
Alvaro dan Ikram menatap ke arah Kriss yang sedang duduk sambil menyeruput segelas wine. Mantan sahabat mereka itu rupanya sejak tadi sudah menunggu kedatangan mereka dan hanya mengamati dari atas bagaimana mereka bertarung dengan para anggotanya di bawah.
Alvaro langsung mendekat dan menendang kursi yang saat ini sedang di duduki oleh Kriss. Alvaro marah, tentu saja sangat marah! Istrinya saat ini sedang hamil dan rawan keguguran karena usia kandungannya masih begitu muda.
"Slow bro, istri kalian aman," ucap Kriss tertawa. Yang tidak aman saat ini itu istri gue bro, lanjut Kriss dalam hati, namun tentu saja tidak bisa ia sampaikan pada mereka.
Ikram kemudian maju, ia menarik kerah baju Kriss hingga sepupunya itu berdiri dari kursinya. Kriss hanya melempar senyum mengejek pada Ikram yang saat ini terlihat sangat marah. Sudah lama sekali Kriss tidak berurusan dengan Ikram setelah kasus perebutan hak waris untuk warisan milik keluarga Griffin.
"Jika kalian berani macam-macam padaku, maka kalian hanya akan mendapatkan mayat istri kalian dan ya, dan juga mayat calon bayi kalian yang belum lahir itu akan menjadi korban selanjutnya jika kalian berani macam-macam --"
Bugghh ....
Satu pukulan Ikram berikan langsung di pipi Kriss karena ia merasa geram dengan ucapan Kriss tersebut yang membawa-bawa calon bayinya dalam masalah ini. Ikram sangat tidak suka jika ada yang mengusik keluarganya maupun orang-orang terdekatnya. Ia tidak akan segan-segan menghabisi siapapun yang menjadi penyebab kehancuran keluarganya.
"Dimana mereka dan apa maumu Kriss?" tanya Alvaro, ia berusaha untuk bernegosiasi.
Kriss tersenyum kecut, "Gue nggak mungkin ngasih tahu. Percuma dong gue sekap mereka terus gue kasih tahu. Bodoh dong gue," jawab Kriss tak mengindahkan pertanyaan Alvaro.
Ia tahu Alvaro saat ini bersiap untuk kembali memberinya pukulan. Tetapi Kriss yakin Alvaro pasti tidak akan melakukannya sebab ia tidak ingin tindakan gegabahnya justru akan membahayakan keselamatan Nurul dan Tara.
Kriss memang sengaja mengulur waktu, ia belum akan melakukan perlawanan pada Alvaro dan Ikram karena tuan Brandon belum juga datang. Bukan Kriss yang bertugas untuk mengeksekusi dua tuan muda ini melainkan Brandon sendiri. Kriss hanya perlu membawa mereka sekeluarga ke tempat ini sebelum akhirnya seluruhnya dihancurkan oleh tuan Brandon. Lagipula belum ada tanda-tanda kedatangan para orang tua, Kriss masih harus menunggu lagi. Ia tidak ingin kerja dua kali, berada sekaligus di dalam ruangan ini akan jauh lebih mudah untuk menghancurkan mereka semua.
Sementara itu, pasukan milik Brandon yang datang silih berganti membuat Danish dan Axelle kewalahan menghadapinya. Mereka mengira setelah menumbangkan beberapa orang maka tidak akan ada lagi yang datang. Namun mereka salah, semakin mereka menumpas maka semakin banyak yang datang.
"Mereka ini anggota gangster, jadi kita harus hati-hati. Dan lu tahu, tenaga gue kayaknya sudah hampir habis. Semoga Ikram dan Alvaro bisa segera menemukan Nurul dan Tara," ucap Danish pada Axelle.
"Tenaga gue juga udah menipis. Sebaiknya kita harus secepatnya menumbangkan mereka," ujar Axelle.
Kembali pada Kriss dan dua mantan sahabatnya, Kriss baru saja menghitung waktu dengan melihat jarum jam di pergelangan tangannya. Ia yakin saat ini tuan Brandon sudah tiba di pabrik ini. Ia kemudian menatap Alvaro dan Ikram yang saat ini masih mengunci tatapan mereka pada Kriss.
Tiba-tiba Kriss menepuk keras kedua tangannya, Alvaro dan Ikram yang tidak paham dengan gerakan tangan tersebut mendadak dibuat kaget karena dari arah belakang Kriss, muncul empat orang berbadan kekar dengan tubuh mereka yang menjulang tinggi ke atas. Wajah sangat serta tatapan mata yang tajam membuat Alvaro dan Ikram kesulitan menelan saliva mereka.
Keempat pria itu terlihat sedang meregangkan otot-otot sambil terus berjalan mendekati Kriss.
"Dua orang lawan kalian sudah datang. Sekarang buat mereka pulang tinggal nama," ucap Kriss memerintah empat orang tersebut dan dengan senang hati keempatnya itu maju menyerang Alvaro dan Ikram.
Dua pria tampan itu kini terlihat siaga dengan memasang kuda-kuda sempurna sambil menunggu dan membaca pergerakan lawan.
Keempat pria itu pun mulai menyerang, pukulan mereka yang jitu dan tendangan yang akurat untung saja masih bisa ditepis dan ditangkis oleh Alvaro dan Ikram. Hanya saja karena jumlah mereka yang minim maka setelah berhasil menahan pukulan dan tendangan, dari arah berbeda dan dari lawan yang berbeda pun mereka diserang hingga mereka tidak bisa menghindar.
Alvaro tersungkur cukup jauh dari tempat ia berdiri. Ia memegangi perutnya yang baru saja terkena pukulan kuat, namun ia harus berusaha untuk melawan karena jika ia kalah dan mati maka istirnya pun entah akan seperti apa nasibnya.
Begitupun dengan Ikram, sebuah tendangan telak membuatnya terkapar di atas lantai. Namun mengingat keadaan Tara saat ini, tidak ada waktu bagi Ikram untuk kalah. Ia harus bisa menghabisi para penjahat ini dan membawa istrinya pulang.
Alvaro lebih dulu maju menyerang pria yang sudah membuatnya kesakitan, satu pukulannya mengena telak di wajah pria itu namun naas satu temannya langsung melayangkan pukulan yang sama di wajah Alvaro.
Alvaro memegangi pipinya yang saat ini basah karena darah segar mengalir disana.
"Sialan! Wajah ganteng gue!! Kali ini nggak ada ampun buat kalian!" teriak Alvaro murka, ia paling tidak suka jika wajahnya yang sangat tampan dan ia agung-agungkan sepanjang masa dan sejagat raya itu sampai lecet walau hanya sedikit.
Alvaro langsung maju menyerang, ia bahkan seperti kesetanan menangkis dan membalas perlawanan pada dua pria yang bertugas mengeksekusinya. Kriss sendiri terkejut melihat Alvaro yang begitu tangguh bahkan ia sudah berhasil menumbangkan satu anak buahnya dan pria itu saya ini sepertinya sudah tidak bernyawa.
Begitupun dengan Ikram, melihat Alvaro yang sangat berapi-api memberikan perlawanan, ia semakin bersemangat. Ia harus bisa menumbangkan dua pria yang sedang ia tangkis serangannya ini.
Ikram dan Alvaro sama-sama berada di kelas karate, taekwondo, pencak silat dan anggar sejak duduk di bangku sekolah dasar. Teknik serang dan elakan mereka tentu tidak diragukan lagi. Apalagi Alvaro pernah menjuarai olimpiade cabang olah raga anggar dan juga karate, ia pasti bisa menumbangkan lawan di hadapannya ini. Apalagi jika ditangan Alvaro saat ini ada senjata seperti pedang, bukan tidak mungkin sejak tadi lawannya ini akan habis ia sayat dan cabik-cabik.
Saat Alvaro dan Ikram fokus memberikan penyerangan, diam-duam Kriss melarikan diri ke ruangan dimana ia menyekap Tara dan Nurul. Kriss akan menjadikan dua wanita ini sebagai tameng jika saja keadaannya terjepit.
"Kriss, lu apa-apaan sih? Bukannya lu janji udah nggak bakalan ngusik kita lagi. Kenapa sekarang lu justru nyulik gue sama Tara?" teriak Nurul begitu lakban di mulutnya ditarik oleh Kriss.
"Nurul, lu nggak akan ngerti. Gue juga nggak mau ngelakuin ini. Asal lu tahu, sebelumnya gue udah berusaha untuk berhenti dari orang itu tapi apa yang gue dapat, nyokap bokap gue dibunuh Nurul. Sekarang anak sama istri gue sedang dalam genggaman mereka, gue bisa apa. Gue harap lu ngerti karena gue tahu lu pasti bisa menilai sendiri dan gue nggak bohong sama lu. Gue juga capek Nurul, gue pingin hidup normal. Tapi kalau gue sama Miranda kenapa-napa dan kalian bisa selamat walaupun itu sedikit mustahil, gue titip anak gue sama lu. Gue percaya lu bisa jagain anak gue. Please!"
...****************...
Maaf ya slow update dulu. Lagi masa pemulihan dan kalau kepala ini udah nggak berasa mutar-mutar, aku bakalan crazy up lagi seperti kemarin-kemarin 😊😊😊