
Di dalam mobil tak hentinya Nurul menangis juga mengerang kesakitan. Ini begitu sakit bahkan lebih sakit dari patah hatinya terhadap Alvaro. Bu Uswa dan Bu Dianti yang berada di sisi Nurul pun turut membantu menenangkan Nurul. Kedua tangan Nurul menggenggam erat tangan mereka bahkan keduanya merasa sakit tetapi tidak berani mengeluh.
Di tengah rasa sakitnya, ia masih sempat mengingat wajah tengil pria yang sudah menghamilinya. Betapa Nurul sangat ingin Alvaro ada di sisinya di saat-saat seperti ini. Namun sayang itu hanya ia pendam dan ia tahu ini adalah salahnya karena memilih diam daripada menyelesaikan masalah.
Sedangkan di tempat lain, Alvaro yang tadinya sedang tertidur pulas mendadak terbangun karena merasakan perutnya seperti melilit dan begitu sakit. Ia bahkan mengeluarkan keringat sebesar biji jagung dan ia kesulitan hanya untuk bangun bersandar di tempat tidurnya. Ia melirik jam di dinding dan melihat ini baru pukul sebelas malam. Ia tidak tahu harus menahan rasa sakit ini sampai berapa lama.
"Mengapa tiba-tiba menjadi sakit seperti ini? Gue nggak makan yang aneh-aneh, lalu ada apa ini?" gumam Alvaro sambil memegangi perutnya yang terasa begitu sakit.
Alvaro merasa seperti akan pingsan karena tidak sanggup menahan rasa sakitnya. Ia hanya bisa mengatur pernapasannya dan berharap sakit ini segera pergi dan ia bisa kembali tidur.
Mobil yang ditumpangi Nurul pun sampai di depan rumah sakit dan para perawat langsung bergegas membawakan kursi roda pada Nurul untuk segera di bawa ke ruang bersalin. Tak berselang lama mereka sampai, pak Deen dan Danish juga sampai dengan membawa peralatan bersalin milik Nurul.
Mereka segera bergegas masuk ke dalam ruang bersalin namun hanya Bu Uswa dan Bu Dianti saja yang diizinkan untuk masuk dan menemani persalinan Nurul. Dokter Aleesha yang menangani kehamilan Nurul pun mulai melakukan pemeriksaan.
"Pembukaan enam. Sebentar lagi kamu akan melahirkan, usahakan jangan melakukan pergerakan yang membuatmu kelelahan karena ketika proses mengejan nanti kamu membutuhkan banyak tenaga. Ketika sakitnya datang, tarik napas dan keluarkan lewat mulut," ucap dokter Aleesha.
Sedikit banyak Nurul sudah paham dengan prosesi persalinan. Ia sudah banyak menonton video, ikut kelas ibu hamil dan juga banyak membaca buku serta artikel terkait persalinan.
Dokter Aleesha juga menjelaskan jika persalinan Nurul kali ini mungkin akan berisiko mengingat bayi yang ada di kandungan Nurul itu memiliki Rhesus berbeda dengannya. Dan karena mereka sudah pernah melakukan tes golongan darah ada janin Nurul pun dokter Aleesha yang menyodorkan dirinya untuk mendonorkan darah setelah mereka melakukan pendeteksian dini untuk anemia pada bayi.
Dokter Aleesha yang bersiap mendonorkan darah pun tidak membantu Nurul untuk persalinan melainkan dokter lain yang akan menggantikannya.
Tiga jam lamanya Nurul menunggu dengan kesakitan yang tiada tara hingga pembukaan lengkap dan ia siap mengejan.
"Dok, sebelum saya mengejan, apa boleh saya berteriak sekali saja?" tanya Nurul.
Dokter bingung karena ia takut akan ada risiko dari tindakan tersebut. Tetapi karena pasiennya memaksa maka Nurul pun diizinkan untuk berteriak.
"ALVARO GENTA PRAYOGAAAA!!!"
Seakan merasakan panggilan seseorang, Alvaro yang tadinya sudah bisa tidur pun kembali terbangun. Dadanya terasa sesak, air matanya menetes dan ingatannya langsung tertuju pada Nurul.
"Dimana pun lu, gue berdoa semoga lu selalu baik-baik aja, gue sayang sama lu," lirihnya.
Dokter Aleesha yang baru saja hendak masuk ke ruang persalinan Nurul terkejut karena ia seperti mendengar seseorang meneriaki nama adiknya. Ia pun mencari keberadaan sang adik namun tidak menemukan siapa-siapa. Di depan ruang persalinan tidak ada pak Deen ataupun Danish karena keduanya tadi pergi untuk mencari pendonor untuk Nurul tetapi karena tadi Bu Dianti menelepon dan mengatakan bahwa sudah ada pendonor maka keduanya saat ini sedang berada dalam perjalanan kembali ke rumah sakit.
"Aku saja yang salah dengar," gumam dokter Aleesha kemudian ia masuk ke dalam ruang persalinan.
Dengan penuh perjuangan Nurul melahirkan bayinya. Bahkan ia sempat kehabisan tenaga dan hampir saja pingsan jika tidak diberi semangat oleh kedua ibunya dan juga suster yang memberikannya suntikan agar Nurul kembali kuat untuk mengejan.
Kepala bayi Nurul pun tadi sempat tertahan di pintu lahir ketika Nurul merasa seakan dirinya akan menutup mata. Namun disisa-sisa tenaganya, ia akhirnya bisa melahirkan bayinya dengan selamat.
Perawat yang membantu persalinan langsung meletakkan bayi Nurul ke atas perutnya dan Nurul menitikkan air mata karena akhirnya ia bisa melihat anaknya yang selama ini ia nantikan kelahirannya.
"Selamat sayang, anak kamu perempuan," ucap Bu Uswa dan Bu Dianti hampir bersamaan.
Nurul hanya mengangguk kemudian ia tersenyum mencoba mengelus bayinya. Hanya beberapa saat, bayinya kembali diambil untuk dibersihkan dan akan mendapatkan penanganan lanjutkan karena bayi tersebut harus melakukan transfusi darah. Sedangkan perawat yang lain membantu membersihkan tubuh Nurul.
Setelah bayinya mendapat penanganan, Nurul sudah dibersihkan dan juga sudah merasa lebih baik dari sebelumnya, kedua pria Emrick pun memasuki ruangan dimana Nurul sudah dipindahkan di ruang rawat.
"Cucu papa mana sayang?" tanya pak Deen.
Pak Deen dan Danish mengikuti arah pandang Nurul dimana bayi cantik itu sedang berada di gendongan nenek Dianti.
Setelah mengadzani bayi mungil itu, Danish bergantian mengambil bayi Nurul dan menggendongnya dengan hati-hati. "Siapa nama keponakan kakak ini?" tanya Danish.
"Danissa Aluna Guzelim Emrick," jawab Nurul.
Bu Dianti, Danish dan Pak Deen terharu mendengar nama yang baru saja Nurul sematkan untuk putrinya.
"Dia yang akan menggantikan Danissa kecil. Biarlah anak Nurul yang memakai nama itu," ucap Nurul.
Setelah memberikan dan mengetahui nama bayi mungil itu, mereka pun asyik menggendong bergantian hingga bayi itu tertidur. Nurul yang melihat pemandangan tersebut pun tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya. Dalam hatinya ia berdoa semoga anaknya tidak bernasib sama dengannya dahulu. Kini anaknya memiliki keluarga besar walaupun tanpa sosok ayah.
Bu Uswa berpamitan pulang dan Danish mengantarnya. Pak Deen juga turut serta karena ia ingin membersihkan diri lalu kembali ke rumah sakit dan membawa perlengkapan untuk istrinya yang tidak mau meninggalkan anak dan cucunya sedetikpun.
Alvaro, anak kita sudah lahir. Aku ingin menyematkan namamu di belakang namanya. Tapi itu tidak benar karena dia bukanlah anak dari sebuah pernikahan. Dia bernasab padaku. Terima kasih karena kau telah memberikan dia untukku. Aku berdoa semoga kau juga menemukan kebahagiaanmu. Setelah ini aku akan merelakan cintaku dan belajar melupakanmu dengan benar. Walaupun aku tahu itu tidak akan berhasil seratus persen, setidaknya aku ikhlas.
Dokter Aleesha memasuki ruang rawat Nurul untuk memeriksa keadaan ibu dan bayi itu. Ia tersenyum melihat wajah cantik yang sedang menatapnya. Bayi itu terbangun setelah beberapa jam tertidur. Nurul pun diminta untuk menyusuinya lagi walaupun ASI-nya belum keluar.
Wajah bayi ini mengingatkanku dengan seseorang. Tapi siapa?
Dokter Aleesha memperhatikan bayi yang tengah menyusu itu dengan intens. Ia merasa mengenal wajah itu namun entah dimana.
Nurul yang memperhatikan tatapan dokter Aleesha pun menatap bayinya.
Bayiku benar-benar mengambil seluruh wajah Alvaro. Dia Alvaro versi perempuan. Ah, jika begini aku bukannya melupakan dia malah akan terus teringat. Mengapa nasibku selalu sial. Mengapa sudah pergi sejauh ini dan bersembunyi serapat ini tetap saja tidak bisa kehilangan dia. Sudah menjauh justru bayiku yang membuatku dekat dengannya. Benar-benar ketidakadilan Tuhan yang terpampang nyata. Aku yang hamil dan melahirkan tapi dia malah mirip ayahnya.
Setelah memeriksa, dokter Aleesha berpamitan dan mengatakan jika besok keadaan mereka jauh lebih baik maka mereka sudah boleh pulang. Nurul semakin bersemangat untuk segera pulang.
Bertepatan dengan dokter Aleesha yang sudah keluar dari kamar rawat Nurul, para pria Emrick pun datang. Bu Dianti juga sudah selesai dengan mandinya dan ia mengenakan daster Nurul. Ia jadi malas mengganti pakaian dan langsung ikut bergabung untuk makan malam bersama. Nurul menolak untuk disuapi karena ia masih sanggup untuk makan sendiri.
Makan malam selesai dan mereka berbincang-bincang sejenak tentang apa saja yang akan dilakukan setelah pulang dari rumah sakit. Nurul meminta agar mereka melakukan tasyakuran aqiqah bayinya di panti asuhan dan keluarganya pun langsung menyetujuinya. Dua hari setelah Nurul keluar dari rumah sakit rencananya mereka akan melakukan acara tersebut. Bu Dianti bahkan nampak begitu antusias. Ia yang akan menghandle acaranya.
"Sayang, jadi cucu mama ini akan dipanggil siapa? Namanya sangat panjang," tanya Bu Dianti. Ia sesekali melirik ke arah box bayi dimana cucunya sedang tidur.
Nurul nampak berpikir, ia sebenarnya ragu tetapi ia memang sangat ingin jika anaknya itu dipanggil dengan nama yang khusus ia buat demi mengingat ayah sang bayi.
"Aluna, Ma," jawab Nurul.
"Nama yang cantik secantik cucu papa," timpal pak Deen.
Nama yang memang cantik Ma, Pa. Aluna itu adalah sebuah singkatan Alvaro Nurul Aina. Semoga kalian tidak bertanya lebih lanjut.
Nurul hanya memendam dalam hati. Ia tidak berani mengutarakannya. Ia tidak mau keluarganya sampai mencari Alvaro. Ia sudah tahu jika keluarganya ini adalah ahli hukum dan pengacara yang sangat terkenal. Bisa dibilang sangat sukses dalam menyelesaikan kasus dan juga jasanya sering dipakai oleh para petinggi dan pengusaha sukses di negara ini. Untuk mencari Alvaro tentu saja bukan hal yang sulit untuk mereka. Nurul hanya takut tidak diakui oleh Alvaro dan dianggap sebagai wanita rendahan. Bagaimanapun Nurul masih mengingat kisah mantan kekasih Dinda yang berakhir tragis.
Biarlah anak ini aku saja yang memiliki. Aku tidak mau anakku kelak akan sedih jika ayahnya tidak mau mengakuinya. Untung saja aku bisa menahan diri untuk tidak mencari Alvaro, jika tidak mungkin saja aku akan berakhir sama dengan Dinda.
Itulah alasan kuat Nurul bersembunyi dan memilih menerima lukanya sendiri daripada harus bernasib sama seperti Dinda. Ia mencintai anaknya dan ia rela menanggung semuanya sendirian asalkan bayinya bisa selamat dan ia bisa mengurus dan membesarkannya. Lagipula, ia memiliki keluarga yang lengkap yang pastinya akan membantu membesarkan anaknya ini.
Jika saja Nurul tahu, pria yang ia hindari justru mati-matian mencarinya, ia pasti akan bahagia dan akan berlari ke dalam pelukan Alvaro. Sayangnya, bayang-bayang Dinda dan ingatan tentang dirinya yang merupakan Gadis Taruhan Alvaro terus menghantuinya.
Aluna, kelak jika kau besar bunda akan menceritakan siapa ayahmu. Dia pria tengil yang sangat tampan dan dia satu-satunya yang berhasil mencuri hati bunda.