mental, bersiaplah untuk di bumi hanguskan.