GADIS TARUHAN ALVARO

GADIS TARUHAN ALVARO
Mencarimu


Alvaro dan Ikram sudah bertanya pada warga yang dulunya bermukim di dekat panti yang sudah menjual lahan mereka namun tidak ada yang tahu kemana mereka pergi. Orang-orang Prayoga bahkan sudah dikerahkan namun belum juga menemui titik terang. Kabar dari Nandi yang menginterogasi Flora pun tak membuahkan hasil. Mereka belum menemukan titik terang.


Alvaro menatap bangunan yang sepi tanpa penghuni itu. Mata elangnya mengunci rumah tersebut di dalam tatapannya. Ia mencengkram erat setir mobilnya. Ikram hanya bisa menggeleng melihat kelakuan Alvaro.


Ponsel Alvaro berdering, sebuah telepon masuk dari salah satu orang suruhannya.


"Katakan apa yang kau dapat," ucap Alvaro dingin.


"Baiklah tuan muda. Kami mendapat informasi dari tuan Waluyo bahwa beliau sudah memberikan kompensasi untuk panti asuhan yang baru. Beliau hanya tahu mereka pergi ke kota A tapi tidak tahu alamat pastinya. Dan kami pun sudah mendapatkan alamat beberapa donatur tetap di panti itu dan mereka mengatakan hal yang sama. Kami akan segera menuju ke kota itu dan kami harap tuan muda bersabarlah. Kami ingin memastikan dulu kebenaran berita itu lalu akan kami hubungi lagi."


"Baiklah, terima kasih dan segera hubungi aku jika sudah mendapatkan kebenarannya."


Ikram melirik Alvaro yang baru saja menyudahi percakapannya dengan salah satu orang suruhannya.


"Gimana?" tanya Ikram.


"Pemilik panti bilang mereka ke kota A tapi orang-orangku yang akan pergi ke sana dan memeriksa. Kita tunggu saja kabar dari mereka," jawab Alvaro.


"Mereka mau kesana? Itu jauh dan nggak mungkin dapat info hari ini juga. Kota itu cukup luas dan tidak dalam satu kedipan mata mereka bisa mendapatkannya. Kenapa kita tidak pergi ke bagian travel untuk bertanya. Lu nggak usah nanya kenapa gue kepikiran ke sana. Itu karena nggak mungkin mereka naik pesawat dan membawa banyak orang sedangkan mereka bukan sultan," ucap Ikram.


"Lu benar. Ayo kita pergi sekarang," ucap Alvaro merasa sedikit senang karena sebentar lagi ia akan menemukan Nurul.


. . . .


Ikram dan Alvaro sampai di tempat tujuan mereka dan ternyata orang suruhan Alvaro juga berada disana. Alvaro melihat mereka keluar dari kantor tersebut dan meminta mereka untuk memberikannya informasi.


Alvaro dan Ikram berdiri menyandar di mobil sambil berhadapan dengan kedua orang suruhan Alvaro. Ia mengenakan kacamata hitam karena matahari mulai bersinar terik dan matanya terasa silau.


"Apa yang kalian dapatkan di dalam?" tanya Alvaro.


"Jadi begini tuan muda, memang benar kalau Bu Uswa pemilik panti asuhan Sitti Khadijah menyewa bus travel di tempat ini tetapi mereka membatalkannya malam hari sebelum mereka berangkat. Tetapi Bu Uswa sudah membayar uang ganti rugi dan kemungkinan mereka tidak pindah jauh karena mereka tidak menggunakan jasa travel. Atau ada kemungkinan mereka menggunakan jasa travel lain. Dan itu bisa kami simpulkan jika mereka tidak jadi pindah ke kota A," ucap Benni menjelaskan.


Alvaro mengepalkan tangannya. Ia yakin malam itu juga Nurul sudah merencanakan untuk kabur darinya setelah kejadian sorenya dan ia justru meninggalkan Nurul sendirian. Ia merutuki dirinya yang seharusnya mengantar Nurul pulang dan memastikan gadis itu tidak kemana-mana.


"Arrgghh sial!!" Umpat Alvaro. "Gue nggak mau tahu, kalian harus mendapatkan info tentang Aina secepat mungkin. Waktu gue nggak banyak! Gue mau dalam dua hari Aina sudah ada di depan gue!" perintah Alvaro tidak ingin dibantah.


"Baik tuan muda. Kami pasti berusaha semaksimal mungkin. Kami permisi," ucap Benni.


Ikram menepuk bahu Alvaro. Ia mengajak sahabatnya itu untuk kembali masuk ke mobil dan dirinya yang akan mengemudi. Ia tidak mau membahayakan keselamatan mereka karena Alvaro sedang dalam keadaan emosi saat ini.


Di dalam mobil Alvaro terus menggerutu dan juga merutuki kebodohannya. Kata andai dan andai terus ia ucapkan dan Ikram hanya bisa menghela napas. Ucapannya tidak akan berarti apapun.


"Gimana Kram? Gue harus gimana? Waktu gue nggak banyak," tanya Alvaro sambil meremas rambutnya.


"Lu sabar dan tenang dulu walaupun gue tahu itu nggak mudah untuk lu lakuin. Sebenarnya tadi gue kepikiran untuk menemui satu per satu teman Nurul. Gimana kalau kita ke minimarket tempat Nurul dulu bekerja. Siapa tahu mereka ada yang dikasih tahu Nurul kemana dia pergi," usul Ikram.


"Kenapa lu nggak bilang dari tadi," gerutu Alvaro.


"Ya supaya bisa gue bilang sekarang lah," kekeh Ikram dan Alvaro hanya memutar bola matanya jengah.


Ikram melajukan mobil menuju ke minimarket dan itu butuh waktu setengah jam untuk kembali ke sana. Hingga mereka sampai dan Alvaro menangkap sosok yang waktu itu pernah memeluk Nurul yang kata Nurul cowok itu baru saja ia tolak cintanya. Dengan tergesa-gesa Alvaro turun dari mobil. Ikram yang melihatnya hanya menggelengkan kepalanya.


"Dasar budak cinta!"


"Permisi," ucap Alvaro.


Riswan menghentikan langkahnya dan berbalik arah menatap Alvaro. Ia tidak mengenali pria ini tetapi ia tidak pula meninggalkannya.


"Ada yang bisa saya bantu?" tanya Riswan.


"Sebentar, pertama perkenalkan gue Alvaro temannya Nurul. Lu kenal sama Nurul yang kerja di sini, 'kan?" ucap Alvaro.


"Nurul? Oh gue kenal tapi dia udah nggak kerja disini karena kemarin mereka udah pindahan. Lu nggak tahu?" jawab Riswan kemudian balik bertanya.


Bahkan cowok ini tahu. Sial, dada gue panas. ****! Alvaro sekarang bukan waktunya untuk cemburu.


"Gue beneran nggak tahu karena perginya mendadak. Harusnya kemarin dia ikut wisuda tapi dia nggak datang dan alasan kenapa gue nyari dia sampai kesini. Gue pikir terjadi sesuatu sama Nurul. Ternyata dia pindah. Lu tahu dia pindah kemana?"


Alvaro cukup ahli bersandiwara dan itu membuat Riswan terkejut.


"Jadi benar Nurul nggak ikut wisuda? Gue tahunya mereka itu akan berangkat setelah Nurul wisuda. Tapi emang sih kemarin gue nggak sengaja lihat mereka naik travel pagi-pagi sekali. Niat gue mau kasih hadiah karena dia mau wisuda tapi ternyata mereka udah berangkat. Dan kalau nggak salah Nurul bilang mereka akan pindah ke Surabaya," jawab Riswan.


Surabaya?


"Lu tahu alamat mereka disana?" tanya Alvaro ingin memastikan.


Riswan menggeleng. "Sayangnya gue nggak tahu dan Nurul juga nggak ngasih tahu. Ponselnya juga udah nggak aktif lagi sejak kemarin."


Alvaro menghela napas. Setidaknya ia sudah mendapatkan satu titik terang.


"Thanks untuk infonya. Gue permisi," ucap Alvaro.


"Iya."


Alvaro berlari menuju mobilnya. Baru saja ia akan membuka pintu mobil, matanya tak sengaja menangkap tempat dimana dulu ia datang untuk menemui Nurul dan menghadiahkan kecupan kilat yang katanya untuk vitamin agar dirinya semangat mengerjakan skripsi.


Alvaro tersenyum kecut, ia kembali menyesali kebodohannya. Ketika bayang-bayang kenangan manisnya bersama Nurul di tempat ini menghilang, ia segera masuk ke dalam mobil.


"Gimana?" tanya Ikram.


"Ini sedikit aneh menurut gue. Mending lu jalan dulu deh kita cari makan dulu. Gue bakalan ceritain," ucap Alvaro. Ia sebenarnya tidak merasa lapar tetapi ia tidak ingin menyiksa sahabatnya yang mungkin butuh makan karena sudah menemaninya sedari pagi. Ia tidak sekejam itu membuat Ikram kelaparan.


Ikram menuruti permintaan Alvaro dan mereka memutuskan untuk makan di kafe milik Kriss karena kebetulan disana ada Nandi dan juga Kriss.


"Gue bingung, Ringgo bilang kalau mereka pergi ke kota A dan info itu didapatkan dari pak Waluyo si pemilik panti. Tapi kata cowok tadi, Aina pergi ke kota Surabaya. Gue bingung. Disatu sisi, mereka emang akan pergi ke kota A terbukti dengan mereka memesan travel walaupun akhirnya dibatalin. Tapi disisi lain mereka juga pergi ke Surabaya. Gue bingung, Kram. Kemana kita harus mulai mencari?" cerita Alvaro dengan gusar.


"Gue juga bingung. Tapi bisa aja salah satu dari mereka berbohong dan bisa juga keduanya memang berbohong. Atau memang keduanya jujur dan Nurul yang emang nggak mau ngasih tahu kemana mereka akan pergi dan asal ngomong aja gitu akan pindah kemana. Gue bilang kayak gini karena lu pikir aja, bahkan Flora nggak tahu lho mereka pindah kemana. Nggak mungkin kalau Nurul bilang ke teman kerjanya sedangkan sahabatnya nggak dikasih tahu," ujar Ikram mengemukakan pendapatnya.


"Lu benar juga. Gue rasa disini pihak Nurul sih yang nggak mau ngasih tahu mereka pindah kemana. Dia terlalu takut untuk gue temukan. Dia bahkan nggak mau lihat gue lagi. Gue nyesel banget. Tapi biar gue bunuh diri semua pun sudah terjadi. Gue hanya berharap kita bisa segera menemukan Nurul," lirih Alvaro.


Ikram menepuk pundak Alvaro. "Sabar, Bro. Kita bakalan temuin dia sebelum lu pergi ke Amerika. Dan kalaupun kita belum temuin Nurul sampai harinya tiba, gue janji bakalan terus bantu lu nyari Nurul sampai ketemu," ucap Ikram dengan sungguh-sungguh.


Sebenarnya gue ngerasa puas karena akhirnya lu ngerasain karma akibat perbuatan lu dan akhirnya lu ngaku kalau lu cinta sama Nurul. Tapi gue kasihan juga ngelihat lu kayak gini, Ro. Nurul, lu dimana sih? Lu harus bertanggung jawab karena udah bikin sahabat gue sekacau ini.