GADIS TARUHAN ALVARO

GADIS TARUHAN ALVARO
Tak Baik-baik Saja


Frey dan Aluna yang sedang berjalan masuk ke area sekolah menatap heran pada siswa-siswi yang menatap mereka dengan tatapan meremehkan. Setiap sisi yang mereka lewati, pasti akan terlihat jelas para penghuni sekolah ini menatap mencemooh dan juga berbisik-bisik. Aluna menatap Frey dan yang ditatap hanya mengangkat saja kedua bahunya.


Seperti biasa, Frey tidak peduli dan tidak mau tahu, juga tidak ingin ikut dalam urusan perjulidan atau pembullyan di sekolah, karena itu bukanlah prioritasnya.


Hari ini tak seperti biasanya, dimana biasanya jika Aluna ataupun berjalan melewati koridor sekolah menuju ke kelas mereka, pasti akan ada banyak pasang mata yang mengagumi, serta tak jarang ada yang selalu memberikan gombalan receh terhadap Frey atau sekadar menggoda ketika mereka lewat.


Akan tetapi memang suasana kali ini sungguh berbeda. Tak ada lagi tatapan memuja dan mendamba, yang ada hanyalah tatapan menghina serta merendahkan. Jelas terlihat mereka menatap Frey dan Aluna dengan begitu sengit, bahkan ada yang sampai menertawakannya dan itu sungguh mengganggu pikiran Aluna.


Tak suka dengan sikap para siswa-siswi di sekolah, Aluna mendatangi salah satunya yaitu teman sekelas Frey yang juga turut mencemooh kedatangan mereka.


"Sebenarnya lu itu ada masalah apa sama gue dan sama Frey? Kenapa kelihatan julid banget sih?' tegur Aluna kesal.


Siswi yang ditanyai oleh Aluna itu langsung menatap tak suka padanya seraya berkata, "Gue dan teman-teman yang lain nggak suka ada anak penjahat sekaligus pembunuh di sini. Gayanya aja sok keren, sok pintar, sok baik, sok cool ... tapi ternyata anak napi, memalukan!" umpat siswi itu. "Dan lu Aluna, lu mau aja tinggal bareng anak penjahat ini, lu nggak takut nantinya keluarga lu bakalan dijahatin?"


Duaarr ...


Ucapan siswi tersebut mengejutkan Aluna maupun Frey. Keduanya saling bertatapan, namun sesaat kemudian Frey hanya membalas ucapan tersebut dengan senyuman manis. Ia tahu berita ini menyebar dari siapa dan nanti ia akan membuat perhitungan langsung kepada orang yang sudah membuat berita seperti ini menyebar di sekolah.


Frey sebenarnya tidak peduli dengan sikap mereka yang menjauhinya ataupun mengucilkannya. Tujuan Frey di sekolah hanya dua: belajar agar bisa lulus sekolah dan melindungi Aluna dari bahaya. Selebihnya, jika ada yang menyukainya atau tidak menyukainya itu tidak akan masuk dalam daftar pikiran Frey.


Entah seluruh sekolah pun membencinya, Frey tidak peduli selagi Aluna tetap berada sisinya. Dan juga selagi seluruh keluarga selalu mendukungnua dan selagi ia tahu kejadian yang sebenarnya, Frey tidak peduli dengan apapun tanggapan orang terhadapnya.


"Lu kalau ngomong dijaga ya tuh mulut ... jangan sampai gue jahit!" bentak Aluna. Ia tidak terima suaminya dihinakan seperti ini padahal mereka sendiri tidak tahu kejadian yang sebenarnya.


"Halah ... nggak usah sok ngebelain deh lu. Pantas saja kalian nggak ada mirip-miripnya, bukan kembar juga ternyata. Ternyata eh ternyata Frey ini hanya anak angkat. Tapi gue nggak nyangka aja keluarga Prayoga mau mengangkat anak penjahat kayak dia. Kalian nggak takut dijahatin? Hati-hati Lun, bahaya bisa datang kapan saja," timpal yang lainnya.


Wajah Aluna merah padam, hampir saja ia mencakar wajah teman sekelas Frey itu. Namun tangannya langsung ditahan oleh Frey, ia menggelengkan kepalanya serta tatapan Frey begitu membius hingga Aluna mendadak menjadi tenang.


Frey langsung membawa Aluna masuk ke dalam kelas, namun di kelas Aluna juga terjadi hal yang sama dimana dulunya para siswi-siswi yang begitu mengagumimya kini mencemooh dan menjauhinya. Mereka semua mengambil jarak dari Frey kecuali Cici dan Riani.


"Apa lu semua lihat-lihat, mau julid sama Frey juga?!" teriak Aluna tidak suka dengan ekspresi teman-temannya.


"Nggak kok, Lu. Kalau gue ua masih jadi Riani yang selalu menjadi pemuja seorang Frey Abirsham Griffin. Dulu, kini dan selamanya!" teriak Riani lantang dan dengan begitu semangatnya.


Cici mendelik pada Riani, ia tidak suka ucapan Riani tersebut. Cici sendiri awalnya kaget setelah mengetahui fakta tentang Frey, Ia juga sempat ingin menjauh tetapi setelah ia memikirkannya lagi, ia ternyata menemukan dirinya yang memang lebih berat pada cintanya dan mengabaikan tentang status Frey.


Aluna menatap Riani, ia tidak cemburu dan itu adalah hal yang aneh bagi dirinya sendiri. Ia justru senang mendengar ucapan Riani yang membela Frey walaupun diujung kalimatnya ia terdengar begitu romantis. Aluna saja tidak pernah seromantis itu pada Frey. Membuat iri saja, pikir Aluna.


"Terima kasih, Riani. Tolong jaga Aluna ya, dia bisa-bisa berubah jadi macan betina. Gue ke kelas dulu," ucap Frey.


Riani langsung mleyot begitu mendengar ucapan Frey tersebut. Saya hanya bisa menganggukkan kepalanya sambil tersenyum tidak jelas hingga sosok Frey menghilang dari pintu.


Frey tersenyum miring, ia sama sekali tidak menanggapi masalah ini, toh tinggal dua bulan lagi mereka akan melaksanakan ujian sekolah dan sebentar lagi ia pasti akan lulus dan iaa tidak perlu memusingkan lagi pikiran-pikiran buruk teman-temannya karena semua itu tidak akan berpengaruh pada kelangsungan hidup Frey kedepannya.


Memiliki bisnis dengan penghasilan yang menggemukkan dompetnya, memiliki istri yang cantik, mertua dan keluarga yang sangat baik, papinya yang dua tahun lagi akan keluar dari penjara, tidak ada lagi yang Frey inginkan di luar semua kenikmatan yang telah Ia terima tersebut. Ia sudah cukup bahagia dan ia tidak ingin serakah dengan mendapatkan seluruh pujian dan juga perhatian.


Mungkin ini warna dari hidup gue. Selama ini hidup gue sudah terlihat sempurna tanpa noda. Kotor sedikit nggak masalah, gumam Frey dalam hati.


Tak lama kemudian guru di kelas kemudian masuk, kebetulan saat ini pelajaran diawali dengan mata pelajaran Fisika dimana akhirnya membuat Frey kembali bersemangat. Sebenarnya masalah Frey ini sudah sampai ke telinga guru-guru, akan tetapi mereka tidak akan melibatkan jam pelajaran untuk membahas kasus para siswa-siswi.


Lagi pula, Frey tidak melakukan tindakan buruk di sekolah ini, ia sama sekali tidak melakukan pelanggaran dan bahkan selalu mengharumkan nama sekolah. Masalah orang tua adalah masalah internal siswa dengan keluarganya bukan masalah sekolah, sehingga guru-guru tidak ingin mencuri urusan ini hanya saja jika nanti terjadi perundungan maka mereka akan melakukan bimbingan konseling.


Belum lagi mereka tahu Frey ini datang dari keluarga Prayoga yang tidak mungkin mereka sentuh sembarangan. Apalagi di sini juga ada Ikram Elard yang menjadi wali kedua Frey serta nyonya Safira Magdalena Griffin yang merupakan donatur tetap sekolah ini semenjak Frey masuk ke sekolah ini.


Hari ini sekolah terasa berat dan terlalui dengan tidak baik-baik saja. Saat jam istirahat, Frey dan Aluna berjalan ke arah kantin dengan mereka yang mengabaikan masalah perundungan pada Frey, akan tetapi entah siapa yang mengompori, tiba-tiba beberapa siswa ada yang melempar Frey dengan kertas dan juga sampah. Serta tak lupa kalimat-kalimat pedas menghina Frey.


Hal ini tidak bisa dibiarkan oleh Aluna. Ia geram, namun Frey langsung membawa istrinya itu bersandar di dinding dan mencoba menenangkannya. Aluna tidak bisa tenang, ia ingin membela Frey dan menjelaskan semuanya tetapi Frey mengatakan bahwa ini semua tidak perlu dan mereka tidak perlu tahu masalah keluarga mereka.


"Frey, mereka udah keterlaluan. Gue nggak terima," ucap Aluna kesal.


"Iya, gue tahu. Tapi lu nggak perlu nanggepin mereka. Buang-buang waktu lu doang. Anggap aja mereka makhluk astral. Gue aja santai," pinta Frey, sebenarnya ia juga cukup geram, akan tetapi jika ia marah maka Aluna pasti akan lebih marah lagi.


"Tap -- "


Pluukk ...


Satu butir telur mendarat di punggung Frey dan pelakunya adalah Keenan. Ia kemudian mengompori para siswa-siswi lainnya untuk melempari Frey dengan telur. Darimana datangnya telur-telur tersebut, tentu saja dari bodyguard yang Keenan suruh untuk membawakannya.


Aluna membulatkan matanya, dengan cepat ia menarik Frey dan akhirnya banyak telur yang justru mendarat di punggungnya. Aluna menutupi tubuh Frey dengan punggungnya walaupun masih ada telur yang mengenai dada Frey karena Aluna tidak cukup tinggi.


Tangan Frey terkepal kuat saat Aluna menahan rintihannya karena telur-telur tersebut mengenai kepalanya.


"Lu nggak sendiri," ucap Riani yang tiba-tiba sudah berada di belakang Aluna dan kembali membiarkan punggungnya dilempari oleh anak-anak yang tidak mau berhenti karena Keenan sudah membayar mereka dengan mahal.


"Riani!" pekik Aluna, ia mengira Cici yang akan datang, tetapi pengagum garis keras Frey.


"Iyalah ... lu pikir siapa lagi. Dasar pasangan bucin, harusnya kalian tuh menghindar, bukannya malah anteng disini. Mau nunjukin kemesraan kalian ya nggak gini juga kali. Lu juga Frey, harusnya bawa Aluna pergi dari sini, lu itu cinta sama Aluna atau enggak sih sebenarnya. Dasar bodoh!"


Mata Aluna membulat sempurna, ia benar-benar terjejut dengan ucapan Riani dan juga kini otaknya mendadak nge-bug karena gagal paham dengan maksud perkataan Riani barusan.


"Riani lu ..."