GADIS TARUHAN ALVARO

GADIS TARUHAN ALVARO
109


Alvaro memandang Nurul yang juga tengah memandangnya. Setelah perdebatan dengan Danish yang panjang kali lebar kali tinggi tadi akhirnya disinilah mereka bertiga, di dalam kamar Nurul bersama Aluna. Alvaro tidak menyangka jika harapannya akan terkabul secepatnya. Semua berkat Aluna, putrinya itu seolah tahu apa yang ia inginkan.


Keinginan Aluna tidak bisa Alvaro bantah karena ini pun adalah keinginannya. Dalam hati Alvaro memuji putrinya, ia yakin ketika mereka bersama nanti Aluna pasti akan sama persis seperti dirinya entah dari wajah maupun dari sifatnya.


Kita satu server Nak, lu emang anak gue. Siapa dulu dong papinya, Alvaro Genta Prayoga!


Alvaro memandang Nurul yang sedang mengusap rambut Aluna yang kini perlahan-lahan mulai menutup matanya. Alvaro tersenyum, mereka terlihat seperti keluarga yang lengkap dan bahagia.


"Ya Tuhan, nikmat mana lagi yang gue dustakan," ujar Alvaro, membuat Nurul menatap aneh padanya.


Malam ini pun rasanya Alvaro tidak ingin tidur, ia ingin menghabiskan waktu bersama dua perempuan yang ia sayangi dan cintai ini. Ia ingin puas memandang wajah Nurul dan ingin terus mendekap Aluna sepanjang malam plus bundanya.


Bahagia sudah pasti. Bersama Nurul adalah impian Alvaro sejak lama dan kini mereka sudah bertiga, Alvaro berharap mungkin secepatnya mereka bisa berempat. Bibir itu terus dan terus saja menyunggingkan senyuman, membuat Nurul heran. Tapi mau heran, dia adalah seorang Alvaro Genta Prayoga. Aneh bin ajaib, tidak perlu heran lagi.


"Lu dari tadi senyam-senyum, nggak mikir yang aneh-aneh 'kan?" tegur Nurul.


Alvaro yang tengah menikmati wajah tidur Aluna itu kini beralih menatap ke arah Nurul. "Ck, istri gue si ayang ini selalu saja berpikiran buruk ke suaminya ini. Nggak kok," ucap Alvaro yang membuat Nurul seakan ingin muntah.


"Istri? Lu waras 'kan? Nggak lagi ngigau, 'kan?" cibir Nurul dan Alvaro tidak peduli.


"Aina sayangku, lu nggak lihat keadaan kita sekarang udah kayak suami istri beneran? Kenapa sih, lu nggak suka gue panggil istri karena kita belum nikah? Ya udah, ijab qobul sekarang pun gue sanggupin deh!"


Bantal yang tadinya Nurul peluk kini beralih membentur kepala Alvaro. Bantal itu melayang karena dilempar oleh Nurul yang merasa kesal pada setiap ucapan pria tengil ini. Segampang itu dan bagaimana bisa Alvaro tidak bosan mengucapkan hal-hal aneh itu setiap saat. Entah datang darimana semua pemikiran nyeleneh pria ini.


Alvaro menyeringai, ia yang tadinya sedang berbaring menyamping menghadap Aluna kini duduk dan menatap Nurul dengan tatapan yang membuat Nurul bergidik ngeri.


"Wah si ayang udah main lempar bantal aja nih. Kenapa sih, mau ngajak gue perang bantal terus kita main bantal-bantalan? Udah siap nih sekarang? Gas lah," celetuk Alvaro dan Nurul langsung turun dari ranjang itu dan berjalan menjauh.


"Alvaro Genta Prayoga! Jangan macam-macam!" pekik Nurul.


Alvaro berdecak, "Nggak bakalan. Gue nggak mungkin macam-macam sama lu. Cuma satu macam kok 'yang," ucap Alvaro yang membuat Nurul makin kesal.


Alvaro menepuk tempat tidur dimana tadi Nurul berada, ia mengajak wanita itu untuk kembali ke tempat tidur dan ia menggelengkan kepalanya, "Gue nggak bakalan ngulangin kesalahan yang sama ke elu. Lu tahu gue cinta sama lu, nggak bakal gue jadi pria bego lagi dan akhirnya gue bakalan kehilangan lu lagi. Lu jangan takut, gue nggak bakalan apa-apain lu sekarang. Tapi gue nggak tahu deh sebentar, jangan sampai gue khilaf."


Tadinya, tadinya Nurul terharu dengan ucapan Alvaro tersebut namun ia mendadak tersedak ludahnya sendiri begitu mendengar kalimat penutup dari Alvaro. Nurul menyesal sudah terharu dan memuji pria itu dalam hati beberapa detik yang lalu. Jika bisa ucapan itu ditarik maka Nurul akan langsung menariknya kembali.


Alvaro selalu saja tidak bisa ditebak dan selalu saja merusak suasana. Entah kapan Alvaro akan serius, Nurul tidak yakin pria ini bahkan mampu menjalin hubungan yang serius dengan seorang wanita.


Tapi Alvaro bahkan mengejarnya sampai di rumah ini. Rela dipukuli dan rela ditindas oleh sang kakak demi dirinya. Apakah itu adalah salah satu hal yang serius yang pernah Alvaro lakukan? Nurul takut menerka-nerka.


Alvaro turun dari ranjang, ia mendekati Nurul. Nurul yang gugup dan takut jika Alvaro khilaf padanya pun dengan refleks berjalan mundur. Alvaro maju beberapa langkah dan Nurul pun mundur selangkah demi selangkah hingga akhirnya punggungnya membentur dinding. Nurul tidak bisa lari lagi karena Alvaro sudah mengurungnya dengan kedua tangan yang ia letakkan di samping kiri dan kanan Nurul.


"Alvaro lu mau apa?" tanya Nurul gugup.


Cup ….


Sebuah kecupan hangat dan lembut mendarat di dahi Nurul.


"Jangan khawatir, gue serius. Nggak bakalan gue ngelakuin hal bodoh yang bikin gue kehilangan lu. Lu adalah tujuan hidup gue, kalau gue sampai kehilangan lu ya untuk apa gue hidup jika tidak punya tujuan. Lu bisa bilang omongan gue ini gombal, gue akuin pun emang iya. Tapi ini sungguh dari dalam hati gue Aina. Lu nggak bisa gitu ngeraba hari gue? Gue dulu pernah bego karena gengsi mau bilang kalau emang gue udah jatuh cinta sejak pertama kali gue lihat lu walau lu jutek abis ke gue. Hingga akhirnya lu pergi saat gue menyadari semua rasa cinta itu buat lu. Dan lu pikir gue bakalan ngelakuin hal itu lagi, nggak bakalan. Gue udah tobat Aina, gue kapok kehilangan lu. Gue cinta sama lu!"


Alvaro hanya menyunggingkan senyuman melihat Nurul yang tidak berkata apapun padanya. Namun dengan pipi Nurul yang memerah itu sudah cukup membuat Alvaro puas. Ia tahu cintanya terbalaskan hanya saja wanita di depannya ini memang belum siap mengutarakannya. Alvaro siap menunggu sampai Nurul sendiri yang datang padanya dan mengatakan cinta itu.


"Oh ya, pose kita saat ini sangat pas ya? Kita berdiri romantis kayak gini bikin gue berdiri juga. Emang kalau dekat lu bawaannya gue selalu berdiri. Mending kita jangan kayak gini deh, gue khawatir nggak bisa nahan. Mending lu tidur," ucap Alvaro yang harus jujur pada Nurul daripada wanitanya itu mendadak marah karena dia yang tiba-tiba tidak bisa menahan diri lagi.


Nurul meringis pelan, "Lu ya! Tapi gue nggak bisa tidur," ucap Nurul kemudian ia memalingkan wajahnya.


Nurul tidak kuat melihat wajah tampan Alvaro walau dari jarak sedekat ini. Jantungnya berdebar-debar tidak karuan. Ia dan Alvaro memang pernah dekat da sangat dekat. Kulit mereka pernah bersentuhan secara langsung dan mereka bahkan pernah melakukan penyatuan, tapi Nurul tetap saja tidak kuat walau hanya ditatap Alvaro. Nurul tidak bisa mengontrol debarannya saat ia berada di jarak yang begitu dekat dengan pria tengil ini. Nurul takut pingsan.


Sial! Si ayang kenapa sih harus malu-malu gitu. Bikin gue nggak bisa nahan kalau begini. Dia marah nggak ya kalau malam ini gue kungkungin? Tapi jelas marah lah! Ya Tuhan … gue harus gimana? Udah empat tahun gue puasa dan sekarang hidangan buka puasa ada di depan gue dengan tempat yang strategis tapi masa gue harus nambah jam puasa gue. Gue nggak kuat!


Nurul menepis tangan Alvaro yang menahannya di dinding. Ia harus kabur sebelum terjadi sesuatu yang sama-sama mereka inginkan. Nurul memang saat ini sedang membayangkan mereka berdua akan bermesraan tapi dengan cepat ia menepis pemikirannya tersebut, ia tidak mau mengulang kesalahan yang sama.


Alvaro berjalan mengikuti Nurul ke tempat tidur. Ekor mata Nurul mengisyaratkan agar Alvaro berada di sisi kiri Aluna dan ia sendiri berada di sisi kanan Aluna.


"Ayang, mending lu tidur deh. Nggak usah begadang," pinta Alvaro, semakin lama Nurul terjaga maka semakin kuat pula hasrat Alvaro untuk menyentuh Nurul.


"Ini lu dari tadi nyuruh gue tidur. Lu aja yang tidur!" ketus Nurul.


"Lu mau tidur sekarang atau lu mau gue tidurin? Milih yang mana?"


Nurul langsung menarik selimut dan merebahkan dirinya dengan selimut yang menutupi seluruh tubuhnya. Alvaro terkekeh pelan, ia kemudian turun dari tempat tidur dan berjongkok di samping Nurul. Perlahan ia menarik selimut tersebut dan kini ia dan Nurul saling bertatapan.


Alvaro mengecup lembut dahi Nurul dan mengucapkan kata selamat tidur. Nurul mengangguk kemudian ia tersenyum kecil padahal tadi ia begitu ketakutan.


Nurul heran sendiri namun tidak jadi heran karena yang ia hadapi ini adalah Alvaro Genta Prayoga.


Alvaro menarik kursi dari meja rias dan duduk di samping ranjang Nurul. Ia mengusap lembut rambut Nurul sambil bersenandung kecil. Nurul terkekeh, keduanya terlihat seperti seorang ayah yang tengah meninabobokan anaknya.


"Lu tidur atau mau gue cium!" ancam Alvaro padahal ia pun hanya bercanda namun siapa sangka Nurul dengan secepat kilat mengangkat kepalanya dan mengecup pipi Alvaro.


Alvaro terkejut kemudian tangannya menyentuh pipi yang baru saja dikecup Nurul. Ia tersenyum miring, tatapannya kini beralih menatap Nurul yang saat ini sudah berbaring memunggunginya.


Sial! Dia berdiri tegak lagi padahal bukan keadilan! Aina, lu tanggung jawab nih, harus!


Nurul berbalik badan karena merasa tidak ada pergerakan dari Alvaro. Kedua mata mereka saling bertatapan, Nurul kemudian duduk dan ia langsung memeluk Alvaro.


"Gue sayang sama lu," bisik Nurul yang kini bersandar di dada bidang Alvaro.


Mata Alvaro berkaca-kaca. Sudah di kecup pipinya, di peluk tubuhnya dan kini Nurul berkata kalau ia juga menyayanginya. Nikmat mana lagi yang Alvaro dustakan.


Alvaro membalas pelukan tersebut, ia bahkan berulang kali menggumamkan kata sayang dan cinta untuk Nurul.


Suasana romantis itu buyar begitu saja manakala pintu kamar Nurul diketuk dengan kuat.


"Dek, kamu baik-baik aja, 'kan? Si penjahat kelamin itu nggak ngapa-ngapain kamu di dalam, 'kan Dek?" teriak Danish dari luar.


Alvaro berdecak, "Hei kakak ipar lucknut! Gue nggak mungkin lah ngelakuin yang aneh-aneh sama adik lu. Nggak usah ganggu deh! Dasar jomblo!" teriak Alvaro tak mau kalah.