
"Akhirnya setelah hari itu, aku dan Paman Cakra memutuskan untuk melakukan tes DNA untuk mereka dan hasilnya belum keluar, akan tetapi dari golongan darah mereka yang sama tentu saja bisa dipastikan mereka adalah ayah dan anak. Dan untuk bagaimana bisa aku mengetahui golongan darah Tuan Cakra, itu karena aku mengetahui golongan darah Leon. Sebab di kafe semua staf menyertakan biodata mereka dan di sana juga tertera golongan darah yang suatu waktu jika terjadi kecelakaan kerja kami bisa mengantisipasinya."
Penjelasan Frey tersebut tentu saja membuat kaget semua anggota keluarga. Mereka sangat tidak menyangka jika Jihan memiliki seorang ayah yang juga sama hebatnya dengan mereka. Pantas saja Lexi selalu mengatakan bahwa Jihan itu merupakan sosok yang lemah lembut dan penuh dengan kasih sayang. Ternyata buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Persis seperti Tuan Cakrawala yang begitu penuh dengan kasih sayang terhadap Leon, hal itu menurun kepada putrinya.
Tak lama kemudian Tuan Cakra keluar, ia sudah selesai mendonorkan darah untuk putrinya. Ia menatap Frey kemudian ia memeluknya.
"Terima kasih Frey, jika bukan karena dirimu aku tidak akan pernah tahu jika ada anakku yang lain berada di dunia ini. Jika saja kamu tidak mendatangiku, aku mungkin akan menjadi seorang ayah yang sangat jahat karena tidak mengetahui ternyata memiliki seorang putri yang begitu cantik. Sekali lagi terima kasih untukmu," ucap tuan Cakrawala merasa sangat terharu.
Ia sendiri sudah melihat bagaimana sosok Jihan, benar-benar persis seperti wajahnya. Ada rasa sesal di hati tuan Cakrawala karena ia tidak mencari Irana pada saat itu. Pertama kalinya ia melakukan hubungan terlarang tersebut bersama dengan Irana dan ia tidak tahu jika benih yang ia semai malam itu berbuah hasil dan menjelma menjadi seorang gadis yang sangat cantik. Persis seperti wajahnya.
Ia kemudian duduk, bergabung dengan keluarga Prayoga. Ia menatap Nurul dan Alvaro bergantian, kemudian ia menundukkan kepalanya merasa malu pada mereka karena ketahuan pernah memiliki anak di luar nikah, walaupun ia tahu Alvaro pun sama.
"Aku minta maaf dan berterima kasih kepada kalian karena sudah mau menerima putriku di dalam hidup kalian. Maaf karena aku baru menyadari keberadaannya, jika bukan karena Frey maka aku tidak akan pernah mendapatkan informasi tentang hal ini," ucapkan Cakrawala kemudian ia mulai ke arah free sembari tersenyum hangat.
Alvaro kemudian merangkul Tuan Cakrawala ia tidak memarahi pria ini karena memang semua sudah terjadi dan di luar pengetahuannya. Yang terpenting sekarang adalah Jihan telah kembali menemukan orang tua kandungnya dan itu akan sangat baik. Alvaro tidak pernah merasa keberatan jika Jihan menjadi anak angkatnya, apalagi Nurul bersedia dan anak-anaknya menerima. Tetapi akan lebih baik jika Jihan berada di tangan yang tepat yaitu orang tuanya.
"Jadi Leon punya saudara?"
Semua atensi kini tertuju pada pria yang sedang berdiri tak jauh dari sana. Ia benar-benar terkejut setelah mengetahui fakta bahwa ia memiliki seorang kakak perempuan. Ia menatap tak percaya pada ayahnya, wajah Leon terlihat datar tetapi sorot matanya terlihat menyimpan kemarahan.
Tuan Cakrawala kemudian berdiri, ia mendekati Leon berusaha untuk membuat anaknya mengerti. Leon menggeleng, ia memundurkan langkahnya ketika tuan Cakra mencoba untuk meraihnya.
"Itu artinya Ayah pernah menghianati Ibu sebelum kalian menikah. Apakah Ayah tahu itu adalah perbuatan yang sangat jahat?!" pekik Leon tidak suka ketika mendengar kisah tentang ayahnya.
Tuan Cakra menundukkan kepalanya, ia tidak bisa berkata-kata lagi karena memang itulah kenyataannya. Walaupun hal tersebut terjadi bukan atas dasar perselingkuhan suka sama suka, hanya sebuah hasrat yang tidak bisa ia bendung hingga akhirnya membuahkan hasil yang bernama Jihan.
"Maafkan ayah Leon, semua di luar kehendak ayah," ucap lirih tuan Cakra.
Leon menatap ayahnya dengan tatapan yang begitu tajam, kemudian ia mendekat kepada ayahnya. Ingin rasanya ia memberikan satu bogeman mentah di wajah pria paruh baya itu, yang selama ini bekerja keras untuk membesarkannya dan memberikannya seluruh hal yang ia butuhkan.
Bogeman mentah yang hendak di daratkan di pipi tuan Cakrawala itu justru terbuka dan Leon menepuk pundak ayahnya.
"Tidak masalah Ayah, toh aku juga mengetahui bahwa ayah begitu setia kepada ibuku. Buktinya sampai sekarang Ayah tidak mencari pendamping walaupun di luar sana ada begitu banyak wanita yang mendekati Ayah. Ayah cuma mencintai ibuku saja, kesalahan malam itu mari kita lupakan dan yah mengapa tidak kalau memiliki seorang saudara. Apalagi dia seorang kakak, ya itu artinya aku bebas dari pekerjaan kantor milik Ayah. Aku bisa membuka usahaku sendiri dan belajar dari Frey," ucap Leon dengan begitu santai ia kemudian memeluk ayahnya.
Tuan Cakrawala sangat terharu, ternyata anaknya mampu menyikapi perkara ini dengan begitu dewasa. Ia mengira Leon akan memusuhinya atau bahkan akan menghancurkan hidup gadis yang merupakan anaknya dari wanita lain, akan tetapi Leon tidak melakukan hal itu. Leon justru menerimanya dengan begitu senang tapi tunggu ...
"Apakah kamu bermaksud untuk mengkambing hitamkan kakakmu dan mau menjadikan dia penerus Ayah di perusahaan? Oh tidak Leon, itu tidak benar. Kamu adalah lelaki yang akan mewariskan tahta Ayah di perusahaan," ucap Tuan Cakrawala tidak percaya ternyata Leon mengambil kesempatan ini untuk melarikan diri dari tugas dan tanggung jawabnya.
Leon berdecak! "Aku ini masih sekolah dan sebentar lagi akan lulus. Setelah itu aku akan mengambil pendidikanku di luar negeri dan Ayah tentu membutuhkan sosok yang akan membantu Ayah, bukan? Nah, kesempatan untuk putri Ayah itu membantu Ayah. Bukankah dia mengambil jurusan manajemen bisnis yang sama dengan Frey?
"Nah, itu sangat tepat bukan? Aku masih belum siap untuk membantu Ayah di perusahaan. Jadi tolong bujuklah kakakku itu untuk menggantikanku sementara waktu sampai aku siap," ucap Leon sambil menaikturunkan alisnya.
Semua yang ada di sana hanya bisa menghela napas melihat bagaimana cara Leon memanfaatkan Jihan — gadis yang sama sekali belum mengetahui jika mereka berdua ini adalah keluarganya. Belum sadar saja Jihan sudah dilibatkan tanggung jawab yang begitu besar oleh adiknya. Benar-benar adik yang sangat durhaka.
"Kamu mengambil kesempatan dalam kesempitan, Bung!" ujar Alvaro kemudian ia terkekeh.
"Tapi jangan lupa, bukankah aku sudah menyiapkan jodohmu. Masih ingat bukan? Setelah itu, setelah kamu lulus sekolah, pergilah menempuh pendidikan setinggi-tinggi mungkin lalu kembalilah dan mengurus perusahaan, agar kamu memiliki kerajaan bisnismu sendiri dan bisa mendapatkan jodohmu. Aku tidak ingin memberikan cucuku pada orang sembarangan," lanjut Alvaro yang membuat Leon hampir pingsan.
'Serius ini gue dijodohin sama cucunya yang nggak tahu kapan lahirnya? Buset dah! Bisa-bisa rambut gue udah memutih gue baru kawin. Enggak lah, enggak mau gue. Enak aja main di jodoh-jodohin, emang gue nggak laku di pasaran?' gerutu Leon dalam hati.
"Sorry to say ya paman, tapi kalau harus menunggu jodoh dari cucu Anda, maka saya sudah akan menjadi seorang pria bangkotan? Mana mungkin junior saya bisa bekerja meskipun cucu Anda begitu cantik seperti ibunya," ucap Leon dengan berani dan itu mengundang gelak tawa dari mereka semua.
...
Jihan memeluk Tuhan Cakrawala, keduanya menangis terharu begitupun dengan Leon yang menyaksikan penyatuan antara ayah dan anak yang sudah belasan tahun terpisah, akhirnya bertemu kembali. Jihan benar-benar merasa begitu beruntung karena melalui keluarga Prayoga ia bisa menemukan keluarga kandungnya. Ia benar-benar melihat sosok dirinya di wajah Tuan Cakrawala dan juga Leon. Mereka memiliki kesamaan yaitu bentuk mata dan juga senyuman serta garis wajah yang mirip.
"Aku ayahmu, maafkan karena tidak mengenalimu. Maaf karena tidak menyadari kehadiranmu, dan maaf baru datang sekarang," ucap tuan Cakrawala sambil mengelus rambut panjang Jihan.
"Jangan meminta maaf Ayah, ini bukan kesalahan Ayah. Aku memahami semuanya, mungkin dengan cara seperti ini aku diajarkan untuk lebih menghargai kehidupan. Dan dari keluarga Prayoga aku pun menyadari bahwa semua kasih sayang itu akan aku dapatkan jika aku bersikap baik. Dan inilah buah hasil kebaikanku. Aku mau minta maaf kepada mereka dan mereka memberikanku orang tua kandungku dan juga ternyata aku mendapatkan bonus seorang saudara yang tampan," ucap Jihan tidak tahan mendengar ucapan lirih ayahnya yang terus saja menyalahkan dirinya.
Leon tersenyum tampan, sebenarnya ia masih agak canggung untuk menyapa saudaranya ini, akan tetapi melihat senyum mereka yang begitu mirip serta tatapan mata mereka yang sama persis, Leon pun langsung mendekat dan memeluk sang kakak bergantian dengan ayahnya.
"Selamat datang di keluarga Shan, Sist. Setelah ini mari kita memulai kehidupan yang baru," ucap Leon.
"Dan tolong ya, aku ingin melarikan diri dari bisnis milik Ayah. Dan karena kamu sudah berkuliah dan kamu yang lebih tua, itu artinya kamu yang memimpin perusahaan itu untukku. Aku sangat tidak tertarik," bisik Leon yang membuat Jihan melebarkan matanya.
"Cepatlah sembuh supaya kita bisa kembali ke rumah. Oh iya tuan Alvaro berpesan jika kamu masih menjadi anak angkat mereka dan jangan pernah sungkan untuk mendatangi mereka. Walaupun kamu harus tahu, Ayah tidak kekurangan satupun untuk membahagiakan kamu ya. Apapun yang kamu inginkan pasti akan kamu dapatkan dari ayah, bukan begitu Leon?"
Leon menganggukkan kepalanya seraya berkata, "Uang Ayah itu sangat banyak loh Sist. Dia tidak memiliki kekasih yang akan menghamburkan uangnya. Jadi berhubung kamu sudah ada di sini, mari kita hamburkan bersama uang ayah yang sudah menggemuk di rekeningnya," ujar Leon yang kembali mendapat jeweran di telinganya oleh Tuan Cakrawala.
'Oh Tuhan ... terima kasih karena Engkau telah menghadirkan keluarga yang begitu hangat kepadaku. Ternyata benar kata Frey, aku yang kurang bersyukur dan inilah buah hasil dari aku yang mengakui kesalahan dan menerima keadaan. Hadiah dan rencana Tuhan memang selalu indah pada waktunya.'
.....
Riani berteriak heboh begitu melihat pasangan Aluna dan Frey menaiki pelaminan. Ya, malam ini adalah acara resepsi pernikahannya, setelah tadi pagi digelar acara akad nikah. Akhirnya gadis yang ngebet pengen kawin itu dilamar juga oleh kekasihnya yang seorang angkatan darat. Akhirnya ia menyandang status sebagai istri dan sebentar lagi ia akan menjadi seorang ibu jika Tuhan segera memberikannya rezeki momongan.
"Nikah juga lu akhirnya. Selamat ya," ucap Frey kepada Riani, sedangkan Aluna sudah begitu bahagia melihat saudara iparnya sekaligus sahabatnya ini menjadi pengantin.
Frey kemudian berjabat tangan dengan suami Riani, pria itu sudah tahu seperti apa sepak terjang Frey. Ketangkasannya melebihi angkatan bersenjata, kecerdasannya melebihi para ilmuwan, dan juga kecepatannya melebihi para detektif handal. Ia berjanji kepada Frey untuk menjaga Riani dengan baik dan akan selalu membahagiakannya.
Frey menepuk pundaknya, ia menitipkan harapan yang begitu besar agar pria ini bisa menjaga Riani dengan baik. Ia ingin saudara sepupunya ini dicintai dan dibuat bahagia seperti yang ia lakukan kepada Aluna.
"Aduh ... sayang perut aku kok sakit banget ya?" rintih Aluna ketika ia hendak turun dari pelaminan.
Sebenarnya sejak siang tadi Aluna merasakan perutnya yang mulas tetapi timbul tenggelam. Ia pun tidak mengatakannya kepada Frey karena khawatir dia tidak akan datang ke pesta pernikahan Riani. Demi bisa memenuhi undangan sahabat sekaligus saudari iparnya itu, Aluna terpaksa menyembunyikan rasa sakitnya, tetapi kali ini rasa sakit itu semakin menjadi-jadi dan tidak timbul tenggelam seperti tadi.
"Frey sakit banget!" teriak Aluna sambil menggenggam tangan Frey dengan begitu kuat.
"Kok bisa sakit Yang? Bukannya tadi lagi baik-baik aja?" tanya Frey merasa dongkol.
Wajah Aluna memerah, ia benar-benar kesal terhadap Frey. "Itu artinya aku mau melahirkan. Gitu aja masih ditanya. Bukankah selama ini kamu udah ikut kelas ibu hamil, mendampingi aku, serta diberikan beberapa arahan untuk ayah yang akan mendampingi ibu bersalin. Mengapa begitu saja kamu jadi bodoh?" umpat Aluna yang sudah tidak lagi bisa menahan rasa sakitnya.
Frey menggaruk kepalanya sambil berpikir. "Hah! Kamu mau melahirkan? Kapan?" tanya Frey yang membuat Aluna akhirnya menginjak kaki suaminya itu menggunakan high heelsnya dan untung saja Frey mengenakan sepatu kulit yang tidak sampai bocor dan menembus kakinya.
Dengan cepat Aluna berjalan mencari kedua orang tuanya untuk melaporkan betapa sakitnya ia rasa di bagian perutnya. Namun Akuna tidak menemukan sosok kedua orang tuanya melainkan hanya Leon yang sedang berbincang-bincang dengan seorang gadis, sepertinya Leon sedang melakukan flirting dan Aluna menjadi kesal bukan main.
"Leon tolongin gue, anak gue udah mau keluar. Frey tiba-tiba jadi bego di sana. Duh Leon, sakit banget nih perut gue!" teriak Aluna di dekat Leon hingga cowok itu tersentak kaget dan langsung menghampiri Aluna.
"Lu beneran mau lahiran? Anak lu udah ngasih tahu belum sama lu kalau dia udah mau launching?" tanya Leon dan itu lebih buruk dari pertanyaan Frey hingga membuat Aluna menggeplak kepalanya.
Frey yang sudah mendapati kesadarannya pun bergegas berlari ke arah Aluna dan langsung menggendongnya menuju ke mobil. Tak lupa ia menghubungi Naufal di rumah untuk membawakan keperluan Aluna bersalin.
Di dalam mobil Aluna terus berteriak kesakitan, sedangkan Leon masih begitu fokus mengemudikan mobil. Ia tidak boleh oleng sedikit saja jika tidak ingin terjadi kecelakaan. Tak lupa ia menyempatkan diri untuk menghubungi kedua orang tua mereka untuk segera menyusul ke rumah sakit.
"Frey ini sakit banget, sakit banget!" teriak Aluna dengan menggenggam satu tangan Frey.
"Sabar sayang, sabar. Sebentar lagi kita akan sampai ke rumah sakit. Tenang ya," ucap Frey berusaha untuk menenangkan Aluna, dan ia berharap kalimat ajaibnya itu mampu menghilangkan rasa sakit di perut istrinya.
"Huaa Frey ... ini sangat sakit. Setelah aku melahirkan nanti kamu jangan lagi sentuh-sentuh aku, biar aku nggak hamil. Kalau tahu akan melahirkan rasanya sesakit ini, nggak bakalan deh aku mau enak-enak dan mantap-mantap sama kamu, nggak bakalan! Hiks ... kamu jahat. Kamu enak-enakan main di atas aku terus yang mengalami sakit ngeluarin bayi kita itu ya aku. Bisa tidak dibagi saja denganmu? Aduhh ... ini sangat sakit sekali, sangat sakit!" teriak Aluna dan Frey hanya bisa menatap istrinya dengan tatapan penuh iba.
"Tapi bukankah kamu juga menikmatinya ya sayang?" ujar Frey yang kemudian ia mendapatkan cubitan yang begitu kuat di lengannya dan pelakunya tentu saja adalah Aluna.
"Jika kamu tidak membuatku terangsang, mana mungkin aku mau disentuh-sentuh olehmu. Sial! Jika memang aku tahu rasanya akan sakit begini melahirkan, aku tidak ingin unboxing olehmu. Lebih baik aku masih perawan saja dibandingkan harus melahirkan dengan rasa yang sesakit ini. Huhu ... Bunda Papi rasanya sangat sakit, ini sangat sakit!"
Frey memutuskan untuk diam dan fokus menyetir mobilnya. Jika ia terus menimpali ucapan sang istri, maka bukan tidak mungkin keduanya akan terus berdebat hingga sampai di rumah sakit nanti. Dengan kecepatan penuh namun tetap fokus memperhatikan arus lalu lintas, akhirnya Frey sampai di rumah sakit. Frey memarkirkan mobilnya dengan sembarangan karena ia sudah tidak bisa lagi berkonsentrasi dan mencari parkiran untuk mobilnya.
Frey segera menggendong Aluna untuk keluar. Dan rupa-rupanya, air ketuban Aluna telah pecah dan dengan cepat ia dibawa masuk ke ruang bersalin, di mana Frey diminta untuk menemaninya ke dalam.
Dokter dan bidan langsung turun tangan menangani Aluna. Mereka kemudian memeriksakan pembukaan jalan lahir Aluna. Frey sempat ingin mengamuk karena dokter itu adalah dokter pria tetapi ia dengan tidak sopannya langsung membuka kaki istrinya dan memasukkan jarinya ke dalam sana.
"Hei dokter! Anda ingin cari mati ya? Berani sekali menyentuh kepunyaanku!" hardik Frey tidak terima.
Dokter tersebut hanya bisa tersenyum. Ia kemudian berkata, "Pembukaannya hampir lengkap, tolong kalian bantu gantikan pakaian nyonya Aluna dengan pakaian bersalin. Waktu tidak banyak dan yang lainnya segera bergegas untuk menyiapkan alat-alat yang kita perlukan untuk keperluan persalinan."
Aluna terus menangis di dalam ruangan dan Frey terus menggenggam tangannya. Ia masih dengan rasa kesalnya yang mendalam karena dokter itu sudah begitu lancang menyentuh Aluna, ia menyimpan dendam kusumaat kepada dokter itu. Namun kemudian ia teringat kembali jika seperti itulah proses persalinan, seperti yang sudah ia pelajari dari beberapa video-video ibu melahirkan.
Beberapa saat kemudian datanglah dokter tadi dan juga bidan yang akan membantunya. Ia lalu memeriksa jalan lahir sang bayi dan detik itu juga Frey mencoba untuk menahan kekesalannya. Semua demi Aluna dan bayi mereka.
"Baiklah, ini sudah pembukaan lengkap. Nyonya Aluna mari bersiap untuk mengejan."