GADIS TARUHAN ALVARO

GADIS TARUHAN ALVARO
171


Nurul memukul mulut Alvaro saking kesalnya ia terhadap suaminya ini. Dulu saja keluarganya tidak seheboh Alvaro saat ia akan melahirkan Aluna. Semua pada tugas mereka masing-masing. Akan tetapi begitu ia berhadapan dengan Alvaro sebagai suaminya yang harus mendampingi dan menjadi penguat serta penyemangat, suaminya ini justru membalikkan keadaan.


"Dari pada kamu ngomong terus yang cuma bikin aku kesal, mending kamu diam!" ucap Nurul kesal.


Nurul kemudian mengatur napasnya, ia teringat akan arahan dokter dan juga seperti pengalamannya dulu melahirkan Aluna. Meskipun kehamilannya kali ini tidak berisiko, tetapi Nurul tetap berjaga-jaga. Ia tidak peduli dengan Alvaro yang saat ini memasang tampang mengenaskan, ketika rasa sakit itu datang maka ia akan terus menguatkan pegangannya pada tangan Alvaro.


Yang, apakah sesakit ini saat melahirkan?


Alvaro hanya bisa diam saat Nurul meremas kuat tangannya. Ia merasakan sakit akan tetapi ia sadar jika sakit yang dirasakan Nurul jauh lebih sakit lagi. Alvaro rasanya ingin menangis akan tetapi jika ia lemah maka Nurul pun akan lemah dan malah mengurusnya sedangkan yang seharusnya ia lah yang harus mengurus Nurul dan membantunya untuk menguatkan.


Sakit itu datang lagi dan Alvaro langsung menyuruh Nurul untuk menggigit pundaknya. Nurul pun melakukannya, Alvaro hampir saja berteriak namun ia sadar jika ini adalah idenya dan juga ia tidak ingin terlibat cemen di hadapan Nurul.


"Huu huu ... ini sakit sekali Varo. Semua ini karena kau! Kau yang salah karena sudah membuatku hamil!" tangis Nurul sambil menatap kesal pada Alvaro.


Alvaro ingin menyahuti tapi ia takut salah bicara lagi. Ia hanya mengangguk membenarkan ucapan Nurul. Bahkan saat ini Nurul menjambak rambutnya karena rasa sakit itu semakin sering dan ia merasa pinggangnya seolah akan patah.


Tak lama kemudian mobil tersebut sampai di rumah sakit. Alvaro langsung menggendong Nurul keluar dari mobil. Genta bergegas memanggil perawat dan Yani membawa dua tas tersebut.


Perawat langsung membawa Nurul duduk di atas kursi roda dan mendorongnya hingga ke ruang bersalin diikuti oleh Alvaro yang memang diminta untuk menemani dan Nurul yang sedari tadi tidak melepaskan genggaman tangannya.


Di luar Genta dan Yani tengah menghubungi keluarga Emrick. Dianti dan Deen akan segera datang setelah mereka mendapatkan tiket penerbangan.


Clarinta memaksa untuk ikut akan tetapi Danish menegaskan jika mereka tidak akan pergi karena kondisi kehamilan Clarinta yang memang dianjurkan dokter untuk bed rest.


Di ruang bersalin, Alvaro terus mengusap peluh yang keluar dari dahi Nurul. Wajah sangat istri terlihat sangat kesakitan dan Alvaro berdoa dalam hati semoga istrinya dan bayi mereka bisa selamat.


Jika bisa, biar gue aja yang sakit Aina. Lu jangan. Gue nggak tega lihat lu kayak gini. Huhh ... semua karena perbuatan gue juga. Setelah ini nggak usah hamil lagi deh Yang, kasihan kamu dan kasihan aku juga kalau sampai aku lagi yang ngidam.


Tak lama kemudian dokter pun datang dan memeriksa pembukaan. Mata Alvaro melotot karena yang datang saat ini adalah dokter pria dan juga tanpa persetujuannya langsung membuka kaki Nurul lalu memeriksa jalan lain.


"Dokter cari mati ya!" bentak Alvaro tidak terima melihat pria itu dengan santainya memegang aset miliknya. "Yang, kakinya di tutup dong, jangan dibuka kayak gitu. Jangan mentang-mentang dokter ya, terus seenaknya pegang-pegang!" sungut Alvaro tidak terima.


Nurul yang sedang kesakitan langsung mengubah raut wajahnya menjadi kesal dan juga malu di saat yang bersamaan.


Dokter tersebut tidak marah, ia justru merasa lucu. Memang tidak sedikit para suami yang baru pertama kali menemani istrinya bersalin dan yang menangani adalah dokter pria akan bertindak seperti apa yang Alvaro lakukan. Ia maklum, kemudian ia memberikan penjelasan.


"Dokter Nuha tidak bisa datang karena anaknya sedang sakit dan kebetulan saya yang berjaga di rumah sakit ini. Anda tenang saja, saya tidak memiliki niat buruk kepada istri anda dan ini adalah pekerjaan saya sebagai dokter spesialis kandungan," ucap dokter tersebut kemudian ia kembali menambahkan banyak penjelasan yang bisa diterima Alvaro walaupun hanya sedikit.


Untung banget nih dokter. Tiap saat bisa ngelihat punya cewek. Dia kayaknya dulu Casanova kelas kakap terus banting setir ke dokter spesialis kandungan biar bisa pegang-pegang gratis dan nggak diomeli.


Dokter yang diketahui bernama Melvin itu pun mengatakan jika saat ini sudah memasuki pembukaan lima dan Nurul kembali diberikan arahan agar jangan mengejan dan jangan membuang tenaga secara sia-sia kemudian ia segera meninggalkan Nurul dan meminta juniornya untuk tetap berjaga. Ia akan kembali disaat pembukaan sudah lengkap untuk membantu sang ibu dan calon bayinya.


Suara isak tangis Nurul mengalihkan perhatian Alvaro. Istrinya itu sangat kesakitan dan Alvaro kembali memberikan tangannya untuk digenggam oleh Nurul. Remasan itu semakin kuat saja dan Alvaro bahkan kesakitan dibuatnya.


"Yang ini sakit banget. Pinggang aku seperti akan terlepas. Dulu waktu Aluna aku nggak sesakit ini. Serius Yang, sakitnya muka belakang ini. Dulu Aluna aku sakitnya di depan aja, huhuuu."


Alvaro turut menitikkan air mata, ia menyadari sungguh sulit perjuangan seorang ibu yang melahirkan anaknya ke dunia. Sakitnya tiada terhingga dan rela bertaruh nyawa. Alvaro langsung teringat akan maminya, seperti apa sang mami berjuang melahirkannya dan ia justru sering menyakiti hati maminya.


Alvaro juga teringat dan membayangkan bagaimana saat Nurul dulu melahirkan tanpanya. Pasti sangat sakit dan sedih. Rasanya saat ini Alvaro ingin membenturkan kepalanya karena sudah melewatkan masa itu dan membiarkan Nurul menghadapi seorang diri.


"Yang kalau sakit banget mending kita operasi aja ya. Aku nggak tega dan nggak tahan lihat kamu kayak gini," ucap Alvaro membujuk Nurul.


"Tidak Yang, aku lebih memilih ngelahirin normal aja karena setelah bayinya lahir aku udah nggak ngerasain sakit lagi," sahut Nurul yang menolak saran dari Alvaro.


"Tapi --"


Alvaro meringis begitu tangannya digigit oleh Nurul. Bahkan kulitnya mengelupas dan ia berusaha menahan rasa sakit itu agar Nurul tidak ragu menyalurkan rasa sakitnya dan membaginya dengan Alvaro.


Beberapa jam berlalu, Nurul merasa saat ini sudah waktunya untuk melahirkan. Rasa ingin mengejan serta sakitnya kontraksi yang sudah berkelanjutan membuatnya begitu yakin saat ini bayinya sudah akan lahir.


Dokter yang sedari beberapa menit lalu sudah siaga karena hasil pemeriksaan tadi sudah menunjukkan pembukaan sembilan langsung menuntun Nurul untuk mengejan.


Dalam hati Alvaro terus berdoa untuk Nurul bayi mereka. Alvaro sedikit heran karena Nurul tidak berteriak seperti yang di film-film jika seseorang melahirkan maka ia akan berteriak. Nurul justru tidak mengeluarkan suara dan itu semakin membuat Alvaro khawatir apalagi remasan tangan Nurul yang semakin kuat serta peluh yang membanjiri tubuh Nurul.


"Yang, teriak aja kalau sakit Yang. Nggak apa-apa, kalau ada yang marah dan bilang kamu berisik maka akan aku sumbat telinganya juga mulutnya," ucap Alvaro gusar.


Jika saja, jika saja Nurul tidak sedang berjuang melahirkan anaknya saat ini maka ia sudah menggeplak kepala Alvaro.


Dokter dan beberapa bidan junior yang mendengar ucapan Alvaro hampir saja hilang fokus saat mengarahkan Nurul.


"Ya Bu, sebentar lagi akan keluar Bu. Nah itu kepalanya sudah terlihat, ayo Bu," ucap dokter tersebut.


What kepala? Ke-pa-la? Kepala keluar dari itunya Aina? Emang bisa? Kok gue ngeri? Kepala milik gue aja udah sebesar itu, bagaimana dengan kepala manusia?


Rasanya Alvaro ingin pingsan saja namun ia harus tetap kuat karena Nurul membutuhkannya.


Sekali dorongan, akhirnya bayi tersebut berhasil dilahirkan dan suara tangisnya menggema di rumah sakit tepat pukul tiga dini hari.


"Selamat Tuan, Nyonya, bayinya laki-laki," ucap dokter tersebut kemudian ia segera memberikan pada bidan yang akan membersihkan bayi tersebut dan memberikan tindakan lanjutan sedangkan ia membantu membersihkan sisa persalinan Nurul.


Wajah Nurul dan Alvaro berseri, kini tangis itu menjadi tangis haru dan bahagia setelah bayi mereka lahir ke dunia ini. Alvaro tak berhenti menghujani wajah Nurul dengan ciuman dan ucapan terima kasih juga selamat.


Keduanya memang sepakat untuk tidak mengetahui jenis kelamin anak mereka sebab bagi keduanya alam rahim adalah alam ghoib yang mereka biarkan menjadi misteri dan kejutan nantinya saat anak itu lahir.


Dari luar, Genta dan Yani yang mendengar suara tangis bayi langsung mengucap syukur. Keduanya saling berpelukan dan tak sabar menunggu saat dimana mereka akan melihat cucu baru mereka.


.


.


Alvaro terlihat tampan setelah wajahnya basah dengan air setelah ia bersuci. Ia berniat untuk mengadzani putranya yang kini sudah berada di dalam gendongannya. Nurul sudah dipindahkan ke ruang perawatan dan disana sudah ada mami dan papinya.


Setelah selesai mengumandangkan adzan, ia menciumi wajah tampan putranya yang kali ini kembali mewarisi gennya seperti yang diinginkan oleh sang bunda. Ia kemudian memberikan bayi itu kepada Nurul untuk diberi ASI.


"Jadi, siapa nama cucu tampan papi itu?" tanya Genta yang tidak berhenti tersenyum karena klan Prayoga akhirnya mendapat penerus lagi.


Alvaro tersenyum, "Naufal Arvind Prayoga," jawabnya dengan bangga karena ia sendiri yang menyusun nama tersebut.


Genta dan Yani tersenyum, Yani pun melangkah mendekati Nurul untuk melihat cucunya dan akan menggendongnya setelah menyusui.


Beberapa jam kemudian, di ruangan tersebut sudah begitu ramai. Ada keluarga, anak-anak dan para sahabat yang datang menjenguk Nurul dan bayinya. Flora bahkan begitu gemas melihat wajah tampan tersebut . Ia dan Alvaro saling berebut untuk menggendong bayi tampan yang justru terlihat sedang diam saja sambil memperhatikan keduanya dengan ekspresi datar. Tanpa senyum atau gerakan apapun.


Fix, anak gue emang wajahnya dari gue. Tapi gue yakin ini keturunan asli sifat Aina. Nak, please lu itu terlahir ganteng dan jangan sampai lu besar nanti jadi kulkas sepuluh pintu kayak bunda dan paman Danish. Jangan sia-siakan ketampananmu itu, ikutilah jejak papimu kelak. Papi yakin kau akan mendapatkan banyak wanita cantik tanpa bersusah payah.


.


.


Beberapa tahun kemudian ....


Di kantin sekolah ....


"Aluna, gimana sama Jasson? Lu berani taruhan berapa?" tanya Cici, sahabat Aluna sedari SMP dan kini mereka sudah duduk di bangku kelas tiga SMA.


Gadis cantik yang memang sangat cantik itu tersenyum. Ia kemudian menyapu sekeliling kantin dengan mata indahnya.


Aman, Frey nggak ada di sini dan dia nggak bisa dengar percakapan gue sama Cici. Bisa habis gue dilaporin sama bunda.


"Ck! Jasson ya, cukup tampan walau Frey jauh lebih tampan. Tapi gue berani taruhan lima juta sama lu. Dalam beberapa hari ini gue pastiin dia bakalan nembak gue," ucap Aluna dengan angkuh.


"Deal!"


Braakk ....


Aluna dan Cici terkejut begitu seseorang menggebrak meja kantin. Aluna langsung menatap sengit sang pelaku.


"Frey!" pekik halus Aluna.


"Ikut gue!"


Tanpa ba-bi-bu lagi Frey langsung menarik Aluna ke kelas yang masih sepi. Ia menatap kesal pada saudaranya itu yang lagi dan lagi membuat onar dan juga suka sekali membuat kekacauan.


"Lu itu ya, harus berapa kali gue bilangin kalau lu harus berhenti ngelakuin hal gila. Lu itu cewek Aluna, dan lu nggak bakalan tahu bahaya kedepannya kalau lu terus-menerus melakukan kebiasaan buruk lu itu. Gue capek tahu nggak bantuin lu di depan bunda!" sentak Frey kesal.


Aluna memutar bola matanya gelisah. Namun beberapa saat kemudian ia memasang tampang imut dan menatap Frey dengan intens.


"Frey, kenapa gitu sih? Kita ini saudara dan dengar-dengar kita juga calon jodoh lho. Lagian gue nggak bakalan kenapa-napa selagi masih ada lu yang jagain gue. Tenang aja, gue nggak ada yang diseriusin kok. Iseng doang," ucap Aluna.


Gadis itu sendiri pun bingung kenapa dengan menjebak cinta para pria tampan dia sekolah menjadi kesenangannya. Tidak ada satupun yang ia terima menjadi kekasih, ia hanya membuat para cowok tampan itu terbawa perasaan lalu ia tinggalkan begitu saja.


Ghosting?


"I hate you!" ucap Frey dengan kesal.


"Tapi aku cinta kamu," balas Aluna sambil mengedipkan sebelah matanya.


...****************...


Hai hai para readers tercinta, cerita Alvaro dan Aina Alhamdulillah sudah selesai ya. Dan author bakalan lanjutin kisah Aluna dan Frey di novel ini. Yang masih setia dan masih mau lanjut baca, terima kasih banyak ya.


Terima kasih untuk semua dukungannya selama ini. I love you all. Nggak akan sampai disini tanpa dukungan kalian. Pokoknya semua pembaca yang ninggalin jejak ataupun yang baca tapi setia saya ucapkan terima kasih karena walaupun nggak ninggalin jejak tapi kalian tetap membantu jumlah view harian. Makasih ya, makasih banget buat kalian semua pembaca tercinta.


DANISSA ALUNA GUZELIM EMRICK



Frey Abirsham Griffin